
"Jika merasa merasa tidak nyaman, kenapa masih mau mengenakannya??.". Tutur Alan yang masih setia menampilkan wajah datarnya, ketika ia dan Sintia telah berada di ruang kerjanya.
Di pagi menjelang siang hari itu proses pembuatan iklan terpaksa harus tertunda karena Alan membawa sintia meninggalkan ruangan pembuatan iklan.
"Saya pikir konsep itu ide anda." Jawab Sintia.
"Saya masih cukup waras, tidak mungkin saya mencetuskan ide dengan konsep seperti itu."
Sintia yang kini telah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang ia kenakan sebelumnya, lantas meminta pada Alan agar di izinkan untuk kembali melanjutkan projek pembuatan iklan bersama dengan tim yang bertugas, mengingat besok ia harus kembali di sibukkan dengan kegiatannya sebagai seorang dokter di rumah sakit.
Setelah menimbang nimbang akhirnya Alan setuju dengan permintaan Sintia, namun sebelumnya ia menghubungi pak Hendro terlebih dahulu untuk meminta pria itu menghandle semuanya.
***
Tepat pukul Lima sore, pak Hendro lantas ke ruangan Alan untuk memberikan hasil dari projek pembuatan iklan yang hampir selesai seratus persen, hanya tinggal melewati sedikit proses editing maka setelahnya akan selesai dengan sempurna.
"Ehmt." deheman dari pak Hendro lantas mengalihkan perhatian Alan dari layar laptopnya, yang menampilkan video serta foto yang menunjukkan wajah Sintia sebagai model iklannya.
"Hasilnya sudah bagus." komentar Alan setelah cukup lama menyaksikan video dan juga foto yang tertera di layar laptopnya.
"Baiklah tuan, jika anda sudah setuju dengan hasilnya maka saya akan meminta tim editor untuk melakukan pengeditan pada bagian yang dibutuhkan." kata pak Hendro, dan Alan pun mengangguk setuju. meski hasilnya nyaris sempurna setidaknya dengan bantuan editing akan semakin menambah kesan lebih.
Setelahnya, pak Hendro pun pamit dari ruangan Alan.
"Kemana dia?? Kenapa pak Hendro tadi datang ke sini sendirian??." Gumam Alan dengan suara lirih, bertanya tanya akan keberadaan Sintia saat ini.
Sementara seseorang yang kini tengah dipikirkan oleh Alan nampak tengah berjalan menuju mobilnya yang tengah terparkir di basemen gedung.
"Tunggu!!." seruan dari seseorang membuat Sintia sontak menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Anda berbicara dengan Saya??." Sintia lantas menunjuk ke arahnya, setelah menyadari tak ada orang lain di sekitarnya saat ini.
Bukannya merespon pertanyaan Sintia, wanita itu justru lanjut mengayunkan langkahnya mendekati Sintia. Ya, siapa lagi wanita itu kalau bukan Kartika.
"Ada hubungan apa anda dengan tuan Alan??." pertanyaan Kartika membuat Sintia mengeryitkan keningnya bingung.
"Jangan bilang anda sengaja ingin perhatian dari tuan Alan." tuding Kartika dengan raut wajah yang tak bersahabat ketika melihat Sintia masih diam saja.
"Mencari perhatian seperti apa yang anda maksud??." bukannya menjawab, Sintia justru balik bertanya dan itu tentu saja hal itu semakin membuat Kartika merasa geram pada Sintia.
"Jangan pura pura bodoh, saya sudah tidak heran dengan sikap murahan dari model rendahan seperti anda, wanita mur_ahan yang rela menghalalkan segala cara untuk menggoda petinggi perusahaan. Tapi satu yang harus anda camkan baik-baik, tuan Alan adalah milik saya dan tidak ada yang bisa mendapatkan sesuatu yang sudah menjadi milik saya!!."
"Satu lagi, tuan Alan bukan tipe pria yang suka jajan sembarangan jadi dia tidak akan mudah tergoda dengan godaan dari wanita seperti anda!!."
"Sepertinya wanita ini salah satu fans dari tuan Alan??." seraya Menaikkan salah satu alisnya Sintia bergumam dalam hati. Sintia terus membalas tatapan tak bersahabat dari Kartika dengan tatapan yang tak jauh berbeda, hingga sebuah ide tercetus dalam pikirannya untuk mengerjai Kartika.
