
"Tumben kamu nggak marah mas ketika mendengar obrolan para remaja tadi??." tanya Rahma ketika mereka di perjalanan kembali ke rumah.
Riko tampak mengulum senyum seraya mengacak gemas rambut Rahma mendengarnya.
"Sayang, mas ini juga laki laki jadi mas tahu yang mana yang serius yang mana sekedar mengagumi. Mas juga pernah ada di posisi yang sama dengan para remaja tadi ketika kuliah dulu. jangan salah paham dulu, lebih tepatnya si Casanova damar tuh." Riko semakin mengembangkan senyumnya ketika teringat akan kejadian di mana Damar mencoba menggoda seorang wanita muda yang ternyata sudah bersuami dan untungnya suami dari wanita muda itu tidak sampai melayangkan bogem mentah ke wajah tampan Damar kala itu.
"Memangnya damar doang yang Casanova saat Kuliah dulu mas nya enggak??." ucapan Rahma tidak terdengar seperti pertanyaan namun lebih terdengar seperti sebuah tudingan.
"Memang mas pernah beberapa kali menjalin hubungan ketika masih kuliah tetapi tidak sampai menjadi Casanova juga seperti si Damar." sahut Riko bersungguh sungguh.
"Kamu sendiri, pasti pernah kan menjalin hubungan dengan seseorang sebelum menikah dengan mas, iyakan??." tebak Riko. Namun yang membuat Riko terkejut ketika Rahma tampak menggelengkan kepalanya pertanda tebakannya salah.
"Kamu tidak pernah punya pacar sebelum menikah dengan mas??." Rahma kembali menggelengkan kepalanya sehingga membuat Riko tersenyum melihatnya.
"Tidak punya pacar bukan berarti tidak laku ya mas, aku hanya tidak berminat saja untuk pacaran. Lagi pula saat itu aku Lebih fokus untuk mengejar mimpi menjadi seorang dokter." tutur Rahma seolah meluruskan persepsi Riko tentangnya, jangan sampai suaminya itu berpikir ia tidak punya pacar karena tak laku. Semua itu dilakukan Rahma ketika menyadari Riko yang menoleh padanya seraya tersenyum.
Tanpa sepengetahuan Rahma senyum yang terukir di wajah Riko bukanlah senyum meledek, akan tetapi sebuah senyuman bangga. pria mana yang tidak merasa bangga ketika ia menjadi pria pertama dan satu satunya di dalam hidup wanita yang kini telah berstatus sebagai istri sahnya.
"Perasaan mas tidak bilang begitu deh." tutur Riko, masih dengan senyum yang seolah tak ingin surut dari wajahnya.
"Bukan apa apa ya....sekedar meluruskan saja." kata Rahma dengan gaya narsisnya.
Obrolan sepasang suami istri tersebut terus berlanjut hingga mobil Riko tiba di rumah.
***
Sementara Di salah satu kota yang terletak di pulau Kalimantan, seorang wanita tampak menidurkan putranya dengan wajah yang telah basah oleh air mata, setelah beberapa saat yang lalu menerima pesan dari ibunya.
"Sampai kapan mama akan menjadikan aku sebagai pemuas ambisi nya akan harta?? Apa tidak puas mama menjual tubuhku hingga aku terpaksa harus mengandung tanpa seorang suami." di dalam kesunyian hidupnya setelah Riko memerintahkan anak buahnya untuk mengirimnya jauh dari ibukota, Mona tampak bergumam di sela penyesalannya.
"Mulai saat ini, di kota ini aku akan memulai kehidupan yang baru bersama putraku." lanjut gumam Mona dengan air mata yang tak henti berlinang membasahi pipinya.
Satu kenyataan yang tidak pernah Mona ungkapkan dihadapan Mantan kekasihnya, Riko yakni, di mana dirinya terpaksa berpura-pura berselingkuh dengan pria lain setelah seorang wanita yang berstatus ibu kandungnya justru menjualnya pada seorang pria bule.
Menyadari dirinya sudah tidak suci lagi dan tidak pantas lagi melanjutkan hubungannya dengan Riko, maka Mona terpaksa memainkan sebuah sandiwara perselingkuhan dengan seorang pria yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri. dari situlah awal mula perpisahannya dengan Riko sampai terjadi.
