
Setelah menjelaskan kondisi tuan Harka pada Alan, Sintia lantas membuatkan resep yang akan di tebus nantinya di apotek. Sedangkan Alan yang telah menyadari niat Ratu lantas menatap Sintia yang tengah menuliskan resep, secara diam diam.
"Jika di perhatikan dia cantik juga." tanpa sadar Alan berujar dalam hati.
"Ini resepnya tuan, silahkan di tebus di apotek!!." Sintia menyerahkan resep dan hal itu sekaligus membuyarkan lamunan Alan.
"Oh iya.... terima kasih Bu dokter." jawab Alan setelah sebelumnya sempat dibuat terkesiap dengan seruan dari Sintia.
"Sama sama."
Alan pun segera beranjak dari duduknya kemudian mendorong kursi roda kakeknya keluar dari ruangan tersebut.
Berhubung hari itu lumayan banyak pasien yang antri, butuh waktu tiga puluh menit bagi Alan Sampai nama kakeknya di panggil di loket Apotek.
Setelah menerima obat dari petugas Apotek, Alan lantas meraih ponsel di saku jasnya hendak menghubungi Ratu.
Alan mendecakkan lidahnya ketika sudah tiga kali panggilan namun Ratu belum juga menerima panggilan darinya, padahal panggilannya berdering.
"Kemana anak ini??." Gumam Alan merasa sebal dengan adiknya itu.
Sementara di tempat yang berbeda, seseorang yang tengah membuat Alan kesal, sejak tadi hanya menatap pada layar ponselnya yang tengah berdering, tanpa berniat menerima panggilan dari Alan.
"Kenapa tidak di angkat teleponnya??." tanya Toni ketika Ratu hanya menatap layar ponselnya.
Ratu hanya tersenyum saja melihat kebingungan di wajah suaminya.
Ratu kemudian membiarkan panggilan ke sepuluh dari Alan mati begitu saja, sebelum kemudian kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Maafin Ratu Ya bang." lirih Ratu dalam hati seraya menahan senyum di bibirnya. Untungnya gelagat Ratu tak terlihat oleh Toni, jika tidak, mungkin pria itu akan berpikir istrinya sudah tidak waras karena tersenyum seorang diri.
Kesal panggilannya tak kunjung mendapat jawaban dari Ratu, Alan pun memutuskan untuk segera pulang. Lagi pula menurut Alan saat ini Ratu bersama dengan suaminya otomatis dia akan di antarkan oleh Toni jika ingin pulang ke rumah nanti.
Di perjalanan kembali ke rumah tiba tiba ponsel Alan berdering.
"Pak Hendro." gumam Alan ketika melihat nama pemanggil di ponselnya. Pak Hendro merupakan salah satu kepala staf di kantor tempatnya bekerja.
Alan lantas memasang handset untuk menerima panggilan dari pak Hendro.
"Halo, ada apa pak???." tanya Alan ketika menerima panggilan dari pak Hendro.
"Pak Alan, jam berapa anda akan kembali ke kantor?? Soalnya satu jam lagi pemilik perusahaan akan tiba." kata pak Hendro dari seberang sana. suara pak Hendro terdengar sedikit cemas, bagaimana tidak, Alan yang bertugas mewakili seluruh pegawai untuk menyambut kedatangan pimpinan sekaligus memberi pemaparan tentang peningkatan kuantitas perusahaan selama tiga tahun terakhir ini sedang tak ada di tempat.
"Empat puluh lima menit lagi saya tiba di perusahaan." jawab Alan, seolah tahu apa yang saat ini di cemaskan pak Hendro.
"Baiklah kalau begitu, pak Alan." Akhirnya pak Hendro bisa sedikit bernapas lega mendengar jawaban dari Alan, sebelum kemudian mengakhiri panggilannya.
Tiga puluh menit kemudian mobil Alan pun tiba di kediaman orang tuanya, dan kini tampak mama Rani menunggu kedatangan ayah mertuanya di teras depan.
"Baiklah nak, hati hati di jalan, jangan ngebut!!! Ingat keselamatan adalah nomor satu!!." pesan mama Rani dan Alan pun mengangguk mengiyakan, sebelum kemudian berlalu meninggalkan rumah menuju perusahaan.
