
Alan yang baru saja tiba di kamar lantas melangkah acuh tak acuh pada sintia yang kini tengah menatapnya penuh tanya.
Setelah membuka jas dan kemejanya Alan beranjak menuju kamar mandi tanpa berniat mengajak Sintia bicara.
Semakin tak menentu rasanya perasaan Sintia ketika menyadari perubahan sikap suaminya.
Glek.
Di dalam kamar mandi, Alan tampak menelan ludahnya dengan susah payah ketika mengingat sepasang baju tidur berbahan satin yang membalut tubuh istrinya. Sebagai pria normal tentunya pemandangan indah tersebut berpengaruh besar pada Alan, Apalagi bagian celananya memperlihatkan paha putih mulus milik istrinya.
Tidak ingin pikirannya semakin mendominasi dirinya, Alan pun memilih segera mengguyur tubuhnya dengan kucuran air dari shower. Cukup lama Alan berada di kamar mandi, sampai kemudian ia beranjak keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan sebuah handuk berwarna putih yang dililitkan pada pinggangnya.
Sintia yang tengah duduk di tepi ranjang dengan perasaan tak menentu, sontak menatap ke arah kamar mandi ketika mendengar suara pintu kamar mandi yang baru saja di buka.
Melihat Alan masih stay dengan mode diamnya, Sintia pun berinisiatif untuk membuka percakapan lebih dulu.
"Semalam bang Alan kemana ?? Kenapa tidak pulang ke rumah??." tanya sintia ketika Alan melintas, hendak menuju ruang ganti.
"Menginap di rumah teman." jawab Alan acu tak acuh, di sela langkahnya menuju ruang ganti.
Sintia tak lagi bertanya karena kini Alan sudah berada di ruang ganti. Tak berselang lama, Alan kembali dari ruang ganti dengan mengenakan pakaian casual yang di padukan dengan jaket berwarna navi, sehingga membuat Alan semakin terlihat tampan dan hal itu justru membuat perasaan Sintia semakin tak karuan.
"bang Alan mau kemana??." tanya sintia, namun kali ini wajahnya sudah tampak memerah menahan kesal.
"Keluar sebentar, Ada urusan penting." jawab Alan yang ingin memulai sandiwara yang diusulkan Razak.
"Urusan penting apa malam malam begini??." Sintia melangkah mendahului langkah Alan dan kini ia telah berdiri di depan pintu kamar, seolah menghalau langkah suaminya itu.
Sintia yang kini menatapnya dengan tatapan tajam justru membuat Alan merasa gemas melihatnya. Ingin rasanya ia men_cium bibir mungil istrinya yang tampak merah jambu alami yang terpampang di depan matanya, namun Alan tak sampai melakukannya mengingat ia harus memainkan sandiwara yang pagi tadi di usulkan Razak.
"Memangnya tidak ada hari esok untuk mengurus pekerjaan, harus malam malam begini???". Lanjut cecar Sintia.
"Jangan-jangan Abang hanya beralasan saja?? atau jangan-jangan bang Alan justru ingin menemui seseorang di luar sana??." tudingan Sintia membuat Alan seketika menautkan kedua alisnya bingung. Awalnya ia memang ingin memainkan sandiwara dengan kembali menginap di apartemen Razak, namun ia sama sekali tidak menyangka jika hal itu akan membuat istrinya di bakar api cemburu, apalagi saat ini Sintia sengaja menekankan kata seseorang dalam kalimatnya.
Tentunya reaksi Sintia kali ini di luar dugaan Alan, sehingga membuat pria itu tersenyum senang dalam hati.
"Ingat!!! Saat ini Abang masih suami aku, jadi aku berhak tahu Abang mau pergi kemana dan pergi dengan siapa." ucapan Sintia benar benar membuat hati Alan berbunga bunga, dari wajahnya nampak jelas jika istrinya itu tengah di bakar api cemburu.
"Menurut kamu, istri seperti apa yang tega meminta perceraian dari suaminya???." Alan tampak memasang wajah datarnya ketika bertanya.
"Aku tidak meminta perceraian, tapi aku hanya memberikan Abang pilihan. Karena aku tidak ingin memaksa seseorang untuk terus hidup bersamaku jika kenyataannya orang itu sendiri melakukannya hanya karena terpaksa." kata Sintia mengutarakan maksud dan tujuan dari ucapannya semalam.
"Oh ya ..." dengan tatapan penuh makna Alan menyentuh pipi Sintia dengan punggung tangannya.
