
Setelah mengantarkan sang istri hingga ke basemen gedung perusahaan, Alan lantas menuju meeting room.
Razak hanya bisa menghembus napas di udara ketika menyaksikan Alan berjalan dengan santainya ke arah dirinya.
"Apa klien kita masih ada di dalam???" tanya Alan pada Razak yang kini tengah menunggu kedatangannya di depan meeting room.
"Tentu saja tuan." jawab Razak.
Alan mengangguk, sebelum kemudian memutar handle pintu meeting room untuk menemui klien yang sudah menunggu sejak beberapa jam lalu.
"Maaf telah membuat anda menunggu,tuan." kata Alan sebelum kemudian menjatuhkan bokongnya pada kursi telah di sediakan untuknya.
"Tidak perlu minta maaf tuan Alan, seandainya saya berada di posisi anda, saya juga pasti akan melakukan hal yang sama." jawaban dari klien tersebut sontak membuat kedua alis Alan saling bertaut bingung.
"Selamat atas kehamilan istri anda tuan Alan. saat istri saya sedang mengandung anak pertama kami, istri saya juga sering muntah muntah bahkan istri saya sampai harus di rawat di rumah sakit." kelanjutan cerita dari kliennya itu sontak saja membuat Alan mengalihkan pandangannya pada Razak yang kini berdiri di sisi kanannya.
Menyadari lirikan Alan, Razak hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah.
Kurang dari satu jam akhirnya meeting di siang hari itu telah usai dengan menghasilkan kesepakatan bersama.
Setelah kepergian klien, Alan dan Razak kembali ke ruangan Alan.
"Pantas saja klien bersedia menunggu tanpa protes." tutur Alan.
"Maaf tuan, saya terpaksa mengatakan demikian agar klien bersedia menunggu anda tanpa protes." sahut Razak yang paham dengan maksud ucapan Alan.
"Untungnya kau mengarang cerita dengan mengatakan istriku muntah muntah karena sedang mengandung, coba jika kau mengatakan istriku muntah muntah akibat mengidap suatu penyakit, sudah saya kirim kau ke luar angkasa." kalimat Alan yang disertai dengan senyum tipis membuat Razak akhirnya bisa bernapas lega, karena tuannya itu ternyata tidak sampai mengamuk padanya.
"Tapi sepertinya sebentar lagi ucapan saya bukan hanya sekedar karangan belaka tuan Alan." kata Razak dengan nada menggoda.
"Semoga saja apa yang kau katakan segera terwujud, lagi pula saya sudah tidak sabar menantikan hasil dari kerja keras saya selama ini." ucap Alan ambigu, sebelum kemudian kembali menyibukkan diri dengan berkas dihadapannya.
Hingga siang berganti dengan gelapnya malam namun Alan masih terlihat sibuk membahas perihal proyek yang akan di kerjakan seminggu ke depan bersama dengan Razak.
**
Malam harinya, Sintia nampak sudah bersiap menuju pasar malam di mana ia dan Rahma, serta Ratu janjian bertemu sebelum besok Rahma dan juga sang Suami kembali ke ibukota. Di bandingkan menghabiskan waktu bersama di mall, baik Rahma, Sintia dan juga Ratu lebih memilih mendatangi sebuah pasar malam.
Sintia Nampak Berjalan jalan menyusuri area pasar malam bersama Rahma dan juga Ratu. Hal itu merupakan pengalaman pertama bagi Sintia. Ia yang sebelumnya tidak memiliki teman dekat, hanya bisa menghabiskan waktu di rumah saja bahkan saat weekend tiba. selama mengenal Rahma dan Ratu, Sintia merasa hidupnya lebih berwarna. Ada rasa syukur yang tidak bisa di ucapkan dengan kata kata setelah ia mengenal dan menjalin pertemanan dengan Rahma dan juga Ratu.
Sintia merasa begitu banyak nikmat yang telah tuhan berikan di dalam hidupnya karena mendapatkan sosok teman seperti Rahma dan Ratu. serta sosok suami yang begitu penyayang serta pengertian seperti Alan.
