
Sekembalinya dari kediaman orang tua Ratu, gelagat Rahma yang terkadang senyum sendiri saat berada di mobil ternyata tak luput dari perhatian Riko
"Ada apa sayang?? Kenapa sejak tadi kamu senyum senyum sendiri, apa ada yang lucu???." tanya Riko dengan tatapan bingung.
"Bukan apa apa kok, mas, aku hanya teringat hadiah pernikahan yang diberikan Anis dan Gita pada Ratu tadi " jawabnya apa adanya.
"Memangnya hadiah apa yang di kirimkan kedua sahabat kamu itu sampai membuatmu terus tersenyum seperti itu???." lanjut tanya Riko, di sela aktivitasnya mengendarai mobilnya.
"Gita dan juga Anis mengirimkan satu lusin lingerie kurang bahan sebagai hadiah pernikahan Ratu." tutur Rahma. Namun setelahnya Rahma sendiri yang dibuat menautkan alisnya ketika melihat Riko menarik sudut bibirnya ke samping sehingga menciptakan sebuah senyum smirk.
"Kita mau kemana, mas??." tanya Rahma ketika melihat jalanan yang dilalui Riko justru berlawanan arah dengan arah menuju rumah mereka.
Bukannya menjawab pertanyaan Rahma, Riko justru melebarnya senyumnya ketika menoleh sekilas pada istrinya tersebut.
***
"Memangnya kita mau ngapain di sini, mas??." tanya Rahma ketika Riko mengajaknya memasuki salah satu toko perlengkapan wanita yang berada di dalam area Mall.
"Sepertinya ide Gita dan Anis tidak terlalu buruk." ucapnya sebelum menggenggam tangan Rahma memasuki pintu masuk Toko.
"Selamat siang tuan dan Nyonya.... Ada yang bisa kami bantu??." seorang pelayan toko tampak menyambut kedatangan Riko dan juga Rahma dengan ramah.
"Tolong bantu istri saya untuk mencari lingerie yang pas untuknya!!." kedua bola mata Rahma membulat sempurna mendengar permintaan Riko pada pelayan toko.
"Tapi mas_." Rahma tidak jadi mengutarakan protesnya di saat pelayan toko telah mengajaknya menuju deretan lingerie yang tertata rapi dengan berbagai model dan warna.
"Mari Nyonya !!."
Dengan langkah terpaksa Rahma mengikuti pelayan toko tersebut.
"Apa mas Riko sudah tidak waras, bagaimana mungkin aku mengenakan pakaian seperti ini sedangkan perutku saja sudah buncit begini." tak hentinya Rahma mengomel di dalam hati.
Sementara Riko yang kini tengah duduk di kursi yang telah di sediakan pihak toko tampak tersenyum melihat sosok Istrinya dari kejauhan.
Pikir pria itu, istrinya sampai senyum senyum sendiri karena menginginkan benda yang sama, itulah mengapa Riko mengajak Rahma mampir ke mall untuk membeli benda keramat itu.
Dua puluh menit kemudian Rahma pun berjalan ke arah Riko dengan wajah merungut.
"Bagaimana sayang, apa kamu sudah menemukan yang kamu sukai???." tanya Riko.
"Belum, aku tidak paham dengan pakaian seperti itu." jawab Rahma dengan wajah tak bersemangat. Berharap suaminya tersebut paham dan segera mengajaknya pergi meninggalkan tempat itu. namun sepertinya Riko kembali salah mengartikan gostur wajah Rahma, sehingga pria itu justru memesan berbagai model lingerie pada pelayan toko sebelum kemudian menyerahkan black card miliknya pada pelayan toko.
"Ini alamat kami, kirimkan barangnya ke alamat ini !!." seru Riko seraya memberikan alamat rumah mereka pada pelayan toko setelah membayar lunas semuanya.
"Baik tuan, setelah membingkis pesanan anda kami akan mengirimkannya ke alamat anda." jawab pelayan toko dengan senyum penuh. Bagaimana tidak, total belanjaan yang baru saja di gelontorkan Riko di toko mereka hampir mendekati tiga digit.
"Menyesal aku telah menceritakan perihal hadiah dari Gita dan Anis pada Mas Riko." batin Rahma dengan perasaan dongkol.
