
"Mona, apa kau sedang sakit, Wajahmu terlihat sedikit pucat??.". Sukma yang sejak tadi memperhatikan wajah Mona lantas bertanya.
"Ah... i_ni, sepertinya aku hanya kurang istirahat makanya Sedikit terlihat pucat." Sukma tampak mengangguk percaya dengan jawaban Mona.
"Kalau begitu, sebaiknya kau istirahat saja dulu biar Gibran bersama denganku!!." tawar Sukma.
"Apa tidak masalah??.". sebenarnya Mona merasa sungkan karena terlalu banyak merepotkan Sukma, akan tetapi ia juga harus beristirahat, karena Sukma merupakan orang ke sekian yang menegur wajahnya terlihat pucat.
"Tentu saja tidak masalah, aku dan juga suamiku justru merasa senang jika kau menitipkan Gibran pada kami." jawab Sukma apa adanya.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu sore nanti aku akan ke sini untuk menjemputnya." tutur Mona, sebelum kemudian beranjak menuju tempat tinggalnya yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah Sukma.
***
Di rumah sakit, Sintia yang baru saja memutar handle pintu dari salah satu kamar perawatan, tampak menatap ke arah bed yang tak lagi berpenghuni.
Sintia tampak menghela napas, sebelum kemudian merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya.
Cukup lama Sintia menggeser ke atas layar ponselnya sampai terlihat nama seseorang yang baru beberapa hari ia save di kontaknya.
"Semoga kamu segera pulih seperti sedia kala." Sintia bergumam, sebelum kemudian melakukan panggilan telepon pada seseorang.
Tak berselang Lama panggilan Sintia tersambung. Sebagai dokter yang merawat wanita itu selama di rumah sakit, Sintia hanya sekedar mengingatkan agar wanita itu tak lupa mengkonsumsi obatnya secara rutin agar kondisinya segera pulih seperti sedia kala. Merasa pembahasan mereka cukup, Sintia lantas pamit untuk mematikan sambungan teleponnya.
"Apapun alasan kamu sampai berkorban sejauh itu untuk menyelamatkan hidup orang lain, aku percaya kamu adalah wanita yang baik." gumam Sintia setelah kembali memasukkan ponselnya ke saku jasnya, sebelum kemudian beranjak meninggalkan kamar perawatan tersebut.
"Dok.... dokter Sintia....". seruan dari salah seorang perawat yang tampak berjalan dengan terburu buru ke arahnya membuat Sintia lantas menghentikan langkahnya.
"Ada apa?? Kenapa anda sampai terburu buru seperti itu, suster??." tanya Sintia dengan wajah bingung ketika perawat tersebut telah berada di hadapannya.
"Dokter, saya ingin menyampaikan pesan dari dokter Arif. Dokter Arif meminta anda segera ke ruang IGD !!." tutur perawat itu kepada Sintia. Dokter Arif merupakan salah satu dokter umum yang bertugas di Instalasi Gawat darurat.
"Baiklah." kini Sintia dan juga perawat tersebut beranjak menuju ruang IGD.
"Ada apa, Dok?? Apakah ada yang bisa saya bantu??." tanya Sintia setibanya di ruang IGD.
"Begini dokter Sintia, hari ini kami baru saja kedatangan pasien yang telah di vonis menderita Apendisitis kronis sejak dua bulan yang lalu, namun saat itu beliau menolak untuk dilakukan tindakan operasi. Namun hari ini karena sudah tak sanggup lagi menahan rasa sakit sehingga keluarga pasien kembali membawanya ke rumah sakit ini." terang dokter Arif sebelum kemudian menyerahkan map yang berisikan reka medik pasien pada Sintia.
Sintia menerima map tersebut kemudian mulai membacanya dengan teliti.
"Itulah tujuan saya meminta anda untuk datang ke sini, saya ingin anda segera melakukan tindakan operasi pada pasien tersebut, dokter Sintia, karena hanya anda dokter bedah yang stay di rumah sakit saat ini dua orang dokter bedah yang lainnya sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota." terang dokter Arif.
