
Baru saja tiba, kedatangan Alan sudah di sambut oleh asisten pribadi tuan Mardin di depan pintu utama rumah sakit.
"Selamat siang, tuan." sapa asisten pribadi tuan Mardin setelah Alan dan Razak berada dihadapannya.
"Selamat siang."
Alan yang di dampingi Razak lantas mengikuti arah langkah pria itu. Kini mereka melintasi lobby hendak menuju ke arah Lift berada.
Asisten pribadi tuan Mardin lantas menekan angka lima, setelah pintu lift terbuka baik asisten pribadi tuan Mardin, Alan dan juga Razak segera memasuki lift. Setelah pintu lift tertutup, kotak besi itu pun mulai bergerak untuk mengantarkan ketiganya ke lantai yang dituju.
Ting.
Setelah pintu lift kembali terbuka, Alan dan Razak nampak masih setia mengikuti arah langkah Pria itu, sampai langkahnya terhenti di depan salah satu pintu kamar perawatan VVIP rumah sakit.
"Silahkan masuk tuan !! Anda akan mendapatkan jawabannya nanti setelah berada di dalam." tutur pria itu seolah tahu apa yang ada di pikiran Alan Saat ini.
Tanpa berlama-lama, Alan pun memutar handle pintu.
Betapa terkejutnya Alan ketika melihat siapa yang kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Dengan wajah lemahnya tuan Mardin tersenyum ke arah datangnya Alan dan juga Razak.
"Maaf sudah merepotkan anda." ucap Tuan Mardin dengan suara lemahnya.
Masih dengan begitu banyak pertanyaan di dalam benaknya, Alan mengayunkan langkah mendekati ranjang rumah sakit, di mana saat ini tuan Mardin tengah membaringkan tubuh lemahnya dengan selang infus yang menancap di pergelangan tangannya.
"Saya sengaja menutupi semua ini dari semuanya, termasuk pak Hendro." tutur pak Mardin seolah menjawab kebingungan di wajah Alan.
"Bagaimana anda bisa melakukan semua ini, tuan?? jangan katakan bahwa anda juga menutupi semua ini dari putri anda??." tebak Alan. tuan Mardin lantas mengangguk lemah sebagai jawaban dari pertanyaan Alan.
Alan hanya bisa menghela napas dalam, setelah melihat anggukan kepala dari tuan Mardin.
"Saya sudah terlalu banyak membuatnya bersedih dan saya tidak ingin lagi menambah kesedihannya dengan keadaan saya." ungkap tuan Mardin dengan kedua bola mata yang mulai berembun.
Baik Asisten pribadi tuan Mardin dan juga Razak memilih meninggalkan kamar perawatan tersebut, membiarkan tuan Mardin dan Alan melanjutkan percakapan di antara mereka.
"Sejujurnya saya sudah ikhlas jika suatu saat nanti penyakit yang saya derita harus membuat saya meninggalkan dunia ini untuk selamanya, akan tetapi masih ada satu yang membuat saya merasa berat sampai dengan saat ini." ungkapan hati tuan Mardin membuat Alan tak tega mendengarnya.
"Jangan berbicara seperti itu, tuan!! Masih ada cara agar anda bisa kembali seperti sedia kala, anda bisa melakukan pengobatan di luar negeri!!" usul Alan optimis, dan itu hanya ditanggapi senyuman miris oleh tuan Mardin.
"Sepertinya semua itu sudah terlambat. Penyakit yang saat ini saya derita sudah memasuki stadium akhir dan mungkin sebentar lagi kita tidak akan bertemu lagi." pernyataan dari tuan Mardin membuat kedua bola mata Alan mulai berkaca-kaca.
"Lalu, apa yang bisa saya lakukan untuk anda??." pertanyaan yang sejak tadi di nanti oleh tuan Mardin akhirnya terlontar begitu saja dari mulut Alan.
Senyum sempurna terbit di wajah tuan Mardin ketika mendengar pertanyaan Alan.
"Selain papanya, putriku tidak punya siapa siapa lagi, jika nantinya saya harus pergi untuk selamanya lalu siapa yang akan menjaganya. Bolehkah Saya menitipkan putri saya pada anda, nak Alan??." pinta tuan Mardin dengan bersungguh-sungguh.
"Menikahlah dengan putriku!!." lanjut tuan Mardin, dan itu membuat Alan sangat terkejut mendengarnya, hingga Alan tak sanggup berkata kata.
