Trust Me Please.

Trust Me Please.
Bertunangan 2.



Beberapa menit kemudian atau lebih tepatnya pukul delapan malam, proses lamaran pun di mulai. terlihat seorang pria yang bertugas sebagai MC di acara tersebut mulai membuka acara.


Rahma yang juga ikut menyaksikan prosesi tersebut dibuat terharu ketika Ratu secara formal meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk menerima lamaran dari seorang pria yang telah mengisi ruang hatinya sejak beberapa tahun silam itu. Meski tak ada seorang pun yang tahu tentang perasaan Ratu terhadap Toni, kecuali dirinya dan juga Ratu Sendiri tentunya.


Hampir satu setengah jam acara berlangsung sampai dengan saat penyematan cincin pertunangan yang di wakili oleh mama Sinta. Dengan penuh kasih sayang mama Sinta menyematkan cincin tunangan di jari manis Ratu sebagai calon menantunya.


"Terima kasih telah bersedia menerima pinangan anak mama, sayang. Semoga tuhan meridhoi hubungan kalian serta hubungan kalian dapat membawa berkah dan juga kebahagiaan bagi keluarga kita." setelah menyematkan cincin pertunangan di jari manis Ratu, mama Sinta memanjatkan doa tulus.


Mendapat perlakuan seperti itu dari calon ibu mertuanya membuat Ratu terharu dibuatnya.


"Terima kasih Tante." ucap Ratu ketika wanita paru baya yang masih nampak cantik meski usianya tidak muda lagi, memeluk serta mencium pipi kanan dan kirinya.


"Jangan panggil Tante dong, panggil mama saja sama seperti Toni memanggil dengan sebutan mama, sebentar lagi kamu akan menikah dengan anak mama." pinta mama Sinta setelah pelukan keduanya terurai dan Ratu pun terlihat tersenyum kaku.


"Terima kasih ma_ma." ucap Ratu dengan sedikit terbata karena belum terbiasa.


Permintaan dari mama Sinta membuat tamu yang hadir di acara tersebut mampu mengundang senyum bahagia, tidak terkecuali Rahma dan juga Riko. Sedangkan Toni masih setia mencuri pandang ke arah calon istrinya, yang malam ini terlihat sangat cantik dan juga menawan. Malam ini Ratu terlihat begitu berbeda di matanya.


Setelah semua prosesi acara telah usai semua tamu undangan serta anggota keluarga Toni pun pamit meninggalkan kediaman orang tua Ratu. Kini tinggallah Ratu dan keluarga intinya di kediaman tersebut.


"Sejak kapan papa mengenal tuan Riko???." pertanyaan yang sejak tadi membuat Ratu begitu penasaran akhirnya dipertanyakannya langsung pada sang ayah.


"Tuan Riko merupakan anak sulung dari tuan Abraham dan kini beliau telah menggantikan Posisi ayahnya sebagai pemimpin perusahaan Abraham Group, perusahaan di mana ayah pernah mencari nafkah selama kita tinggal di ibukota dan kebetulan saat ini ayah juga menjadi ketua pelaksana proyek untuk pembangunan pusat perbelanjaan yang kini ditangani perusahaan milik tuan Riko di kota ini." jawaban ayahnya membuat Ratu tertegun sejenak dibuatnya.


"Memangnya kenapa kamu bertanya tentang tuan Riko, apa kamu juga mengenalnya??." tanya ayahnya.


"Tuan Riko merupakan suami dari sahabat Ratu, ayah, Rahma namanya." jawab Ratu apa adanya.


Setelah mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya mengapa sampai Riko dan juga Rahma bisa sampai hadir di acara pertunangannya malam ini, Ratu pun pamit kembali ke kamar.


Di sela langkahnya menuju kamarnya berada, Ratu nampak menghela napas berat. bagaimana tidak, ia sedang membayangkan bagaimana besok Rahma akan mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan.


***


"Apa selama ini mas tidak tahu jika putrinya tuan Sofyan itu adalah Ratu??." tanya Rahma ketika mereka berada diperjalanan pulang setelah menghadiri acara pertunangan Ratu dan Toni.


