
Keesokan harinya, Baik Riko dan juga sang istri tampak bersiap-siap menuju bandara, di mana penerbangan yang akan membawa mereka ke kota P akan bertolak dari bandara sekitar beberapa jam lagi.
Di sepanjang perjalanan menuju bandara Rahma lebih banyak diam.
"Ya tuhan sebenarnya apa yang terjadi denganku, mengapa aku ingin sekali bertemu dengan wanita itu??? Ya tuhan rencana apapun yang sedang engkau rencanakan di dalam kehidupanku, aku harap itu tidak akan mempengaruhi kehidupan rumah tanggaku bersama mas Riko." batin Rahma. Kini pandangan Rahma beralih pada Riko yang tengah fokus mengemudi.
Menyadari tatapan sang istri, Riko pun menoleh sejenak pada Rahma.
"Ada apa, sayang??." tanya Riko dengan nada yang terdengar begitu lembut.
Cukup lama Rahma diam sebelum kemudian mengungkapkan isi hatinya.
"Mas, apapun yang akan terjadi di sana nanti, kamu harus ingat saat ini di dalam perutku ada anak anak kamu!! Dan aku tidak ingin sampai kamu berniat meninggalkan aku dan juga anak anak kita!!." wajah Rahma berubah sendu ketika mengungkapkan kekhawatirannya yang muncul secara tiba-tiba.
Mengingat jalanan tidak begitu padat Riko pun menepikan mobilnya.
Tanpa banyak bicara Riko mendekatkan wajahnya.
Cup.
Riko menc_ium bibir mungil istrinya dengan penuh kelembutan seolah ingin menjawab kekhawatiran sang istri. Cukup lama Riko menikmati bibir mungil istrinya yang selalu terasa nik_mat baginya.
"Kenapa bicara seperti itu, sayang??." setelah menyudahi ciu_mannya Riko lantas menyatukan keningnya dengan kening sang istri, sehingga ketika ia bertanya posisi Keduanya begitu dekat.
Rahma yang meletakan kedua tangannya pada dada bidang Riko lantas kembali mengungkapkan isi hatinya.
"Aku juga tidak tahu mas, tapi tiba tiba saja perasaan itu muncul begitu saja." tanpa sadar buliran bening jatuh begitu saja membasahi wajah cantik Rahma.
Dengan lembut Riko mengusap wajah Rahma yang basah karena air mata, masih dengan posisi yang sama Riko menjawab.
"Selagi tuhan masih mengizinkan mas untuk bernapas, selama itu juga mas akan selalu ada dan menjaga kamu dan juga calon anak anak kita, sayang." berpelukan adalah cara Keduanya untuk menunjukkan perasaan masing-masing.
***
Setelah melakukan penebangan selama empat jam kini Riko dan juga Rahma telah tiba di kota P.
Beberapa orang anak buah Riko yang semalam berangkat lebih dulu tampak menyambut kedatangan mereka di bandara, di antara empat orang pria bertubuh kekar ada sekretaris Danu di antaranya.
Riko lantas mengajak sang istri menuju sebuah mobil sedan hitam yang telah dipersiapkan oleh sekretaris Danu untuk menjemput mereka.
"Selamat sore tuan... selamat sore nyonya....." Sekretaris Danu tampak menunduk hormat sebelum kemudian membukakan pintu mobil untuk tuannya itu.
"Selamat sore." sahut Riko dan juga Rahma hampir bersamaan. Namun bedanya, jika Rahma tampak mengulas senyum pada sekretaris Danu, Riko justru terlihat memasang wajah datar seperti biasanya.
Sekretaris Danu kembali menundukkan kepalanya ketika melihat istri dari tuannya tersebut tengah tersenyum. Bisa ia pastikan jika saat ini tuannya tersebut tak suka melihat ada pria lain yang menikmati senyum manis istrinya, meskipun itu dirinya yang notabenenya adalah orang kepercayaan Riko.
Malam ini Riko dan Rahma menginap di hotel sebelum kemudian besok mereka akan kembali menempuh perjalanan kurang lebih satu jam menuju tempat tinggal Mona.
Waktu terus berjalan, tak terasa malam pun berganti pagi. Riko yang bangun lebih dulu dari sang istri lantas menghubungi Sekretaris Danu untuk meminta pihak hotel untuk mengantarkan sarapan ke kamar.
