
Suasana di perusahaan pagi hari itu terlihat sedikit berbeda dari biasanya, Alan yang biasanya lebih suka mengenakan kemeja yang di padukan dengan pants bahan kini terpaksa harus merubah penampilannya dengan menggunakan stelan jas lengkap ala CEO pada umumnya. dan penampilan Alan yang berbeda dari biasanya itulah yang mampu menciptakan kehebohan bagi para pegawai wanita, pagi ini.
Tak sedikit pegawai wanita yang bekerja di perusahaan tersebut semakin di buat tertarik dengan penampilan baru Alan. Namun sepertinya semua hanya bisa memendam rasa di benak masing-masing, mengingat Alan yang terkenal dengan sikap dinginnya terhadap lawan jenisnya.
"Selamat pagi, tuan Alan." sapa pak Hendro ketika bertemu dengan Alan di lift khusus petinggi perusahaan.
"Tidak perlu memanggil saya dengan sebutan seperti itu pak Hendro, panggil saja seperti biasa pak Hendro memanggil saya!!." pinta Alan dengan sopan.
"Bukannya apa apa, saya hanya menjalani peraturan yang berlaku di perusahaan ini, karena sudah sepantasnya saya dan juga pegawai yang lain memanggil anda dengan sebutan, tuan." jawan pak Hendro apa adanya, dan itu membuat Alan mau tidak mau harus siap dengan panggilan barunya tersebut.
"Terserah pak Hendro sajalah!!!." sahut Alan pasa akhirnya mengalah, dan pak Hendro pun mengulum senyum melihat raut wajah Alan saat ini.
"Tuan, saya dengar hari ini putri dari pemilik perusahaan akan datang sore ini." beritahu pak Hendro tentang kabar yang ia dengar tadi pagi dari asisten pribadi pemilik perusahaan.
"Oh iya.. kalau begitu saya minta tolong pada pak Hendro untuk menyampaikan pada pegawai yang bertugas menghandle iklan untuk menyiapkan perlengkapan untuk pembuatan iklan!!." pinta Alan dan tentunya diiyakan oleh pak Hendro.
Ketika pintu lift terbuka, baik Alan maupun pak Hendro lantas melangkah keluar dari kotak besi tersebut.
Kartika yang merupakan salah seorang pegawai yang tergabung dalam divisi pemasaran, di buat semakin terpesona ketika tak sengaja berpapasan dengan Alan.
"Selamat pagi, tuan Alan." Sama seperti pak Hendro, Kartika pun telah mengganti panggilannya terhadap Alan, yang dulunya ia memanggil Alan dengan sebutan bapak kini berubah menjadi, tuan.
"Pagi." baik masih menjadi kepala divisi pemasaran dan kini telah di angkat menjadi CEO, sikap Alan selalu saja sama pria itu selalu menampilkan wajah datarnya dan itu justru semakin membuat Kartika terpesona dibuatnya.
"Apapun posisi anda di perusahaan tuan Alan, tidak akan merubah perasaan saya terhadap anda. Sekalipun anda hanya seorang OB di perusahaan, saya akan tetap menyukai anda." batin Kartika saat melihat Alan berlalu menuju ruang kerjanya dengan di temani oleh pak Hendro.
"Pagi pagi sudah melamun, tidak takut kesambet ??." Tegur salah seorang rekan kerjanya ketika tak sengaja melihat Kartika berdiri mematung Seraya menatap punggung Alan yang tampak semakin menjauh darinya.
"Agt...saya sedang...."
"Sedang apa?? sedang memperhatikan tuan Alan, begitu??." tebaknya.
"Ingat ..... jangan terlalu tinggi jika ingin bermimpi!! Tapi kalau memang kamu punya mimpi untuk bisa mendapatkan tuan Alan, sebaiknya kamu sering seringlah tidur !!." pernyataan yang terkesan meledek tersebut membuat Kartika melengos begitu saja meninggalkan rekan kerjanya tersebut.
***
Rahma yang tampak men-scroll aplikasi berlogo hitam di ponselnya, tidak sengaja melihat salah satu film yang kini sedang viral menjadi perbincangkan karena alur ceritanya begitu menyentuh terutama bagi kaum ibu ibu.
Rahma yang dibuat penasaran dengan film tersebut lantas mengembalikan layar ponselnya kemudian membuka kontak di ponselnya, setelah menemukan kontak seseorang Rahma pun segera melakukan panggilan telepon.
"Ratu, kamu lagi di mana??. Tanya Rahma setelah Ratu menerima panggilannya.