Riko menggeleng."Mas sama sekali tidak mengenal anak anak dari tuan Sofyan, mas pun baru tahu jika ternyata sahabat kamu itu adalah putri dari tuan Sofyan." jawab Riko seadanya.


"Apa selama ini Ratu tidak pernah cerita tentang rencana pertunangannya??." tanya Riko seolah tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya saat ini.


"Justru itu mas, pagi tadi Ratu cerita jika rencananya pertunangan mereka akan di laksanakan tiga bulan mendatang tetapi kenyataannya acara pertunangan itu justru dilangsungkan malam ini." beritahu Rahma teringat akan cerita Ratu lagi tadi.


"Jangan berpikir negatif dulu, bisa saja karena sesuatu dan lain hal sehingga pertunangan Mereka terpaksa dipercepat." Riko mencoba memberi pandangan positif kepada istrinya dan Rahma terlihat mengangguk paham.


"Sayang, dua hari lagi rencananya mama dan papa akan datang ke sini untuk menjenguk menantu serta calon cucu mereka." Riko yang teringat akan pembicaraannya dengan mama Rika pagi tadi melalui sambungan telepon, menyampaikan rencana kedua orang tuanya kepada sang istri.


"Tidak ada apa apa mas, aku hanya merasa bersalah pada mama dan papa karena pergi tanpa kabar." jawab Rahma dengan pandangan tertunduk.


Riko mengusap lembut puncak kepala Rahma. "Jangan berpikiran seperti itu, Justru mama dan papa yang merasa bersalah sama kamu karena merasa gagal mendidik mas dengan baik, sehingga membuat kamu sampai pergi jauh di saat sedang mengandung cucu mereka." tutur Riko dan Rahma pun akhirnya mengangguk perlahan.


"Senyum dong!!." seru Riko seraya memberi cubitan gemas di dagu Rahma.


**


Sejak resmi bertunangan dengan Toni semalam, kedua orang tuanya meminta Ratu untuk tinggal di kediaman orang tuanya dan itu membuat Ratu jadi malas malasan ketika bangun pagi, mengingat jarak dari rumah orang tuanya menuju rumah sakit cukup jauh dan tentunya akan lebih banyak memakan waktu dan tenaga.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan di balik pintu kamarnya yang terdengar memekakkan telinga membuat Ratu akhirnya beranjak dari tempat tidur.


"Oh astaga Ratu.... jam berapa sekarang, apa kamu tidak berangkat kerja??." sebuah kerutan halus tercipta di dahi ibunya ketika Ratu masih mengenakan piyama sedangkan saat ini waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


"Ini juga baru mau mandi, mah." jawab Ratu dengan wajah bantalnya.


"Ya sudah, mandi sana setelah itu cepat turun ada nak Toni menunggu di bawah!!."


"Apa??." Ratu dibuat terperangah mendengarnya.


"Memangnya Apa yang di lakukan kak Toni masih pagi pagi ke sini??." ratu yang merasa bingung dengan kedatangan Toni pagi itu terdengar bergumam lirih, namun masih terdengar oleh ibunya.


"Tentu saja untuk menjemput kamu, nak Toni tahu jika kamu tidak membawa mobil ke sini maka dari itu nak Toni sengaja untuk menjemput kamu untuk berangkat bersama." beritahu ibunya dan ratu pun hanya bisa mengangguk saja, sebelum kemudian beranjak menuju kamar mandi.


"Maaf nak Toni, sepertinya nak Toni harus menunggu sebentar lagi karena Ratu baru saja bangun.". Ucap Ibunya Ratu merasa sungkan.


"Tidak masalah Mah."


Sama seperti halnya mama Sinta, ibunya Ratu juga meminta Toni untuk memanggilnya dengan sebutan mama, meskipun awalnya merasa asing namun Toni tetap berusaha membiasakan diri untuk memanggil calon mertuanya tersebut dengan sebutan mama.


Kurang dari empat puluh lima menit akhirnya yang di nanti pun terlihat menuruni anak tangga.


"Maaf sudah membuat kak Toni menunggu lama." tutur Ratu ketika berada di hadapan Toni.


"it's ok.". jawab Toni sebelum kemudian berdiri dari duduknya, saat melihat Ratu sudah siap untuk berangkat kerja.