
Cukup lama Alan berada di kediaman tuan Mardin, sampai kemudian ia pun pamit ketika melihat jarum jam yang melingkar pada pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul sebelas malam.
Malam itu sebelum meninggalkan kediaman tuan Mardin, Alan menyampaikan pada pria paru baya tersebut jika ia akan segera mengajak serta kedua orang tuanya untuk melamar Sintia secara resmi, dan tuan Mardin pun setuju dengan itu.
Sintia yang hendak mengantarkan Alan hingga ke depan tak sengaja melihat ponsel Alan yang tertinggal di atas meja. Sintia lantas mengambilnya, hendak mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya.
"Maaf tuan, ponsel anda ketinggalan.". Kata Sintia yang berada beberapa langkah di belakang Alan.
Alan menoleh kemudian menatap Sintia cukup intens.
"Mulai sekarang ubahlah panggilanmu, saya adalah calon suamimu bukan majikan kamu!!." tutur Alan pelan dan itu membuat Sintia jadi salah tingkah dibuatnya, apalagi alan terkesan menekan kata calon suami pada kalimatnya.
"Lalu aku harus memanggil anda dengan sebutan apa??." tanya Sintia dengan wajah yang tampak sudah merah merona akibat ucapan Alan yang menekankan kata calon suami padannya.
"Abang, mas, kakak, atau.... sayang juga boleh!!." kembali Alan menekankan kata sayang dan itu membuat Sintia seakan ingin menyembunyikan wajahnya untuk sementara waktu agar semburat merah di wajahnya tak nampak oleh pria itu.
"Ini ponsel bang Alan ketinggalan." tutur Sintia dengan nada terbata ketika menyebutkan kata Abang di depan nama Alan. Mungkin karena belum terbiasa sehingga membuat Sintia terbata mengucapkan panggilan baru tersebut pada Alan.
"Thank you, my future wife." ucap Alan dengan menarik sudut bibirnya ke samping seraya menerima ponselnya dari tangan Sintia.
"Hemmm." hanya itu yang terlontar dari bibir sintia ketika Alan memangilnya dengan sebutan calon istriku.
Setelahnya, Alan pun beranjak menuju mobilnya, namun sebelum itu tangan kekar Alan terulur untuk mengelus lembut puncak kepala Sintia. "Good night." ucapnya sebelum benar benar berlalu.
Sintia masih berdiri di depan sembari menyaksikan mobil Alan meninggalkan gerbang rumahnya.
"Tuan Alan ganteng banget ya non." Bi Ani yang sejak tadi menyaksikan percakapan keduanya dari kejauhan lantas mendekati Sintia ketika melihat mobil Alan telah meninggalkan gerbang utama.
"Coba saja kalau bibi belum menikah dan cantik, pasti bibi mau di jadikan kekasih sama tuan ganteng itu, non." celetukan bi Ani sontak saja membuat pandangan Sintia kembali beralih pada ART tersebut.
Sintia tersenyum mendengarnya, bagaimana tidak, bi Ani yang tidak bisa melihat pria tampan pasti akan mengucapkan celetukan yang tak jauh berbeda.
"Kalau yang ini nggak boleh ya bi, karena yang satu ini milik Sintia." sahut Sintia dengan diiringi senyum di akhir kalimatnya.
Setelah mengatakan itu, Sintia berlalu meninggalkan bi Ani yang masih berdiri mematung sembari mencerna setiap kata dari kalimat yang Baru saja di ucapkan Sintia.
Sebelum ke kamarnya, Sintia lebih dulu memastikan jika keadaan ayahnya baik baik saja dan perawat yang bertugas merawat ayahnya melakukan tugasnya dengan baik.
***
Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk seorang Sintia, karena kedua matanya sangat sulit untuk dipejamkan. entah sudah berapa kali Sintia merubah posisi tidurnya agar mendapat posisi ternyaman dan pada akhirnya bisa memejamkan kedua matanya, tetapi pada akhirnya sampai waktu menunjukkan pukul dua dini hari Sintia tak kunjung dapat memejamkan matanya.
