Trust Me Please.

Trust Me Please.
Wanita itu yang menyelamatkan kakek??



Sintia mengusap wajahnya yang basah karena air mata, sebelum kemudian ia berdiri dari posisinya. Sintia cukup terkejut dengan keberadaan rekannya yang kini tengah berdiri tak jauh darinya, tetapi Sintia kembali bersikap seolah tak terjadi apa apa padanya. Wanita itu nampak mengulas senyum tipis di wajah cantiknya yang tampak sedikit sembab akibat menangis.


"Saya akan menemui keluarga pasien." tutur Sintia, sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan tersebut.


Di depan kamar operasi, Ratu dan juga kedua orang tuanya tampak cemas menanti kabar tentang hasil dari tindakan operasi yang dilakukan pada kakeknya.


"Dokter, apa operasinya berjalan dengan lancar??." Ratu yang melihat Sintia baru saja keluar dari kamar operasi lantas menghampiri Sintia.


"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar, kita hanya tinggal menunggu sampai pasien siuman." jawab Sintia dengan suara serak khas orang habis menangis dan itu mampu membuat Ratu bertanya dalam hati.


"Apa yang terjadi dengan dokter Sintia?? Sepertinya ia habis menangis?.".lirih Ratu dalam hati.


"Terima kasih Bu dokter." ungkap mama Rani dan papa Sofyan hampir bersamaan, keduanya merasa begitu bersyukur karena operasi ayahnya papa Sofyan berjalan dengan lancar.


"Tidak perlu berterima kasih tuan... nyonya... karena itu sudah menjadi kewajiban kami sebagai seorang dokter." sahut Sintia seraya mengukir senyum tipis di bibirnya.


"Kalau begitu saya permisi." Sintia pun pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Ternyata Selain cantik dan pintar dokter Sintia juga sangat ramah ya pa." komentar ibunya Ratu tentang sosok Sintia.


Papa Sofyan lantas mengangguk mengiyakan penilaian istrinya tentang sosok Sintia.


Tak berselang lama, Alan yang baru saja usai menghadiri meeting penting di kantor tempatnya bekerja tiba di rumah sakit. Seraya mengembangkan bisnisnya Alan juga bekerja di salah satu perusahaan ternama di kotanya.


"Pah...mah....Maaf Alan terlambat soalnya ada meeting penting yang tidak bisa Alan tinggal begitu saja di kantor. Bagaimana kondisi kakek??."


"Iya tidak apa apa sayang. Kakek baru saja selesai mendapatkan tindakan operasi dan Alhamdulillah operasinya berhasil." jawab Mama Rani.


Alan menghela napas lega mendengarnya. "Syukurlah." ucapnya. Terus kepikiran dengan kondisi kakeknya sehingga membuat Alan hampir tidak fokus dengan urusannya di kantor.


Meski terkadang Alan merasa jenuh dengan pertanyaan kakeknya soal pernikahan, namun begitu sesungguhnya Alan sangat menyayangi pria itu. seorang kakek yang begitu banyak mengajarkan Alan tentang dunia bisnis.


"Apa kakek Sudah boleh di kunjungi??." tanya Alan kemudian.


"Sepertinya belum, karena sampai saat ini Kakek belum juga siuman." Ratu yang sejak tadi diam akhirnya ikut menimpali pertanyaan Alan.


"Untungnya tadi ada dokter Sintia yang bergerak cepat melakukan tindakan operasi pada kakek, Aku tidak bisa membayangkan jika tadi dokter Sintia juga tidak ada." membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada kakeknya membuat wajah Ratu berubah sendu.


"Memangnya Kemana dokter yang menangani kakek sebelumnya?? Dan siapa itu dokter Sintia???". rentetan pertanyaan lantas di lontarkan Alan ketika mendengar pernyataan Ratu barusan.


Baru saja hendak menjawab rentetan pertanyaan dari Alan, tiba tiba Ratu menoleh ke belakang saat mendengar suara Toni yang baru saja tiba di rumah sakit.


"Bagaimana kondisi kakek?? Kenapa kamu tidak mengabarkan pada Kakak jika Kakek di larikan ke rumah sakit??.". Tak jauh berbeda dengan Alan, Toni pun melonggarkan rentetan pertanyaan membuat Ratu bingung harus menjawab yang mana dulu.


Pagi pagi sekali Toni sudah beranjak meninggalkan rumah karena harus menghadiri sebuah acara yang diadakan salah satu kampus ternama di kota itu, sehingga ia tidak mengetahui jika Kakek mertuanya dilarikan ke rumah sakit.


"Kakek baru saja selesai di operasi kak, dan sampai saat ini Kakek belum juga siuman." Ratu memilih menjawab pertanyaan Toni yang pertama saja, karena jika ia kembali menjawab pertanyaan kedua Toni, bisa jadi akan ada pertanyaan pertanyaan selanjutnya dari pria itu.


