Trust Me Please.

Trust Me Please.
Siapa pria itu??.



Toni yang tengah sibuk pada kemudi, sejenak menoleh ke samping ketika melihat Ratu yang sejak tadi terlihat diam saja.


"Ada apa, kenapa sejak tadi kamu diam saja??." Toni mencoba memecah keheningan.


Mendengar pertanyaan Toni sontak membuat Ratu menoleh ke arah pria itu.


Cukup lama Ratu menatap Toni yang kini tengah fokus memandang ke depan.


"Apa kak Toni yakin akan menikahi aku??." pertanyaan Ratu mampu menciptakan kerutan halus di kening Toni.


"Pertanyaan macam apa itu??." bukannya menjawab, Toni justru balik bertanya karena menurutnya pertanyaan Ratu sangat tidak logis.


Ratu terlihat menghembus napas bebas ke udara, sebelum kemudian melontarkan pernyataan yang mampu membuat Toni terdiam di buatnya.


"Kita sama sama tahu jika sebelumnya kak Toni mencintai sahabatku, Rahma, dan aku tidak mempermasalahkan hal itu, tetapi aku hanya takut jika Kak Toni hanya menjadikan aku sebagai pelarian saja." akhirnya Ratu pun mengeluarkan kekhawatiran yang selama beberapa hari terakhir ini menjadi kegundahan hatinya.


"Jika kak Toni hanya menjadikan aku sebagai pelarian, sebaiknya kak Toni batalkan saja rencana pernikahan kita !!! sebelum semuanya terlambat." lanjut tutur Ratu dengan hati yang terluka, ketika melihat Toni masih saja diam.


"Saya tidak akan pernah melakukannya, kita akan tetap menikah. Bila perlu saya akan meminta kedua orang tua kita untuk mempercepat pernikahan kita."


Tanpa sadar buliran air mata membasahi sudut mata Ratu, namun dengan cepat diusapnya agar tidak sampai terlihat oleh Toni. Tapi sayangnya usaha Ratu sepertinya sia sia karena Toni telah melihatnya dan pria itu berpikir jika tangisan Ratu di sebabkan harus berpisah dengan sang kekasih.


"Sebesar apa cintamu pada pria itu, sampai kamu nekat ingin mempengaruhi saya untuk membatalkan pernikahan kita??." tanya Toni dengan tatapan tak terbaca.


Paham dengan maksud pertanyaan Toni, Ratu pun terlihat menghela napas dalam sebelum kemudian menjawabnya.


"Jika kak Toni ingin tahu sebesar apa aku mencintai pria itu, aku sangat mencintainya bahkan dia merupakan pria satu satunya yang pernah singgah di hatiku. satu lagi, aku sudah mencintainya sejak lama." pengakuan Ratu sontak membuat Toni menginjak pedal rem secara mendadak.


Cit.


Toni terlihat menghembus napas kasar ke udara. Pria itu terlihat tengah mengontrol emosi dan perasaannya, yang entah mengapa terasa panas setelah mendengar pengakuan dari Ratu.


Ratu bisa melihat dengan jelas kedua tangan Toni yang kini mencengkram erat pada kemudi.


"Kenapa kak Toni terlihat seperti orang yang sedang marah??.". batin Ratu ketika melihat reaksi Toni setelah mendengar pengakuan darinya.


"Sekali lagi saya minta padamu, lupakan pria itu !!! saya tidak suka calon istri saya memikirkan apalagi sampai mencintai pria lain" kali ini raut wajah Toni terlihat tidak main main dengan seruannya. Meski ucapannya pelan namun terdengar penuh penekanan.


"Dan satu lagi, semenjak mengetahui tentang pernikahan Rahma, sejak saat itu pula tak ada lagi nama itu di hatiku. jadi saya pun ingin kamu melakukan hal yang sama pada kekasihmu itu, lupakan pria itu dan belajarlah menerima kehadiranku sebagai calon suamimu!!." Setelah berkata demikian Toni pun kembali melajukan mobilnya menuju ruang sakit.


"Seandainya kamu tahu jika pria itu adalah kamu, kak." ucap Ratu dalam hati.


Setelah pembicaraan yang cukup menguras emosi serta perasaan, baik Ratu maupun Toni memilih diam sampai kini mobil Toni tiba di basemen rumah sakit.


