Trust Me Please.

Trust Me Please.
Kebusukan Mona.



Senyum di wajah Mona berangsur angsur memudar kala seseorang melakukan panggilan di ponselnya.


"Mona, Om takut jika semuanya sampai ketahuan pada atasan Om." Mona memutar bola matanya dengan malas. baru saja panggilan tersambung seseorang di seberang sana sudah melontarkan kalimat yang membuat moodnya berubah.


"Sudahlah, om tenang saja, lagi pula tidak ada seorang pun yang tahu jika om adalah Adik kandungnya papa, dengan begitu tidak seorang pun yang akan menaruh curiga pada Om." dengan mudahnya Mona berkata demikian sehingga membuat seseorang di seberang sana merasa menyesal telah menuruti kemauan keponakannya itu.


"Sudah dulu ya Om, soalnya Mona mau menidurkan anak Mona." kata Mona sebelum kemudian mematikan sambungan telepon secara sepihak, sontak saja tindakan kurang sopan Mona membuat seorang pamannya semakin merasa geram sekaligus menyesal telah berbuat sesuatu yang kini justru menjadi bom waktu untuknya.


"Apa Om pikir Mona sebodoh itu. Mona tahu betul, Om bersedia membantu Mona karena ingin memiliki niat terselubung." Gumam Mona dengan sorot mata liciknya.


Tangisan putranya mengalihkan perhatian Mona.


"Ada apa sayang, kenapa sejak tadi kamu begitu rewel nak??." Mona membawa putranya ke dalam gendongannya.


"Astaga , badan kamu panas sekali nak." Mona baru menyadari jika ternyata suhu badan putranya sangat panas.


Di sela kebingungan Mona saat ini seseorang yang terlintas di pikirannya tak lain adalah Riko.


"Aku harus minta bantuan pada Riko." Mona lantas meraih ponselnya kemudian melakukan panggilan telepon pada Riko.


Ketika panggilan tersambung, entah apa yang ada di benak dan pikiran Riko saat ini sehingga ia begitu saja mengiyakan permintaan Mona untuk datang ke apartemennya. Sebelum kemudian dari seberang sana Riko mematikan sambungan telepon.


Tak berselang lama, Riko tiba di apartemen Mona dengan di temani sekretaris Danu yang akhir akhir ini selalu setia menemaninya kemana pun.


"Suhu badan anak kita sangat panas, Ko." dengan percaya dirinya Mona menyampaikan hal itu ketika Riko baru saja tiba di apartemennya.


Sebenarnya Riko sudah sangat jengah dengan sandiwara Mona, namun ia terpaksa harus mengikuti saran dari Hantara untuk mengikuti alur sandiwara Mona demi mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang!!." ajak Riko.


"Apa kamu tidak ingin menggendong anak kita, sayang??." pertanyaan itu di lontarkan Mona ketika menyaksikan Riko hanya diam saja, tidak sedikitpun berniat membantunya untuk menggendong putranya.


Sejujurnya Riko enggan menggendong bocah itu tetapi sekali lagi demi satu alasan tertentu, terpaksa Riko membawa bocah tak berdosa tersebut ke dalam gendongannya. seorang anak yang tidak berdosa terpaksa menjadi media demi memuaskan keserakahan ibunya.


Dengan menggunakan mobil Riko yang di kemudikan oleh sekretaris Danu lantas mereka bergegas menuju rumah sakit.


Tak berselang lama, kini mereka telah tiba di rumah sakit. Gita yang sudah beberapa bulan kembali bekerja Nampak menyambut kedatangan mereka di ruang IGD. Tak sedikitpun mimik terkejut di wajah Gita ketika menyaksikan keberadaan Riko.


"Tolong periksa kondisi anak kami, suhu badannya sangat panas sekali!!." pinta Mona kepada tim medis.


"Baik Nyonya kami akan memeriksa kondisi anak anda." jawab Gita dengan jiwa penuh profesionalitas kerjanya.


"Sayang jangan menangis terus, nak!! Papa dan mama ada di sini bersamamu."