"Bekerjalah, kamu pikir aku ini anak atau istri dari konglomerat sehingga hanya di rumah saja ongkang-ongkang kaki."
"CK....aku serius??."
"Lagian yang bilang kamu bercanda siapa sih??." lagi lagi jawaban Ratu membuat Rahma ingin sekali menggetok kepala sahabatnya itu.
"Sore ini kamu sibuk tidak?? Kita Nonton film yuk!!." ajak Rahma dengan suara merayu dan tentunya jika sudah begini, Ratu mana sanggup menolaknya.
"Iya...iya...." jawab Rahma sebelum kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Setelah panggilannya pada Ratu terputus, kini Giliran Sintia yang di telepon oleh Rahma. Cukup lama Rahma berbincang dengan Sintia lewat sambungan telepon, sebelum kemudian ia pamit untuk mematikan sambungan telepon ketika mendengar suara dari seberang sana yang tengah menyerukan nama Sintia.
Rahma kemudian kembali mengirimkan sebuah pesan pada Ratu.
***
Sementara jauh di sana, tanpa di ketahui oleh Rahma, senyum seketika terbit di wajah Ratu usai membaca isi pesan singkat darinya.
Ratu terlihat diam beberapa saat, seolah tengah memikirkan sesuatu, hingga kemudian sebuah ide brilian muncul di pikirannya.
Ratu meraih ponselnya yang tadi sempat di letakkan di atas meja, kemudian melakukan panggilan telepon pada seseorang.
*
Alan yang tampak sibuk dengan berkas di hadapannya seketika beralih ke sumber suara ketika mendengar suara ponselnya berdering.
"Ratu...." gumam Alan saat melihat nama pemanggil di ponselnya. "Tumben anak ini menelepon di jam seperti ini??." lanjut gumam Alan, sebelum kemudian menggeser ikon hijau pada layar ponselnya.
"Halo abangku sayang...." baru juga mengarahkan ponselnya ke telinga suara cempreng Ratu sudah terdengar memekakkan telinga Alan.
"Ada apa??." tanya Alan tanpa basa-basi, karena jika Ratu dalam mode seperti saat ini pasti adiknya itu akan menginginkan sesuatu darinya.
"Bang, Minggu lalu kan ulang tahun Ratu, tapi sepertinya Abang belum memberikan sesuatu. Bagaimana kalau sore ini Abang mengajak Ratu jalan jalan ke mall, Itung-itung hadiah untuk ulang tahun Ratu Minggu kemarin???. Mau ya bang....!!!" pinta Ratu dengan memasang wajah memelas padahal iya sendiri tahu Alan pasti tidak akan melihat ekspresinya saat ini.
Alan hanya bisa menghela napas mendengar adiknya yang kini melancarkan aksinya merayu dirinya.
Cukup lama Alan diam, sebelum kemudian ia akhirnya mengiyakan permintaan adiknya itu.
"Baiklah, akan Abang usahakan, tapi Abang tidak janji karena sore ini rencananya ada pemotretan untuk iklan produk baru di perusahaan." beritahu Alan dan di seberang sana Ratu tampak mengangguk sebagai jawaban, dan jelas itu tak terlihat oleh Alan. Jawaban Alan sekaligus mengakhiri percakapan keduanya.
Alan kembali meletakkan ponselnya di tempat semula, kemudian kembali memfokuskan diri pada berkas dihadapannya.
Dua puluh menit kemudian seseorang terdengar mengetuk pintu ruang kerja Alan. setelah mendapat sahutan dari dalam seseorang tersebut lantas membuka pintu, kemudian masuk ke dalam ruang kerja Alan.
"Maaf mengganggu waktu anda, tuan, saya hanya ingin menyampaikan kabar jika ternyata sore ini model iklan untuk produk terbaru kita belum sempat datang." beritahu pegawai tersebut pada Alan, Padahal semua persiapan telah di siapkan untuk perencanaan syuting iklan yang rencananya akan di laksanakan sore nanti.
"Untuk hari ini biarkan saja dulu, lagi pula tidak enak jika kita memaksa mengingat beliau merupakan putri dari pemilik perusahaan. " jawab Alan apa adanya.
"Dan Kebetulan juga sore ini saya ada janji dengan adik saya." lanjut beritahu Alan, sebelum kemudian meminta pegawai tersebut kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sayang sayangku untuk mendukung berkembangnya karya ini, mohon jangan lupa like, koment, vote, give, and subscribe ya.....
and don't forget to reading karya recehku yang lainnya.... SEMUA BUKAN INGINKU juga lagi on going loh...
Thanks for reading 🙏🙏🙏 love you all.....😘😘😘😘😘