
Tidak seperti orang orang pada umumnya, yang akan merasa gembira jika menduduki posisi CEO, Alan justru merasa kurang bersemangat. Bukan apa apa, dengan menjadi CEO secara otomatis akan membuat tanggung jawabnya di perusahaan akan semakin bertambah besar, sementara Alan juga harus sesekali turun tangan langsung dalam mengembangkan restoran miliknya.
Dengan langkah kurang bersemangat Alan kembali ke rumah dengan mengendarai mobilnya.
Beberapa saat kemudian mobil Alan pun tiba di kediaman orang tuanya.
Tanpa di ketahui oleh Alan ternyata kini adik perempuannya tengah berada di rumah orang tuanya untuk menjenguk kakek Harka.
"Kusut amat tuh muka kayak cucian belum kena setrikaan aja." ledek Ratu ketika melihat Alan berjalan memasuki pintu masuk utama.
"Sendiri saja datang ke sini??." Alan yang tidak berminat merespon ledekan Ratu lantas bertanya dengan mode datar.
"Aku datang bersama dengan kak Toni, memangnya Abang, kemana mana sendirian.". Sepertinya Ratu belum jerah untuk meledek Alan, sehingga membuat Alan mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut adiknya itu.
"Bang Alan." Dengan wajah kesal Ratu menepis tangan Alan, sebelum kemudian perhatiannya beralih pada ponsel yang berada di genggamannya yang kini berdering.
"Dokter Sintia." gumam Ratu ketika melihat nama pemanggil di ponselnya, sebelum kemudian menggeser ke atas ikon hijau di layar ponselnya.
"Halo."
"Maaf dokter Ratu, sepertinya saya akan sedikit terlambat tiba di rumah anda karena ban mobil saya kempes, mana di sekitar sini tidak ada bengkel tambal ban." terang Sintia di seberang sana, akan kondisi yang di alaminya saat ini pada Ratu.
Mendengar itu membuat Ratu merasa tidak enak karena sudah merepotkan Sintia untuk datang memeriksa kondisi kakeknya.
"Serlok alamat anda dokter Sintia, nanti saya akan meminta tolong pada sopir untuk ke sana membantu anda!!" pinta Ratu pada Akhirnya, dan di seberang sana tanpa berpikir panjang Sintia pun mengiyakannya. Daripada harus berada di jalanan hingga besok, setidaknya begitu pikir Sintia kala menerima tawaran Dari Ratu.
Ratu di buat bingung sendiri harus meminta bantuan pada siapa ketika mama Rani menyampaikan jika sopir papa Sofyan ternyata hari ini tidak masuk kerja karena anaknya sedang sakit, ia harus mengantarkan anaknya ke dokter.
"Oh astaga...." Ratu jadi bingung sendiri harus meminta bantuan kepada siapa. Pada Suaminya tidak mungkin, karena saat ini suaminya sedang pamit sebentar ke supermarket untuk membeli sesuatu.
Seketika Ratu menarik sudut bibirnya ke samping ketika pandangannya tertuju pada Alan yang kini hendak menapaki anak tangga menuju kamarnya.
"Bang....bang Alan." seruan Ratu sontak membuat Alan menoleh ke sumber suara.
"Ada apa lagi??." tanya Alan dengan wajah malas karena saat ini rasanya badannya sudah terasa gerah akibat seharian beraktivitas.
Ratu lantas beranjak mendekati Alan.
"Bang, Ratu minta tolong, boleh??." pinta Ratu dengan memasang wajah memelas.
"Tidak bisa, Abang mau mandi sudah gerah sekali rasanya badan Abang." jawab Alan sebelum kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Aduh bagaimana ini..... Jika sampai terjadi sesuatu pada dokter Sintia, sudah pasti keluarganya akan menyalahkan aku dalam hal ini." gumaman Ratu masih terdengar jelas di telinga Alan yang baru menapaki anak tangga ke ketiga.
"Lagian kenapa ban mobilnya pake kempes segala sih.". lanjut Ratu merasa kesal dengan kejadian ban kempes yang dialami Sintia saat ini.
Dan hal itu sekaligus mampu membuat Alan menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Ratu.
"Minta dia Serlok sekarang, lalu lanjutkan ke ponsel Abang!!." pinta Alan yang kini telah berbalik arah berjalan keluar rumah, menuju mobilnya.
Dengan cepat Ratu melanjutkan serlok yang tadi di kirim Sintia ke ponsel Alan. kini mobil Alan kembali memecah jalanan menuju serlok yang baru saja dikirimkan Ratu ke aplikasi hijau miliknya.
