
Mengetahui putrinya tengah mengandung baby twins membuat bunda Ening menerapkan begitu banyak larangan untuk putri semata wayangnya itu. Mulai dari tidak membiarkan Rahma turun ke dapur untuk membantunya memasak sampai memastikan setiap asupan gizi pada makanan yang akan di konsumsi oleh Rahma, terus menjadi perhatian utama bunda Ening selama berada di kota itu.
Sang bunda tercinta bahkan menyarankan putrinya untuk mengambil cuti sampai dengan usai bersalin nanti. Namun sepertinya untuk yang satu itu Rahma belum bisa menurutinya mengingat ia pun memiliki tanggung jawab selama terikat kontrak kerja di rumah sakit tempat ia bekerja saat ini. Dan hal itu membuat bunda Ening hanya bisa menghela napas pasrah mendengarnya.
"Rahma tahu bunda tidak ingin Rahma sampai kelelahan dan berujung membahayakan kesehatan kondisi baby twins, tetapi di luar itu semua Rahma juga masih memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan kontrak kerja di rumah sakit tempat Rahma bekerja saat ini,bun."
Rahma mencoba memberi pengertian kepada bundanya.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan kamu, tetapi bunda minta sama kamu untuk tetap menjaga kesehatan dan jangan sampai bekerja terlalu keras karena bunda tidak ingin sampai terjadi sesuatu sama kamu dan juga baby twins, Sayang!!." Bunda Ening hanya bisa pasrah dengan keputusan yang telah di ambil oleh putrinya, namun begitu beliau tetap berpesan pada Rahma untuk menjaga diri dan juga kandungannya dengan baik.
Apalagi ia dan juga sang suami tidak bisa berlama lama di kota ini karena masih banyak pekerjaan serta tanggung jawab ayah Roland yang mengharuskan mereka kembali ke ibu kota beberapa hari lagi.
Pada akhirnya kedatangan Riko mengakhiri percakapan di antara bunda Ening dan juga Rahma.
"Assalamualaikum."
"Waallaikumsalam."
"Waallaikumsalam."
Rahma berdiri dari duduknya, menyambut kedatangan Riko dengan menyalami pria itu.
Rahma mengambil alih tas kerja dari tangan Riko.
"Di mana ayah??." tanya Riko ketika tidak melihat keberadaan ayah mertuanya.
"Ayah lagi di kamar, sedang bicara di telepon dengan asisten pribadinya." jawab Bunda Ening.
Rahma yang tadi ke dapur kini kembali dengan segelas jus dingin di tangannya.
"Ini mas di minum dulu!!." dengan senyum di wajahnya Rahma menyerahkan segelas jus penghilang dahaga pada sang suami, sebelum kemudian menjatuhkan bokongnya di sisi Riko.
"Terima kasih, sayang." Riko menerimanya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya terulur untuk mengelus lembut rambut panjang istrinya.
Riko meneguk jus hingga tersisa setengahnya lalu kembali meletakkannya di atas meja.
"Ada apa mas, apa terjadi sesuatu??." tanya Rahma ketika melihat raut wajah Riko seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Tadi Hantara menghubungi mas dan menyampaikan kabar jika hasil pemeriksaan DNA pertama mas dan juga putranya Mona memang sengaja di manipulasi oleh seseorang. Dan orang tersebut tak lain adalah direktur utama rumah sakit sendiri."
"Oh astaga..." bunda Ening tidak bisa membunyikan wajah terkejut mendengarnya. "Bagaimana bisa seseorang yang menduduki posisi Dirut rumah sakit sampai melakukan hal sekotor itu." lanjut bunda Ening tak habis pikir.
"Sekarang yang jadi pertanyaan, ada hubungan apa antara pak Dirut dengan Mona sehingga beliau sampai mengambil resiko sebesar itu untuk membantu Mona??." tanda tanya besar bagi Rahma.
