
"Kemana Sintia??.". Ratu yang datang seorang diri membuat Rahma bertanya akan keberadaannya seraya menyapu pandangan ke arah datangnya Ratu.
"Jangan bilang kau meninggalkannya sendirian di sana??." dengan menyipitkan kedua matanya Rahma bertanya ketika melihat Ratu justru menjatuhkan bokongnya dengan santainya di kursi.
"Tentang saja, tidak perlu mencemaskannya lagi pula dia sedang menemani suaminya makan malam bersama dengan rekan bisnis bang Alan." jawab Ratu dengan santainya.
"Makan malam bersama rekan bisnis suaminya???." ulang Rahma dan Ratu mengangguk sebagai jawaban sebelum kemudian mulai menyantap makanannya.
"Jadi suaminya datang ke sini untuk makan malam bersama rekan bisnisnya, bukannya macam macam seperti dugaan Sintia??." Ratu kembali mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Rahma.
"Oh astaga....." Rahma tidak bisa membayangkan seperti apa malunya Sintia saat ini, apalagi ketika hendak menuju private room restoran tadi wajah Sintia tampak berapi-api. Rahma hanya bisa menepuk jidatnya mengingat kecerobohan Sintia.
**
"Kenapa kamu tidak menyentuh makanannya, sayang?? Apa kamu tidak menyukainya menunya??." tanya Alan ketika Sintia tak kunjung menyentuh makanan di hadapannya.
"Suka kok bang." Sintia pun meraih sendok lalu mulai menyuap makanannya ke dalam mulutnya.
Alan bisa menebak jika saat ini istrinya itu merasa bersalah padanya.
Di sela makan malam, Alan terlibat percakapan kecil bersama dengan beberapa rekan bisnisnya dan Sintia sangat terkejut ketika mengetahui kebenaran jika restoran mewah tersebut merupakan milik suaminya. Ternyata Pebisnis muda yang saat ini menjadi topik pembicaraan di kalangan pebisnis terutama di bidang kuliner tak lain adalah suaminya, Alan putra Sofyan.
"Oh tuhan.... bagaimana dulu aku bisa berpikir jika bang Alan bersedia menikah denganku hanya karena permintaan papa dan juga kedudukannya di Perusahaan papa sedangkan kekayaan yang dimiliki bang Alan jauh di atas papa." dalam hati Sintia merutuki pikiran bodohnya setelah mengetahui jika ayahnya pernah meminta Alan untuk menikah dengan dirinya.
Satu jam kemudian, akhirnya acara makan malam bersama itu pun telah usai, baik Alan dan beberapa rekan bisnisnya telah meninggalkan restoran.
**
Di mobil ketika Alan dan Sintia hendak meninggalkan restoran.
"Sejak tadi Abang lihat kamu hanya diam saja, sayang??? Apa ada masalah??." tanya Alan, tanpa sedikitpun mempertanyakan kenapa dan mengapa sampai ia tiba-tiba masuk ke private room restoran.
"Maafkan aku." dengan pandangan tertunduk Sintia berucap.
"Minta maaf untuk apa, sayang??." tanya Alan seolah olah tak mengerti dengan maksud ucapan Sintia.
"Maaf karena tadi aku tiba tiba datang dan hampir merusak acara makan malam abang bersama rekan bisnis bang Alan." lanjut Sintia mengatakan lebih detail tentang maksud dari permintaan maafnya.
Alan tersenyum saja mendengarnya.
"Aku juga mau minta maaf karena sempat berpikiran buruk terhadap Abang." aku sintia.
"Memangnya kamu berpikiran buruk seperti apa pada Abang??." merasa penasaran, Alan lantas melontarkan pertanyaan yang membuat Sintia diam cukup lama, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
"Tadinya aku pikir Abang ingin menemui seorang gadis di restoran itu." aku Sintia dengan raut wajah bersalah.
"Jadi ceritanya istri Abang cemburu nih???." pertanyaan yang di iringi dengan nada menggoda yang baru saja di lontarkan Alan, seakan menyadarkan Sintia jika dirinya secara tidak langsung mengakui jika dirinya sempat dibakar api cemburu.
"Abang tidak pernah marah jika kamu cemburu, abang justru senang karena itu artinya saat ini Abang sudah berhasil membuat istri Abang jatuh cinta." tutur Alan dengan lembut.
