Trust Me Please.

Trust Me Please.
Tindakan operasi.



"Selamat pagi.". kedatangan Dokter Sintia di kamar perawatan Rahma membuat perhatian Riko dan Rahma lantas beralih pada wanita itu.


"Selamat pagi dokter." sahut Riko dan Rahma hampir selaras.


Riko sempat dibuat bertanya tanya ketika melihat senyuman penuh di wajah Dokter Sintia.


"Jika tuhan sudah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin." ucapan Sintia yang terkesan menggantung lantas membuat Riko bertanya.


"Memangnya apa yang terjadi, bu dokter??." tanya Riko dengan alis saling bertaut.


"Beberapa hari yang lalu ada seseorang yang datang ke rumah sakit dan beliau bersedia menjadi pendonor untuk Dokter Rahma. Setelah melakukan pemeriksaan ternyata hasil Sempel milik calon pendonor memiliki kesamaan dengan milik pasien, dengan begitu sebentar lagi dokter Rahma bisa melakukan tindakan operasi transplantasi hati." mendengar penuturan dari Sintia tentu saja membuat Riko tak sanggup menahan haru. Di palingkannya wajahnya dari Sintia dan juga Rahma untuk mengusap buliran bening yang lolos tanpa permisi di sudut matanya, sebelum kemudian kembali memandang ke arah Sintia.


"Terima kasih atas kabar baiknya Bu dokter. untuk janji saya waktu itu, saya akan segera meminta sekretaris saya untuk mengantarkan uangnya ke sini." tutur Riko dengan wajah bersemangat.


Senyum di wajah Sintia perlahan surut.


"Tetapi sayangnya, calon pendonor tidak bersedia menerima uang sepeserpun dari keluarga pasien, Tuan Riko." penyampaian dari Sintia membuat Riko bingung dibuatnya.


"Kenapa?? Bukankah sejak awal ia sudah menjanjikan imbalan yang tidak sedikit bagi seseorang yang bersedia menjadi pendonor untuk istrinya, tapi mengapa seseorang tersebut justru menolaknya??? Logikanya mana ada orang yang mau menolak sejumlah uang yang cukup besar di zaman sekarang ini." berbagai macam stigma kini bersarang di benak Riko.


"Tapi kenapa orang itu menolak ucapan terima kasih dari kami, Bu dokter??.". akhirnya Riko melontarkan pertanyaan yang sejak tadi membuatnya berstigma.


"Untuk itu saya juga kurang tahu, tuan. Yang jelas beliau secara terang-terangan menolak ucapan terima kasih dengan bentuk apapun dari pihak keluarga pasien, calon pendonor juga meminta pihak rumah sakit untuk merahasiakan identitasnya." lanjut tutur Dokter Sintia.


Kini Sintia kembali fokus pada kondisi pasien.


"Untuk selanjutnya saya akan menyampaikan kabar ini pada dokter spesialis bedah, yang akan melakukan tindakan operasi transplantasi terhadap dokter Rahma." tutur Sintia selaku dokter Sp.PD Yang selama beberapa hari ini memantau kondisi kesehatan Rahma.


"Baik Bu dokter." jawab Riko. Mempercayakan semuanya pada Sintia.


Mendengar semua penyampaian dari Sintia, Rahma semakin yakin tuhan begitu sayang padanya dengan mengirimkan seseorang yang berhati mulia untuk menyelamatkan hidupnya.


"Siapapun seseorang tersebut, Tolong sampaikan padanya rasa terima kasihku sedalam dalamnya kepadanya. Aku hanya bisa berdoa semoga kehidupannya selalu dilimpahi kebahagiaan oleh tuhan.


Setelah merasa cukup dengan penyampaian yang sudah ia sampaikan kepada pasien, Sintia lantas pamit meninggalkan kamar perawatan Rahma hendak kembali ke ruangan tempatnya bertugas.


Namun dikarenakan sedikit terburu buru Sintia tak sengaja menabrak tubuh tegap seorang pria ketika melintas di salah satu koridor gedung rumah sakit.


"Maaf tuan, saya tidak sengaja.". Sadar jika ia salah karena sudah berjalan dengan terburu buru, Sintia lantas meminta maaf ketika ia sedang memunguti berkasnya yang sempat berhamburan ke lantai akibat insiden tersebut.


