Trust Me Please.

Trust Me Please.
Berita buruk.



Cristi yang tadi sengaja memasak berbagai menu makanan dan kini telah menatanya dengan rapi di atas meja makan lantas mengajak mereka semua untuk makan, meski waktu makan siang telah berlalu beberapa jam yang lalu.


Setelah selesai makan mereka memilih mengobrol santai di ruang tengah dengan di temani teh hangat serta cake durian buatan Cristi.


Cukup banyak yang menjadi topik obrolan mereka di siang menjelang sore hari itu, mulai dari kegiatan Rahma semenjak menetap di kota tersebut hingga seputaran kehamilan menjadi topik utama.


Ditengah obrolan hangat keluarga, tiba tiba suara dering ponselnya mengalihkan Riko ke atas meja di mana kini ponselnya berada.


Riko meraih ponselnya untuk melihat pemanggil. Melihat nama salah satu orang kepercayaannya yang kini tertera di layar ponselnya, Riko lantas pamit keluar sebentar untuk menerima panggilan.


"Apa terjadi sesuatu di perusahaan??." tebak Riko ketika baru saja menerima panggilan.


"Ada sedikit masalah tuan, tetapi bukan tentang perusahaan melainkan masalah ini berhubungan dengan Nona Mona." jawaban dari seberang telepon lantas membuat Riko menghela napas berat seraya memijat pangkal hidungnya saat mendengarnya.


"Memangnya keonaran apa lagi yang diciptakan wanita itu??" tanya Riko seakan malas menyebutkan nama dari mantan kekasihnya itu.


"Bagaimana mungkin wanita itu bisa mengatakan hal yang sangat mustahil seperti itu??." Setelah mendengarkan cerita dari orang kepercayaannya itu, bukan hanya kepala Riko kini terasa berdenyut namun sepertinya emosi Riko mulai naik dibuatnya.


"Maafkan saya tuan sepertinya kali ini anda harus segera kembali ke ibu kota, saya khawatir nona Mona akan melakukan sesuatu yang akan berpengaruh buruk pada anda dan juga nama baik perusahaan."


Tanpa memberi jawaban lagi, Riko lantas mematikan sambungan teleponnya.


"Kali ini Mona sudah sangat keterlaluan, sepertinya dia memang sengaja ingin mengganggu rumah tanggaku." tanpa sadar Riko mengepalkan kedua tangannya ketika membayangkan tindakan Mona, yang menurutnya sudah sangat keterlaluan dan sulit untuk dimaafkan.


"Sepertinya kali ini Aku harus turun tangan langsung untuk memberi perhitungan padanya." lanjut gumam Riko.


Riko mencoba mengatur napasnya yang sempat tak beraturan akibat menahan geram pada mantan kekasihnya, Mona. Setelah merasa cukup tenang, Riko lantas kembali bergabung dengan Rahma dan juga yang lainnya.


"Ada apa, mas??." tanya Rahma ketika melihat perubahan dari raut wajah Riko setelah kembali.


"Apa terjadi masalah di perusahaan, mas??.". Tebak Rahma ketika Riko tak kunjung menjawabnya.


"Bukan apa apa, hanya masalah kecil saja, sayang." jawab Riko.


"Jika permasalahannya mengharuskan kamu kembali ke Jakarta, pergilah!!! Biar mama dan papa yang akan menemani istri kamu selama kamu tidak ada." mama Rika mencoba memberi solusi.


Sedangkan papa Abraham dibuat bertanya tanya dalam hati, masalah apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan sementara jika sampai itu terjadi tentunya sebagai pemilik perusahaan ialah orang pertama yang akan diberi kabar, masalah sekecil apapun itu.


"Apa yang sebenarnya tengah coba di sembunyikan Riko??." dalam hati Papa Abraham, tidak yakin jika permasalahan tersebut menyangkut perusahaan.


Riko masih terlihat diam seperti sedang berpikir sehingga Kini Rahma beranjak mendekatinya.


"I,m promise to take care of myself." tutur Rahma seraya mengelus bahu Riko dan hal itu lantas membuat Riko menatapnya cukup lama.


"Janji !!!." ujar Riko dan Rahma pun lantas menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum di wajahnya untuk kembali meyakinkan suaminya tersebut.


Setelah berhasil meyakinkan Riko, Rahma pun pamit pada papa Abraham dan mama Rika untuk beranjak menuju kamar, membantu menyiapkan keperluan suaminya yang rencananya akan berangkat ke Jakarta malam hari ini pukul tujuh malam.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Ko??." tanya papa Abraham dengan tatapan curiga ketika tinggal mereka berdua saja yang tersisa di ruang tengah, setelah mama Rika pamit ke kamar untuk beristirahat sejenak.


Sadar dengan tatapan ayahnya, Riko pun akhirnya tidak bisa lagi menyembunyikan hal itu dari papa Abraham.


"Coba ceritakan pada papa yang sebenarnya terjadi, Ko!!." seru papa Abraham. Melihat helaan napas Riko yang terdengar memberat membuat papa Abraham semakin yakin dengan dugaannya.


"Jika kamu yakin tidak pernah berbuat seperti yang dituduhkan Mona, maka papa sarankan bersikap tegas lah pada wanita itu, Agar dia tidak lagi melakukan tindakan yang bisa merusak keharmonisan rumah tangga kalian!!." tegas papa Abraham seraya menepuk pundak Riko seolah memberi dukungan pada putranya sulungnya itu, setelah mendengar cerita dari Riko. Kemudian Riko pun mengangguk paham.


***


"Kenapa mas??." Rahma yang tengah menyiapkan keperluan Riko sontak mengalihkan pandangannya ketika menyadari sejak tadi Riko terus menatapnya.


Riko mengelus dagu Rahma.


"Sayang, apapun yang akan terjadi percayalah mas bukanlah pria brengsek, kamu adalah wanita pertama dan satu satunya yang pernah tidur dengan seorang Riko Pranata Abraham." penuturan Riko mampu mengukir kerutan halus di dahi Rahma.


"Kenapa kamu tiba-tiba bicara seperti itu mas??." Rahma yang bingung dengan sikap Riko yang menurutnya aneh lantas bertanya demikian.


"Tidak mengapa, mas hanya ingin kamu tahu hal itu, sayang." jawab Riko. kini pria itu membawa wanita yang begitu dicintainya itu ke dalam pelukannya. cukup lama Riko dalam posisi yang membuatnya begitu tenang dan damai, sampai kemudian ia pun terpaksa melerai pelukannya ketika mendengar suara ketukan di balik pintu kamar.