Trust Me Please.

Trust Me Please.
Keteguhan hati seorang Toni.



Selama di mobil usia menonton bioskop, Ratu lebih banyak diam hanya sesekali ia menjawab jika Toni menanyakan sesuatu padanya. Ratu terus teringat akan kejadian yang menurutnya sangat memalukan di bioskop tadi. Saking malunya Ratu sampai menolak ajakan Toni untuk makan malam dengan alasan masih kenyang, padahal waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam.


Beberapa saat kemudian mobil Toni pun tiba di depan rumah orang tua Ratu.


"Sampaikan salamku pada kedua orang tua kamu, maaf saya tidak sempat mampir." tutur Toni ketika Ratu hendak membuka pintu mobil.


"Baik kak, akan aku sampaikan." sahut Ratu seraya melanjutkan pergerakannya membuka pintu mobil kemudian turun dari mobil Toni.


"Tunggu!!" seruan Toni membuat Ratu yang hendak melangkah kembali menoleh ke arah pria itu.


"Good night, see you tomorrow." ucap Toni seraya mengulas senyum di wajahnya dan Ratu pun menanggapinya dengan sebuah anggukan kecil. Meski dalam hatinya Ratu dibuat terpana dengan senyuman Toni yang terlihat sangat manis di matanya.


Setelahnya Ratu pun melanjutkan langkahnya masuk ke dalam gerbang rumahnya. Setelah itu Toni lantas kembali melajukan mobilnya menuju kediaman orang tuanya, di mana ia telah menetap semenjak resmi bertunangan dengan Ratu. beberapa tahun belakangan ini Toni memang lebih senang tinggal seorang diri di rumahnya, sebuah Rumah mewah yang baru beberapa tahun lalu di belinya.


"Tumben kamu pulang kemalaman, nak?? apa nak Toni tidak mampir dulu??." tanya mama nya seraya menyapu pandangan ke pintu masuk mencari keberadaan calon menantunya itu.


"Kak Toni tidak sempat mampir soalnya masih ada urusan, kak Toni hanya menitip salam pada papa dan mama." jawab Ratu sebelum kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.


"Apa kamu sudah makan malam??." tanya ibunya Ratu beberapa saat kemudian dengan sedikit mengeraskan suaranya mengingat kini Ratu telah berada di lantai atas.


"Belum mah, soalnya tadi Ratu masih kenyang saat kak Toni mengajak aku untuk makan malam" jawab Ratu terpaksa berdusta, karena tidak mungkin juga ia mengatakan pada ibunya jika ia sengaja menolak ajakan Toni untuk makan malam dikarenakan sebuah kejadian memalukan di bioskop tadi.


Mendengar jawaban putrinya membuat ibunya Ratu menyuruh Ratu untuk segera membersihkan tubuhnya kemudian turun untuk makan malam bersama.


Sementara dilantai dua, Ratu tampak sebal melihat keberadaan kakak laki-lakinya di kamarnya.


"Abang ngapain sih di kamar aku, keluar nggak??.". ketus Ratu ketika mendapati kakak laki-lakinya itu sedang berbaring dengan santainya di sofa kamar Ratu seraya bermain game kesukaannya.


Melihat kakaknya belum juga menggubris ucapannya, Ratu yang kini berdiri di ambang pintu lantas melangkah mendekat pada Alan, kemudian menarik paksa tubuh alan agar keluar dari kamarnya.


"Pelit banget sih dek, cuma numpang bentar juga." tutur Alan yang masih bertahan pada posisinya.


"Abang....aku mau istirahat. Mah....coba lihat nih bang Alan!!!." adu Ratu pada ibunya. Alan yang mendengarnya lantas beranjak dari duduknya, tidak ingin sampai mendapat amukan dari macan betina yakni ibunya.


"Iya iya Abang keluar, pelit amat sih." ujar Alan. Sebelum benar benar meninggalkan kamar Ratu, Alan menyempatkan diri mencubit gemas pipi adiknya itu. Sehingga membuat Ratu spontan melempar pria tampan itu dengan sebuah bantal.


"Ish....di kantor saja gayanya penuh wibawa giliran di rumah ngeselin banget. Coba saja kalau para gadis gadis pengagum bang Alan sampai tahu tingkah jail bang Alan, aku yakin mereka pasti akan ilfil." Omel Ratu setelah kepergian Alan.


"Kamu kenapa sih, Lan, suka sekali menggoda adikmu??. Cetus ibunya ketika Alan tiba di ruang tengah.


Alan hanya diam saja seraya menjatuhkan bokongnya di sofa ruang tengah bergabung bersama ibunya.


"Alan akan memikirkannya setelah Ratu menikah nanti, mah." jawab Alan dengan wajah berubah serius, sebelum kemudian beranjak menuju kamarnya.


