
"Bagaimana, apa kalian jadi pindah ke ibu kota??." tanya papa Sofyan pada menantu laki lakinya.
Toni yang baru saja menyesap teh buatan ibu mertuanya lantas meletakkan kembali gelas di atas meja kemudian menjawab pertanyaan papa Sofyan.
"Sepertinya belum dalam waktu dekat ini pah, mengingat usia kandungan Ratu masih sangat muda, saya takut sampai terjadi sesuatu padanya jika harus melakukan perjalanan jauh. Lagi pula saya tidak ingin pergi seorang diri tanpa istri saya." beritahu Toni.
Papa Sofyan tampak tersenyum tipis ketika mendengar menantunya itu seperti enggan berpisah jauh dari putrinya.
"Nanti jika usia kandungan Ratu sudah memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, kami akan segera pindah ke ibukota. Lagi pula saya kasian melihat papa saya harus bolak balik untuk mengurus perusahaan." tutur Toni.
"Akan lebih baik seperti itu." sahut papa Sofyan. sebenarnya pria itu cukup berat jika berpisah jauh dari putrinya, namun mau bagaimana lagi saat ini Ratu telah menikah dan tentunya suaminya juga berhak untuk mengajaknya bersama kemana ia pergi.
Kini pertanyaan papa Sofyan beralih pada putranya, Alan.
"Kamu sendiri bagaimana Lan, apa kamu dan Sintia berencana menunda untuk memiliki momongan??." tanya papa Sofyan seraya menatap putranya itu.
"Tentu saja tidak pah, sekarang usia Alan sudah dua puluh delapan tahun, sepertinya di usia Alan sekarang ini Alan tidak ingin menunda untuk memiliki seorang anak." jawaban Alan membuatnya mendapat tepukan di bahunya oleh papa Sofyan.
"Papa Setuju. Kelak jika kalian berdua telah memiliki keturunan, ajarkan anak anak kalian menjadi manusia yang peduli pada sesama!!! sebagai seorang ayah, kalian berkewajiban untuk memberikan contoh yang baik bagi anak anak kalian nanti!!." papa Sofyan memberikan pesan pada Alan dan juga Toni.
"Baik pah." sahut Alan dan juga Toni hampir bersamaan.
"Alan ingin menjadi sosok suami dan ayah yang seperti papa, sosok ayah yang sayang pada keluarga." lanjut Alan, dari sorot matanya nampak jelas bahwa pria itu begitu mengagumi sosok ayahnya, dan hal itu membuat papa Sofyan terharu mendengarnya.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, papa Sofyan mengajak Alan dan juga Toni untuk segera masuk ke dalam.
Percakapan tak berakhlak antara Ratu dan Sintia terpaksa terhenti ketika menyadari kedatangan tiga orang pria, Alan,Toni, dan juga papa Sofyan.
Papa Sofyan lantas mempersilahkan anak dan menantunya untuk kembali ke kamar untuk beristirahat, begitu pula dengannya yang kini beranjak ke kamar untuk beristirahat. Seharian beraktivitas di lokasi proyek membuat tubuh papa Sofyan lumayan lelah.
Sintia bersama Alan yang baru saja tiba di kamar, lantas merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Bang Alan mau ngapain??." Sintia yang kini tidur dengan posisi menyamping terlihat siaga ketika merasakan tangan kekar suaminya kini memeluknya dari belakang.
Tanpa melepas pelukannya Alan tersenyum, seolah paham dengan apa yang kini ada dipikiran istrinya.
"Memangnya salah memeluk istri sendiri." tutur Alan dengan santainya.
"Janji ya bang, hanya peluk saja !! Badanku rasanya mau remuk semua ini." omel Sintia seraya memanyunkan bibirnya.
"Iya...." sahut Alan.
Sepertinya janji tinggal janji karena beberapa saat kemudian tangan kekar Alan mulai tak bisa di kondisikan.
Bagaikan lagu salah satu band papa atas tanah air, Dan terjadi lagi.....hehehe
Malam itu Sintia bahkan baru bisa mengistirahatkan tubuhnya pukul dua dini hari, akibat ulah Suaminya.
Malam ini Sintia Tidur di dalam dekapan suaminya. Dekapan yang terasa begitu hangat sehingga membuatnya tak butuh waktu lama untuk masuk ke alam bawah sadarnya.
***
Tidak terasa waktu terus berjalan, sudah dua bulan Sintia menjalani statusnya sebagai seorang istri. Meski sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang dokter namun tidak membuat Sintia mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri.
Setiap harinya, Sintia meluangkan waktu menyiapkan sarapan untuk sang suami. Memiliki lebih dari dua orang Asisten rumah tangga tidak sampai membuat Sintia membebankan keperluan Suaminya pada ART, termasuk membuatkan sarapan ataupun makan malam untuk Alan. Jika untuk makan siang, terkadang Sintia akan mengunjungi Alan di kantor untuk makan siang bersama atau begitu sebaiknya, Alan yang akan mengunjungi Sintia di rumah sakit untuk makan siang bersama.