Empat puluh lima menit kemudian mobil Alan pun tiba di lokasi. Dari kejauhan Alan dapat melihat sebuah mobil yang terparkir, namun ia tidak melihat pemiliknya. Setelah turun dari mobil kemudian berjalan mendekati mobil tersebut ternyata pemiliknya sedang berada di dalamnya.
Setelah mengetuk kaca mobil beberapa kali akhirnya seseorang di dalam sana menurunkan kaca mobilnya.
"Mana kunci mobilnya???" tanya Alan ketika Sintia baru saja turun dari mobil.
"Ini." tanpa banyak bertanya Sintia lantas menyerahkan kunci mobilnya pada Alan. Tak berselang lama, dua orang montir panggilan langganan Alan tiba di lokasi.
"Ini kunci mobilnya, setelah selesai mengganti ban mobil yang kempes, antarkan mobil ini ke rumah saya!!." titah Alan seraya menyerahkan kunci mobil Sintia pada salah seorang diantaranya.
"Baik, Mas Alan." jawab pria yang ternyata cukup dekat dengan Alan tersebut.
"Untung mbaknya punya pacar sebaik mas Alan yang selalu siaga, kalau enggak bisa bisa mbak menginap di sini semalaman." tutur pria itu setelah menerima kunci mobil dari Alan. Dan hal itu sekaligus membuat Alan dan Sintia spontan saling melempar pandangan satu sama lain.
Baik Sintia maupun Alan hanya diam saja, tidak mengiyakan ataupun menepis pernyataan dari pria itu, sebelum kemudian mereka berlalu masuk ke mobil Alan.
Selama di perjalanan menuju kediaman orang tua Alan, baik Alan maupun Sintia tak ada yang membuka obrolan hingga membuat suasana terasa begitu hening. Sampai mobil Alan tiba di rumah pun suasana masih saja tampak hening.
Tanpa menunggu Alan membukakan pintu mobil untuknya, Sintia segera turun dari mobil kemudian menghampiri Ratu yang baru saja keluar dari dalam rumah.
"Maaf sudah merepotkan anda, dokter Sintia." ucap Ratu sungguh merasa tidak enak hati pada Sintia.
"Tidak perlu minta maaf, lagi pula sampai saat ini saya baik baik saja." sahut Sintia yang kini mengukir senyum di wajah cantiknya.
Setelahnya, Ratu pun mengajak Sintia untuk segera masuk ke dalam rumah.
Mama Rani yang baru menyadari kedatangan Sintia lantas bangkit dari duduknya untuk menyambut. Sedangkan Alan sendiri sudah berada di kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.
"Selamat malam, Bu dokter.". Sapa Mama Rani dan juga papa Sofyan hampir bersamaan.
"Selamat malam.... panggil Sintia saja, Om, Tante!!." pinta Sintia mengingat saat ini mereka sedang tidak berada di rumah sakit. meski awalnya merasa sungkan namun pada akhirnya mama Rani pun mengangguk sebagai jawaban.
"Baiklah, nak Sintia.".
Kini mama Rani dan juga papa Sofyan serta Ratu mengajak Sintia beranjak dari ruang tengah menuju kamar kakek Harka.
"Apa yang anda rasakan saat ini, kek??." tanya Sintia sambil mengeluarkan stetoskop untuk memeriksa kondisi tuan Harka.
"Tadi kakek mengeluhkan dada kirinya yang terasa sakit." ratu yang membantu menjawab pertanyaan dari Sintia.
Sintia lantas mengarahkan stetoskop ke bagian dada kakek Harka. Setelah beberapa saat melakukan pemeriksaan, dahi Sintia nampak berkerut.
"Bagaimana kondisi kakek, dokter??." tanya Ratu ketika melihat reaksi Sintia usai memeriksa kondisi kakek Harka.
"Jika pasien mengeluhkan sakit pada dada bagian kirinya biasanya terjadi masalah pada jantung, tetapi setelah saya periksa detak jantung kakek masih dalam kondisi normal. Tidak ada indikasi penyakit jantung atau semacamnya." mendengar penjelasan dari Sintia, Ratu lantas beralih menatap kakeknya dengan tatapan curiga.
Setelah melihat kedipan mata dari kakek Harka lantas Ratu pun akhirnya paham, jika ternyata kakeknya itu sedang memainkan sandiwara.
"Setelah kedatangan nak Sintia, rasa sakit di dada Kakek sepertinya sudah hilang begitu saja." Ratu lantas mendecakkan lidahnya ketika mendengar jawaban kakek Harka yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
Sementara Sintia tersenyum saja mendengar jawaban dari pria itu.
Jangan lupa like, koment, vote, give, anda subscribe ya Sayang sayangku,,,,!!!😘😘🙏🙏
and don't forget to reading karya recehku yang lainnya ya.......!!! Love you all....tanpa kalian aku bisa apa all.....😍😍😍