Rahma yang baru saja terbangun dari tidurnya lantas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sementara Riko yang baru saja selesai mandi segera mengenakan pakaiannya.
"Selamat pagi tuan... selamat pagi nyonya...." sapa sekertaris Danu yang telah berdiri sejak beberapa saat yang lalu di depan pintu kamar hotel yang ditempati Riko dan Rahma.
"Selamat pagi." jawab keduanya hampir bersamaan.
Kini baik sekertaris Danu, Riko dan juga Rahma berjalan menuju lift hotel yang akan mengantarkan mereka ke lantai dasar.
***
Satu jam kemudian, mobil yang di kemudikan Sekretaris Danu pun tiba di pelataran sebuah rumah.
Rahma yang merasa begitu penasaran Lantas segera turun dari mobil tanpa menunggu sekretaris Danu atau pun Riko membukakan pintu mobil untuknya.
Rahma mengamati rumah yang tampak sepi tak berpenghuni.
"Apa anda yakin Mona dan putranya tinggal di rumah ini??." tanya Rahma pada sekretaris Danu untuk memastikan.
"Saya yakin nyonya, bahkan dulu saya sendiri yang menyiapkan rumah ini untuknya." jawab Sekretaris Danu tanpa keraguan.
Beberapa kali Rahma mengetuk pintu serta mengucapkan salam, namun tak kunjung ada siapapun yang keluar dari dalam.
"Permisi, apa tuan dan nyonya sedang mencari keberadaan pemilik rumah ini??." tanya wanita muda tersebut pada ketiganya.
"Iya mbak... Sejak tadi kami mengetuk pintu tapi sepertinya di rumah ini sedang tak ada orang. Apa anda tahu kemana perginya pemilik rumah ini??." tanya Rahma
"Iya nyonya." wajah wanita itu berubah sendu.
"Lalu kemana pemilik rumah ini??." tanya Rahma tak sabar.
"Apa tuan dan nyonya belum mendengar kabar meninggalnya Mona??."
Deg.
"Meninggalnya Mona??." ulang Rahma. Entah mengapa Rahma merasa hatinya terasa nyeri, dadanya terasa sesak setelah mendengar kabar kematian Mona. Sehingga tanpa sadar kini Rahma mulai menangis tanpa suara. Seolah ada sesuatu yang hilang dalam dirinya ketika mendengar kabar tersebut.
Tidak berbeda jauh dengan sang istri, Riko pun begitu terkejut dengan kabar tersebut bahkan kini pandangan Riko tertuju pada Sekretaris Danu seolah menuntut jawaban dari pria itu.
Sementara Sekretaris Danu hanya bisa diam sambil menundukkan pandangannya seolah tak berani menatap Riko karena kesalahannya yang tidak tahu menahu tentang kabar kematian Mona.
"Iya nyonya, Mona telah meninggal dunia sejak beberapa hari yang lalu." wajah wanita itu berubah sendu ketika bercerita. Seakan kembali teringat akan perjuangan Mona melawan penyakitnya membuat wanita itu kini berlinang air mata.
"Menurut dokter, Mona menderita penyakit asam lambung akut. Namun menurut penuturan dokter, belum lama ini Mona telah melakukan tindakan operasi namun saya tidak tahu dengan pasti operasi apa itu. Namun yang jelas meninggalnya Mona bukan diakibatkan oleh tindakan operasi tersebut melainkan karena asam lambung akut yang sudah lama di deritanya." lanjut beritahu wanita itu tentang penyakit Mona.
"Mona memang sudah menderita asam lambung sejak lama." timpal Riko. Sebagai seseorang yang pernah dekat dengan Mona tentunya Riko mengetahui hal itu namun Riko tidak menyangka jika asam lambung yang di derita Mona sampai separah itu dan bahkan membuatnya sampai kehilangan nyawa.
Riko yang melihat istrinya sampai sesenggukan lantas mengusap lembut punggung Rahma.
"Hei.... tenanglah sayang !!." Riko lantas menuntun Rahma menuju kursi yang berada di teras rumah yang ditinggali Mona sebelum kemudian menghembuskan napas terakhirnya.
Sejujurnya bukan hanya Riko yang bingung melihat kesedihan Rahma yang terkesan berlebihan mengingat hubungan Rahma dan Mona tidak dekat, Rahma sendiri pun sebenarnya bingung mengapa hatinya begitu sedih mendengar kabar kematian Mona.