"Menurut penyelidikan anak buah Hantara, Dirut atau lebih tepatnya mantan Dirut karena Hantara baru saja memecatnya pagi tadi, pria itu merupakan adik kandung dari ayahnya Mona." Tutur Riko apa adanya, sesuai dengan penyampaian Hantara pagi tadi.
"Pantas saja." gumam Rahma.
"Jika pelakunya sudah ketahuan, lalu apa yang mengganggu pikiran mas saat ini??." sebagai seorang istri tentunya Rahma bisa menebaknya dari raut wajah yang kini di tampilkan Riko.
"Mas hanya takut pria itu akan menaruh dendam, bukannya mas takut padanya tetapi mas hanya khawatir dia akan menjadikan kamu sebagai sarana untuk membalaskan dendamnya pada mas.". Entah mengapa setelah Riko tahu jika ternyata mantan Dirut adalah paman dari Mona, kecemasan itu muncul di benaknya.
"Oh astaga mas... tidak perlu berpikir sejauh itu !!! Tidak mungkin sampai dia menyakiti aku apalagi sampai melakukan hal hal seperti yang terjadi di Film Film, menculik ku misalnya. Yang pertama aku ini sedang hamil anak kembar secara otomatis porsi makan yang akan dia siapkan untukku akan semakin banyak dan tentunya itu akan merugikannya. yang kedua jika sampai dia melakukan hal itu aku pasti akan memberontak, gampangkan." jawaban Rahma yang terdengar bercanda mengenai hal semacam itu membuat Riko tak suka mendengarnya.
"Sayang, mas tidak sedang bercanda." ucapan Riko membuat senyum di bibir Rahma perlahan surut begitu saja, apalagi raut wajah Riko tak sedikitpun menampilkan raut canda.
"Maaf, mas." tutur Rahma.
Riko yang mendengar permintaan maaf dari Rahma lantas mengulurkan tangannya untuk membelai rambut sang istri.
"Sayang, mungkin menurut kamu mas sedikit berlebiha, tapi mas sampai berpikiran seperti ini itu karena mas takut sampai terjadi sesuatu sama kamu dan calon anak anak kita." nada ucapan Riko terdengar begitu lembut namun terdengar ketegasan di dalamnya. dan Rahma pun akhirnya mengangguk paham.
Sementara bunda Ening yang sejak tadi mendengar percakapan anak dan juga menantunya, merasa tenang kini putrinya berada di tangan seorang pria yang begitu mencintai dan menjaganya.
"Ssssshhhhh" Rahma tiba tiba mendesis ketika merasakan kedutan pada perutnya.
"Kenapa sayang??." tanya Riko dengan wajah panik ketika melihat istrinya mendesis kesakitan, sebelum kemudian perhatian Riko beralih ke perut Rahma ketika melihat Rahma memegangi perutnya.
"Awkkkk... tenanglah anak anak mommy!!." tutur Rahma ketika merasa perutnya kembali berkedut.
Riko tampak menghela napas.
"Maafkan Daddy, nak !! Daddy sama sekali tidak bermaksud memarahi mommy tetapi Daddy hanya mencemaskan mommy kalian." ucap Riko seraya mengusap lembut perut Rahma seakan mengajak kedua calon buah hatinya berkomunikasi. Sepertinya usaha Riko tidak sia sia, terbukti kini Rahma tak lagi merasakan perutnya yang berkedut kencang.
Kini Riko dan Rahma pun saling memandang.
"Mas... bagaimana kamu bisa sampai berpikir kalau baby twins tidak suka ketika kamu menasehati aku seperti itu??." tanya Rahma.
"Mas juga tidak tahu sayang, mas hanya melakukannya secara spontanitas saja dan ternyata memang anak anak kita tidak suka jika Daddy mereka sampai membuat mommy-nya merajuk." sahut Riko apa adanya.
"Sepertinya anak anakku sejak dini sudah berada di pihak mommy-nya." tutur Rahma seraya mengulum senyum di bibirnya. Dan hal itu membuat Riko ikut tersenyum.