
"Seandainya boy ikut dengan kita, boy pasti akan senang melihat badut." ketika menempati sebuah meja cafe lesehan, Rahma teringat dengan si boy yang sudah beberapa hari tak berjumpa.
Dari raut wajah istrinya, Riko bisa menebak jika saat ini Rahma merindukan keponakannya genitnya itu.
"Jika kamu merindukan Boy, setelah kembali dari sini kita bisa mampir ke rumah kak Cristi." tawar Riko dan Rahma pun langsung mengangguk mengiyakannya.
Melihat jarum jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul sembilan malam Riko pun segera mengajak Rahma untuk meninggalkan tempat itu, mengingat sebelum kembali ke rumah mereka akan mampir sebentar ke rumah Cristi.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kini mobil Riko tiba di pekarangan rumah Cristi. dari balik kaca mobil Rahma nampak mengulas senyum saat melihat Boy dan Cristi yang baru saja keluar dari dalam rumah.
"Hai...Tante cantik." Boy menghampiri Rahma yang baru saja turun dari mobil.
"Hai juga anak ganteng." seperti biasa, Boy akan memasang wajah malu malu setiap kali Rahma memujinya.
"Tante cantik doang nih yang di sapa, om Riko tidak??." Riko memasang wajah merajuk sehingga membuat Boy ikut menyapa dirinya.
"Hai juga Om Riko." tentunya raut wajah boy saat menyapa Riko jauh berbeda saat bocah itu menyapa Rahma, sehingga membuat Riko geleng-geleng di buatnya.
"Nggak di ajakin masuk nih Tante cantiknya??." akhirnya Cristi yang sejak tadi diam seraya menyaksikan gerak-gerik putranya ikut bersuara.
"Eh iya, boy jadi lupa." jawab Boy kemudian menggandeng tangan Rahma. "Ayo masuk Tante cantik, Boy sudah kangen banget sama Tante cantik." ucapnya.
"Tante juga kangen banget sama Boy." tutur Rahma seraya melangkah masuk ke dalam, di ikuti oleh Cristi dan Riko di belakang langkah keduanya.
"Untungnya Boy masih kecil saat ini, coba kalau dia sudah dewasa sekarang Sepertinya dia bakal merebut istrinya Riko, kak." canda Riko yang di akhiri dengan senyuman.
"Kau ini ada ada saja, Ko." tutur Cristi yang akhirnya ikut tersenyum mendengarnya.
"Masih kecil aja Boy sudah tahu mana perempuan cantik." lanjut Riko dan hal itu terdengar oleh Boy.
"Om Riko bilang apa tadi??." tanyanya dengan wajah curiga Setibanya di ruang tengah.
"Enggak kok, om Riko enggak ngomong apa apa."
Tian yang baru turun dari kamar ikut bergabung.
Cristi pamit ke belakang untuk membuat minuman dan Rahma pun ikut bersama Cristi ke dapur.
"Jika Hanya membuat minuman kakak bisa sendiri, Ra." kata Cristi namun Rahma tetap kekeuh ingin membantu dan Cristi akhirnya membiarkan saja Rahma membantunya membuat teh manis.
"Kak, sebelumnya Rahma mau minta maaf karena selama ini telah berbohong tentang keberadaan suami Rahma." dengan wajah tertunduk Rahma berucap. niatnya ingin membantu Cristi tidak lain agar bisa meminta maaf kepada wanita itu.
Cristi mengusap bahu Rahma. "Tidak perlu minta maaf, Ra, Kakak percaya kamu punya alasan sampai melakukan semua itu." mendengar penuturan lembut dari Cristi membuat Rahma mengangkat pandangannya.
Jujur saja Rahma belum sepenuhnya yakin dengan penuturan Cristi karena sampai saat ini Riko belum pernah mengungkapkan perasaan padanya. Meski sikap pria itu selama kembali bertemu begitu perhatian padanya.
"Sebaiknya kita segera ke depan mereka pasti sudah menunggu." obrolan keduanya terpaksa berakhir setelah Cristi selesai membuat teh dan mengajak Rahma kembali ke ruang tengah.
Setelah menyajikan teh di atas meja Cristi ikut duduk di samping Tian begitu juga dengan Rahma yang menduduki sofa yang masih kosong di sebelah Riko.
Mereka mengobrol ringan sampai tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam dan Cristi meminta Riko dan juga Rahma untuk menginap malam ini. Rahma yang merasa tidak enak menolak pada akhirnya mengiyakannya.
Riko mengajak Rahma untuk beristirahat di kamarnya yang berada di rumah Cristi.
Riko yang terbiasa tidur hanya mengenakan kaos dalam tersebut terlihat membuka jaket serta kaosnya dan menggantinya dengan sebuah singlet. Dan hal itu membuat Rahma malu sendiri dibuatnya, walau pada kenyataannya mereka sudah pernah tidur bersama Sebelumnya bahkan kini Rahma telah mengandung anak Riko.
"Ada apa sayang??." Riko yang melihat Rahma seolah enggan memandang ke arahnya pun bertanya.
"Tidak ada apa apa mas." Rahma mencoba bersikap biasa di hadapan Riko, meski sebenarnya jantungnya serasa ingin meledak saat melihat penampilan suaminya saat ini. hanya di balut singlet berwarna putih membuat otot yang terbentuk dari hasil rutin berolahraga pada tubuh Riko terlihat dengan jelas.
Tidak ingin Riko memperhatikan raut wajahnya yang kini terlihat merona, Rahma pun segera beranjak naik ke atas tempat tidur kemudian merebahkan tubuhnya.
"Mas mau ngapain di sofa??." tanya Rahma ketika melihat Riko beranjak ke sofa setelah sebelumnya mengambil sebuah bantal.
"Mau tidur, bukannya kamu tidak ingin mas tidur bersama mu."
"Kapan aku mengatakan seperti itu??." bukannya menjawab Rahma justru balik bertanya.
"Mas boleh tidur sama kamu di ranjang??." tanya Riko.
Melihat Rahma hanya diam, Riko pun menarik kesimpulan jika jawaban adalah iya.
Tanpa banyak tanya lagi Riko bergegas beranjak menuju tempat tidur dan mulai merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang masih kosong. "Thank you, sayang." batinnya.
"Kenapa sayang??." Riko merubah posisinya duduk ketika beberapa saat kemudian melihat istrinya seperti gelisah dan Tak kunjung memejamkan matanya.
"Kakiku terasa pegal, mas." Rahma pun kini turut merubah posisinya dengan duduk dan bersandar pada bahu ranjang.
"Mas apa yang kamu lakukan??." tanya Rahma saat Riko mengangkat kedua kakinya dan meletakkan di atas pangkuannya.
Bukannya menjawab Riko malah melanjutkannya pergerakannya hingga pijatan lembut di kakinya membuat Rahma tak bisa berkata kata dengan sikap suaminya itu.
Pandangan Rahma kini terpenuhi dengan wajah tampan Riko yang tengah fokus memijat kakinya.