Trust Me Please.

Trust Me Please.
Berkumpul bersama sahabat.



Mendengar suara suaminya, pandangan Rahma dan juga kedua sahabatnya lantas beralih pada Riko, sebelum sesaat kemudian berganti pada dua orang pria yang kini berdiri di belakang Riko.


Rahma menatap Gita kemudian menunjuk ke arah dua orang pria bertubuh kekar dengan ekor matanya, seolah mengisyaratkan pertanyaan akan kedua sosok Pria itu.


"Mereka bodyguard yang ditugaskan suamiku untuk menjagaku. Dan itu merupakan syarat mutlak agar aku bisa ke sini untuk menjengukmu." terang Gita, seolah paham dengan arti sorot mata Rahma.


"Bukan hanya itu, tuan Hantara bahkan sudah memesan kamar hotel untuk kami menginap selama berada di kota ini." Anis turut menimpali percakapan di antara kedua sahabatnya.


Rahma terlihat menepuk jidatnya. "Oh astaga.... suami kamu sampai melakukan semua itu??.". Tutur Rahma seakan tak percaya dengan sikap posesif Hantara.


"Sepertinya tuan Hantara sangat takut jika sesuatu Sampai terjadi pada istri tercintanya, sampai sampai ia memerintahkan bodyguardnya untuk memberi pengawalan padamu." lanjut tutur Rahma dengan nada menggoda. Namun satu fakta yang sampai detik ini tak diketahui oleh Rahma, yakni Riko pun melakukan hal yang sama dengan Hantara tanpa sepengetahuan dirinya.


Tiga puluh menit berlalu, tanpa janjian sebelumnya Ratu yang di antarkan oleh Toni tampak datang bertamu ke rumah Rahma. Ratu cukup terkejut dengan keberadaan Gita dan Anis di rumah Rahma.


"Kapan kalian tiba?? Kenapa tidak mengabarkan padaku, biar aku bisa menjemput kalian di bandara." tutur Ratu sebelum kemudian menjatuhkan bokongnya di sofa yang masih kosong.


"Maaf karena tidak mengabarkan padamu tentang kedatangan kami. kami dengar dari Rahma jika Kakek mu sedang di rawat di rumah sakit, apa benar??" Gita yang mewakili untuk menjawab, dan Ratu tampak mengangguk seolah membenarkan ucapan Gita.


"Jadi, bagaimana kondisi kakekmu saat ini?? Apa kondisi beliau sudah lebih baik??." lanjut tanya Anis.


"Alhamdulillah kondisi kakek semakin membaik setelah mendapatkan tindakan operasi, dan saat ini bang Alan yang menemaninya di rumah sakit." jawab Ratu.


Di tengah percakapan empat orang wanita cantik tersebut tiba tiba Anis teringat akan Hadiah yang tempo hari mereka kirimkan untuk hadiah pernikahan Ratu.


"Bagaimana hadiahnya, kamu suka kan??." pertanyaan Anis tiba-tiba membuat Ratu berdecak kesal mendengarnya, Berbeda dengan Gita dan Rahma yang tampak mengulum senyum.


"Sebentar, jangan bilang jika sebenarnya kamu yang memasukan semua lingerie itu ke dalam koperku??." tudingan Ratu mengarah pada Rahma ketika ia teringat akan tawaran Rahma sore itu. Di mana Rahma dengan suka rela menawarkan bantuan untuk membawakan koper milik Ratu menuju hotel.


Ratu kembali mendecakkan lidahnya ketika melihat Rahma nyegir kuda.


"CK....kau tahu, malam itu rasanya aku ingin sekali menghilang dari muka bumi ini untuk sementara waktu, ketika suamiku tidak sengaja menemukan benda benda itu." ungkap Ratu dengan wajah berubah merah ketika teringat akan kejadian yang membuatnya malu setengah mati di hadapan Toni.


Bukannya prihatin dengan kejadian yang pernah menimpa Ratu, ketiganya justru tergelak bersama sehingga Ratu dibuat mencebikkan bibirnya karena sebal.


Percakapan absurt mereka terus berlangsung, untungnya Toni dan Riko kini berbincang di ruang tamu sehingga tak sampai mendengar obrolan mereka.


Dengan kehadiran ketiga sahabatnya membuat Rahma seolah melupakan jika ia baru saja melewati masa sulit dalam hidupnya. wanita itu terlihat begitu ceria sehingga bunda Ening pun merasa turut bahagia melihat keceriaan di wajah putrinya.


