
Kamu memang bukan yang pertama mengisi hatiku tapi percayalah kamu adalah pelabuhan terakhir tempat hatiku bersandar saat ini, besok dan selamanya. Mungkin kalimat itu yang pantas mewakili perasaan Riko terhadap sang istri.
Malam ini sepasang suami istri itu lantas kembali menghabiskan malam panas, sampai mengakibatkan Rahma tak hentinya menggerutu ketika bangun kesiangan. Rahma baru terjaga ketika waktu telah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Yang semakin membuat Rahma sebal, ketika ia terjaga ternyata Riko telah selesai bersiap dengan pakaian kerjanya.
"Kenapa tidak membangunkan aku sih, mas??? Kalau begini Aku pasti terlambat berangkat kerja." protes Rahma yang kini beranjak dari tempat tidur. Ia masih memasang wajah sebalnya sehingga membuat Riko gemas sendiri melihatnya. Apalagi saat melihat Rahma yang menyelimuti tubuhnya dengan sebuah selimut putih tebal dan tentunya terlihat semakin menggemaskan di matanya.
"Maaf.... Habisnya mas lihat kamu nyenyak sekali tidurnya, maka dari itu mas tidak tega membangunkannya, sayang." Rahma terdengar mendecakkan bibirnya saat mendengar alasan Riko.
"Aku sampai tertidur se-nyenyak itu karena kelelahan dan itu semua juga karena ulah mas Riko." Rahma yang telah berada di depan pintu kamar mandi masih saja melayangkan protes pada Riko.
Karena ia bertugas di ruangan IGD, meskipun hari Minggu Rahma tidak libur, ada hari tertentu yang sudah di tentukan untuk mereka mendapatkan jatah libur. berbeda dengan dokter yang bertugas di poli maupun di bangsal atau ruang perawatan yang mendapat libur di hari Minggu.
Tak sampai dua puluh lima menit, Rahma hampir menyelesaikan mandi serta bersiap siap dengan gerakan kilat sehingga membuat Riko tampak cemas melihatnya.
"Pelan pelan dong sayang !!! Kalau kamu sampai kesandung gimana??." tutur Riko memasang wajah cemas ketika melihat Rahma mempercepat pergerakannya saat mengenakan pakaiannya.
Rahma hanya diam saja karena lebih fokus pada aktivitasnya, tak begitu memperhatikan ucapan Riko.
"Done....ayo berangkat, mas!!." ajak Rahma setelah memastikan penampilan telah cantik paripurna melalui pantulan kaca. sementara Riko hanya menanggapi ajakan Rahma dengan anggukan. Sepertinya Riko masih syok melihat pergerakan kilat yang baru saja di lakukan istrinya. Dan hal itu membuat Riko menyesal tidak membangunkan istrinya ketika tadi ia lebih awal terjaga dari tidurnya.
"Oh astaga... bunda pikir kalian tidak bekerja karena hari Minggu, makanya tidak membangunkan kalian." tutur bunda Ening yang melihat putrinya sedikit mempercepat langkahnya.
"Lagian tumben kamu bangun telat, sayang??." lanjut tanya Bunda Ening ketika menyadari tidak biasa putrinya itu sampai bangun terlambat seperti ini.
"Ini semua karena mas Riko." rasa sebal yang tadinya nyaris hilang dari benak Rahma seakan kembali ketika mendengar pertanyaan dari bundanya.
"Kamu yang terlambat bangun malah nyalahin suami kamu, gimana sih." protes bunda Ening seolah ada di pihak menantunya.
"Coba kalau mas Riko nggak ngajak Rahma begadang semalam, pasti Rahma tidak akan sampai bangun terlambat pagi ini."
Rahma yang masih merasa sebal dengan Riko tanpa sadar melontarkan pernyataan yang membuat Riko hanya bisa mengusap tengkuknya karena salah tingkah.
"Memangnya ngapain kamu sampai begadang??." dari nadanya terdengar menggoda sehingga membuat Rahma menyadari ucapannya barusan.
Sedangkan Riko hanya bisa tersenyum kaku, apalagi saat ini di meja makan ada juga ayah mertuanya.
Merasa tadi mulutnya sudah keceplosan lantas Rahma menoleh sekilas pada Riko dengan perasaan bersalah. Kini Riko tampak menahan rasa malu di hadapan ayah mertuanya. Bukan apa apa, Riko hanya tidak ingin sampai ayah mertuanya berpikiran jika ia menyiksa putri semata wayang mereka di atas ra_njang hingga kelelahan.
"Maksudnya semalam mas Riko meminta Rahma untuk membantu menyelesaikan kerjaannya." tutur Rahma mengalihkan persepsi bundanya, meski sadar betul alasannya sangat tidak masuk di akal. bagaimana tidak, seorang dokter yang tidak memiliki kemampuan dalam bidang bisnis membantu seorang pebisnis handal seperti Riko. Sangat tidak masuk akal bukan ???.
