
Sadar jika sandiwara kakeknya diketahui oleh Sintia, Ratu hanya bisa tersenyum kaku di hadapan Sintia. Untungnya dari gurat wajah Sintia tak sedikitpun terlihat kesal apalagi marah, ia justru tersenyum, sehingga membuat Ratu merasa lega.
Sementara Alan yang baru saja selesai mandi dan juga berganti pakaian baru saja tiba di kamar kakek Harka. pria itu terlihat mengenakan pakaian rumahan, sebuah kaos oblong berwarna putih yang dipadukan dengan celana puntung model cargo berwarna hitam. meski dengan pakaian santai sekalipun tak membuat ketampanan Alan berkurang sedikitpun.
Baru saja Alan tiba di kamar kakeknya tiba tiba ART datang menyampaikan jika montir panggilan langganannya baru saja tiba untuk mengantarkan mobil milik Sintia.
Alan lantas pamit dari kamar Kakek Harka hendak menemui mas Dika. Mas Dika merupakan nama dari montir panggilan langganan Alan.
"Mobilnya sudah beres, mas Alan. Ini kuncinya." mas Dika lantas menyerahkan kunci mobil Sintia pada Alan.
"Terima kasih, mas Dika." setelah menerima kunci mobil dari mas Dika, Alan lantas merogoh kantong celananya untuk mengeluarkan dompetnya.
"Ini ongkosnya mas.".tanpa banyak berapa biaya untuk jasa yang diberikan mas Dika, Alan memberikan lima lembar uang kertas berwarna merah pada pria itu.
"Banyak amat, mas." ucap Dika, merasa pemberian Alan terlalu banyak untuk sekedar mengganti sebuah ban mobil yang kempes.
"Tidak apa apa ambil saja mas!! Anggap saja itu rezeki dari Allah untuk mas Dika hari ini." sahut Alan, kemudian mengulas senyum di wajah tampannya.
"Wah.... beruntung sekali wanita yang akan mendapatkan hati mas Alan, sudah ganteng, baik lagi. BTW makasih banyak ya mas."
Alan Hanya menanggapi ucapan terima kasih dari mas Dika dengan anggukan sekilas yang di sertai senyum tipis.
"Berapa ongkosnya, mas??." Sintia yang kebetulan baru saja keluar bersama dengan Ratu, tak Sengaja melihat keberadaan mas Dika.
"Ongkosnya sudah di bayar sama mas Alan, mbak. Enak ya mbak punya pacar yang pengertian seperti mas Alan." komentar Mas Dika sontak membuat Alan dan Sintia kompak beralih menatap ke arah pria itu, Sedangkan Ratu terlihat menahan senyum di bibirnya.
Menyadari tatapan Alan dan Sintia tak membuat mas Dika peka, pria itu justru melontarkan pernyataan yang membuat Ratu hampir tak dapat menahan senyum di wajahnya.
"Mas Alan dan mbaknya terlihat sangat serasi, yang satu ganteng yang satunya lagi cantik."
"Menurut mas Dika mereka cocok nggak??." Ratu ikut nimbrung dengan ocehan mas Dika, dan itu mampu membuat Alan menatap tajam padanya.
"Tentu saja, bahkan sangat serasi." lanjut komentar mas Dika.
"Bukan Ratu yang bilang loh, Bang, mas Dika yang bilang." tutur Ratu seolah ingin berada di zona aman.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu, hanya Kardi sendirian di bengkel. Terima kasih banyak ya mas Alan." ucap Mas Dika sebelum berlalu meninggalkan rumah Alan.
Setelah kepergian Mas Dika, dan Ratu juga pamit ke dalam dengan Alasan ingin menelepon suaminya, suasana di antara Alan dan Sintia tampak canggung. Apalagi setelah begitu banyak statement dari mas Dika tadi.
"Ayo masuk!! Angin malam tidak baik untuk kesehatan." merasa suasana di antara mereka berdua terasa begitu canggung, Alan pun mengajak Sintia masuk ke dalam rumah, di mana mama Rani telah menyajikan minuman untuk Sintia.
Sepertinya sandiwara kakek Harka semakin terbukti ketika pria itu ikut bergabung di ruang tengah bersama mereka, dan dari apa yang dilihat Sintia kondisi kakek Harka sangat sehat bahkan.
Setelah cukup lama mengobrol santai bersama keluarga Ratu, Sintia pun pamit pulang mengingat waktu telah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
"Sekali lagi terima kasih karena anda sudah membayar biaya perbaikan mobil saya." ucap Sintia pada Alan sebelum beranjak ke mobilnya.