"Bagaimana anda bisa yakin jika atasan anda itu tidak akan tergoda dengan saya??." pertanyaan yang dilontarkan Sintia sontak saja membuat Kartika mengepalkan kedua tangannya dan itu terlihat jelas oleh Sintia.
"Dan Mengenai pertanyaan anda di awal tadi, untuk saat ini saya memang belum menjalin hubungan apapun dengan atasan anda, tetapi untuk kedepannya saya tidak bisa menjamin jika atasan anda itu mampu menolak pesona saya!!! Lagi pula, Bukankah anda sendiri yang bilang wanita mur_ahan seperti diriku pandai merayu??." peryataan Sintia terdengar seperti meledek dan itu membuat Kartika hampir saja mengangkat tangannya untuk menampar wajah Sintia, kalau saja salah seorang pegawai tidak melintas.
Sebuah seringai terbit di sudut bibir Sintia, ketika melihat wajah Kartika yang memendam rasa garam padanya.
"Awalnya saya tidak kepikiran untuk menggoda atasan anda, tetapi setelah mendengar ucapan anda tadi, saya jadi berpikir ke arah sana." Sintia sengaja melontarkan kalimat itu untuk memanas manasi Kartika, sebelum kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan Kartika yang masih menatapnya dengan tatapan geram.
Setelah berada di mobilnya, sebuah senyum tipis terbit di wajah Sintia kala teringat akan dirinya yang pernah ada diposisi Kartika.
"Rupanya cinta bisa membuat seseorang sampai bertindak bodoh dengan menjatuhkan harga dirinya sendiri.". gumam Sintia saat menyaksikan tubuh Kartika yang masih berdiri mematung, dari spion mobilnya.
Meski sempat geram dengan ucapan Kartika yang mengatai dirinya wanita mur_ahan, namun Sintia tidak sampai membenci Kartika. Ia justru berpikir Kartika sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang yang telah menjadi haknya, namun apa benar Alan adalah miliknya??? Jika dilihat dari apa yang di saksikan Sintia tadi, sikap Alan justru begitu dingin terhadap Kartika.
Seringai tipis kembali terbit di wajah Sintia ketika kembali teringat akan sikapnya dulu, yang begitu percaya diri mengakui Toni sebagai miliknya padahal kenyataannya mereka hanya berteman. lebih tepatnya Toni hanya menganggapnya sebatas teman dan itu artinya cintanya bertepuk sebelah tangan. Untungnya dengan cepat Sintia menyadari itu semua dan tidak sampai merusak hubungan Toni dengan wanita yang dicintainya.
"Apa semua wanita akan bertindak bodoh jika jatuh cinta??." batin Sintia tak habis pikir, sebelum kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan gedung perusahaan ayahnya.
***
Alan yang tengah dibuat bertanya tanya akan keberadaan Sintia saat ini beralih pada ponselnya ketika benda pipih tersebut memberikan sinyal dengan suara deringannya.
"Tuan Mardin." gumam Alan ketika melihat nama pemanggil di ponselnya.
Tak menunggu lama Alan pun menggeser ke atas ikon hijau pada ponselnya, untuk menerima panggilan.
"Halo."
"Halo tuan, tuan Mardin meminta saya untuk menghubungi anda dan tuan Mardin ingin anda datang ke rumah sakit XXX sekarang!!." ternyata yang saat ini mengunakan ponsel itu bukanlah pemiliknya melainkan asisten pribadinya.
"Baiklah, saya akan ke sana sekarang!!." tanpa banyak bertanya Alan segera mengiyakannya.
"Bukankah kata pak Hendro tuan Mardin sedang melakukan perjalanan ke luar kota, lalu untuk apa beliau meminta saya datang ke rumah sakit XXX??." lirih Alan dalam hati, namun begitu Alan tetap meminta Razak untuk segera bersiap pergi bersama dengannya.
Karena lokasi rumah sakit yang di maksud cukup jauh, maka satu jam perjalanan barulah Alan dan Razak tiba di tujuan.
"Untuk apa kita datang ke rumah sakit ini, tuan??." Razak yang sejak tadi sudah merasa penasaran akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Alan.
"Saya juga belum tahu pasti." jawab Alan kemudian setelah Razak membukakan pintu mobil untuknya.