
Riko baru saja keluar dari kamar mandi, di lihatnya Rahma telah terlelap di atas tempat tidur.
Riko yang melangkah ke arah tempat tidur lantas menjatuhkan bokongnya di tepi tempat tidur dengan hati hati, tidak ingin sampai pergerakannya membangunkan Rahma dari tidurnya.
Di tatapnya wajah Rahma dengan intens, Sebelum sesaat kemudian Riko kembali teringat akan wajah bersalah yang tadi ditampilkan Rahma, di mana wanita itu merasa bersalah karena dalam kondisi seperti saat ini ia belum sanggup menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri untuk memenuhi kebutuhan biologis suaminya.
"Kamu tidak bersalah dalam hal ini, justru mas yang bersalah karena tidak sanggup menahan ge_jolak ga_irah setelah melihatmu dalam keadaan seperti tadi." gumam Riko seraya mengusap lembut puncak kepala Rahma.
Cukup lama Riko menatap wajah teduh istrinya yang tengah Terlelap, sebelum kemudian perhatiannya beralih ke arah nakas di mana saat ini ponselnya tengah berdering.
Tanpa menunggu lama Riko lantas menekan ke atas ikon hijau pada ponselnya untuk menerima panggilan, tidak ingin suara dering ponselnya sampai membangunkan sang istri.
"Halo." Riko sedikit menjauh agar percakapannya dengan seseorang di seberang sana tidak sampai menganggu tidur Rahma.
Di balkon kamar, di sini Riko berada saat ini.
"Tuan, saya ingin menyampaikan kepada anda jika sudah beberapa hari ini Nona Mona menghilang entah kemana." ungkap seseorang yang tak lain adalah sekretaris Danu.
"Bagaimana bisa??". Sahut Riko yang cukup terkejut dengan kabar yang baru saja di sampaikan Sekretaris Danu padanya.
Riko yang kini lebih mengutamakan kesembuhan sang istri lantas memilih tak lagi terlalu memikirkan urusan tentang mantan kekasihnya itu.
"Biarkan saja, selagi dia membawa dan merawat anaknya dengan baik, biarkan saja tidak perlu mencarinya lagi!!." ujar Riko.
^^^"Itu dia masalahnya tuan, Nona Mona tidak membawa serta putranya, ia pergi seorang diri setelah menitipkan putranya pada salah seorang tetangganya." tutur sekretaris Danu sesuai dengan informasi yang di terima dari anak buahnya.^^^
^^^"What ...????Apa wanita itu sudah gila?? bagaimana dia bisa menitipkan putranya pada orang yang baru saja dikenalnya??." kesal Riko, tidak habis pikir dengan tindakan Mona yang menurutnya sangat ceroboh. bukan apa apa, Riko hanya tidak tega pada seorang anak yang tidak berdosa, itu sebabnya ia sampai peduli dengan putranya Mona.^^^
"Sekarang kamu cari tahu bagaimana orang itu memperlakukan putranya Mona !!! Jika dia memperlakukan anak itu dengan baik, maka biarkan saja anak itu tetap bersamanya. Tapi jika tidak, pastikan dalam satu kali dua puluh empat jam kamu bisa menemukan keberadaan wanita itu!!." titah Riko.
"Baik tuan."
Setelahnya Riko pun mematikan sambungan teleponnya, kemudian beranjak meninggalkan balkon.
"Sayang...." Riko cukup terkesiap ketika melihat keberadaan Rahma kini berdiri di pintu yang menghubungkan ke balkon kamar.
"Apa yang terjadi, mas??." bukannya menjawab, Rahma justru balik bertanya.
"Tidak terjadi apapun, sayang." jawab Riko, namun Rahma tak percaya begitu saja dengan ucapan Riko.
"Tapi tadi aku tidak sengaja mendengar mas menyebut nama Mona. Sebenarnya apa yang telah terjadi padanya, mas??." tanya Rahma dengan tatapan menuntut. Entah mengapa kali ini ia benar benar penasaran dengan apa yang terjadi, apalagi ia tak sengaja mendengar suaminya menyebut nama Mona. Bukannya merasa cemburu, Rahma justru mencemaskan wanita itu dan juga putranya.
Riko tampak menghela napas ketika melihat tatapan menuntut dari Rahma.
"Sudah beberapa hari Mona menghilang entah kemana, dan parahnya ia menitipkan putranya kepada tetangganya." jelas Riko.
"Memangnya Kemana dia, kenapa harus menitipkan putranya pada orang lain??." entah mengapa, sebagai sesama wanita Rahma berpikir ada yang janggal dengan kepergian Mona. Sepengatahuan Rahma, sebagai seorang ibu wanita manapun tidak akan tega meninggalkan anaknya pada orang yang baru dikenal, terkecuali demi sesuatu hal yang sangat penting.
