Trust Me Please.

Trust Me Please.
Belum sanggup menunaikan kewajiban.



Merasakan bi_bir mungil istrinya yang kini menyentuh bi_birnya membuat Riko perlahan memejamkan matanya, menikmati kecupan Rahma.


Perlahan Riko kembali membuka matanya ketika Rahma menyudahi kecupannya.


"Tersenyumlah dan jangan bersedih lagi karena mas tidak rela melihat wajah cantik istri mas, menampilkan kesedihan!! Semuanya sudah berlalu, anggap semua kejadian serta ujian kemarin sebagai penguat cinta kita!!." tutur Riko, sebelum kemudian perhatian keduanya beralih pada sosok bocah yang kini berjalan ke arah mobil Riko dengan mendorong kursi roda.


"Boy." gumam Rahma ketika menyadari keberadaan Boy yang baru saja keluar dari dalam rumahnya, dengan di ikuti oleh Cristi di belakang langkah bocah itu.


"Selamat datang kembali di rumah, Tante cantik." ucap boy dengan wajah cerianya ketika membuka pintu mobil untuk Rahma.


"Terima kasih atas sambutannya, anak ganteng." kalimat pujian yang selalu membuat Boy menampilkan wajah malu malu, kini di lontarkan Rahma pada bocah itu.


Riko yang telah berada di sisi Boy lantas membantu Rahma turun dari mobil, dan tentu saja setelah menyingkirkan tubuh bocah yang saat itu menghadang jalannya.


"Om Riko apa apa sih??." Boy terdengar melayangkan protes ketika Riko menyingkirkan tubuhnya begitu saja, dengan mengangkat tubuhnya ke samping.


Riko hanya tersenyum saja melihat wajah Boy yang tampak tak terima dengan tindakan dan hal itu sontak membuat boy memasang wajah sebalnya pada Pamannya itu.


Sementara Cristi yang sejak tadi memperhatikan interaksi di antara putranya dan adik sepupunya hanya menggelengkan kepalanya.


"Sekarang boy masih kecil, belum sanggup untuk menggendong tubuh Tante Rahma makanya om Riko yang harus melakukannya." Cristi yang tampak mendekati putranya lantas memberi pengertian pada putranya.


"Jadi, kalau sudah besar nanti boy boleh menggendong Tante cantik, iya mah??." pertanyaan polos boy lantas membuat kedua bola mata Riko membulat sempurna.


"Enak saja." Riko yang kini tengah mendorong Rahma dengan kursi roda tampak melontarkan protes seolah tidak rela istrinya di sentuh oleh pria lain, padahal kenyataannya yang berkata demikian hanyalah seorang bocah, terlebih bocah itu adalah keponakannya sendiri.


"Tentu saja boleh anak ganteng, jika boy sudah dewasa nanti boy boleh melakukannya." timpal Rahma yang hanya ingin menyenangkan hati Boy, karena jika di pikir pikir setelah dewasa nanti mana mungkin Boy masih berpikir demikian.


Berbeda dengan Boy yang kini menampilkan senyum penuh di wajahnya, Riko justru menampilkan wajah tak terima mendengarnya.


Terkadang jatuh cinta membuat seseorang bersikap bodoh, seperti halnya yang saat ini di alami Riko.


"Selamat datang kembali di rumah, Sayang." baru saja memasuki pintu utama, kedatangan Rahma telah di sambut oleh kedua orang tuanya dengan sebuah kue ulang tahun di tangan bunda Ening. Rahma baru ingat jika ternyata hari ini adalah hari ulang tahunnya.


"Selamat ulang tahun anak bunda, semoga kamu selalu berada dalam lindungan Tuhan. terima kasih karena sudah kuat dan kembali sehat seperti sedia kala." hari ini akhirnya tangis bunda Ening pecah di hadapan putrinya, tangisan yang sejak beberapa hari terus ditahannya setelah mengetahui putrinya menderita penyakit yang bisa saja merenggut nyawanya.


Bunda Ening lantas menyerahkan kue ulang tahun tersebut pada suaminya ketika melihat pergerakan putrinya.


Rahma lantas berdiri dari posisinya saat ini kemudian memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.


Cukup lama Rahma memeluk tubuh bundanya, menikmati pelukan hangat yang selalu membuatnya merasa nyaman ketika berada di pelukan wanita itu.