Sejujurnya Sintia cukup terkejut dengan permintaan dari dokter Arif, mengingat dirinya baru saja mendapat gelar dokter bedah beberapa hari yang lalu, namun kini ia harus segera melakukan tindakan pada pasien jika tidak, bisa saja nyawa pasien tidak bisa di selamatkan.
"Saya yakin anda pasti bisa melakukannya dokter Sintia." ungkap Dokter Arif seolah mengerti dengan arti tatapan Sintia padanya.
"Baiklah, saya akan melakukannya." Jawab Sintia tanpa keraguan, toh sebelum resmi mendapatkan gelar spesial bedah ia sering kali mendampingi dokter spesialis bedah saat melakukan tindakan operasi.
Namun sebelum itu tentunya Sintia ingin memeriksa sendiri kondisi pasien terlebih dahulu.
Kini dokter Arif mengajak Sintia menuju ruangan di mana saat ini pasien tengah di rawat.
Setibanya di ruangan tersebut Sintia cukup terkejut dengan keberadaan Ratu di dalam sana.
"Pasien merupakan kakek dari dokter Ratu." tutur Dokter Arif seolah menjawab pertanyaan di wajah Sintia saat ini, dan Sintia pun mengangguk paham.
Kini Sintia kembali fokus untuk memeriksa kondisi pasien, sebelum kemudian kembali mengecek beberapa poin penting yang tertera di reka medik pasien.
"Kondisi tekanan darah pasien masih tergolong stabil, kondisi kesehatan jantung pasien pun masih tergolong normal. karena kondisi pasien siap untuk dilakukannya tindakan operasi, maka satu jam lagi saya dan Tim dokter lainnya akan melakukan tindakan operasi pada pasien." jelas Sintia, mengingat kata dokter Arif tadi pasien telah melakukan puasa guna dilakukannya tindakan operasi.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit ingin mempersiapkan keperluan untuk tindakan operasi pada pasien." Sintia pun beranjak meninggalkan ruangan tersebut, namun sebelum itu terjadi Sintia kembali menoleh ketika mendengar Ratu mengucapkan sesuatu.
"Terima kasih, dokter Sintia." ucapan Ratu terdengar begitu tulus dan Sintia menanggapinya dengan sebuah senyuman yang dibarengi dengan anggukan kecil.
tanpa terasa satu jam pun berlalu, kini pasien telah di bawa ke kamar operasi.
Sintia serta beberapa orang dokter serta Perawat hingga terbentuk satu Tim dokter, kini mulai tampak memasuki kamar operasi dengan mengenakan Scrub Suits lengkapnya.
Untuk pengalaman pertama memimpin tim dokter tentunya proses operasi tersebut cukup mendebarkan bagi Sintia. tindakan operasi yang cukup memakan waktu dan juga tenaga tersebut akhirnya berakhir setelah satu jam kemudian.
Setelah usai melakukan tindakan operasi pada pasien Sintia lantas meninggalkan kamar operasi. Namun yang membuat bingung beberapa orang dokter serta Perawat yang tadi bersamanya di kamar operasi adalah Sintia yang tampak menangis hingga sesenggukan di pojok ruangan staf dokter. Sebuah ruangan yang masih berada di gedung yang sama dengan kamar operasi, hanya sebuah dinding kaca serta gorden yang membatasi.
"Ada dengan dokter Sintia??? Bukankah operasi yang baru saja beliau lakukan berjalan dengan baik dan juga lancar, lalu mengapa dokter Sintia justru menangis??." akhirnya Gumaman dari salah seorang dari dokter tersebut mewakili yang lainnya.
"Kakek seandainya kakek masih ada di sini, pasti kakek akan bangga pada Sintia. kini Sintia sudah berhasil mewujudkan impian kakek menjadi seorang dokter spesialis bedah."
Mendengar suara Sintia yang tengah bergumam di sela tangisnya akhirnya para rekannya pun paham mengapa sampai wanita cantik itu sampai menangis bahkan hingga sesenggukan.