Trust Me Please.

Trust Me Please.
Baby kembar.



"Oh astaga...kenapa wajahku jadi panas begini sih saat mendengar kak Toni bicara seperti itu??." dalam hati Ratu, sebelum kemudian mulai menyantap makanannya.


Sementara Toni tampak menarik salah satu sudut bibirnya ke samping sehingga menciptakan sebuah senyuman tipis di wajah tampannya, ketika menyadari wajah Ratu yang tampak merah merona.


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Riko tengah mengantarkan Rahma untuk memeriksakan kandungannya ke sebuah klinik.


"Mas, aku jadi tidak sabar ingin segera bertemu dengannya." tutur Rahma seraya mengelus perut buncitnya.


Riko yang mendengarnya lantas menoleh untuk sejenak seraya mengelus perut Rahma dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih stay pada kemudi.


"Mas juga sudah tidak sabar ingin melihatnya lahir ke dunia ini. Mas tidak sabar ingin melihat hasil kerja keras mas selama ini." ucapan frontal Riko sontak saja mendapatkan pukulan pada lengannya, siapa lagi pelakunya kalau bukan Rahma.


"Awwwhhhh.... sakit sayang." Riko berpura pura meringis padahal kenyataannya pukulan Rahma sama sekali tidak terasa sakit mengingat lengan Riko yang cukup atletis.


"Habisnya mas sih ngomongnya sembarangan." sahut Rahma seraya memasang wajah cemberut.


"Sembarangan bagaimana sih sayang, memang kenyataannya baby adalah hasil kerja keras mas."


Rahma memutar bola matanya.


"Senyum dong!!!." Riko mencubit gemas dagu Rahma dan sepertinya usahanya tidak sia sia, terbukti kini Rahma pun akhirnya kembali mengulas senyum di wajahnya.


"Gitu dong, kalau senyum kan cantik." ujar Riko yang juga turut tersenyum melihat senyuman manis di wajah Rahma.


Di tengah percakapan keduanya tentang baby, tiba tiba Rahma teringat akan Mona dan juga putranya.


"Mas, bagaimana dengan kondisi Mona??."


Pertanyaan Rahma sontak saja membuat senyum di wajah Riko surut begitu saja.


"Untuk apa bertanya tentangnya??." raut wajah Riko seketika berubah ketika Rahma mulai membahas tentang mantan kekasihnya itu.


"Jujur saja sebagai sesama perempuan aku merasa iba dengan keadaan Mona saat ini, di mana ia harus berjuang membesarkan putranya jauh dari orang tuanya." tutur Rahma dengan hati hati, tidak ingin memancing amarah suaminya itu karena dari raut wajah Riko terlihat jelas jika pria itu enggan membahas tentang Mona. Saat itu tidak Sengaja Rahma mendengar percakapan Riko dengan seseorang melalui sambungan telepon.


"Setelah apa yang telah dia lakukan padamu, kamu masih merasa iba padanya???.". Riko tidak habis pikir dengan pola pikir istrinya. bagaimana tidak, ia saja difitnah seperti kasus putranya Mona kemarin sudah sangat emosi, sementara Rahma yang telah difitnah bahkan dijebak justru masih merasa iba pada Mona.


"Seandainya memiliki kesempatan aku ingin sekali bertemu dengannya." Rahma kembali mengutarakan keinginannya dengan hati hati tidak ingin sampai membuat Riko marah, padahal kenyataannya pria itu mana mungkin bisa sampai marah padanya.


Riko hanya diam saja tidak merespon kalimat Rahma. pria itu fokus menatap jalanan dengan tatapan yang berubah datar.


Dari raut wajah Riko, Rahma bisa menarik kesimpulan jika suaminya tersebut tidak ingin lagi membahas tentang Mona sehingga membuat Rahma merasa tidak enak.


"Maafkan aku mas, aku janji tidak akan membahas tentang Mona lagi." dengan wajah tertunduk Rahma berkata demikian ketika hampir dua puluh menit Riko hanya diam saja.


Riko menghembus napas bebas di udara sebelum kemudian mengusap kelapa Rahma dengan lembut.


"Sayang, sebaiknya sekarang kita fokus dengan kehidupan kita, tidak perlu membahas sesuatu yang tidak penting!!! Ucap Riko yang merasa Mona tidaklah penting dan Rahma pun mengangguk paham.


Beberapa saat kemudian, Mobil Riko telah tiba di pelataran klinik.


Riko lebih dulu turun dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk sang istri tercintanya.


"Ayo sayang!!."


Keduanya lantas masuk ke dalam klinik hendak menemui dokter kandungan karena Toni telah membuat janji sebelumnya maka mereka tidak perlu menunggu lagi.