"Ternyata di mana mana anda selalu saja tidak bisa menggunakan kedua mata anda dengan baik, nona." suara datar seseorang yang tidak terdengar asing membuat Sintia lantas mendongakkan kepalanya.


"Anda.".Dengan wajah berubah kesal Sintia menunjuk tepat ke arah pria bertubuh tegap itu.


Tanpa peduli dengan tatapan kesal Sintia padanya pria itu berlalu begitu saja meninggalkan Sintia dengan wajah kesalnya.


"CK ....enak saja dia mengatai aku tidak menggunakan mataku dengan benar, jika aku tidak menggunakan mataku dengan benar mungkin Sudah banyak pasienku yang mati. dasar pria sombong.". Meski memiliki profesi yang terbilang cukup anggun dan berwibawa di mata masyarakat, namun Sintia tetaplah seorang wanita yang ketika mengomel akan mengalahkan aungan singa.


**


"Tumben bang Alan mampir ke sini?? Kangen aku ya??." tanya Ratu sengaja ingin menggoda kakaknya itu.


"Jangan terlalu percaya diri, kalau bukan karena mama yang memintanya Abang juga Malas datang ke sini." begitulah sikap Alan, jika di hadapan adiknya pria itu pasti bersikap acuh padahal kenyataannya ia begitu menyayangi adik perempuannya itu. Ia bahkan tidak malu membawa sebuah rantang yang berisikan makanan buatan ibunya untuk sang adik tercinta.


"Memangnya kenapa mama sampai menyuruh Abang datang ke sini??.". Tanya Ratu dengan wajah berubah sebal pada Alan.


"Ini." Alan menyerahkan rantangan titipan mamanya pada Ratu.


"coba cek dulu, apa rantangnya masih aman!!." kalimat Alan membuat Ratu spontan menautkan alisnya bingung.


"Masih aman??? Memangnya apa yang terjadi??."


"Sepertinya rumah sakit ini harus lebih hati-hati lagi dalam menerima tenaga medis yang ingin melamar kerja di sini, jangan sampai ke depannya ada lagi dokter kurang waras seperti yang Abang temui di depan tadi di terima lagi di rumah sakit ini." bukannya menjawab, Alan justru melontarkan statement yang semakin membuat Ratu bingung dibuatnya.


"Dokter kurang waras?? Siapa yang Abang maksud??."


"Sudah lah.... tidak perlu di bahas lagi, Abang tidak ingin membuang buang waktu dengan membahas wanita kurang waras itu." ujar Alan sebelum hendak berlalu.


"Tidak boleh begitu bang !!! enggak takut kena karma nantinya?? Bisa saja kan nantinya Abang justru jatuh hati pada wanita yang Abang anggap kurang waras itu." ledek ratu dengan tawa.


"CK... tidak akan..." sahut Alan sebelum benar benar berlalu.


"Aku jadi penasaran, siapa sih dokter perempuan yang bang Alan bilang kurang waras??." gumam Ratu setelah kepergian Alan.


***


Keesokan harinya.


Hampir semua persiapan telah dilakukan sebelum melakukan tindakan operasi pada Rahma, tindakan operasi yang akan dilakukan oleh beberapa orang dokter yang bergabung menjadi satu tim, dokter Sintia termasuk salah satu dokter diantaranya.


Jantung Rahma berdebar tak menentu ketika perawat yang bertugas mendorong brankarnya memasuki pintu ruang operasi.


Dengan lembut Sintia berusaha meyakinkan Rahma jika semua akan baik baik saja, serahkan pada tuhan sang pemilik segalanya.


Tindakan yang akan memakan waktu cukup lama tersebut membuat Riko yang menunggu di depan ruangan operasi tampak mondar mandir bak setrikaan dengan wajah cemasnya.


"Ya tuhan...hamba mohon, selamatkan lah istri Hamba." dengan kesungguhan hati Riko bermunajat kepada sang pencipta untuk keberhasilan operasi yang akan di jalani sang istri tercinta.


Beberapa jam kemudian lampu di depan kamar operasi yang tadinya menyala kini telah dimatikan, pertanda tindakan operasi telah selesai.


Tak berselang lama seorang dokter terlihat keluar dari pintu kamar operasi.


"Bagaimana operasinya dokter??." tanya Riko pada dokter yang mengetuai tim dokter.


"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, tuan Riko." jawaban dokter lantas membuat Riko bersujud syukur tanpa peduli pandangan orang padanya saat itu.