"Tentu saja aku akan selalu merindukan kalian." tanpa sadar kedua kelopak mata Rahma nampak berkaca kaca kala menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.
Ketiganya kini telah menempati bangku yang disediakan untuk pengunjung pasar malam.Rahma yang kini duduk di antara Ratu dan Sintia, lantas merangkul kedua sahabatnya itu dan hal itu membuat Sintia dan juga Ratu Sontak menyandarkan kepala manja pada bahu Rahma.
Cukup lama Ratu, Rahma dan juga sintia dalam suasana yang cukup mengharukan sebelum kemudian mereka bertiga beranjak menuju sebuah restoran untuk menikmati makam malam.
Beberapa saat kemudian, mobil Sintia, Ratu dan juga Rahma tiba di sebuah restoran mewah di kota itu. dan meja yang berada di sudut ruangan menjadi pilihan ketiganya.
Sintia melambaikan tangannya ke arah pelayan. Setelahnya mereka pun meminta pelayan resto untuk mencatat pesanan mereka.
Sembari menunggu pesanan tiba, mereka terlibat percakapan santai, sampai tiba tiba pandangan Sintia tak Sengaja menangkap sosok pria yang sangat dikenalinya berjalan memasuki pintu masuk restoran.
"Bang Alan.". lirih sintia, namun masih terdengar oleh Rahma dan juga Ratu, sehingga membuat keduanya sontak mengikuti arah pandang Sintia.
"Iya benar itu bang Alan." timpal Ratu.
"Apa yang dilakukan bang Alan di sini?? Bukankah tadi siang bang Alan mengatakan jika malam ini ia akan lembur di kantor???." Sintia semakin berpikir yang tidak-tidak, apalagi jarak perusahaan ke restoran tersebut cukup jauh, tidak mungkin jika hanya sekedar untuk makan malam suaminya itu akan memilih restoran yang jaraknya cukup jauh dari perusahaan.
"Apa bang Alan ingin menemui seseorang??? Tapi siapa??
Kecurigaan Sintia semakin di tambah lagi dengan langkah Alan yang kini mengarah ke sebuah private room.
"Waaaahhhhhh.....bang Alan sudah keterlaluan.". Ratu yang kini berpikiran yang sama dengan Sintia lantas melontarkan kalimat yang membuat telinga dan hati Sintia semakin panas.
Tanpa banyak bicara Sintia beranjak dari tempat duduknya lalu menyusul Alan masuk ke dalam private room, sementara Ratu setia melangkah di belakang langkah Sintia. sedangkan Rahma, mereka meminta Rahma untuk menunggu sejenak Mengingat kondisi Rahma yang tengah hamil besar.
Dengan berapi api Sintia mulai masuk ke dalam private room restoran.
Seketika langkah Sintia tercegat ketika semua orang yang berada di dalam private room restoran beralih menatap ke arahnya, tak terkecuali sang suami yang cukup terkejut dengan kedatangannya.
"Sayang...." ucap Alan.
Sintia hanya tersenyum kaku ketika mendengar sapaan Alan.
"Sepertinya aku harus segera menemui Rahma, kasian dia sendirian di sana." demi mencari aman, Ratu yang kini berdiri di belakang Sintia lantas membersihkan alasan yang membuat Sintia mencebikkan bibirnya kesal. Ia merasa Ratu meninggalkannya begitu saja dalam kondisi kurang aman.
Kini tinggallah Sintia sendirian dengan wajah bingungnya. Sebagai seorang suami tentu saja Alan dapat menangkap kebingungan di wajah istrinya itu. Ia beranjak dari duduknya kemudian melangkah ke arah sang istri.
Alan merangkul pinggang Sintia dengan mesra. "Kenalkan, ini istri saya dan malam ini saya sengaja memintanya untuk datang ke restoran ini untuk menemani saya makam malam bersama." Alan akhirnya berdusta demi menutupi rasa malu yang kini dirasakan sang istri tercinta, dan itu membuat Sintia tertegun mendengarnya. Di saat ia mencurigai sang suami berbuat yang tidak-tidak, suaminya itu justru begitu pengertian ketika ia berada di posisi yang hampir membuatnya tak punya muka di hadapan rekan kerja Alan.