
Sinar matahari yang menelusup di sela jendela kaca kamar hotel membangunkan Ratu dari tidurnya. meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku akibat pelukan tangan kekar Toni yang semalaman berada di pinggangnya.
"Oh astaga.... Ternyata begini rasanya memiliki seorang suami, rasanya badanku mau remuk semua." ungkap Ratu dalam hatinya. Bagaimana tidak mau remuk rasanya seluruh badan, jika di waktu subuh Ratu terpaksa melawan rasa kantuknya untuk kembali melayani keinginan sang suami.
"Mau kemana, sayang??." masih dengan memejamkan mata Toni bertanya dengan suara serak khas bangun tidur, ketika merasakan pergerakan Ratu yang hendak turun dari tempat tidur.
"Aku mau ke toilet kak kebelet pi_pis." jawab Ratu apa adanya.
Toni tampak memicingkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mata.
"Mau aku bantu??." sebagai seorang Pria yang berprofesi sebagai seorang dokter tentunya Toni tahu jika perbuatannya semalam bisa saja membuat istrinya itu sampai kesulitan berjalan, maka dari itu Toni menawarkan bantuan pada Ratu.
"Sepertinya tidak perlu kak. " sahut Ratu, walau pun ia sendiri tidak yakin dengan jawaban yang baru saja dilontarkannya.
 Sebenarnya tak jauh berbeda dengan Toni, Ratu pun tahu betul tentang hal itu akan tetapi ia masih merasa malu mengingat saat ini tubuh polosnya hanya di balut selimut putih terpaksa menolak. bagaimana jika selimut tersebut sampai melorot ???, memikirkan hal itu saja sudah membuat semburat merah kembali tampil di wajah cantik Ratu.
Ratu menghela napas dalam seraya memejamkan matanya untuk sesaat sebelum kemudian hendak melangkah turun dari tempat tidur. Sepertinya usaha Ratu tidak berjalan lancar, buktinya baru saja mengayunkan langkah pertamanya ia sudah merasakan sakit yang teramat di bagian inti tubuhnya, sehingga membuat Ratu mau tak mau menghentikan langkahnya.
Toni yang sejak tadi terus memperhatikan gelagatnya lantas beranjak turun dari tempat tidur, kemudian tanpa aba aba mengangkat tubuh Ratu Ala bridal style sehingga membuat Ratu terkesiap dibuatnya.
"Eeeeh...apa yang kak Toni lakukan??.". Ucapnya seraya merapikan selimut yang hampir saja melorot ke bawah.
"Please..... Jangan keras kepala!!." ujar Toni pelan sebelum mengayunkan langkah menuju kamar mandi.
Setibanya di kamar mandi, Toni menurunkan tubuh Ratu dan gendongannya lalu mengisi bathtub dengan air hangat.
"Berendam lah agar tubuhmu merasa rileks!! Jika sudah selesai jangan lupa panggil aku!!." pesan Toni setelah membantu memapah tubuh Ratu masuk ke bathtub, dan Ratu pun mengangguk pelan.
"Terima kasih, kak." ucap Ratu sebelum Toni benar benar beranjak meninggalkan kamar mandi.
Bukannya menjawab dengan lisan Toni justru mengangguk sekilas seraya mengulas senyum penuh di wajah tampannya, sehingga membuat irama jantung Ratu kembali tak beraturan dibuatnya.
"Oh tuhan.... Sepertinya kondisi jantungku tidak akan baik baik saja setelah menikah dengannya.". Gumam Ratu dengan nada lirih sambil memegangi dada kirinya, merasakan irama jantung nya yang kini berdetak lebih cepat dari biasanya.
Setelah itu Ratu lantas menikmati acara berendamnya. hampir setengah jam ia berada di dalam bathub menikmati aroma khas blossom yang berasal dari sabun yang digunakannya, Sebelum kemudian membersihkan tubuhnya di bawah kucuran air shower.
Sementara di kamar, Toni tampak bercakap dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Antarkan sekarang, saya tunggu!!." serunya sebelum kembali mematikan sambungan telepon.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Ratu yang baru saja keluar dari balik benda persegi panjang tersebut.
"Kenapa tidak memanggilku???." protes Toni ketika melihat Ratu berjalan keluar dari kamar mandi.
"Rasanya tidak sesakit tadi, aku masih sanggup berjalan sendiri,kak." jawab Ratu.
Meski masih harus melakukannya dengan perlahan setidaknya Ratu sudah bisa berjalan karena rasa sakit di daerah inti tubuhnya tak sesakit tadi.
"Apa kak Toni tidak ingin mandi??." tanya Ratu, melihat Toni tak kunjung beranjak dari sofa.
