
"Memangnya kita mau kemana malam ini, mas??." tanya Rahma ketika Riko mengajaknya mendatangi sebuah butik untuk memilih pakaian.
"Malam ini mas mendapat undangan khusus dari ketua pelaksana proyek untuk menghadiri acara pertunangan putrinya." jawab Riko.
Sebelum menjemput Rahma, Kumala menyampaikan padanya atas undangan dari tuan Sofyan yang merupakan ketua pelaksana proyek dalam pembangunan pusat perbelanjaan yang kini tengah ditangani oleh perusahaan Riko.
"Sangat tidak sopan rasanya jika mas mengabaikan begitu saja undangan dari tuan Sofyan, mengingat sebelum pindah ke kota ini tuan Sofyan sudah banyak mendedikasikan diri pada perusahaan Milik keluarganya Mas." beritahu Riko dan Rahma pun mengangguk paham.
"Selamat sore tuan dan nona, selamat datang di butik kami." dengan ramah pemilik butik menyambut kedatangan mereka.
"Selamat sore, Tolong bantu istri saya untuk memilih gaun yang pas untuk menghadiri acara pertunangan, tapi ingat, jangan gaun yang terlalu terbuka!!." pesan Riko pada pemilik butik.
"Baik tuan."
"Mari ikut dengan saya Nona!!." Rahma pun ikut bersama dengan pemilik butik untuk melihat lihat gaun.
"Nyonya, boleh saya mencoba dres yang ini??." pinta Rahma ketika melihat salah satu dres berwarna hitam dengan panjang di bawah lutut, dres yang terlihat simpel namun menampilkan kesan elegan meski penggunanya tengah berbadan dua seperti kondisi Rahma saat ini. Menurut Rahma dres lebih simpel dari pada gaun yang menurutnya sedikit ribet apalagi ia dalam kondisi hamil seperti saat ini.
"Tentu saja Nona." pemilik butik mengambil dres yang di maksud lalu menyerahkannya kepada Rahma.
"Mari saya antar ke kamar ganti Nona!!."
Kedua pun beranjak menuju kamar ganti.
"Cantik, aku suka dengan modelnya." Sebuah senyum terbit di wajah cantik Rahma ketika menyaksikan penampilannya di depan cermin.
Rahma keluar dari kamar ganti hendak memperlihatkan model dres yang menjadi pilihannya kepada Riko.
"Anda terlihat sangat cantik Nona." puji pemilik butik.
"Anda bisa saja Nyonya, bukan saya yang cantik tapi koleksi dres anda yang cantik." ujar Rahma seraya mengulas senyum sehingga membuatnya terlihat semakin cantik.
"Mas."
Di ruang tunggu butik, Riko yang tengah sibuk menatap layar ponselnya guna membuka email yang baru saja dikirimkan Kumala, sontak mengangkat pandangannya ketika mendengar seruan dari istrinya.
Riko di Buat terpaku ketika melihat penampilan istrinya yang terlihat begitu menawan dan elegan.
"Mas." Rahma kembali menyeru ketika melihat Riko masih terdiam seraya menatapnya intens.
"Cantik, kamu sangat cantik sayang." puji Riko dengan tatapan takjub.
"Terima kasih telah membantu istri saya memilihkan dres yang pas dan juga cantik." ucap Riko, merasa puas dengan pelayanan di butik tersebut tak lupa Riko membayar lebih untuk sebuah dres cantik yang menjadi pilihan sang istri.
Tentunya Riko mengangguk mengiyakan ketika mendengar pernyataan pemilik butik. "Anda benar nyonya, istri saya memang sangat cantik itulah Mengapa saya sampai tergila gila padanya." tutur Riko dengan seulas senyum di wajahnya.
"Gombal." bukannya besar kepala, Rahma justru menuding Riko tengah melontarkan gombalannya, sehingga bukannya tersipu dibuatnya Rahma justru menatap sebal pada suaminya itu.