"Sepulang kerja nanti, saya tunggu di sini!!." pesan Toni ketika Ratu hendak membuka pintu mobil dan Ratu pun mengangguk saja, sebelum kemudian melanjutkan pergerakannya turun dari mobil lalu berjalan meninggalkan Toni yang masih berada di dalam mobilnya.


Masih berada di balik kemudi, Toni terus memandang ke arah Ratu yang kini berjalan menjauh darinya.


"Siapa sebenarnya pria itu??." gumam Toni, tanpa sadar Toni mengepalkan tangannya kala teringat akan sosok pria misterius yang di maksud Ratu di mobil tadi.


Suara klakson mobil di belakang mobilnya membuat Toni tersadar dari pemikirannya saat ini.


"Oh astaga..."


***


Tanpa terasa siang telah berganti malam, hampir seharian meninjau lokasi proyek sehingga membuat Riko hari ini pulang terlambat.


Setibanya di rumah, dari balik kaca mobil Riko dapat melihat Rahma yang tengah duduk di teras depan.


Melihat kedatangan mobil Riko, Rahma segera berdiri dari duduknya.


Riko yang baru saja turun dari mobil lantas menghampiri sang istri.


"Ayo masuk , di sini udaranya sangat dingin!!!." tidak ingin sampai Rahma sampai masuk angin karena terkena hembusan angin malam, Riko lantas mengajak Rahma untuk segera masuk ke dalam rumah.


"Aku sengaja duduk di sini untuk menunggu mas pulang." jawaban Rahma membuat seulas senyum terbit di wajah Riko.


"Kangen ya??." tanya Riko dengan nada menggoda.


"Memangnya salah kangen sama suami sendiri??." jawab Rahma seolah mencari pembenaran atas sikapnya.


"Tentu saja tidak sayang, lagi pula kapan ada aturan yang mengatakan perempuan itu salah." jawaban Riko membuat Rahma tersenyum kecil, karena kata kata tersebut merupakan kata kata yang kerap kali diucapankannya.


"perempuan itu selalu benar, bukan begitu sayang??." ucapan Riko sontak mendapat cubitan kecil pada pinggangnya.


"Argggtt.... sakit sayang." Riko berpura pura meringis padahal cubitan tangan mungil Rahma sama sekali tidak terasa sakit.


"Lagian, Siapa suruh usil." jawab Rahma sebelum menjatuhkan bokongnya di sofa ruang tengah dan diikuti Riko yang juga menjatuhkan bokongnya di samping Rahma.


"Apa hari ini harimu sangat melelahkan??." tanya Riko ketika melihat Rahma mulai memijat betisnya yang terasa pegal.


"Lumayan, mas." Jawab Rahma apa adanya.


Riko yang selalu peka, membawa kedua kaki Rahma ke pangkuannya lalu memberikan pijatan lembut.


"Sayang, apa kamu tidak berencana untuk kembali ke Jakarta??." pertanyaan Riko sontak membuat Rahma menghela napas dalam mendengarnya.


"Untuk saat ini aku belum bisa meninggalkan tanggung jawabku begitu saja karena aku telah menandatangani kontrak kerja selama satu tahun dengan pihak rumah sakit, mas."


"Kalau pun jika aku harus terpaksa mengundurkan diri, pihak rumah sakit pasti akan meminta biaya penalti yang tidak sedikit untuk itu."


Tanpa diberitahu oleh Rahma pun, sebagai seorang pebisnis tentunya Riko paham akan penalti yang harus di tanggung, apalagi terjadi pemutusan kontrak kerja secara sepihak dan itu pastinya tidak sedikit.


"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, jika merasa lelah harus tetap bekerja dalam kondisi hamil seperti saat ini, katakan saja pada mas. sebagai seorang suami mas bertanggung jawab untuk mengganti rugi biaya penalti sebagai sangsi dari pihak rumah sakit." mengerti dengan maksud baik suaminya, Rahma pun mengangguk mengiyakan.


"Terima kasih, sayang??." entah sadar atau tidak, untuk pertama kalinya Rahma memanggil Riko dengan sebutan sayang sehingga membuat Hati pria itu berbunga bunga.


Jangan lupa like, koment, vote and give ya sayang sayangku 🙏😊😘🥰 ulasannya juga jangan lupa 🥰🥰🥰😍😍😍


Mampir juga ke karya recehku yang lainnya.


-MENIKAH DI USIA REMAJA.


-TERPAKSA MENIKAH DENGAN KEKASIH SAHABATKU.