Percakapan kurang jelas di antara mereka terus berlanjut hingga waktu menunjukkan pukul delapan malam dan itu artinya sudah waktunya makan malam.


Bunda Ening yang sebelumnya telah memasak untuk makan malam, lantas mengajak mereka semua untuk makan malam bersama.


Dua puluh menit kemudian mereka pun usai makan malam. Ratu kini pamit pulang ke rumah begitu pun dengan Gita dan Anis yang pamit meninggalkan rumah Rahma dan Riko, hendak menuju hotel tempat mereka akan menginap malam ini, sebelum kemudian besok harus segera kembali ke ibu kota untuk melanjutkan aktivitas masing-masing.


Di perjalanan hendak kembali ke rumah, Ratu tidak sengaja bertemu dengan teman lamanya ketika Toni mampir sebentar untuk membeli sesuatu di sebuah mini market.


Toni yang baru saja turun dari mobil lantas membukakan pintu mobil untuk Ratu, sebelum kemudian berjalan memasuki pintu masuk mini market dengan menggenggam tangan Ratu tanpa peduli dengan pandangan orang di sekitarnya.


Berbeda dengan Ratu, yang tampak malu malu ketika menyadari tatapan dari pengunjung mini market ketika melihat mereka berjalan saling bergenggaman tangan.


"Tidak perlu di pedulikan !!." tutur Toni di sela langkahnya, seolah mengetahui isi hati Istrinya saat ini, dan Ratu pun hanya mengangguk saja.


Sampai langkah keduanya terpaksa berhenti di depan salah satu rak mini market ketika seseorang terdengar menyerukan nama Ratu.


"Ratu..." Toni dan Ratu lantas menoleh ke sumber suara.


"Ardi." Ratu turut menyerukan pemilik nama yang baru saja menyapanya. Setelahnya dengan ragu Ratu menerima uluran tangan Ardi. Satu satunya teman pria Ratu di masa putih abu abu.


"lama tidak bertemu, tadinya aku kurang yakin jika ini kamu soalnya kamu semakin cantik." puji Ardi dengan gaya yang sama ketika mereka masih sekolah dulu.


Kini pandangan Ardi beralih pada pria yang kini masih stay menggenggam tangan kiri Ratu.


Belum sempat Ratu menjawab kalimat Ardi, Toni lebih dulu memperkenalkan diri pada pria itu.


"Ehem... kenalkan, Toni suaminya Ratu." Dengan tatapan tak terbaca Toni mengulurkan tangannya pada Ardi.


"Ardi, temannya Ratu semasa SMA dulu." Ardi tampak menerima uluran tangan Toni dengan senyum ramah. sesaat kemudian Ardi baru teringat akan sosok Toni yang merupakan kakak kelas mereka dulu.


"Oh astaga..... ternyata pengorbananmu tidak sia sia, sekarang kau berhasil mendapatkan pria idaman kamu, Ratu." kedua alis Ardi sontak saling bertaut ketika menyadari ratu melototkan mata padanya.


Sedangkan Toni yang tadinya menatap ke arah Ardi sontak mengalihkan pandangannya pada sang istri.


"Maaf Ardi, sepertinya kami harus segera pergi karena kami harus mampir dulu ke suatu tempat". Tutur Ratu beralasan, sebelum menarik tangan suaminya agar segera kembali melanjutkan langkah.


Setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, Toni lantas melakukan pembayaran di kasir sebelum kemudian berlalu meninggalkan mini market.


Di dalam mobil, baik Toni maupun Ratu tak ada yang bicara, keduanya terlihat diam dengan pemikiran masing-masing.


Jika Toni mencoba menelaah setiap kosa kata yang di ucapkan Ardi di mini market tadi, Ratu justru sibuk mengumpat mulut lemes temannya itu, yang tidak kenal situasi.


Sampai mobil Toni tiba di rumah, keduanya masih tampak diam. sampai kemudian Toni mengajaknya turun barulah Ratu tersadar jika ternyata mereka sudah tiba di kediaman orang tua Toni, di mana mereka tinggal sejak resmi menjadi sepasang suami istri.


Jangan lupa like, koment, vote and give ya.....!!!


dan jangan lupa untuk mampir ke karya recehku yang lainnya ya......😘😘😘😘😘😘