Karena kondisi jalanan di kotanya masih jauh dari kata macet maka Sesuai dengan prediksinya, Lima belas menit kemudian mobil Alan pun tiba di tujuan.
"Untungnya anda tiba tepat waktu pak Alan, jika tidak, bisa bisa jantung saya benar-benar keluar dari rongganya." tutur Pak Hendro sedikit lebay setelah kedatangan Alan.
"Pak Hendro bisa saja." Alan tampak Menggelengkan kepalanya seraya mengulas senyum ketika mendengar kalimat pak Hendro, sebelum kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruangan kerjanya untuk mempersiapkan beberapa berkas guna menyambut kedatangan pemilik perusahaan.
Lima belas menit kemudian, saat saat mendebarkan bagi seluruh pegawai pun akhirnya tiba. Seorang pria paru baya yang mengenakan setelan jas lengkapnya baru saja memasuki gedung perusahaan dengan di kawal oleh beberapa orang bodyguard di sisi kiri dan kanannya.
"Selamat datang tuan...." Alan tampak menundukkan kepalanya hormat saat menyambut kedatangan seorang pria yang merupakan pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Meskipun baru pertama kali bertemu langsung dengan pemilik perusahaan, tidak membuat Alan sampai gugup dan juga salah tingkah. Ia bersikap profesional layaknya seorang bawahan pada atasannya.
Pria itu lantas mengangguk sekilas.
Pak Hendro yang saat itu bersama dengan Alan, lantas mempersilahkan pemilik perusahaan menuju ruangannya.
Alan yang kini tampak memegang sebuah map di tangannya lantas berjalan di belakang langkah pimpinan bersama dengan pak Hendro.
Setibanya di ruangan pimpinan, pemilik perusahaan lantas meminta salah seorang perwakilan untuk memaparkan kinerja perusahaan dihadapannya dan itu di lakukan oleh Alan.
Cukup lama Alan memberikan pemaparan di di hadapan pimpinan, dan gaya bicara Alan yang terkesan sangat profesional dan tidak dibuat buat seperti pegawai sebelumnya, yang Sengaja ingin mencari muka di hadapannya membuat pria itu memiliki kesan tersendiri pada sosok Alan.
"Saya rasa cukup dengan penyampaiannya, anda boleh kembali melanjutkan pekerjaan anda!!." tutur pemilik perusahaan kepada Alan.
"Baik tuan." Alan menunduk hormat, sebelum kemudian berlalu meninggalkan ruangan.
"Untuk anda, pak Hendro tetap di sini!!." lanjut pimpinan dan pak Hendro pun mengiyakannya.
"Sudah berapa lama pria itu bergabung di perusahaan ini??." tanya pimpinan setelah kepergian Alan dari ruangannya.
"Maaf tuan, jika pak Alan telah melakukan kesalahan." pak Hendro lantas meminta maaf seraya menundukkan kepalanya di hadapan pimpinan perusahaan. Ia berpikir Alan telah melakukan kesalahan dalam penyampaiannya tadi sehingga membuat pria itu bertanya demikian.
"Saya hanya bertanya, kenapa wajah anda jadi tegang seperti itu??." seraya mengulum senyum di wajahnya tampannya, pria yang masih tampan meski usianya tak lagi muda tersebut berujar.
"Maafkan saya, tuan. Saya pikir pak Alan telah melakukan sesuatu yang kurang berkenan sehingga membuat anda bertanya demikian." ungkap pak Hendro mengeluarkan isi hatinya.
Dan hal itu kembali membuat pimpinan tersenyum melihatnya.
"Jawab saja!! sudah berapa tahun pria itu bergabung di perusahaan ini??." pimpinan sampai mengulang pertanyaannya.
"Sudah tiga tahun terakhir, tuan. Pak Alan sudah tiga tahun terakhir bergabung di perusahaan ini sebagai kepala divisi pemasaran." masih dengan perasaan awas pak Hendro memberi penjelasan tentang sosok Alan pada kepala pimpinan sekaligus pemilik perusahaan tersebut.
"Luar biasa." lirih pimpinan. Ia merasa kehadiran Alan di perusahaannya semakin membuat perusahaannya jauh berkembang dari sebelumnya.