"Oh begitu." sahut bunda Ening seakan percaya dengan ucapan putrinya.
"Jangankan begadang untuk saling Membantu dalam urusan pekerjaan, begadang untuk urusan lain juga tidak masalah, lagi pula kalian suami istri jadi apa salahnya, bukan begitu, Ko??." skak mat ayah Roland yang terdengar ambigu, sengaja ingin menggoda menantunya itu.
Rahma lantas memberikan segelas air pada Riko. "Minum dulu, mas!!." ucapnya.
Riko menerimanya kemudian meneguk segelas air pemberian Rahma hingga setengahnya.
"Iy_iya ayah ." jawab Riko dengan nada terbata setelah batuknya mulai reda. Tidak usah di tanya bagaimana raut wajah Riko saat ini, wajahnya yang putih bersih kini sudah berubah merah bak kepiting rebus menahan malu.
Melihat reaksi menantunya membuat ayah Roland melipat bibirnya ke dalam, menahan senyum. Pria itu jadi teringat akan dirinya yang juga pernah diperlakukan dengan hal yang tak jauh berbeda oleh ayah mertuanya ketika masih menjadi pengantin baru dulu.
Sementara Rahma sendiri kini semakin merasa bersalah pada Riko, dikarenakan mulutnya yang tidak bisa di ajak kerjasama sampai akhirnya membuat suaminya harus menahan malu dihadapan kedua orang tuanya.
***
"Maafkan aku, mas." tutur Rahma dengan wajah bersalah seraya memilin ujung kemejanya, ketika mereka telah berada di mobil.
Riko yang mendengarnya lantas menoleh sekilas ke arah Rahma sebelum kemudian menghela napas panjang dan menghembusnya perlahan.
"Aku tidak sengaja melakukannya, sebagai permintaan maafku mas boleh memberi hukuman untukku !!!." kembali ujar Rahma ketika melihat Riko masih diam saja.
Melihat kesungguhan di wajah istrinya membuat Riko tak tega melanjutkan drama merajuknya. Apalagi saat ini raut wajah Rahma ketika meminta maaf terlihat begitu menggemaskan di matanya, sehingga membuat Riko tak sanggup menahan senyum di bibirnya. Riko tampak tersenyum tanpa suara.
Riko mengulurkan tangan kirinya untuk mengelus Surai hitam milik istrinya dan hal itu lantas membuat Rahma kembali menoleh padanya.
"Mas tidak marah, sayang. Lain kali jangan sampai keceplosan seperti itu lagi dihadapan ayah dan bunda!!!. karena mas tidak ingin sampai ayah berpikiran jika mas sudah menyiksa putri kesayangannya semalaman. Padahal kenyataannya putri kesayangannya ini juga begitu menikmatinya semalam."
Baru saja Rahma mengangguki kalimat Riko yang pertama, namun kalimat terakhir Riko sontak membuat semburat merah tampil di wajah cantik Rahma. Bagaimana tidak, ia sendiri seperti tidak percaya bagaimana sampai bisa mengimbangi permainan suaminya.
Riko mengulum senyum melihat semburat merah di wajah istrinya, yang menandakan bahwa wanita itu tengah menahan malu.
"Tidak perlu malu, sayang !!! justru harusnya kamu bangga sebagai seorang istri kamu bisa memuaskan suami kamu." tutur Riko lalu mengarahkan tubuh Rahma padanya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih stay pada kemudi, sebelum kemudian mengecup sekilas puncak kepala Rahma.
Sejujurnya Rahma masih merasakan malu yang luar biasa, namun ia berusaha menutupinya dengan mencoba tetap tenang di depan Riko.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mobil Riko tiba di depan rumah sakit. Setelahnya Riko kembali melajukan mobilnya menuju ke lokasi proyek, di mana Sekretarisnya Kumala telah menunggu kedatangannya.
Riko memang memiliki dua orang sekretaris yakni Kumala dan juga sekretaris Danu. Jika Kumala bertugas mengurus dokumen dan semacamnya, Maka berbeda dengan sekretaris Danu yang bertugas melakukan tugas khusus dari Riko. Jika Kumala lebih sering ikut bersama dengan Riko meeting ataupun ikut dalam perjalanan kerja, seperti saat ini contohnya. sekretaris Danu justru lebih fokus pada perusahaan untuk mengambil alih tugas Riko selama pria itu tak ada. Selain itu Sekretaris Danu juga merupakan orang kepercayaan Riko di perusahaan.
Jangan lupa like, koment, vote, Give and subscribe ya....!!! 😘😘😘😘🙏🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰
Mampir juga karyaku yang lain...yg lagi on going -SEMUA BUKAN INGINKU.