"Selamat siang dokter." jawab keduanya hampir bersamaan, sebelum kemudian melangkah masuk. Riko menarik sebuah kursi untuk Rahma sebelum kemudian ikut menjatuhkan bokongnya di kursi yang berdampingan dengan Rahma.


"Baik tuan, karena usia kandungan istri anda sudah memasuki Delapan belas Minggu maka hari ini kita akan melakukan USG kembali untuk melihat jenis kelamin anak anda." terang dokter dan Riko pun mengiyakannya dengan wajah antusias. meski sebenarnya ia tidak pernah mempermasalahkan jenis kelamin calon buah hati mereka, perempuan atau laki laki menurut Riko sama saja. Seorang Anak tetaplah anugerah terindah dari sang kuasa yang harus di syukuri.


Dokter mulai mengoleskan gel pada perut Rahma sebelum kemudian meletakkan alat medis yang tersambung pada layar monitor di permukaan perut Rahma yang terlihat semakin membesar.


Dengan menggunakan kecanggihan USG empat dimensi, Riko bisa menyaksikan calon buah hatinya dari layar monitor. Namun yang membuat Riko penasaran yakni penampakan dua orang bayi kembar di layar monitor.


Riko memandang ke arah dokter.


"Benar, Seperti yang anda lihat tuan, calon buah hati anda kembar dan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan."


Riko tidak bisa menyembunyikan raut bahagia sekaligus haru di wajahnya ketika mendengar penjelasan dari dokter.


"Pantas saja perut saya lebih besar dari pada orang hamil pada umumnya." kini Rahma yang berujar.


Riko yang kini berdiri di tepi brankar di mana Rahma tengah berbaring sontak mengecup kening Rahma saking bahagianya, seolah tidak peduli dengan keberadaan Bu dokter yang berada di antara mereka.


"Thank you, sayang." ucap Riko dengan tatapan penuh cinta usai mengecup kening Rahma dan Rahma pun mengiyakannya dengan anggukan kecil.


Setelah selesai berkonsultasi dengan dokter kini mereka dalam perjalanan pulang ke rumah, di mana mama Rika dan papa Abraham tengah menanti kabar tentang hasil pemeriksaan calon cucu mereka.


Kedatangan Riko dan Rahma di sambut senyuman yang seakan tak ingin luntur dari wajah Mama Rika yang sejak tadi sengaja menunggu di teras depan.


"Bagaimana sayang??.".baru juga turun dari mobil, mama Rika sudah menodongkan pertanyaan pada menantu dan juga putranya.


Mama Rika semakin di buat penasaran ketika melihat wajah Rahma yang tampak berseri seri.


"Ayo masuk dulu mah, kita bicara di dalam." ajak Riko yang merasa lebih enak menyampaikan kabar bahagia itu di dalam rumah.


Kini baik Riko, Rahma , mama Rika, papa Abraham dan juga Cristi serta Boy yang tadi sengaja datang bertamu, telah duduk di ruang tengah dengan perasaan tak sabar mendengar penyampaian Riko.


"Alhamdulillah, saat ini tuhan memberikan dua orang titipan sekaligus di perut istri Riko, dan keduanya berjenis kelamin laki-laki dan juga perempuan."


Mama Rika tidak mampu menahan air mata bahagianya ketika mendengar calon cucunya yang saat ini masih berada di dalam kandungan Rahma ternyata kembar.


"Terima kasih tuhan.... terima Sayang." mama Rika memeluk Rahma dengan wajah yang telah basah dengan air mata haru.


Rahma lantas membalas pelukan mama mertuanya.


"Selamat ya, Ra." Cristi pun turut memberikan selamat kepada Rahma yang kini tengah mengandung anak kembar.


"Selamat ya Tante cantik, Boy jadi enggak sabar nih ingin segera berjumpa dengan dedek bayi." ucap Boy dengan wajah yang tak kalah antusias.


"Ehem...." deheman Riko mengalihkan perhatian semua orang padanya. "istri Riko saja nih yang diberikan ucapan selamat, Riko enggak?? padahal sudah jelas jelas di sini Riko yang bekerja keras." Seloroh Riko dan hal itu lantas saja membuat Rahma membulatkan kedua matanya ke arah Riko.


"Kamu ini ada ada saja, Ko."


Cristi terlihat menahan senyumnya ketika melihat reaksi Rahma yang tampak malu.


Jangan lupa like, koment, vote and give ya sahabat setiaku,,,,😘😘😘😘🙏🙏🙏


Jangan lupa mampir juga ke karyaku yang juga On going. SEMUA BUKAN INGINKU.