Trust Me Please.

Trust Me Please.
Proses pembuatan iklan.



Setelah mendengar penyampaian dari Ambar, Alan pun segera beranjak menuju ruangannya.


Alan memutar handle pintu.


Ceklek.


Suara pintu ruangan yang terbuka dari arah luar membuat Sintia sontak menoleh ke sumber suara.


Sintia dibuat tersentak ketika melihat keberadaan Alan yang baru saja memasuki ruangan CEO. sebenarnya bukan hanya Sintia yang terkejut saat ini, Alan pun tak kalah terkejutnya dengan Sintia. Namun Alan tetap berusaha agar terlihat biasa saja di hadapan wanita itu.


"Anda??." Sintia menunjuk ke arah berdirinya Alan saat ini.


"Jadi anda adalah putri dari tuan Mardin??." setelah mendapati keberadaan Sintia di ruangannya tentunya Alan sudah tahu jawabannya, namun begitu ia tetap bertanya untuk memastikan.


Perlahan Sintia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Melihat Alan yang beranjak menuju meja kerjanya Sepertinya sudah menjadi jawaban yang cukup kuat bagi Sintia, jika pria yang sejak tadi di nantinya tak lain adalah pria yang tadi pagi memergokinya di kamar Ratu. Ah.... ingin sekali rasanya Sintia menenggelamkan wajahnya ke muka bumi, ketika kini pandangan Alan terfokus padanya.


Sepersekian detik kemudian Sintia baru menyadari keberadaan sebuah table sign yang berada di atas meja CEO yang bertuliskan Alan putra Sofyan CEO Galaxy Group.


"Oh astaga Sintia.... Kenapa kau bodoh sekali, bisa bisanya table sign sebesar itu tak nampak di matamu.". Lirih Sintia dalam hati seolah merutuki kebodohannya.


Sintia yang tadinya Terlalu fokus pada pigura ibunya sehingga membuatnya tak begitu memperhatikan table sign yang berada di meja kerja CEO.


"Ehmt." deheman Alan seakan membuat lamunan Sintia buyar begitu saja. Kini perhatian Sintia kembali beralih pada Alan yang telah duduk di kursi kebesarannya.


"Maaf sudah membuat anda menunggu." penuturan Alan lantas memecah keheningan di antara keduanya.


"Tidak masalah." sahut Sintia.


"Konsep iklan seperti apa yang diinginkan oleh perusahaan??." Sintia coba menampilkan wajah tenang, Meski kenyataannya rasa malu dihatinya masih mendominasi karena kejadian di kediaman orang tua Ratu tadi pagi.


"Karena produk baru yang akan segera dilaunching perusahaan merupakan salah satu produk yang berhubungan dengan kesehatan, maka konsep yang akan di gunakan masih dalam lingkup profesi anda." Alan kemudian menyerahkan beberapa berkas untuk di pelajari oleh Sintia.


Produk baru yang akan segera dilaunching oleh perusahaan ayahnya yakni alat pengukur tekanan darah yang cukup canggih dan telah melewati uji tes kelayakan.


"Kapan pembuatan iklan ini bisa mulai di kerjakan??." tanya Sintia, mengingat kesibukannya sebagai seorang dokter juga cukup menyita waktu dan juga pikirannya, maka Sintia memilih bertanya agar bisa mengatur jadwal sebisa mungkin.


"Perusahaan telah melakukan persiapan sejak beberapa hari yang lalu, tinggal menunggu waktu anda saja."


"Berhubung hari ini aku sedang libur kerja bagaimana jika pembuatan iklannya di kerjakan hari ini??." usul Sintia, dan Alan pun setuju dengan usul dari Sintia.


Alan lantas mengajak Sintia menuju ruangan yang diperuntukkan khusus untuk pembuatan iklan.


Alan dan Sintia yang melintas di salah satu koridor gedung lantas menjadi pusat perhatian para pegawai. Banyak dari mereka yang merupakan pegawai baru sehingga tak begitu mengenal sosok Sintia sebagai putri tunggal dari pemilik perusahaan.


Berbeda dengan yang lain, Kartika justru menatap tak suka pada Sintia.


Tak berselang lama, Sintia dan Alan pun tiba di ruang pembuatan iklan, di mana beberapa pegawai yang tergabung dalam divisi pemasaran telah melakukan persiapan hampir sembilan puluh persen, hanya tinggal menunggu modelnya saja maka iklan bisa dipastikan selesai dan produk siap turun ke pasaran.


