Trust Me Please.

Trust Me Please.
Takdir seseorang tidak ada yang tahu.



"Tunggu!!!." untuk kedua kalinya Ratu kembali menghentikan pergerakannya.


"Ada apa lagi sih, kak??.".


"Jika pada kenyataannya kamu adalah calon istri pilihan mama saya, lalu kenapa sore tadi kamu tidak berniat datang ke restoran itu bersama kedua orang tuamu??." tanya Toni Yang baru menyadari sesuatu.


Ratu menghela napas dalam seolah saat ini paru parunya membutuhkan oksigen lebih, sebelum kemudian menjawab pertanyaan Toni.


"Aku rasa kak Toni sudah tahu jawabannya mengapa sampai aku tidak bersedia datang bersama kedua orang tuaku ke restoran sore tadi." entah mengapa Toni merasa tidak suka mendengar jawaban Ratu.


"Apa kau juga tidak mau dijodohkan denganku??."


Tak kunjung mendapatkan jawaban dari Ratu, Toni pun menarik kesimpulan jika tebakannya tidak salah.


"Bukankah aku cukup tampan dan juga mapan, mengapa kamu tidak bersedia di jodohkan denganku??.". sebagai seorang pria Toni merasa tidak suka ketika ternyata ada seorang wanita justru menolak dijodohkan dengannya.


Ratu hanya diam saja sama tanpa berniat menjawab pertanyaan Toni, sebelum selanjutnya Ratu masuk ke mobil dan mulai menghidupkan mesin mobilnya lalu melaju meninggalkan Toni yang masih menatap dengan tatapan tak terbaca.


"Kita lihat saja, sebentar lagi aku menjadikanmu sebagai istriku." entah karena merasa tertantang atau semacamnya hingga kini pola pikir Toni berubah seratus delapan puluh derajat. Yang awalnya ingin mencari cara untuk menggagalkan rencana perjodohannya dengan wanita pilihan mamanya, kini ia justru merasa tertantang untuk segera menjadikan wanita itu sebagai istrinya.


**


Rahma yang kini tengah menikmati secangkir teh bersama sang suami di teras depan menatap bingung ketika melihat raut wajah Ratu tak seperti biasanya Ketika melintas di depan rumahnya.


Rahma memandang Riko seolah meminta izin untuk menemui Ratu di rumahnya dan Riko pun mengangguk mengiyakan.


Rahma beranjak dari duduknya menuju rumah Ratu. Rahma yang mendapati pintu rumah Ratu terbuka setengahnya segera beranjak masuk setelah mengucapkan salam.


"Apa yang terjadi denganmu??." sebagai sahabat Rahma bisa menebak jika saat ini ada sesuatu yang telah terjadi pada sahabatnya itu.


Ratu mengulas senyum. "Tenang saja, tidak terjadi apa pun padaku." persis seperti dugaan Rahma, Ratu pasti tidak akan menceritakan padanya. Meskipun memiliki sifat yang ceria namun Ratu bukan tipe wanita yang mudah menceritakan sesuatu yang terjadi padanya apalagi jika itu tentang percintaannya.


Tanpa berniat bertanya lebih dalam lagi, Rahma menjatuhkan bokongnya di sofa yang masih kosong di sebelah Ratu kemudian merentangkan kedua tangannya.


"Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih tenang!!" tutur Rahma saat Ratu telah memeluknya.


Sepertinya dugaan Rahma tidak salah saat ini sahabatnya tengah memiliki suatu permasalahan ketika merasa bajunya yang mulai basah oleh air mata Ratu. gadis itu menangis tanpa suara sehingga membuat Rahma bisa ikut merasakan kesedihannya.


"Aku tahu kau wanita yang kuat meski saat ini aku tidak tahu permasalahan seperti apa yang sedang kau hadapi, akan tetapi kau harus tahu aku akan selalu ada di sini jika kau telah siap untuk berbagi." tutur Rahma seraya mengelus lembut punggung Ratu.


Sebelum melerai pelukannya Ratu mengusap air matanya. "Thank you, Ra." ucapnya.


"Tidak perlu berterima kasih, sama seperti kau yang selalu ada bersamaku dalam kondisi dan situasi apapun, aku pun akan selalu ada di sini bersamamu dalam kondisi dan situasi apapun." ucap Rahma sebelum kemudian beranjak menuju dapur untuk mengambil sebotol air mineral untuk Sahabatnya itu.


