
"Ehem." deheman Tante Rara lantas mengalihkan pandangan Toni yang sejak tadi tak berkedip menatap kagum akan kecantikan calon istrinya.
"Kamu memang pandai memilih calon istri." tutur Tante Rara di sertai senyum di wajahnya dan Toni hanya meresponnya dengan senyuman tipis. merasa malu sendiri ketika ketahuan menatap penuh kekaguman pada Ratu.
"Apa kamu tidak ingin mencoba jas yang akan kamu kenakan di hari bahagiamu nanti, Nak Toni??.". Tanya Tante Rara dan Toni pun mengiyakannya.
Toni pun beranjak menuju ruang ganti untuk mencoba stelan jas yang akan dikenakannya di hari pernikahan mereka, yang akan segera di laksanakan beberapa hari lagi.
Tak berselang lama, Toni kembali dari ruang ganti.
Tidak jauh berbeda dengan Toni, Ratu pun menatap kagum pada ciptaan tuhan yang nyaris sempurna.
"Tampan." puji Ratu, tentunya itu hanya terlontar di dalam hatinya.
"Tampan.... kalian memang pasangan yang serasi yang satu cantik dan yang satunya lagi tampan." puji Tante Rara.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul lima sore, setelah melepas kembali pakaian yang tadi mereka coba masing masing kini Toni dan Ratu pamit pada Tante Rara untuk pulang.
"Ada apa??." tanya Toni saat melihat wajah Ratu tampak pucat di tambah lagi gadis itu terlihat memegangi perutnya.
"Apa perut kamu sakit??." kembali tanya Toni saat Ratu tak kunjung menjawabnya.
"I_iya." jawab Ratu dengan nada terbata. dari raut wajahnya tampak jelas gadis itu tengah menahan rasa sakit.
Toni menurunkannya kecepatan mobilnya.
"Sebaiknya kita segera ke rumah sakit.!!." baru saja Toni hendak memutar balik mobilnya Ratu lantas menahan pergerakan Toni.
"Tidak perlu." tutur Ratu sehingga membuat Toni mengeryit bingung dibuatnya.
"Sebentar lagi juga hilang dengan sendirinya." jawaban Ratu semakin membuat Toni bingung.
"Hal seperti ini sudah biasa terjadi di saat hari pertama aku datang bulan." ucap Ratu seolah ingin menjawab kebingungan di wajah Toni.
Mendengar jawaban Ratu setidaknya Toni bisa sedikit bernapas lega karena rasa sakit yang di rasakan gadis itu ternyata disebabkan oleh datangnya tamu bulanan. Kini Toni menepikan mobilnya di jalan, kebetulan jalanan yang mereka lalu tak begitu ramai.
"Apa sesakit itu??.". Tanya Toni ketika melihat raut wajah Ratu yang tengah menahan rasa sakit.
Ratu hanya bisa mengangguk tanpa suara.
Toni menyapu pandangan ke sekelilingnya dan secara kebetulan di tepi jalan tempat ia menepikan mobilnya ada sebuah apotek.
"Tunggu sebentar!!.".
Toni kemudian beranjak turun dari mobil menuju apotek. tak ayal kedatangannya Toni di apotek menjadi pusat perhatian dari beberapa orang yang hendak menebus obat. Bahkan ada salah seorang di antaranya terdengar mengeluarkan pertanyaan kepo.
"Buat siapa bang???" tanya salah seorang wanita muda ketika mendengar Toni memesan Kira*t*, jamu kemasan untuk meringankan nyeri datang bulan.
"Buat istrinya ya bang??." wanita muda itu kembali bertanya karena Toni tak kunjung menjawab. Dan untuk kali ini Toni merespon pertanyaan wanita itu dengan anggukan sekilas.
Setelah mendapatkan yang diinginkan Toni segera meninggalkan apotek tanpa peduli dengan tatapan orang orang padanya terutama kaum hawa. Lebih tepatnya mereka menatap Toni seraya menahan senyum di wajah masing masing.
"Di zaman sekarang masih ada juga ternyata suami yang perhatian banget sama istrinya, suami saya boro boro..." celetuk pengunjung apotek yang lainnya saat melihat kepergian Toni.