Semenjak dipersunting oleh Alan, Sintia merasa hidupnya nyaris sempurna. bagaimana tidak, memiliki seorang suami yang tampan, mapan, penyayang serta pengertian, menurut Sintia tidak semua wanita di dunia ini seberuntung dirinya.
Sama halnya siang ini, Sintia berencana menuju kantor suaminya untuk makan siang bersama karena kemarin Alan yang datang ke rumah sakit untuk mengajaknya makan siang bersama.
"Suster, saya mau makan siang di kantor suami saya, jika ada yang mencari saya katakan saya akan kembali setelah jam makan siang." pesan Sintia pada suster Ita sebelum beranjak.
"Cie....yang mau makan siang bareng suami tercinta." godaan suster Ita di tanggapi Sintia dengan senyuman, , sebelum benar benar beranjak meninggalkan ruangan tersebut.
Kurang dari empat puluh lima menit mobil Sintia akhirnya tiba di basemen gedung Mardin group. Sintia turun dari mobilnya lalu kemudian memasuki pintu masuk utama gedung.
"Selamat siang Nyonya Alan." Sintia merespon sapaan petugas keamanan yang bertugas di depan pintu masuk dengan seulas senyum. Sejak menikah dengan Alan, hampir semua karyawan memanggilnya dengan sebutan Nyonya Alan, bukan tanpa alasan pegawai memanggilnya demikian, semua itu atas perintah dari Alan langsung.
Sintia berjalan melintasi Lobby menuju ke arah Lift yang akan mengantarkannya ke lantai di mana ruangan suaminya berada.
"Selamat siang, Nyonya Alan." sekretaris Alan sontak saja berdiri dari duduknya ketika menyadari kedatangan Sintia.
"Selamat siang, Nona."
Sintia pun melanjutkan langkahnya.
Ceklek.
Suara pintu ruangan terbuka membuat Alan beralih ke sumber suara.
Menyaksikan kedatangan istrinya, Alan sontak berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan Sintia.
Alan tampak memeluk tubuh istrinya sejenak lalu kemudian mengecup keningnya.
"Sebentar lagi Razak akan membawa makan siang ke sini." beritahu Alan dan sintia mengangguk paham.
"Bang....." seruan istrinya yang terdengar manja membuat Alan bisa menebak jika ada sesuatu yang diinginkan oleh wanitanya itu.
"Apa yang kamu inginkan, sayang??."
Sintia melebarkan senyumnya, suaminya itu memang peka terhadap istrinya.
Alan yang merasa gemas dengan senyuman Sintia, lantas menarik wanita itu ke pangkuannya. Kini kedua berada di sofa ruang kerja Alan.
"Memangnya apa yang kamu inginkan, hemt ???." tanya Alan dengan nada lembut.
Dengan tatapan manja, Sintia memainkan jari telunjuknya pada dada bidang suaminya, sehingga membuat Alan merasakan sensasi yang berbeda dibuatnya.
"Jangan membangunkan serigala yang sedang tidur, sayang, karena jika dia bangun bisa di pastikan kamu tidak akan kembali bekerja siang ini karena kelelahan." tutur Alan disertai senyum di sudut bibirnya. Sementara Sintia yang mengerti dengan maksud ucapan suaminya, tampak mengerucutkan bibirnya lalu menjauhkan jemarinya dari dada bidang Alan.
Alan tersenyum gemas dibuatnya.
"Memangnya apa yang kamu inginkan, hemt???." Alan kembali mengulang pertanyaannya seraya menyelipkan anak rambut Sintia ke belakang telinga.
"Beberapa hari lagi Rahma dan suaminya akan kembali ke ibukota, rencananya ia akan melahirkan buah hati mereka di sana." kata Sintia.
"Lalu??." tanya Alan dengan kedua alis yang saling bertautan.
"Malam ini rencananya Rahma akan mengajak Aku dan Ratu jalan jalan ke pasar malam. Apa_." Sintia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Alan lebih dulu menyela.
"Pergilah, jika kamu ingin pergi bersama temanmu !! tapi ingat, jangan kembali larut malam karena malam ini Abang harus lembur di kantor." jawaban Alan membuat Sintia melebarkan senyum di bibirnya.
"Thank you, sayangku...."
Cup.
ketika Sintia mengecup bibir Alan sebagai tanda terima kasih, secara bersamaan pintu ruang kerja Alan terbuka dan menampilkan Razak yang kini berdiri di ambang pintu, dan itu membuat Sintia malu bukan main.
Sintia yang masih berada di pangkuan Alan lantas menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya, seakan tak sanggup bertatapan dengan Razak.
"Maaf tuan." ucap Razak, menyesali tindakannya yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Letakan saja makanannya di sana, lalu pergilah!!." titah Alan seraya menunjuk ke arah meja sofa lalu kemudian meminta Razak untuk segera keluar setelahnya.