
Keesokan harinya, Sintia yang tengah sibuk dengan kegiatannya di rumah sakit mendapat pesan singkat dari Rahma, yang hari ini berniat mengajaknya makan siang bersama. Kali ini Meraka tidak hanya berdua melainkan ada Ratu yang juga akan makan siang bersama dengan keduanya.
Mengingat hari ini ia tak begitu sibuk karena pasien tak begitu banyak, Sintia lantas mengirim pesan balasan pada Rahma untuk menerima ajakannya.
Rahma tak lagi berencana makan siang di restoran tempo hari karena ia tidak ingin Sintia kembali teringat akan mendiang ibunya dan tentunya itu akan membuat Sintia kembali bersedih.
Rahma memilih restoran yang jaraknya kurang lebih satu kilo meter dari rumah sakit untuk menghemat waktu bagi Sintia dan juga Ratu, mengingat keduanya harus kembali bekerja setelah selesai makan siang.
Tepat pukul dua belas siang, Sintia nampak bersiap meninggalkan rumah sakit hendak menuju resto yang telah di tentukan oleh Rahma.
Karena jalanan tidak begitu ramai, hanya dalam waktu sepuluh menit kini mobil Sintia tiba di restoran. Dari balik kaca mobilnya, Sintia dapat melihat mobil Ratu dan juga mobil milik Rahma telah terparkir di area parkiran resto, dengan begitu Sintia dapat menyimpulkan jika kedua wanita itu telah tiba berada di dalam restoran menunggu kedatangannya.
Sintia lantas turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu masuk restoran. Di ambang pintu masuk restoran, Sintia menyapu pandangan mencari keberadaan Rahma dan juga Ratu. Tak berselang lama, pandangan Sintia pun berhenti pada meja nomor lima yang kini di tempati oleh Rahma dan juga Ratu.
Sintia pun kembali mengayunkan langkah menuju meja nomor lima untuk menghampiri keduanya.
"Maaf.... sudah membuat kalian menunggu." ucap Sintia merasa tidak enak.
"Tidak masalah calon kakak ipar, lagi pula kami baru saja tiba." jawaban Ratu yang memanggilnya dengan sebutan kakak ipar membuat wajah Sintia tampak Merona.
Sementara Rahma yang belum tahu menahu tentang kabar tersebut sontak mengeryitkan dahinya, pertanda bingung.
Namun sepersekian detik kemudian Rahma pun teringat jika Ratu memiliki seorang kakak laki-laki, bisa jadi saat ini Sintia tengah menjalin hubungan dengan kakak laki-laki Ratu, itulah mengapa Ratu sampai menyebut Sintia sebagai calon kakak ipar.
Sintia lantas menempati kursi yang masih kosong.
Beberapa saat kemudian.
"Terima kasih.". ucapan terima kasih Ratu di tujukan pada Sintia.
"Terima kasih untuk apa?" kini giliran Sintia yang nampak bingung.
"Terima kasih karena telah menerima lamaran dari bang Alan." sahut Ratu.
"Lamaran??." ulang Rahma sembari menatap Ratu sebelum kemudian beralih menatap Sintia, setelah menyaksikan Ratu mengangguk padanya. "Jadi sekarang Wanita di depan kita saat ini sudah menjadi calon istri orang nih??.". ucap Rahma dengan nada menggoda dan itu membuat Sintia hanya bisa mengangguk malu.
"Waaaaahhhh...... sepertinya sebentar lagi kita akan menghadiri pesta pernikahan nih." lanjut ucap Rahma, masih dengan nada menggodanya.
Tak berapa lama senyum di wajah Rahma surut perlahan. "Thank you, dengan kehadiran kalian berdua setidaknya suasana hatiku jauh lebih baik." ucapnya.
"Memangnya apa yang telah terjadi padamu??." tanya Ratu dengan gurat wajah yang berubah cemas.
Rahma menghela napas sebelum kemudian mulai menceritakan kematian mantan kekasih suaminya yang bernama Mona pada Ratu. meski belum pernah sekalipun bertemu dengan sosok Mona namun Ratu mengetahui Sosok Mona dari cerita Rahma beberapa bulan yang lalu padanya.
"Jadi Rahma sudah mengetahui kabar kematian Nyonya Mona." batin Sintia yang kini tengah mendengarkan Rahma bercerita.
Perasaan dilematis kembali melanda Sintia tatkala melihat raut wajah Rahma mulai berubah sendu dan yang lebih anehnya lagi, Rahma sendiri tidak tahu mengapa setiap kali ia bercerita tentang Mona, hatinya selalu merasa begitu sedih. bahkan Rahma sendiri menyadari jika kesedihan yang ia rasakan terkesan berlebihan untuk seseorang yang notabenenya tak terlalu dekat dengannya.