"Seharusnya saya yang berterima kasih karena sudah merepotkan anda." sahut Alan dan ditanggapi dengan senyum oleh Sintia. Sebuah Senyum yang mampu menggetarkan hati setiap kaum Adam yang melihatnya, tak terkecuali Alan.
"Tidak masalah, karena itu termasuk tugas saya." sahut Sintia sebelum benar benar berlalu menuju mobilnya.
Setelah melihat mobil Sintia berlalu meninggalkan pekarangan rumah, Alan lantas kembali ke dalam.
"Asyik nih obrolannya." Ratu yang diam diam mengintip dari balik jendela lantas melontarkan komentar menggoda pada Alan, yang baru saja memasuki pintu utama.
Ratu yang masih ingin terus menggoda abangnya itu lantas mengekor di belakang langkah Alan, hingga kini Ratu pun ikut menjatuhkan bokongnya di sofa yang tak jauh dari Alan yang juga baru saja menjatuhkan bokongnya.
"Mah....pah.... sepertinya seru kalau menantu perempuan papa juga dokter." ujar Ratu seraya melirik ke arah Alan, yang kini tengah sibuk menatap layar ponselnya.
"Boleh juga, memangnya di mana salahnya, iya kan, Lan??." jawaban papa Sofyan membuat pandangan Alan beralih dari layar ponselnya.
"Kalian bicara apa sih." tepis Alan dengan nada dan wajah datarnya.
Setelahnya, Alan pun menceritakan kepada papa Sofyan, mama Rani, kakek Harka dan juga Ratu, jika ia baru saja di angkat menjadi CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Dan tentu saja kabar tersebut membuat semua anggota keluarganya turut merasa senang mendengarnya.
***
"Kamu baru pulang, nak??." Sintia yang baru saja tiba di rumah lantas menghentikan langkahnya ketika mendengar suara ayahnya.
"Iya." jawaban Sintia terdengar singkat padat dan jelas. Sehingga membuat tuan Mardin hanya bisa menghela napas berat melihat sikap putrinya itu.
"Bisa papa bicara denganmu sebentar, nak??.". Tuan Mardin meminta waktu untuk bicara dengan Sintia.
Tanpa merespon ucapan ayahnya dengan kata kata, kini Sintia beranjak menuju ruang tengah.
Sintia menjatuhkan bokongnya di sofa ruang tengah, begitu pun tuan Mardin yang kini telah menempati sofa single yang berhadapan dengan Sintia.
Sintia memandang ayahnya dengan tatapan nyaris tanpa ekspresi.
"Memangnya apa yang ingin papa bicarakan dengan Sintia??." tanya Sintia tanpa basa-basi.
"Sintia, papa ingin kamu mengerjakan sesuatu untuk perusahaan kita. Papa ingin kamu yang menjadi model iklan untuk produk terbaru di perusahaan kita!!." kedua Alis Sintia tampak saling bertaut ketika mendengar permintaan dari ayahnya.
"Model iklan??." ulang Sintia dan ayahnya lantas mengangguk sebagai jawaban.
"Maaf, aku tidak bisa karena aku ini dokter bukannya model." jawabnya masih dengan nada dan juga Ratu wajah datar.
"Sintia, papa rasa kamu sangat cocok untuk menjadi model iklan untuk produk baru Kita. Kamu harus ingat Sintia, mengembangkan perusahaan bukan hanya mimpi papa tapi juga mama kamu. jika kamu memang sayang pada mama, tentunya kamu tidak akan menolak permintaan papa."
Mendengar ayahnya membawa serta nama almarhumah ibunya, membuat Sintia tak kuasa lagi menolaknya.
"Kapan Sintia harus ke perusahaan papa??." tanya Sintia setelah beberapa saat menimbang nimbang akan keputusan yang akan diambilnya.
Seulas senyum terbit di wajah tuan Mardin mendengarnya.
"Semua tergantung pada kamu, nak, papa rasa lebih cepat lebih baik!!!" jawab tuan Mardin dengan wajah berbinar.
"Baiklah, besok jika tidak terlalu sibuk, aku akan datang ke perusahaan." jawaban Sintia sekaligus mengakhiri percakapan di antara ayah dan anak tersebut, sebelum kemudian Sintia berlalu menuju kamarnya berada.
Jangan lupa like, koment, vote, give, and subscribe ya Sayang sayangku....🙏🙏😘😘😘
Setiap komentar yang kalian tinggalkan pasti akan aku baca dengan segenap jiwa dan raga 😅😅 tak ada yang terlewatkan, semuanya aku baca. 😍😍😍😁😁.
And don't forget to reading karya recehku yang lainnya ya.....
Sambil menunggu Trust me please update, boleh mampir ke SEMUA BUKAN INGINKU... yang saat ini juga masih on going...btw thanks for reading.....🥰🥰🥰🥰