Setelah kembali ke mobil Toni mengeluarkan sebotol jamu kemasan yang diperuntukkan meringankan nyeri akibat datang bulan, serta sebotol minyak angin yang botolnya berwarna hijau.
"Minumlah, dan baluri perut kamu dengan minyak angin!!." Toni menyerahkan sebotol jamu kemasan yang telah dibuka penutupnya pada Ratu.
"Terima kasih." ucap Ratu sebelum meneguk jamu kemasan tersebut.
Setelahnya Ratu pun membalurkan minyak angin pada perutnya dan tentunya hal itu dilakukannya setelah meminta Toni memalingkan wajahnya ke samping.
"Istirahatlah!! Nanti saya akan membangunkan kamu jika Setibanya di rumah!!." ujar Toni. Sementara Ratu yang memang merasa tubuhnya cukup lemas usia menahan sakit yang lumayan itu pun mengangguk sebagai jawaban.
"Apa setiap kali datang bulan kamu akan merasakan sakit seperti ini??." tanya Toni ketika ia mulai melajukan mobilnya membelah jalanan yang tidak begitu padat.
"Terkadang." jawab Ratu padat dan jelas sebelum kemudian ia mulai memejamkan matanya. Mendengar hembusan napas Ratu terdengar mulai teratur, Toni Lantas mengarahkan tangan kirinya untuk mengelus kepala gadis itu.
"Jika menahan nyeri datang bulan saja kamu sudah seperti ini, bagaimana jika nanti menahan rasa sakitnya kontraksi." gumam Toni yang kini merasa gemas melihat wajah Ratu yang tengah terlelap.
Kurang lebih empat puluh lima menit akhirnya mobil yang di kendarai Toni tiba di kediaman orang tua Ratu. dengan hati hati Toni membangunkan Ratu tanpa menyentuhnya, takut gadis itu berpikir ia mencari kesempatan di saat Ratu sedang terlelap.
Untungnya Ratu bukan Tipe orang yang suka tidur seperti kebo sehingga hanya beberapa kali Toni menyeru namanya, ia pun tampak mengerjapkan matanya.
***
Keesokan harinya.
Di belahan kota metropolitan, seorang pria paru baya dengan jas putih kebanggaannya tampak berlutut di hadapan seorang pria.
"Saya mohon tuan maafkan atas kesalahan saya, saya mengakui semua kesalahan yang telah saya perbuat dan saya siap mempertanggungjawabkan semua perbuatan saya." seorang pria paru baya yang berprofesi sebagai direktur utama rumah sakit tampak berlutut di hadapan Hantara, berharap mendapatkan kata maaf.
"Bagaimana anda bisa sampai melakukan hal kotor seperti itu?? Apa anda tidak pernah berpikir jika apa yang telah anda lakukan ini sangat merusak reputasi rumah sakit?? Terlebih lagi anda melakukannya terhadap sahabat saya sendiri." suara Hantara terdengar begitu dingin, di tambah lagi dengan tatapan tajam pria itu semakin terlihat mengintimidasi lawan bicaranya.
"Maafkan saya tuan." hanya permintaan maaf yang terus terlontar dari mulut pria itu.
"Mulai saat ini saya rasa rumah sakit tidak lagi membutuhkan kinerja dari orang seperti anda jadi sebaiknya anda kemasi barang barang anda dan pergi dari sini !! Sebelum kesabaran saya habis dan meminta Security untuk menyeret anda keluar dari sini." titah Hantara dengan nada tegas dan lugas, sebelum kemudian beranjak meninggalkan pria itu begitu saja.
Awalnya Hantara ingin sekali membawa kasus ini ke jalur hukum akan tetapi urung dilakukannya, mengingat nasehat dari sang istri tercinta pagi tadi sebelum ia berangkat ke rumah sakit.
"Mas, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan akan tetapi setiap manusia juga berhak menerima kesempatan kedua. Jika kita tidak bisa memberikan kesempatan kedua setidaknya janganlah memberikan hukuman yang terlalu menyulitkan seseorang!!." perkataan Gita yang selalu terlintas di benak Hantara sehingga ia tak jadi membawa pria tak tahu ke jalur hukum.
Jangan lupa like, koment, vote and give ya sayang sayangku 😘🥰🙏😊
Mampir juga ke karyaku -MENIKAH DI USIA REMAJA.