"Bukan Rahma yang kuat Bun, tetapi doa bunda yang terlalu kuat hingga menembus langit sehingga tuhan mengirimkan seseorang untuk menyelamatkan hidup Rahma." tutur Rahma masih dengan posisi memeluk tubuh bundanya.


Bunda Ening mengatupkan kedua tangannya di wajah Rahma.


"Kau tahu sayang, bagaimana hancurnya hati bunda ketika tahu jika putri bunda di vonis menderita sebuah penyakit?? Rasanya dunia bunda runtuh seketika, bunda tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kehilangan putri bunda satu satunya." air mata semakin mengalir laju membasahi pipi bunda Ening ketika teringat saat saat itu.


"Kamu putri kami satu satunya, berjanjilah untuk selalu sehat dan bahagia bahkan hingga bunda menutup usia." lanjut tutur bunda Ening sebelum kemudian kembali membawa tubuh putrinya ke dalam pelukannya.


Riko bisa merasakan bagaimana perasaan ibu mertuanya itu ketika mendengar kabar tentang putrinya, apalagi istrinya merupakan anak tunggal.


Setelah merasa puas mengungkapkan perasaan rindu serta ketakutan yang sempat melanda hatinya, bunda Ening lantas meminta Riko untuk membawa Rahma ke kamar untuk beristirahat. sementara Cristi dan juga boy pun akhirnya pamit pulang.


Setibanya di kamar, Rahma yang merasa tubuhnya tak nyaman akibat merasa gerah, karena selama di rumah sakit tubuhnya hanya di bersihkan dengan kain handuk dan juga air hangat, lantas meminta bantuan Riko untuk membantunya membersihkan tubuhnya di kamar mandi.


"Ada apa mas??." dengan polosnya Rahma bertanya pada Riko yang sejak tadi menatapnya dengan intens. Lebih tepatnya Sejak tadi Riko terus menatap tubuh polos istrinya, sehingga membuatnya belum juga melakukan pergerakan apapun.


"Haaaahhhhhhh???." Riko tersentak, seolah baru saja sadar dari lamunannya.


"Ada apa mas??." Rahma sampai mengulang pertanyaannya ketika Riko belum juga menjawab.


"Tidak ada apa apa , sayang." sahut Riko, sebelum kemudian pria itu tampak menggelengkan kepalanya, seakan mengusir sesuatu yang kini terlintas di benaknya.


"Ingat Riko, istri kamu baru saja sembuh jadi jangan berpikir macam macam!!." gumam Riko dalam hati. Meski berniat mengusir pikiran kotor yang sejak tadi terlintas di benak dan pikirannya ketika menyaksikan tubuh polos istrinya, sebagai pria normal tetap saja anggota tubuh Riko terlihat bereaksi. Buktinya kini celananya mulai terasa sesak akibat sesuatu yang berada di dalam sana terasa mengeras.


Kurang dari dua puluh menit acara mandi memandikan di antara sepasang suami istri tersebut akhirnya usai, kini Riko telah menutupi tubuh polos Rahma dengan selembar handuk putih, sebelum kemudian mengangkat tubuh Rahma ala bridal style menuju tempat tidur.


Setelah mendudukkan tubuh Rahma di tepi tempat tidur Riko lantas menuju ruang ganti untuk mengambil pakaian untuk istrinya.


Sebenarnya Rahma cukup paham dengan apa yang kini di rasakan suaminya, dan ia pun merasa tidak tega melihat Riko harus berusaha menahan gej_olak di dalam dirinya.


Tak berselang lama, Riko kembali dengan sepasang piyama milik Rahma di tangannya. dengan telaten Riko memasangkan piyama tersebut pada tubuh Rahma.


"Maaf, karena aku yang belum sanggup menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri sehingga membuat mas Riko jadi tersiksa."


Paham dengan maksud dan arah ucapan istrinya, Riko lantas mengukir senyum di wajah tampannya seraya mengulurkan tangannya mengusap lembut puncak kepala Rahma.


"Tidak perlu terlalu memikirkan hal itu, sayang !!! Lagi pula masih banyak waktu ke depannya untuk kita bisa melakukannya." tutur Riko, sebelum kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Meski tengah di Landa kabut ga_irah namun tidak sampai membuat Riko bermain solo, Pria itu memilih menurunkan rasa panas akibat gai_rahnya yang hampir memuncak dengan guyuran air dari shower.


Cukup lama Riko berada di kamar mandi. Setelah merasa cukup, ia pun beranjak keluar dari kamar mandi.