Tak berselang lama, Rahma kembali dari dapur dengan sebotol air mineral di tangannya. "Minum dulu!!."


Ratu menerimanya lalu meneguknya hingga tersisa setengahnya.


"Apa kau mau berisitirahat??." tanya Rahma saat melihat gurat lelah di wajah Ratu dan Ratu pun mengiyakannya.


Setelah kepergian Rahma, Ratu pun segera beranjak ke kamarnya.


Merebahkan tubuhnya terlentang di atas tempat tidur hal pertama yang di lakukan Ratu ketika tiba di kamarnya.


Seraya menatap langit langit kamarnya, lamunan Ratu membawa ingatannya ke beberapa tahun silam di mana ia masih duduk di bangku SMA. Seorang gadis ABG yang merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama kepada kakak kelasnya. Perasaan yang sampai detik ini tak pernah pudar di relung hatinya.


Pagi itu Ratu yang masih mengenakan seragam putih abu-abu terlihat sedang memainkan ponselnya di sela langkahnya menuju ruang perpustakaan, tanpa sengaja ia menabrak tubuh seseorang hingga membuat tubuh mungilnya hampir saja terpental kalau saja tidak dengan sigap pria tersebut menahan tubuhnya agar tidak sampai terpental mengenai lantai.


Deg


Untuk pertama kalinya jantung Ratu di buat berdebar tak menentu oleh seorang pria. Sejak kejadian itu Ratu mulai tertarik dengan pria yang saat itu belum ia ketahui namanya tersebut.


Setiap pulang sekolah Ratu pasti menyempatkan untuk membeli sebatang coklat yang akan di berikan secara diam diam kepada pria itu, Ratu bahkan rela tidak makan siang di kantin sekolah agar uang jajannya cukup untuk membeli sebatang coklat yang cukup populer pada masa itu.


Namun seiring berjalannya waktu Ratu harus menyimpan perasaannya seorang diri kala mendengar pria pujaan hatinya justru tertarik pada sahabatnya sendiri, meski pada kenyataannya sahabatnya tersebut justru menolak pria itu.


Suara dering ponselnya membuat Ratu tersadar dari lamunannya.


"Nomor siapa ini??." gumam Ratu ketika melihat nomor tidak dikenal melakukan panggilan di ponselnya.


Setelah beberapa detik melihat layar ponselnya, Ratu pun menggeser ke atas ikon hijau di ponselnya.


"kenapa lama sekali menjawab panggilannya??." baru saja panggilan tersambung kalimat yang pertama kali terdengar oleh Ratu.


"Kak Toni." dari suaranya, Ratu bisa menebak siapa pemilik suara bariton tersebut.


"Kenapa terkejut, apa selama ini kamu tidak menyimpan nomor ponselku??." Ratu bahkan sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga saat pria itu mencecarnya.


"Maaf aku lupa." jawab Ratu apa adanya.


"Kamu selalu saja lupa, apa jangan jangan setelah kita menikah nanti kamu akan lupa jika sudah memiliki seorang suami??." Ratu memutar kedua bola matanya dengan malas ketika pembahasan Toni ke arah sana.


"Apa kak Toni menghubungiku hanya untuk mengomel saja??."


"CK... tentu saja tidak, saya ingin menyampampaikan jika malam ini mama memintaku menjemputmu untuk makan malam di rumah." beritahu Toni.


"Tapi_."


"Tidak ada tapi tapian, jika kamu ingin menolak katakan saja langsung pada mama jangan padaku!!." jika sudah begini pastinya Ratu lagi dapat menolaknya.


"Baiklah." sebuah senyum terbit di seberang sana ketika mendengar jawaban Ratu. Meski saat ini bisa di pastikan Ratu tidak dapat melihatnya.


"Ya tuhan, skenario seperti apa lagi yang akan engkau gariskan di dalam hidupku??." Ratu mengusap wajahnya.


Sayang sayangku jangan lupa like, koment, vote and givenya ya,,, setiap komentar kalian aku pastikan terbaca dengan penuh semangat dan itu semakin memacu semangat aku dalam berkarya. Btw thanks for reading....🙏🙏😘😘😘😘😘🥰🥰🥰🥰😍😍😍😍