Ingin rasanya Riko menyumpal mulut Mona ketika berucap seperti itu, namun hal itu urung dilakukan Riko, mengingat tujuan utamanya bukan itu.


Setelah meninggalkan ruang perawatan, Riko bukannya segera meninggalkan rumah sakit ia justru beranjak menuju salah satu ruangan di mana saat itu Hantara telah menantinya.


Sekitar sepuluh menit setelah kedatangan Riko di ruangan tersebut, Terlihat Gita tiba di sana dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Maaf sudah membuat mas menunggu, ini yang tadi mas minta." Gita kemudian menyerahkan sesuatu pada Hantara, sebelum kemudian beralih kepada Riko.


"Sepertinya Rahma sudah tahu tentang Mona dan putranya." tutur Gita tanpa menceritakan lebih jelas bagaimana sampai ia mengetahui hal itu kepada Riko dan juga Hantara.


"Oh astaga..." dugaan Riko jika saat ini Rahma telah melihat postingan di akun sosial media milik mona semakin dikuatkan dengan pernyataan dari Gita. Riko terlihat mengusap wajahnya frustasi.


Sementara Hantara yang paham betul dengan kegundahan hati Riko saat ini lantas menghubungi petugas laboratorium.


Setelah beberapa saat kemudian petugas laboratorium tiba, lantas Hantara segera memberikan tugas dan memintanya untuk memberikan hasilnya secepat mungkin padanya.


Sehari semalam rasanya bak setahun di rasakan Riko kala menunggu hasil pemeriksaan DNA antara dirinya dan juga anak yang dituding oleh Mona adalah anaknya.


Menghubungi sang istri juga rasanya percuma karena sejak kemarin Rahma tak kunjung menjawab panggilan darinya dan hal itu membuat Riko rasanya ingin segera bertolak meninggalkan ibu kota.


***


Jantung Riko berdebar tak menentu kala menyaksikan seorang dokter yang tengah membuka sebuah amplop yang berisikan hasil pemeriksaan DNA antara dirinya dan juga anak dari Mona.


Hantara menepuk pundak Riko seolah mengisyaratkan kepada sahabatnya itu untuk tetap tenang.


"Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA antara tuan Riko dengan putra dari Nyonya Mona di nyatakan 99,99 persen berbeda, dengan begitu keduanya di nyatakan tidak memiliki ikatan darah." mendengar penjelasan dari dokter saat membaca hasil pemeriksaan DNA dirinya dan juga putranya Mona, tanpa sadar kedua bola mata Riko berkaca kaca. Bukan karena kecewa, justru merasa lega karena kenyataannya memang seperti itu ia tidak pernah menyentuh wanita manapun selain istrinya, Rahma.


"Thank you, Brother." Riko memeluk Hantara untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya atas bantuan yang diberikan oleh sahabatnya itu.


"Tidak perlu berterima kasih." sahut Hantara yang ikut lega dengan hasilnya.


"Sekarang pergilah temui istrimu !!! Untuk urusan Mona serahkan padaku, aku pastikan dia tidak akan lagi mengganggu ketenanganmu ke depannya." tutur Hantara. Setelahnya Riko pamit untuk segera ke bandara, setelah beberapa saat sebelumnya meminta sekretaris Danu untuk memesan tiket untuknya siang ini.


***


"Apa apaan ini, kenapa anda melakukan penjagaan di depan ruang perawatan anak saya??" cecar Mona ketika menyadari ada beberapa pria bertubuh kekar berjaga di depan kamar perawatan putranya.


"Maaf nyonya kami hanya melakukan tugas dari atasan kami, jika anda ingin tahu alasannya sebaiknya anda segera menghubungi tuan Riko!!!." jawab salah satu di antaranya.


"Apa Riko melakukan semua ini karena mencemaskan putraku??.".Mona mulai merasa besar kepala dengan terkaaannya.


Bukannya ingin menolak tawaran dari Hantara, namun Riko yang sudah sangat geram dengan semua tindakan yang pernah di lakukan Mona, memilih memberi pelajaran sendiri terhadap wanita itu dengan memerintahkan beberapa orang anak buahnya untuk melakukan penjagaan di depan ruangan tersebut.