"Ra, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu, aku melakukan semua ini bukanlah sebagai seorang dokter pada pasiennya melainkan sebagai seorang teman pada temannya." ungkapan Sintia sontak membuat Rahma menautkan kedua alisnya pertanda tak mengerti dengan maksud ucapan Sintia.
"Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan, sintia??." tanya Rahma masih dengan memasang wajah tenang, meski kenyataannya ia begitu penasaran.
"Aku ingin menyampaikan Satu kenyataan yang ingin sekali kau ketahui, namun tidak di sini. Usai makan siang, ikutlah denganku!!.". Jawab Sintia yang kini telah yakin dengan keputusan yang akan diambilnya.
Percakapan di antara mereka terpaksa terhenti ketika pelayan datang untuk mengantarkan pesanan mereka.
Meski begitu penasaran dengan apa yang akan di sampaikan Sintia padanya, namun Rahma tetap berusaha bersikap biasa, tidak ingin sampai perubahan sikapnya merusak suasana makan siang mereka di siang hari ini.
Dua puluh menit kemudian mereka bertiga pun selesai makan siang. Rahma yang hari ini menyetir mobil sendiri lantas ikut serta bersama Sintia dan juga Ratu ke rumah sakit sesuai dengan permintaan dari Sintia.
***
Jika Ratu telah kembali melanjutkan aktivitasnya di ruangannya, Rahma justru mengikuti Sintia ke ruangan tempatnya bertugas.
"Duduklah!!." Sintia mempersilahkan Rahma untuk menempati kursi di depan mejanya. di ruangan tersebut hanya ada mereka berdua saja karena suster Ita belum kembali dari istirahat makan siangnya.
"Apa ini??." tanya Rahma dengan wajah bingung ketika Sintia menyodorkan sebuah map yang berisikan reka medik pasien padanya.
"Buka dan bacalah! Namun sebelum itu aku minta padamu untuk merahasiakan ini, jangan katakan pada siapa pun jika aku yang telah memberi tahukan ini padamu!!." pesan Sintia dan Rahma pun mengiyakannya, sebelum kemudian mulai membuka map tersebut lalu membacanya dengan perlahan.
Beberapa saat kemudian, kedua bola mata Rahma tampak digenangi air mata yang kapan saja bisa jatuh membasahi pipi, saat membaca lembaran kertas yang berada di dalam map reka medik tersebut.
Rahma mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas di genggamannya lalu menatap Sintia. Anggukan kepala Sintia akhirnya membuat genangan di pelupuk mata Rahma meleleh begitu saja membasahi pipi.
Sintia beranjak mengitari mejanya untuk mendekat pada Rahma. Memeluk Rahma adalah hal pertama yang dilakukan Sintia kala melihat Rahma yang kini mulai terisak dalam tangisnya.
"Maaf... karena aku baru menyampaikan kenyataan ini padamu." ucap Sintia ketika ia memeluk tubuh Rahma.
"Apakah Mona meninggal dunia karena aku??? Apakah aku yang telah menyebabkan seorang anak kehilangan sosok ibunya???." seandainya dari awal ia tahu jika pendonor hati untuknya adalah Mona, mungkin Rahma akan lebih memilih menunggu ajal datang menjemputnya daripada harus di Landa rasa bersalah seperti ini kepada seorang anak yang tak berdosa yakni putranya Mona.
"Sama seperti dirimu, aku pun pernah mempersalahkan diriku sendiri karena tidak sempat menjenguk wanita itu sebelum ajal menjemputnya, akan tetapi seseorang telah menyadarkan aku, jika takdir seseorang mutlak berada di tangan sang pencipta.
"Sebagai manusia kita hanya bisa berencana namun takdir tuhan yang akan menentukan jalan hidup setiap hambanya." lanjut ungkap Sintia seolah ingin menyadarkan Rahma agar tidak terus-menerus mempersalahkan diri sendiri.
"Tapi Sintia, aku bahkan belum sempat bertemu langsung dengannya untuk sekedar mengucapkan kata terima kasihku padanya." tutur Rahma masih dengan Isak tangisnya.
Sintia melerai pelukannya lalu menatap kedua mata Rahma.
"Jika kau ingin berterima kasih padanya, maka hiduplah dengan bahagia karena itu yang ia harapkan darimu!! tutur Sintia pada Rahma ketika ia teringat akan percakapannya dengan Almarhumah Mona beberapa bulan yang lalu, sehari sebelum wanita itu melakukan operasi donor hati pada Rahma.
Air mata Rahma semakin berlinang ketika mendengar jika ternyata Mona menginginkan kebahagiaan untuk dirinya.