Selama ini Alan memang tidak pernah memikirkan tentang percintaan apalagi sampai ke urusan pernikahan, bagi Alan selama adiknya belum bertemu dengan pria yang tepat untuk menjadi pasangan hidupnya, ia memilih fokus menjaga Ratu dengan baik. Meski sudah hampir setahun tidak tinggal serumah dengan adik perempuannya itu karena Ratu memilih menetap di rumah yang di belinya dari hasil keringatnya sendiri, Alan tetap saja diam diam menjaga adiknya itu tanpa sepengetahuan Ratu sendiri.


Bahkan pukul delapan malam ini tanpa sepengetahuan Ratu, Alan telah janjian dengan Toni untuk bertemu di sebuah cafe, itu sebabnya tadi ia berada di kamar Ratu. sengaja menunggu kedatangan adiknya itu untuk menanyakan perihal sesuatu, namun sikap Alan yang gengsi tentunya membuat pria itu mengurungkan niatnya. Ia lantas berpura pura memainkan game kesukaannya ketika mendengar suara langkah kaki yang diduga milik Ratu.


"Mau pergi kemana kamu, nak??." tanya Ibunya ketika melihat Alan tampak begitu tampan dengan stelan casualnya.


"Alan ada janji sama teman, mah." jawab Alan yang tidak sepenuhnya berdusta.


"Paling juga bang Alan akan menemui salah satu dari gadis pengagumnya itu, mah." Ratu yang baru saja menuruni anak tangga ikut menimpali percakapan ibunya dan kakak laki-lakinya itu.


"CK....anak kecil tidak usah ikut campur !!." kalimat Akan mampu membuat Ratu mencebikkan bibirnya kesal.


"Siapa yang anak kecil, sebentar lagi aku akan segera menikah bang, jadi stop it call me anak kecil !!!." melihat raut wajah adiknya berubah sewot, Alan lantas mengulum senyum dibuatnya.


"Iya iya... Abang tidak akan memanggil kamu dengan sebutan anak kecil lagi." ujar Alan sebelum kemudian berlalu pergi setelah berpamitan dengan ayah dan juga ibunya.


***


Di sebuah cafe, Alan menyapu pandangan ke setiap sudut ruangan cafe untuk mencari keberadaan seseorang. Setelah pandangan Alan menemukannya lantas saja pria itu melanjutkan langkahnya menuju ke arah meja orang tersebut.


"Maaf telah membuat anda menunggu." tutur Alan setibanya di meja yang dituju.


"Tidak masalah, lagi pula saya baru saja tiba beberapa menit yang lalu." jawab Toni seadanya, sebelum kemudian mempersilahkan Alan untuk menempati tempat duduk yang masih kosong dihadapannya.


Kini kedua pria itu duduk saling berhadapan. Untuk beberapa saat keduanya tampak diam, mungkin tengah sibuk saling mendalami karakter satu sama lain.


Sampai beberapa saat kemudian, Alan kembali membuka percakapan di antara mereka.


"Maaf sudah menyita waktu anda, maksud dan tujuan saya mengajak anda bertemu di sini adalah ingin menyampaikan beberapa hal pada anda sebelum anda menikah dengan adik saya nanti."


Toni terlihat diam seraya mencerna setiap kata yang ada di dalam kalimat yang baru saja dilontarkan Alan padanya, tanpa berniat menyela.


"Sebagai seorang kakak, saya hanya ingin meminta kepada anda untuk menjaga adik saya dengan baik, tolong jaga raga dan juga perasaan adik saya jika nanti Ratu telah menjadi istri anda !! Dia adikku satu satunya sebagai seorang kakak tentunya saya berharap kebahagiaan selalu menyertai kehidupan rumah tangganya kelak akan tetapi jika suatu saat nanti sesuatu yang tidak diinginkan sampai terjadi, anda tak lagi menginginkannya maka katakan saja padaku jangan katakan padanya karena itu pasti akan melukai hati dan perasaannya !!!." bukannya mengharapkan hal itu terjadi, tetapi saya minta jika sampai hal itu terjadi kembalikan dia secara baik baik padaku !!." akhirnya Alan mengungkapkan semua kekhawatirannya di hadapan pria yang sebentar lagi akan mempersunting adik kesayangannya itu.


Toni tampak menghela napas mendengar ungkapan hati Alan. Sebagai anak sulung yang juga memiliki dua orang adik tentunya Toni bisa mengerti dengan kekhawatiran Alan Saat ini, sehingga membuat Toni tidak merasa tersinggung sama sekali dengan semua ucapan Alan.


"Tanpa anda minta pun saya pasti akan melakukannya karena itu sudah menjadi tanggung jawab serta kewajiban saya sebagai seorang suami untuk menjaga dan melindungi istri saya. Jika menyangkut tentang pernikahan kami mungkin saya tidak bisa menebak apa yang bisa saja terjadi ke depannya, namun sebagai seorang pria saya memiliki prinsip untuk menikah sekali seumur hidup. Dan sebagai seorang pria tentunya saya akan terus berusaha memupuk rasa sayang dan cinta terhadap istri saya nantinya. Dan saya pastikan kekhawatiran anda tidak akan terjadi selama tuhan masih mengizinkan saya untuk bernapas." tutur Toni tanpa keraguan sedikitpun di wajah tampannya.