Satu kenyataan yang mungkin tak diketahui oleh Sintia yakni, saat ini Alan pun kesulitan untuk memejamkan matanya.
**
Keesokan harinya di perusahaan Mardin group. Razak yang memperhatikan wajah Alan yang tampak seperti kurang tidur lantas bertanya.
Alan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Jika tidak bekerja, lalu kenapa wajah anda terlihat seperti lelah begitu,tuan??." Razak yang penasaran terus melontarkan pertanyaan yang membuat dirinya penasaran.
"Saya tidak bisa tidur." jawab Alan apa adanya, sembari memeriksa beberapa dokumen yang tadi bawakan oleh Razak.
"Kenapa anda_." Razak tak dapat menyelesaikan kalimatnya ketika melihat pandangan Alan beralih padanya.
"Saya juga tidak tahu kenapa, yang jelas saya tidak bisa memejamkan kedua mata saya hingga pukul empat pagi barulah saya bisa tertidur dan itu hanya dua jam saja." sela Alan sebelum kembali fokus dengan berkas di hadapannya.
"Sepertinya tuan Alan sedang terkena virus jatuh cinta." tebak Razak dengan nada lirih namun masih terdengar jelas oleh Alan.
"Sepertinya begitu." jawab Alan yang kini masih fokus dengan berkas dihadapannya, dan itu membuat Razak spontan menutup mulutnya rapat-rapat, karena bisa di pastikan ucapannya tadi masih dapat di dengar oleh Alan.
Sore harinya, tepatnya pukul lima sore Alan segera bersiap untuk segera pulang. Hari ini Alan pulang tepat waktu mengingat semalam ia telah menyampaikan kepada kedua orang tuanya untuk melamar Sintia secara resmi untuk dirinya malam ini.
Seharian Alan disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan kantor yang cukup menguras tenaganya, apalagi semalaman ia pun susah tidur, Namun hal itu tidak membuat Alan sampai kekurangan semangat.
Setibanya di rumah, Alan mendapati rumah sepi, hanya bi Inah yang tampak bersih bersih di ruang keluarga.
"Kemana mama dan papa, bi??." tanya Alan.
"Bapak dan ibu sedang berada di kamar den, katanya mau siap siap karena malam ini mau bertamu ke rumahnya non sintia." beritahu bi Inah sesuai apa yang siang tadi dikatakan mama Rani padanya
"Oh begitu ya bi, saya pikir mama dan papa lupa dengan janji kami semalam." kata Alan sebelum kemudian beranjak menuju kamarnya.
***
Di kediaman tuan Mardin, di sinilah Alan dan juga kedua orangtuanya berada, untuk melamar secara resmi seorang gadis pilihan putranya tersebut.
Tuan Mardin tampak menemui tamunya dengan di antarkan oleh seorang perawat dengan menggunakan kursi roda.
"Maaf tuan, kamu sudah mengganggu waktu istri anda." kata papa Sofyan merasa sungkan, mengingat saat ini ayahnya Sintia harus mendapatkan bantuan dari seseorang untuk dapat menemui mereka.
"Sama sekali tidak mengganggu, saya justru merasa senang anda dan juga istri meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah kami, tuan." jawab tuan Mardin dengan ramah, dan membuat tamunya merasa lega mendengarnya.
"Mungkin sebelumnya putra kami telah menyampaikan maksud dan tujuan kami datang ke sini, yakni ingin melamar putri anda untuk menjadi calon istri dari putra kami, Alan." kata papa Sofyan membuka percakapan serius di antara mereka.
Tuan Mardin pun membenarkan jika Alan telah meminta izin darinya untuk melamar Sintia dan dengan senang hati ia memberikan izin serta restu pada Alan untuk menjadi menantunya.
Cukup lama percakapan di antara kedua keluarga, sampai akhirnya mereka sepakat jika pernikahan anak anak mereka akan di langsungkan bulan depan.
Sementara Alan dan Sintia menyerahkan sepenuhnya pada orang tua masing masing termasuk memutuskan hari pernikahan mereka.