Trust Me Please.

Trust Me Please.
Dia bukan Putraku.



Empat puluh menit kemudian, mobil yang dikemudikan Sekretaris Danu telah tiba di depan apartemen yang diduga menjadi tempat tinggal Mona selama setahun terakhir menetap di tanah air.


"Apa kamu yakin wanita itu tinggal di apartemen ini???." tanya Riko memastikan. dari balik kaca mobil Riko memandang ke arah gedung tinggi pencakar langit di saat sekretaris Danu menepikan mobilnya untuk sejenak.


"Saya yakin tuan, karena sudah dua hari terakhir saya diam diam mengikuti pergerakan nona Mona." jawab sekretaris Danu dengan yakin.


Sekertaris Danu kembali melajukan mobilnya memasuki kawasan apartemen. sudah memiliki informasi secara detail tentang apartemen yang kini di tempati Mona, lantas Sekretaris Danu langsung saja membawa Riko langsung menuju lantai di mana unit Apartemen Mona berada.


Setelah menekan tombol lift, Sekretaris Danu pun menyusul langkah Riko masuk ke dalam lift.


Dari pantulan dinding kotak besi tersebut Sekretaris Danu dapat menyaksikan wajah Riko yang kini tengah berusaha menahan geram akibat ulah Mona.


"Ting." Kurang dari dua menit pintu lift pun terbuka pertanda kotak besi tersebut mengantarkan mereka ke lantai yang dituju.


Sekretaris Danu yang lebih dulu melangkah keluar dari lift lantas berjalan menuju letak unit apartemen Mona, dengan diikuti Riko di belakang langkahnya.


Sekertaris Danu mengeluarkan masker dari saku jasnya lalu menggunakan benda tersebut untuk menutupi sebagian dari wajahnya, sementara Riko yang paham dengan gerak gerik pria itu sontak saja memposisikan diri membelakangi pintu apartemen Mona, sebelum kemudian sekertaris Danu menekan bel.


"Siapa sih yang bertamu malam malam begini, menganggu waktu istirahat saja." gerutu Mona ketika mendengar suara bel yang terdengar memekakkan telinga.


Masih dengan menggerutu tak jelas Mona beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu.


Benar saja dugaan Sekertaris Danu, sebelum membuka pintu apartemen, Mona memastikan siapa tamu yang datang melalui CCTV yang tersambung di depan pintu apartemennya.


"Siapa sih??." Mona kembali menggerutu kesal ketika melihat seorang pria yang tengah mengenakan masker Berdiri di depan pintu apartemennya sementara yang satunya lagi hanya terlihat punggungnya saja.


Menyadari pintu apartemen yang baru saja dibuka oleh pemiliknya, tanpa permisi sekretaris Danu menerobos masuk sehingga membuat Mona terkesiap sampai ia tidak peduli lagi terhadap seorang pria yang masih berdiri di depan apartemennya dengan posisi membelakangi.


"Anda siapa?? Apa yang anda lakukan?? Kenapa bertindak tidak sopan seperti ini??." rentetan pertanyaan dari Mona membuat Sekretaris Danu sontak saja membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya, dan benar kedua bola mata Mona melebar dengan sempurna ketika menyadari keberadaan seorang pria yang terkenal sebagai asisten pribadi dari mantan kekasihnya tersebut.


"Kenapa, apa kau terkejut??." bukan Sekretaris Danu yang bersuara melainkan Riko yang kini baru saja memasuki apartemen Mona.


"Sayang." melihat keberadaan Riko membuat raut wajah Mona berubah seketika. Wanita itu kini menampilkan raut wajah yang sengaja di buat manja, seperti dahulu ketika masih berstatus sebagai kekasih dari Riko.


Riko sontak mengangkat tangannya ke udara ketika Mona hendak mendekat padanya. "Stop it !!! and don't call me like that!!! karena saya geli mendengarnya." dengan tatapan datar Riko berucap.


"Kenapa sikapmu sangat berubah padaku, sayang??." Mona mulai memainkan drama dengan memasang wajah sendu di hadapan Riko, berharap pria itu kembali luluh padanya, seperti sebelum sebelumnya. Tetapi sepertinya harapan Mona tidak berjalan sesuai dengan ekspektasinya pada kenyataannya kini Riko terlihat tidak peduli sama sekali.


