Trust Me Please.

Trust Me Please.
Tawaran kakek Harka.



Cukup lama Alan menatap selimut di tangannya, sebelum kemudian menggunakannya.


Tidak terasa malam berganti pagi, Alan yang baru saja membuka matanya tampak meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku akibat tidur di sofa semalaman. meski baru saja bangun tidur namun tidak mengurangi porsi ketampanan di wajahnya.


Alan lantas berlalu menuju kamar mandi untuk mencuci muka serta menggosok gigi.


Tak berselang lama Alan keluar dari kamar mandi dan secara bersamaan seorang petugas rumah sakit datang untuk mengantarkan sarapan pasien.


Setelah mengucapkan terima kasih pada petugas yang mengantarkan sarapan ke ruang perawatan kakeknya, Alan lantas mendekati tempat tidur kakeknya.


Alan menaikan posisi bed kakek Harka karena pria tua itu harus segera sarapan sebelum kemudian minum obat.


"Kakek makan dulu ya, biar Alan suapi." tutur Alan dengan nada lembut Seraya meraih rantang dari atas nakas rumah sakit.


Kakek Harka mengangguk sebagai jawaban.


Dengan lembut Alan mulai menyuapi kakek Harka.


Suasana di kamar perawatan Kakek Harka tampak hening, sampai suapan terakhir dari Alan barulah kakek Harka bersuara.


"Terima kasih, Lan, kamu sudah menjaga kakek di sini." ungkap kakek Harka.


"Kakek tidak perlu berterima kasih, karena sudah menjadi tugas Alan untuk menjaga dan membahagiakan kakek." sahut Alan seraya meletakkan rantang bekas makan Kakek Alan kembali ke atas Nakas.


"Jika seperti itu, kenapa kamu tidak membahagiakan kakek dengan menikah dan memberikan kakek seorang cicit darimu??." pertanyaan menohok dari Kakek Harka membuat Alan mengembuskan napas berat ke udara.


"Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas tentang hal itu, kek." seperti itulah sikap Alan, selalu saja mencari alasan untuk menghindari pertanyaan kakeknya jika sudah menyangkut tentang pernikahan.


Kakek Alan menatap cucunya itu.


"Usia kamu sudah memasuki dua puluh delapan tahun, lalu kapan menurut kamu waktu yang tepat untuk membahas tentang pernikahan?? Kakek sudah tua Alan, apa salahnya jika sebelum Kakek mengembuskan napas terakhir, kakek ingin melihat cicit kakek??." lanjut tutur Kakek Harka dengan wajah yang berubah sendu, sehingga Alan tak tega melihatnya.


"Nanti akan Alan pikir_." kalimat Alan berlalu begitu saja di udara ketika mendengar suara ketukan pintu dari arah luar.


"Selamat pagi." Sintia yang datang memenuhi kewajibannya untuk memeriksa kondisi pasien lantas membuat kakek Harka mengalihkan pandangannya ke arah Sintia.


"Selamat pagi, dokter." sahut Kakek Harka, sedangkan Alan hanya diam saja. Pria itu kini berdiri di sisi kiri bed pasien sementara Sintia melangkah ke arah sisi kanan bed pasien guna memeriksa kondisi tuan Harka.


Sintia mengulas senyum ramah sebelum meminta izin untuk memeriksa kondisi tuan Harka.


"Kondisi tuan semakin membaik. Jika dalam beberapa hari ke depan kondisi anda semakin menunjukkan perkembangan maka dua atau tiga lagi, tuan boleh pulang." terang Sintia setelah selesai memeriksa kondisi tuan Harka.


"Apa Masih ada yang ingin tuan tanyakan??." tanya Sintia kembali mengukir senyum di wajahnya ketika menyadari tuan Harka masih saja menatapnya.


"Panggil kakek saja nak dokter, karena nak dokter hampir sebaya dengan cucu Kakek!!." pinta kakek Harka dan itu membuat Sintia merasa sungkan.


"Beruntung sekali pria yang kini menjadi suami kamu nak dokter, selain cantik nak dokter juga sangat pintar dan juga ramah." akhirnya kakek Harka mengungkapkan komentarnya tentang Sintia, komentar yang sejak beberapa hari hanya ada di benak pria itu.