"Kakek telah mendapatkan tindakan operasi, bukannya dokter Herman dan dokter Fahrul masih berada di luar kota??." sahut Toni mengingat dua orang dokter bedah di rumah sakit tersebut sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota.


"Dokter Sintia yang memberikan tindakan operasi pada kakek. Jika tadi tidak ada dokter Sintia, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada kakek." setiap kali membayangkan hal buruk yang bisa saja terjadi pada pria tua tersebut wajah Ratu seketika berubah sendu.


"Dokter Sintia??." ulang Toni, dan Ratu pun mengangguk mengiyakan.


Dret


Dret


Seketika perhatian semuanya beralih pada Alan ketika mendengar suara getaran ponsel milik Alan.


Alan lantas pamit sejenak untuk menerima panggilan telepon.


Tampak dokter Sintia melintas ketika hendak menuju ruangan pasca operasi dan itu membuat Ratu serta keluarganya kembali merasa cemas, takut sesuatu yang tidak diinginkan sampai terjadi pada kakeknya.


Sintia sendiri beranjak menuju ruang perawatan tersebut akibat sirene di ruangan dokter berbunyi, pertanda perawat yang bertugas berjaga di sana memberi kode padanya.


Setibanya di ruangan tersebut Sintia lantas memeriksa kondisi pasien yang mulai siuman. setelah mengecek kondisi tekanan darah pada pasien serta detak jantung pasien yang terbilang normal, Sintia lantas mengajak pasien untuk berinteraksi secara perlahan.


"Apa anda masih merasakan pusing di kepala anda, tuan??." tanya Sintia, mengingat akan reaksi dari tindakan anestesi di ruangan operasi tadi, yang bisa saja membuat pasien masih merasa pusing.


Perlahan pasien menggelengkan kepalanya pelan.


"Syukurlah jika anda tidak merasa pusing." ucap Sintia. Setelah memberikan beberapa instruksi pada perawat yang bertugas di ruangan itu, Sintia pun pamit meninggalkan kamar perawatan tersebut untuk menemui keluarga pasien.


"Bagaimana kondisi kakek saya, dokter??.".Tanpa menunggu lama, Ratu langsung menghampiri Sintia yang baru saja keluar dari kamar perawatan tersebut.


"Pasien baru saja siuman, dan keluarga di perbolehkan mengunjungi tapi saya sarankan satu persatu agar tidak sampai menimbulkan rasa tak nyaman bagi pasien yang baru saja mendapatkan tindakan operasi." pesan Sintia sebelum pamit meninggalkan Ratu dan juga keluarganya.


"Terima kasih, Sintia." Toni sengaja menggunakan panggilan akrabnya pada temannya tersebut dan itu membuat Sintia mengangguk serta mengulas senyum tipis, sebelum ia benar benar berlalu.


Dari kejauhan Alan dapat menyaksikan percakapan Ratu dan juga seorang wanita yang tidak asing di matanya.


Alan lantas melangkah mendekati Ratu dan juga anggota keluarganya yang lain.


"Apa yang kau bicarakan dengan dokter kurang waras itu??." pertanyaan Alan lantas membuat kedua alis Ratu saling bertaut.


"Dokter kurang waras??." Ratu sampai mengulang kosa kata Alan, dan spontan Alan mengangguk sebagai jawaban.


Melihat anggukan Alan membuat Ratu teringat akan ucapan Alan ketika datang ke rumah sakit tempo hari.


"Jadi dokter kurang waras yang bang Alan maksud itu dokter Sintia??." tanya Ratu memastikan.


"Siapa lagi kalau bukan wanita itu." sahut Alan dengan nada dan wajah datar. Sehingga membuat Ratu tampak mengulum senyum mendengarnya.


"Tapi sayangnya ya bang, dokter yang Abang anggap kurang waras itu adalah dokter yang telah menyelamatkan nyawa kakek." ungkap Ratu seraya menahan senyum di bibirnya.


"Apa maksudmu??."


"Ya, Dokter Sintia adalah dokter yang telah memberikan tindakan operasi pada kakek di waktu yang tepat, terlambat sedikit saja mungkin nyawa kakek tidak bisa di selamatkan." ungkap Ratu apa adanya.


Alan dibuat terkejut dengan pengakuan Ratu, namun begitu pria itu tetap berusaha menampilkan raut wajah datar seperti biasanya.


Ratu menatap Alan dengan memicingkan matanya seraya berkata. "Ratu tidak bisa membayangkan ya bang.... setelah kakek kembali sehat nanti, kakek meminta pada cucu pertamanya untuk menikahi seorang gadis yang telah menyelamatkan nyawanya." ledek Ratu yang diakhiri dengan seringaian di sudut bibirnya, sebelum kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Alan yang masih diam mematung.