Toni beranjak untuk membuka pintu kamar hotel sedangkan Ratu tampak memandangi suaminya yang kini tengah melangkah, sebelum Ratu kemudian beranjak untuk mengambil pakaiannya di koper.
"Ini pesanan anda Tuan." ujar seseorang kepada Toni seraya menyerahkan sebuah kantong plastik berwarna hitam pada Toni.
"Terima kasih." ucap Toni saat menerima kantong plastik tersebut, sebelum kemudian memberikan dua lembar uang kertas berwarna merah pada pria itu.
Ceklek.
Toni kembali menutup pintu kamar hotel kemudian beranjak menemui sang istri.
"Bisa kamu merebahkan tubuhmu di tempat tidur sebentar, aku ingin memeriksanya!!" pinta Toni dengan raut wajah yang terlihat begitu santai seolah hal yang ingin ia kerjakan adalah hal yang biasa. Berbeda dengan Ratu, yang saat ini sudah dibuat menautkan kedua alisnya. Ratu bukannya tidak paham apa yang akan di lakukan oleh suaminya itu, namun ia tidak habis pikir Toni ingin memeriksa area sensitifnya....."oh no." teriak Ratu dalam hatinya.
Melihat jenis salep yang baru saja dikeluarkan Toni dari kantong plastik hitam ditangannya semakin meyakinkan dugaannya.
"Kak Toni, biarkan aku melakukannya sendiri!!." dengan suara dan juga raut wajah yang terkesan memelas Ratu berujar.
"Kenapa?? Kamu malu??." tebak Toni dan sontak saja Ratu mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Kenapa masih malu, bahkan semalam aku sudah melihat semuanya." kalimat Toni seakan membuat Ratu ingin menghilang sejenak dari muka bumi ini, agar raut wajah merah merona di wajahnya tidak terlihat oleh pria itu.
Melihat sikap Ratu tersebut membuat Toni jadi gemas sendiri dibuatnya.
"Baiklah, kali ini aku tidak akan memaksa jika kamu masih merasa malu, tapi ingat lain kali tidak perlu malu lagi !!! Karena percuma, aku sudah melihat semua bagian tubuhmu, sayang." Kata Toni pada akhirnya, sebelum kemudian beranjak menuju kamar mandi. tapi sebelum benar benar beranjak, sebuah kecupan sayang didaratkan Toni di kening Ratu.
"Sayang??." Ratu mengulang salah satu kata yang baru saja di lontarkan Toni padanya.
***
Kini baik Toni maupun Ratu telah selesai mandi dan juga bersiap. pagi ini mereka akan turun ke bawah untuk sarapan bersama dengan anggota keluarga yang lain.
Di lantai bawah.
Hampir semua anggota keluarga telah berkumpul hendak menikmati sarapan pagi bersama. tapi sayangnya sarapan pagi tersebut sudah tertunda setengah jam akibat menunggu kedatangan sepasang pengantin baru yang belum juga turun dari kamarnya.
"Tunggu kakak kamu dulu, Saka!!." mama Sinta menegur putra bungsunya ketika hendak menyentuh sarapannya dan hal itu tentu saja membuat Saka mengomeli sang kakak dalam hatinya.
"Kak Toni dan Kakak ipar lagi ngapain sih di kamar lama banget.?? Tidak tahu apa cacing cacing di Perutku sudah tidak sabar ingin diberi makan." omel Saka dalam hati.
Tak berselang lama akhirnya yang di nanti pun tiba.
"Selamat pagi." ucap Toni dan Ratu hampir bersamaan.
"Pagi." sahut Saka dengan senyum palsu di wajahnya, padahal saat ini hatinya sangat dongkol akibat terlalu lama menunggu kedatangan pasangan suami istri yang terlihat begitu mesra tersebut, lebih tepatnya Toni yang menunjukkan kemesraannya tanpa peduli dengan yang lainnya, termasuk dirinya yang merupakan jomblo sejati.
"Pagi, nak." hampir semua sontak menjawab ucapan selamat pagi dari sepasang pengantin baru tersebut.
Toni yang tampak merangkul pinggang ramping istrinya tersebut lantas mengurai rangkulannya dari pinggang Ratu, hendak menarik sebuah kursi untuk ditempati sang istri tercintanya, sebelum kemudian ia pun menarik kursi di sisi Ratu untuk ditempati sendiri olehnya.
Semua yang hadir di sana tampak mengulum senyum ketika menyadari kini rambut Toni dan Ratu sama sama masih basah, pertanda keduanya baru saja keramas. Dan untuk sepasang suami istri tahu sendiri lah apa artinya...