Sementara pemilik butik yang merupakan wanita paru baya tersebut dibuat baper melihat tingkah pasangan muda tersebut.
Setelah mendapat pilihan untuk dres yang akan dikenakannya malam ini, Rahma pun mengajak Riko untuk segera pulang karena ia sudah merasa gerah dengan aktivitasnya yang seharian berkutat dengan pasien.
***
Melihat jarum jam yang menggantung pada dinding kamarnya yang telah menunjukkan pukul tujuh malam, membuat Jantung Ratu berdebar tak menentu. Perasaan gugup dan juga cemas kini bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak, setengah jam lagi Toni berserta kedua orang tuanya akan tiba di kediaman orang tuanya.
Sementara saat ini di bawah tepatnya di ruang tamu serta ruang tengah kediaman orang tua Ratu telah dipenuhi oleh anggota keluarga serta beberapa orang tamu yang sengaja diundang oleh ayahnya untuk menyaksikan acara lamaran sekaligus pertunangan putrinya malam ini.
Sejujurnya di tempat yang berbeda kedua orang tua Toni juga cukup terkejut dengan keputusan Toni yang menginginkan pertunangannya dengan Ratu di percepat, namun begitu kedua orang tuanya justru merasa senang dengan keputusan yang diambil Toni.
Dengan persiapan matang kini mereka beranjak menuju kediaman calon besan.
Sekitar tiga puluh menit akhirnya kini mobil yang mengantarkan Toni dan juga kedua orang tuanya tiba di kediaman orang tua Ratu.
"deg." jantung Ratu semakin berdebar tak menentu ketika mendengar suara deru mesin mobil yang baru saja tiba di pekarangan rumahnya.
Dari balik jendela kamarnya kini Ratu dapat menyaksikan kedatangan Toni beserta kedua orang tuanya dan juga beberapa anggota keluarga dekat lainnya.
Rahma dan Riko yang tiba beberapa menit sebelum kedatangan Toni dan kedua orang tuanya terlihat diantara tamu undangan yang hadir malam itu.
Sejak tiba tadi Rahma sudah di buat penasaran dengan adanya wajah Ratu yang ada diantara Foto keluarga yang menggantung di dinding ruang tamu kediaman tersebut.
Sampai dengan kedatangan Toni dan kedua orang tuanya serta anggota keluarganya yang lain membuat Rahma tersadar jika ternyata rumah tersebut merupakan milik kedua orang tua dari sahabatnya, Ratu, dan itu artinya pertunangan yang mereka hadiri malam ini tak lain adalah pertunangan Ratu dan Toni.
Tidak heran, Selama mengenal dan juga bersahabat dengan Ratu belum sekalipun Rahma bertemu dengan kedua orang tua dari sahabatnya itu.
Tak berselang lama, seorang wanita yang terlihat cantik dengan balutan dres berwarna putih tulang dengan hiasan mutiara senada nampak menuruni anak tangga dengan di dampingi oleh seorang wanita paru baya.
"Jadi benar, malam ini yang bertunangan adalah Ratu dan kak Toni??." batin Rahma. di satu sisi Rahma merasa senang karena akhirnya sebentar lagi Sahabatnya itu akan segera melepas masa lajangnya, namun di sisi lain Rahma merasa Ratu berhutang penjelasan padanya. Bagaimana tidak, baru tadi pagi Ratu mengatakan padanya jika pertunangannya dan Dr Toni akan di laksanakan tiga bulan mendatang namun kenyataannya acara yang mereka hadiri malam ini merupakan acara pertunangan Ratu.
Kedua bola mata Ratu membulat ketika menyadari keberadaan Rahma dan juga suaminya di acara pertunangannya.
Ratu yang kini telah menempati kursi yang telah disediakan untuk dirinya dan juga calon tunangannya sesekali mencuri pandang ke arah Rahma, yang sejak tadi terus memandanginya.