***
Siang telah berganti malam, Rahma yang telah membuka bingkisan yang sore tadi di kirimkan oleh pihak toko tampak menghela napas. Pakaian bak jaring ikan dengan berbagai model dan warna kini hampir memenuhi salah satu ruang di lemarinya.
"Huh.... sepertinya mengenakan pakaian minim bahan seperti ini bisa membuatku masuk angin." Rahma yang tengah memandangi lingerie yang kini telah tertata rapi menempati salah satu ruang di lemari tersebut tampak bergumam.
Hingga beberapa saat kemudian Rahma dikejutkan dengan tangan kekar milik Riko yang kini telah melingkar di pinggangnya.
"Mas Riko."
Dengan posisi melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rahma, Riko memposisikan dagunya bersandar pada bahu sang istri.
"Apa kamu tidak berniat mencoba salah satu diantaranya, sayang??." tutur Riko dengan suara menggoda. Melihat raut wajah Riko, Rahma tidak tega hendak menolak keinginan suaminya.
Pada akhirnya Rahma meraih salah satu di antara lingerie yang kini telah tersusun rapi di lemarinya, kemudian melangkah menuju ruang ganti.
Tak berselang lama, Rahma pun kembali Dengan wajah tampak malu malu. Berbeda dengan Riko yang kini telah menampilkan raut wajah penuh minat, saat melihat tubuh istrinya yang telah di balut lingerie seksi berwarna merah, sangat kontras dengan warna kulit Rahma yang tampak putih bersih tanpa noda.
"Apa aku tidak terlihat lucu dengan perut buncit mengenakan pakaian kurang bahan seperti ini, mas??." tutur Rahma yang sejujurnya merasa tidak percaya diri mengenakan pakaian keramat tersebut di hadapan Riko dalam kondisi perut buncit seperti saat ini.
"Apanya yang lucu sayang, kamu terlihat sangat seksi serta menggemaskan dan mas suka itu." jawab Riko dengan suara yang mulai terdengar serak.
Sedangkan Rahma, mencoba menatap menatap manik mata Riko mencari kebohongan di sana, ternyata setelah beberapa saat Rahma tak menemukannya, yang ada hanya kejujuran yang tampak dari sorot mata Riko.
"Bagaimana bisa aku terlihat seksi dan menggemaskan di matanya mas Riko dengan keadaan perut buncit seperti ini??? Sepertinya mata suamiku sudah mulai tidak sehat." dalam hati Rahma tidak habis pikir dengan penilaian Riko padanya.
"Kamu terlihat sangat menggemaskan, sayang." kembali puji Riko. Kenyataannya Rahma memang terlihat begitu cantik dan seksi dengan balutan lingerie seksi tersebut, hanya saja perutnya yang sudah lumayan besar membuat Rahma kurang percaya diri.
Cup.
Riko menikmati bibir mungil istrinya dengan mata terpejam sehingga membuat Rahma perlahan terbuai dengan lembutnya ciu_man Riko. de_capan serta le_guhan kedua insan kini terdengar hampir memenuhi seluruh ruangan, jika kamar tersebut tidak di fasilitasi kedap suara mungkin saat ini suara mereka sudah sampai ke telinga ayah Roland dan bunda Ening, yang menempati kamar sebelah.
"Ma_s.". suara manja Rahma terdengar terbata ketika Riko mulai memasukkan tangan kekarnya ke dalam lingerie yang dikenakannya.
Le_guhan Rahma terdengar semakin tak beraturan ketika merasakan nik_mat di saat Riko mulai memainkan dua buah gunung kembar sintal miliknya.
Perlahan Riko menuntun istrinya ke tempat tidur tanpa melepas pagutan di antara keduanya.
Ingin rasanya Riko ber_cinta dengan gaya lepas mengingat begitu memabukkannya Tubuh sang istri, Namun sepertinya pria itu harus mengurungkan niatnya untuk sementara waktu mengingat saat ini Rahma tengah mengandung buah cinta mereka, yang mengharuskan dirinya melakukannya dengan selembut mungkin agar tidak menyakiti calon buah hati mereka.