Beberapa bulan kemudian Mona merasa turut bahagia ketika mendengar kabar jika Riko akan segera menikah dengan seorang gadis pilihan orang tuanya, akan tetapi ibu nya kembali mengancam untuk menggugurkan kandungannya jika ia menolak permintaan dari ibu nya yakni berusaha mendapatkan Riko kembali dengan cara menjebak gadis yang akan menikah dengan Riko di sebuah kamar Hotel bersama seorang pria.
Awalnya Mona sama sekali tidak tahu menahu jika pria yang akan dijebak bersama Rahma adalah Atala, yang notabenenya adalah adik sepupu dari Riko sendiri. Entah bagaimana mana cara sampai ibunya sampai bisa membawa Atala dalam keadaan tak sadarkan diri menuju hotel.
Tapi sepertinya kali ini usaha mamanya bukan hanya tidak berhasil namun juga membuat Riko sampai marah besar kemudian mengirim Mona jauh dari ibu kota.
Saat ini Mona sudah kekeh dengan keputusannya, apapun yang akan terjadi ke depannya ia tidak akan lagi mengganggu kebahagiaan Riko, sekalipun nyawanya yang akan menjadi taruhannya.
***
"Sayang kenapa kamu seperti gelisah??." tanya Riko ketika melihat Rahma hanya membolak-balikan tubuhnya ke kiri dan ke kanan tak kunjung memejamkan matanya.
"Mas sebesar apa dulu kamu mencintai mantan kekasihmu itu??." bukannya menjawab Rahma justru balik bertanya dan pertanyaannya justru kembali menjurus ke arah Mona.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?? Bukankah kamu sudah pernah berjanji untuk tidak lagi membahas tentangnya." seperti sebelum-sebelumnya raut wajah Riko seketika berubah ketika Rahma kembali membahas tentang Mona.
"Untuk kali ini saja mas, aku mohon jawab pertanyaanku dengan sejujur jujurnya!!." Rahma bahkan telah merubah posisinya dengan duduk menghadap ke arah Riko yang masih tidur terlentang.
Riko menghela napas panjang sebelum kemudian ikut merubah posisinya duduk berhadapan dengan Rahma.
"Apa kamu yakin ingin mendengarnya??." tanya Riko yang sebenarnya tidak begitu suka dengan pertanyaan Rahma.
Rahma pun mengangguk pasti.
"Mas menjalin hubungan dengan Mona cukup lama hampir empat tahun lamanya dan kami saling mencintai. saking besarnya cinta mas saat itu padanya, mas bahkan rela meninggalkan kedua orang tua mas demi ikut bersamanya di luar negeri meski kami tidak tinggal serumah. Mas rela melakukan apa saja demi Mona karena mas sangat mencintainya saat itu, tapi kenyataannya dia tega mengkhianati cinta kami." Sebenarnya Riko malas membahas semua itu akan tetapi terpaksa ia harus menceritakan semuanya untuk memuaskan rasa penasaran di hati Rahma agar tak lagi bertanya tentang Mona setelah ini.
"Bagaimana jika dulu ternyata Mona tidak pernah selingkuh dari kamu, mas??." pertanyaan Rahma sanggup membuat kedua alis Riko saling bertaut.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu Sayang??."
"Jawab saja mas, bagaimana jika kenyataannya dulu Mona tidak pernah selingkuh dari kamu mas, apa cinta kamu masih ada untuknya??." setelah mendengar pengakuan Riko sebesar apa dulu rasa cintanya terhadap mantan kekasihnya itu, entah kenapa pertanyaan seperti itu terlintas begitu saja di benak Rahma.
Riko meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi Rahma seraya menatap wanita itu dengan tatapan dalam.
"lihat mata mas sayang!!! Apapun yang terjadi bagi mas, Mona hanyalah masa lalu. saat ini dan selamanya hanya ada kamu di dalam sini." Ungkap Riko seraya meletakkan tangan kanan ke dadanya.
"Terlepas dari Mona pernah selingkuh atau pun tidak, itu tidak akan merubah perasaan cintaku padamu Mega Rahmawati. I love you, I love you so much my wife." lanjut ungkap Riko dengan bola mata yang mulai berembun, sebelum kemudian membawa tubuh Rahma ke dalam dekapannya.
"I love you too mas Riko pranata Abraham." keduanya lantas hanyut dalam ungkapan kebesaran cinta, kebesaran cinta yang bahkan tidak pernah di rasakan Riko ketika bersama dengan Mona dulu.