Mona yang penasaran dengan isi dari amplop tersebut lantas membukanya kemudian membacanya.


"Kenapa sayang, apa kamu belum yakin dengan hasil DNA ini?? hasil DNA sudah jelas membuktikan jika anakku adalah anak kandung kamu ." Mona berupaya semaksimal mungkin untuk membuat Riko percaya dengan hasil DNA tersebut, bahkan kini wanita itu sudah menjatuhkan air matanya.


Mona yang kini berurai air mata hendak mendekat pada Riko namun dengan cepat Sekretaris Danu menghalau langkahnya.


"Jangan ikut campur!!." bentakan Mona tidak membuat sekretaris Danu gentar.


"Selagi hal itu mengganggu ketenangan tuan Riko, itu artinya urusan tersebut akan menjadi urusan saya, Nona." jawab Sekretaris Danu dengan nada tegas sehingga membuat bulu kuduk Mona merinding mendengarnya.


"Berhenti bersandiwara, aku sudah bosan menyaksikan sandiwaramu, Mona!! Bagaimana bisa kau mengandung anakku sedangkan aku sama sekali tidak pernah menyentuhmu??.". pernyataan pedas dari Riko membuat Mona tak kehabisan akal untuk menimpalinya.


"Bagaimana kau sampai lupa sayang, kita pernah melakukannya sekali. Mungkin karena saat itu kamu sedang mabuk berat makanya kamu tidak menyadarinya." Mona kembali melancarkan aksinya dengan menangis sampai sesenggukan.


Riko berusaha mengingat ingat kejadian malam itu, di mana ia tengah mabuk berat usai berpesta dengan beberapa teman bule nya, Namun begitu seingat Riko ia tidak sampai berbuat di luar batas kepada Mona yang saat itu berstatus sebagai kekasihnya. Sebenarnya Riko bukanlah tipe pria yang suka mabuk mabukan akan tetapi malam itu ia terpaksa meneguk beberapa gelas wine, mungkin karena tidak terbiasa sehingga membuatnya sampai mabuk berat.


Di tengah percakapan mereka yang semakin memanas, suara tangisan anak laki laki membuat perhatian Riko beralih memandang ke arah pintu kamar, di mana suara tangisan berasal.


 Mona sontak saja beranjak ke kamarnya ketika mendengar suara tangisan putranya.


Tak berselang lama, Mona kembali dari kamarnya dengan menggendong seorang anak kecil yang berusia kurang lebih satu tahun.


Ketika Melihat anak itu, Riko sama sekali tidak merasakan perasaan apapun. Jauh berbeda ketika ia mengetahui kabar tentang kehamilan istrinya, Rahma, ia sangat merasa bahagia. Dan hal itu semakin meyakinkan Riko jika anak itu bukanlah anaknya.


Merasa berdebat dengan Mona hanya akan membuatnya semakin naik darah, Riko memilih beranjak meninggalkan apartemen Mona, bersama dengan sekretaris Danu.


"Kumpulkan semua bukti yang menunjukkan tentang kebusukan Mona karena aku yakin anak itu bukanlah putraku, aku tidak pernah menyentuhnya bagaimana bisa dia mengandung anakku." titah Riko setelah mereka berada di mobil, saat sekretaris Danu hendak mengantarkan Riko kembali ke Mansion orang tuanya.


"Baik tuan." sahut sekertaris Danu patuh.


Setibanya di mansion Riko lantas mengistirahatkan tubuh serta pikirannya di kamar. belum juga sehari berada jauh dengan sang istri, Riko sudah sangat merindukan Rahma.


Riko bangun dari posisinya untuk mengambil ponselnya yang diletakan atas nakas sebelum kemudian melakukan panggilan video pada istrinya.


"Mas kangen, sayang." baru juga panggilan video tersambung Riko sudah mengungkapkan kerinduannya pada sang istri. Sehingga membuat Rahma di seberang sana mengukir senyum malu malu di buatnya.