Bagai ketiban durian runtuh ketika kakek Harka mendengar jawaban dari Sintia.


"Berapa usia nak dokter saat ini??." Alan tampak menggaruk kepalanya yang tiba tiba terasa gatal akibat pertanyaan kakeknya pada Sintia.


Meski cukup bingung dengan pertanyaan pria tua itu namun Sintia tetap menjawabnya sebagai penghormatan pada orang tua.


"Dua puluh lima tahun, kek." meski malu mengakui di usianya yang telah matang namun belum juga menikah, tetapi Sintia tetap menampilkan raut wajah biasa saja. Toni dan Sintia memang kuliah di kampus yang sama dan sejak itu mereka berteman, namun keduanya terpaut usia dua tahun.


Kakek Harka terlihat menampilkan wajah bahagianya di hadapan Sintia.


"Bagaimana jika kakek melamar nak dokter untuk cucu kakek, apa nak dokter tidak keberatan??." pertanyaan Kakek Harka membuat senyum di wajah Sintia perlahan memudar.


"Kakek." Alan terdengar menekan ucapannya.


"Sepertinya saya harus pamit, kek, karena masih harus memeriksa kondisi pasien yang lainnya." Akhirnya Sintia memutuskan pamit, sedangkan dua orang perawat yang ikut serta bersama dengan Sintia tampak mengulum senyum di wajah masing-masing.


Alan menyusul langkah Sintia hingga ke depan.


"Maafkan atas ucapan kakek saya, mungkin karena belum sembuh sempurna sehingga membuatnya sampai ngelantur seperti tadi." seraya mengusap tengkuknya Alan berkata.


"Tidak perlu di permasalahkan saya bisa mengerti untuk itu." jawab Sintia dengan nada datar sebelum kemudian pamit berlalu untuk melanjutkan tugasnya.


"Kenapa tidak diiyakan saja permintaan tuan Harka, dokter Sintia?? lagi pula cucunya tuan Harka sangat tampan dan menggoda, coba kalau saya belum menikah pasti saya sudah menawarkan diri untuk dijadikan cucu menantu oleh tuan Harka." salah seorang perawat yang cukup dekat dengan Sintia tampak memberikan komentarnya, ketika mereka melintasi koridor rumah sakit hendak menuju kamar perawatan lainnya.


"Asal kalian tau, cucunya tuan Harka itu pernah mengatai aku tidak menggunakan mataku dengan baik dan bahkan itu terjadi sampai dua kali. Amit amit punya suami seperti itu, bisa bisa setelah menikah dengannya aku bisa gila dibuatnya." ungkap Sintia seraya bergidik ngeri.


"Kalau menikah sih bukannya gila dokter Sintia, yang ada setelah menikah anda akan mengandung anaknya." cukup dekat dengan Sintia membuat salah seorang perawat tersebut tak sungkan melontarkan celetukannya.


Perawat tersebut lantas memperagakan gerakan mengunci mulut ketika Sintia menatapnya dengan tatapan memicing.


***


"Selimut milik siapa ini, bang??." tanya Ratu ketika baru saja tiba. seingat Ratu ia lupa membawakan Alan selimut semalam, lalu selimut milik siapa yang kini berada di atas sofa.


"Fasilitas rumah sakit." jawab Alan dengan wajah dan nada datar.


"Abang minta ya??." lanjut tanya Ratu seraya melipat selimut tersebut.


"Tidak, perawat yang mengantarkannya semalam." sahut Alan apa adanya. Dan itu membuat Ratu tampak berpikir.


"Perawat atau dokter Sintia???". Dengan tatapan menggoda Ratu bertanya setelah sesuatu terlintas di pikirannya.


"Ngomong apa kamu, tentu saja perawat." jawab Alan masih dengan nada datar. namun berbeda dengan hatinya yang cukup bertanya tanya, apa benar Sintia yang berinsiatif mengantarkan selimut itu untuknya semalam??? Karena perawat tersebut tiba setelah Sintia kepergian Sintia dari kamar perawatan kakeknya.


"Apa iya, dia sampai peduli padaku??." berpikir demikian membuat Alan tak sadar menarik sudut bibirnya ke samping sehingga membuat Ratu menautkan kedua alisnya ketika melihat senyuman tipis terukir di bibir Abangnya itu.