Untuk memastikan pembuatan iklan sesuai dengan ide pemasaran, dengan begitu Alan memilih tetap berada di ruangan itu untuk memastikan proses pembuatannya.


"Maaf sebelumnya, apa konsepnya mengharuskan saya mengenakan pakaian seperti ini??." tanya Sintia memastikan, mengingat pakaian yang akan ia kenakan bagian bahunya sedikit terbuka sehingga memperlihatkan bagian bahu dari penggunanya.


"Ini sudah menjadi salah satu konsep yang akan kita gunakan dalam proses pembuatan iklan dalam produk ini, nona." Kartika yang saat itu baru saja tiba di ruangan ganti lantas mengambil alih untuk menjawab pertanyaan dari Sintia. Kartika yang tidak tahu menahu tentang sosok Sintia lantas menampilkan sikap arogan di hadapan Sintia.


"Bagaimana jika saya tidak ingin mengenakan pakaian ini??." Sintia masih memasang wajah biasa, bahkan ia masih mengulas senyum di akhir kalimatnya, akan tetapi Kartika sepertinya tetap kekeuh dengan ucapannya.


"Mau tidak mau anda harus mengenakannya!! jika tidak, masih banyak model diluar sana yang menginginkan posisi ini." pegawai yang tadi menemani Sintia masuk ke dalam kamar ganti hanya bisa memejamkan matanya seraya menahan napas seolah perkataan Kartika pada Sintia membuatnya kesulitan bernapas.


"Oh astaga...apa Kartika tidak tahu, jika nona Sintia merupakan anak dari tuan Mardin?? Dasar gadis bodoh, sombong tak kenal lawan." lirihnya dalam hati.


Tidak ingin berdebat dengan Kartika, akhirnya dengan terpaksa Sintia mengenakan pakaian tersebut namun sebelumnya meminta Kartika dan pegawai yang tadi menemaninya untuk keluar dari ruang ganti.


Tak berselang lama, pakaian yang melekat di tubuh Sintia telah berganti. Ia lantas memperhatikan penampilannya di depan kaca.


"Oh astaga.... konsep seperti apa yang mereka buat?? Sebenarnya ini ingin membuat iklan produk kesehatan atau membuat iklan gaun se_ksi?? " gumam Sintia tidak habis pikir, ketika melihat bagian bahu dari baju tersebut yang cukup terbuka sehingga memperlihatkan bahunya yang putih mulus tanpa noda.


Tidak ingin berlama-lama, sintia lantas beranjak keluar dari ruang Ganti.


"Mas ya Allah anda cantik sekali Nona." pujian dari salah seorang pegawai yang tergabung dalam divisi tersebut lantas membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut beralih memandang ke arah munculnya Sintia, tak terkecuali Alan.


Mengingat di ruangan itu bukan hanya dirinya laki laki melainkan ada Razak dan juga beberapa orang pegawai pria lainnya, Dengan gerakan cepat Alan membuka jasnya lalu kemudian beranjak untuk menutupi bagian bahu Sintia yang terbuka, Dan tentu saja hal itu cukup mengejutkan Sintia.


"Siapa yang telah membuat konsep dengan model gaun seperti ini??." seketika raut wajah Alan berubah dingin.


"Sa_saya tuan." jawaban Kartika terdengar terbata setelah menyadari perubahan di wajah Alan.


"Iklan seperti apa yang ingin kau buat dengan konsep gaun seperti ini??." tatapan Alan berubah tajam ketika menatap ke arah Kartika.


"Maafkan saya tuan, saya akan mengganti pakaiannya dengan model pakaian yang baru." jawab Kartika dengan wajahnya yang terlihat terintimidasi dengan tatapan Alan.


Kartika yang bertugas sebagai perancang konsep untuk iklan tahun ini sengaja menggunakan konsep dengan pakaian yang sedikit terbuka pada bagian bahunya, dengan harapan besar dirinya akan diminta oleh pemilik perusahaan untuk menjadi model iklan seperti tahun lalu, dengan begitu ia pasti akan terlihat menggoda di hadapan Alan.


Akan tetapi satu fakta yang Kartika belum tahu, yakni sebelumnya pemilik perusahaan telah memilih putrinya untuk menjadi model iklan untuk dalam produk barunya.


Niat hati Ingin terlihat memukau di hadapan sang pujaan hati, namun justru rasa malu yang didapatkan Kartika ketika Alan menegurnya di hadapan rekan kerjanya yang lain.