Cukup lama keheningan tercipta di kamar perawatan tersebut, sampai dengan beberapa saat kemudian tuan Mardin kembali melontarkan kalimatnya karena melihat Alan hanya diam saja, layaknya tengah berpikir keras.
Namun sepersekian detik kemudian raut wajahnya kembali berbinar ketika mendengar jawaban dari Alan.
"Baiklah, Saya bersedia menikahi putri anda.". Tutur Alan tanpa keraguan di wajahnya.
"Tapi dengan satu syarat??." lanjut Alan.
"Anda tidak perlu cemas, saya akan mengalihkan perusahaan atas nama anda." sahut tuan Mardin yang mengira Alan menginginkan hal itu sebagai imbalan untuk menikahi putrinya.
Masih dengan wajah datarnya Alan berujar. "Sayangnya, bukan itu yang saya inginkan dari anda." penuturan Alan membuat kedua alis tuan Mardin saling bertaut bingung.
"Lalu, Syarat seperti apa yang anda inginkan??."
"Saya ingin anda berhenti merahasiakan semua ini dari putri anda, Saya ingin dia tahu kondisi kesehatan anda yang sebenarnya !!! karena suatu saat nanti, saya tidak ingin sampai melihat istri saya bersedih karena tidak sempat mempergunakan waktu dengan sebaik mungkin bersama dengan orang yang dicintainya." jawaban Alan sungguh membuat tuan Mardin tertegun mendengarnya.
Tuan Mardin semakin yakin untuk menitipkan putri semata wayangnya pada pria yang kini berdiri dihadapannya itu.
"Baiklah, saya setuju. Saya berjanji akan memberitahu pada putri saya tentang kondisi saya yang sebenarnya.". Kini hati tuan Mardin rasanya plong, ibarat sebuah beban berat baru saja di singkirkan dari pundaknya.
***
Di perjalanan kembali dari rumah sakit, Alan terus kepikiran dengan permintaan dari tuan Mardin, Dan itu membuat Alan lebih banyak diam selama di perjalanan kembali ke perusahaan.
Sampai dengan mobil yang di kendarai Razak tiba di perusahaan, Alan masih saja tampak melamun.
"Tuan.". Seruan Razak menyadarkan Alan dari Lamunannya.
"Kita sudah sampai, tuan." lanjut tutur Razak ketika melihat Alan tersadar dari lamunannya.
"Oh astaga... bagaimana saya bisa tidak menyadarinya." ungkap Alan, sebelum kemudian membuka pintu mobil kemudian melangkahkan kakinya turun dari mobil, tanpa menunggu Razak untuk membukakan pintu mobil untuknya.
***
Waktu telah menunjukkan pukul lima sore namun belum ada tanda tanda Alan hendak meninggalkan perusahaan, pria itu justru semakin menyibukkan diri dengan berkas di hadapannya.
Di sela kesibukan memeriksa satu persatu berkas di hadapannya, tiba tiba pandangan Alan tertuju pada sebuah benda yang tergeletak di sofa ruangannya.
Alan beranjak menuju sofa.
"Lipstik??." Alan menatap benda yang kini berada di tangannya.
Alan bisa menebak jika benda itu pasti milik Sintia, mengingat hanya Sintia yang tadi berada di ruangannya.
pandangan Alan masih saja terfokus pada benda yang kini berada di tangannya sampai Alan menjauhkan bokongnya di sofa, Kini lamunan Alan jauh menerawang pada pemilik lipstik tersebut.
Belum habis rasanya keterkejutannya pagi tadi Ketika mengetahui kebenaran jika ternyata putri dari pemilik perusahaan tak lain adalah Sintia, gadis yang belum lama ini dikenalnya, siang tadi ia kembali di kejutkan dengan permintaan tuan Mardin yang menginginkan dirinya Menikahi putrinya tersebut.
"Jika memang kau adalah takdir yang tuhan berikan dalam hidupku, semoga tuhan mempermudah semua jalan yang akan kita tempuh ke depannya nanti." lirih Alan dalam hati, sebelum kemudian memasukkan lipstik milik Sintia ke dalam saku jasnya.
Untuk mendukung karya recehku, jangan lupa like, koment, vote, give, and subscribe ya sayang sayangku....🙏🙏😘😘😘😘😘 love you all......