"Bukan baru saat ini, tapi dari dulu aku sudah jatuh cinta sama Abang. Abang sendiri deh nggak tahu cinta atau tidak sama aku." ralat Sintia.
"Cinta atau tidak??." ulang Alan, bahkan saking terkejutnya dengan pernyataan sintia akan perasaannya, Alan sampai menepikan mobilnya secara tiba-tiba di tepi jalan.
"Jadi selama ini kamu berpikir bahwa Abang tidak mencintai kamu???" pertanyaan Alan di jawab Sintia dengan anggukan pelan.
"Oh Astaga Sintia...." tutur Alan tidak habis pikir.
"Habisnya selama ini Abang tidak pernah mengungkapkan isi hati Abang padaku." Alan hanya bisa menghembus napas bebas di udara mendengarnya. tidak salah juga jika selama ini Sintia berpikir demikian sebab selama menikah ia belum pernah sekalipun mengungkapkan isi hatinya pada sang istri. Selama ini Alan berpikir dengan sikap dan tindakan saja sudah bisa mengungkapkan perasaannya terhadap Sang istri, namun bagi seorang wanita ternyata itu semua tidak cukup jika tidak di barengi dengan ungkapan secara lisan.
Kini Alan pun tersadar jika Istrinya juga menginginkan ungkapan cinta darinya.
Alan lantas mengarahkan Sintia menghadap ke arahnya. Kini keduanya pun bersitatap mendalami satu sama lain.
"Maaf jika selama ini Abang tidak pernah peka, kamu tahu sendiri Abang bukan tipikal pria yang pandai mengungkapkan perasaan lewat kata kata, tapi kali ini abang ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Abang sangat mencintaimu Sintia, dan Abang mencintaimu jauh sebelum Abang tahu jika kamu ternyata anak dari pemilik perusahaan tempat Abang bekerja. I Love you so much my wife." ungkap Alan, sebelum kemudian membawa tubuh Sintia ke dalam pelukannya. Dan itu membuat Sintia terharu mendengarnya, sesuatu yang telah lama ia nantikan akhirnya kini terwujud. suaminya itu akhirnya mengungkapkan isi hatinya pada dirinya.
"Aku juga cinta bahkan sangat mencintai bang Alan." tutur Sintia yang kini berada di dalam pelukan Alan.
Di tengah keromantisan serta keharuan dua anak manusia yang telah berstatus kekasih halal, tiba tiba suara ketukan dari balik kaca mobil mengejutkan Alan dan juga sintia, hingga membuat keduanya saling melerai pelukannya.
"Polisi." gumam Alan ketika melihat pria berseragam tengah mengetuk kaca mobilnya.
"Maaf tuan, kalau ingin pacaran jangan di sini karena itu bisa mengganggu pengendara yang lain." kata pria berseragam coklat tersebut setelah Alan menurunkan setengah kaca mobilnya.
"Pacaran??." ulang Alan dengan nada lirih.
Baru saja Alan hendak menjelaskan pada pria itu jika wanita yang kini bersama dengannya bukannya pacarnya tetapi istrinya, namun Sintia sudah memegang lengannya seolah mengisyaratkan untuk tidak perlu berdebat. Lagi pula mereka yang salah karena telah menepikan mobil di area jalan yang di di beri tanda larangan parkir.
Merasa apa yang diisyaratkan sang istri tidak ada salahnya, Alan pun kembali melajukan mobilnya tanpa berniat merespon ucapan dari pria berseragam coklat tersebut.
"Pria itu pasti berpikir jika aku berniat mel*cehkan anak gadis orang." tebak Alan kala teringat akan raut wajah curiga dari pria berseragam tadi, dan itu membuat sintia tersenyum mendengarnya.
***
Sementara di perjalanan kembali ke rumah, Ratu nampak seperti sedang menahan senyum dan tentunya hal itu tak luput dari perhatian sang suami.
"Ada apa sayang, kenapa kamu senyum senyum sendiri??." tanya Toni dengan wajah bingung.
Mendengar pertanyaan dari suaminya, Ratu lantas menceritakan kejadian yang menimpa Sintia di restoran tadi. Aksi cemburu buta Sintia yang hampir membuatnya malu di depan rekan bisnis Alan. Toni hanya geleng kepala mendengarnya.
"Begitu lah wanita, mereka lebih mengedepankan perasaan dibanding logika." komentar Alan dan diangguki oleh Ratu, sebab ia pun seperti itu.