Namun yang menjadi pertanyaan di benak Rahma Kini, urusan sepenting apa sampai membuat Mona tega menitipkan putranya pada orang lain???.
"Entahlah, mas juga tidak tahu." sahut Riko sebelum kemudian beranjak menuju ruang ganti, meninggalkan Rahma dengan berbagai macam pertanyaan dibenaknya.
Sejujurnya, Riko enggan berurusan lagi dengan mantan kekasihnya itu, namun demi rasa kemanusiaan Riko masih memberikan tempat tinggal yang layak untuk wanita itu, Meski di belahan kota yang jauh dari hingar bingar ibu kota. Dan tentunya bantuan yang di berikan Riko pada Mona tak luput dari pengetahuan Rahma sebagai istri Riko.
Tak berselang lama Riko kembali dari ruang ganti, kini pria itu nampak mengenakan celana pendek berwarna cream serta kaos berwarna putih.
"Mas, kenapa aku tiba-tiba mencemaskan keadaan Mona, ya??.". Rahma mengungkapkan isi hatinya pada Riko.
Riko melangkah mendekat pada Rahma.
"Tidak perlu mencemaskannya, lagi pula kini sekretaris Danu sedang mencari tahu keberadaannya!! Sebaiknya kamu berbaring di atas tempat tidur, jangan terlalu banyak pikiran !! Mas mau ke bawah sebentar untuk mengambil makanan untukmu, sayang!!." Riko memapah Rahma menuju ranjang, sebelum kemudian ia beranjak untuk mengambil makanan untuk istrinya di bawah.
"Ya tuhan, apa yang sebenarnya terjadi padaku, kenapa aku tiba-tiba kepikiran dengan wanita itu??." gumam Rahma setelah kepergian Riko.
Setelah melihat pengorbanan serta rasa ketakutan Riko akan kehilangan dirinya, kini tak ada lagi perasaan cemburu di hati Rahma pada sosok Mona, yang ada kini justru rasa iba. Bagaimana tidak, menurut Rahma tidak mudah bagi seorang wanita single parents berjuang membesarkan anaknya, apalagi setahu Rahma tak seorang pun sanak saudara Mona yang ada di kota tersebut.
"Di mana pun saat ini kau berada, aku berharap kau dalam kondisi baik baik saja, karena putramu sangat membutuhkan kehadiranmu di sisinya." lanjut gumam Rahma dengan penuh harap.
Perhatian Rahma beralih ketika mendengar suara pintu terbuka dari arah luar, menampilkan Riko kini membawa nampan yang berisi makanan di tangannya.
"Sebaiknya kamu makan dulu sayang setelah itu minum obat!!." tutur Riko yang kini telah duduk di tepi tempat tidur, dan Rahma lantas mengangguk sebagai jawaban.
Riko mulai menyuapi istrinya dengan telaten. Setelah suapan terakhir, Riko lantas meletakkan piring bekas makanan Rahma ke nampan yang berada di atas nakas, sebelum kemudian mengambil obat serta segelas air untuk sang istri.
"Minum dulu obatnya." Riko menyerahkan obat serta segelas air pada Rahma.
"Terima kasih, mas."
***
Di waktu yang sama namun di belahan kota yang berbeda.
Mona yang begitu merindukan putranya sontak saja mendatangi rumah tetangganya, ketika baru saja tiba di kota P.
"Assalamualaikum."
Seorang wanita yang tampak menyuapi seorang anak, lantas menoleh ke sumber suara ketika mendengar seseorang menyerukan salam.
"Waallaikumsalam...Mona.". ucapnya ketika menyadari kedatangan Mona.
Mona yang sudah sangat merindukan putranya lantas melangkah masuk ke dalam rumah untuk menghampiri putranya.
"Sayang, mama kangen sekali sama kamu." ungkap Mona setelah mencium pipi putranya, setelahnya Mona pun membawa tubuh putranya ke dalam gendongannya.
Kini Mona beralih pada sosok wanita bernama Sukma, wanita yang telah menjaga putranya dengan baik selama kepergiannya.
"Terima kasih banyak, maaf karena saya sudah merepotkan mbak." ungkap Mona merasa sungkan.
"Saya sama sekali tidak merasa direpotkan Mona, saya justru merasa senang. Lagi pula Gibran sangat anteng, dia sama sekali tidak rewel." sahut Sukma apa adanya.
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk menikmati karya recehku...🙏🙏🙏 jangan lupa like, koment, vote and give ya..... setiap komentar yang kalian tinggalkan, pasti aku baca dengan antusias, tak terlewatkan satu komentar pun 😊😊
Dan jangan lupa untuk mampir ke karya recehku yang lainnya. _MENIKAH DI USAI REMAJA. 🙏🙏🙏😘😘😘😘😘😘😘