"Tapi ingat!!! Jika Abang sudah menyentuhku itu artinya pilihan dariku semalam tak lagi berlaku, jika bang Alan berani menyentuhku itu artinya bang alan tidak boleh lagi meninggalkan aku apapun alasannya!!." rasanya kini begitu banyak kupu kupu berterbangan di sisinya ketika sang istri berkata demikian. rencana sandiwara yang hendak di mainkan Alan seketika di lupakannya begitu saja.
Tanpa menjawab ucapan Sintia, Alan mendaratkan kecupan pada bibir mungil istrinya. Sebuah kecupan yang semakin lama semakin dalam hingga berubah menjadi sebuah lu_matan yang mampu menciptakan suara decapan yang memenuhi seisi kamar.
Ci_uman Alan turun ke leher jenjang milik sang istri yang tampak putih bersih tanpa noda, sementara tangan kekarnya sudah menyusup masuk ke dalam baju Sintia, memainkan kedua benda sintal milik Sintia. suara erangan Sintia ketika ia memainkan salah satu dari benda sintal nan padat berisi tersebut membuat Alan semakin bersemangat dengan kegiatannya itu.
Hingga beberapa saat kemudian.
"Bolehkah saya meminta hak sebagai seorang suami malam ini?". bisik Alan dengan suara yang sudah terdengar parau, tepat di telinga sang istri.
Perlahan Sintia mengangguk sebagai tanda setuju akan permintaan suaminya.
Merasa mendapat Lampu hijau, Alan pun menggendong tubuh sang istri menuju tempat tidur.
Dan malam ini sepasang suami istri tersebut menikmati indahnya surga dunia. Alan yang begitu candu dengan tubuh sang istri entah berapa kali mengulang permainan panas di antara mereka malam ini, yang jelas saat terjaga di pagi hari Sintia merasa badannya seperti mau remuk akibat mengimbangi permainan panas suaminya semalam. Untungnya ia tidak sampai terlambat bangun pagi ini, jika tidak bisa di pastikan Sintia akan mendapatkan Omelan dari keluarga pasien karena rencananya pagi ini ia akan melakukan tindakan operasi pada pasien yang menderita usus buntu.
Sintia yang menyadari Alan tengah menatapnya sontak memalingkan wajahnya karena merasa malu. Semburat merah di wajah Sintia semakin meyakinkan Alan jika saat ini istrinya itu merasa malu padanya, mungkin karena kegiatan panas Mereka semalam.
"Kenapa, kamu masih malu??." Alan membawa tubuh Sintia yang masih mengenakan bathrobe, ke pangkuannya lalu mengendus aroma tubuh Sintia yang baru saja selesai mandi.
"Ingat bang !! Sesuai dengan ucapanku semalam, karena bang Alan telah menyentuhku maka sekarang aku tidak peduli lagi, mau Abang cinta ataupun tidak padaku, aku tidak peduli lagi yang jelas aku tidak ingin sampai bang Alan meninggalkan aku!!." tegas Sintia. Tanpa peduli dengan pertanyaan Alan sebelumnya.
Ingin rasanya Alan tersenyum lebar ketika mendengar penuturan tegas dari Sintia saat ini. Bagaimana tidak, jangankan jika Sintia tidak menginginkan perceraian, sekalipun Sintia menginginkan perceraian, ia tidak akan pernah menceraikan istrinya itu. Prinsip teguh Alan yang paling tidak menyukai yang namanya perceraian, sepertinya sudah mendarah daging apalagi jika kenyataannya ia begitu mencintai sang istri.
"Sampai kapanpun saya tidak akan pernah menceraikan kamu, sayang, sekalipun kamu yang menginginkannya." sahut Alan sebelum kemudian mengecup tengkuk Sintia.
Kini sintia tak peduli lagi, mau Alan cinta ataupun tidak padanya yang jelas kini ia sudah menjadi istri Alan sepenuhnya, apalagi jika kegiatan mereka semalam menghadirkan kehidupan di rahimnya. kalau benar begitu, Sintia tidak ingin sampai anaknya tidak merasakan kasih sayang dari ayahnya.
Selamat bermalam Minggu sayang sayangku 😘🥰🥰🥰🥰🥰 jangan lupa sawerannya ya like, koment, vote, give and subscribe.... setiap komentar yang kalian tinggalkan pasti aku baca dengan segenap jiwa dan raga 😅😅😅😅😅😅😅😅