
Sudah seminggu semenjak Sintia mendengar kenyataan dari mulut Kartika, selama seminggu pula Sintia terkesan menghindari percakapan dengan Alan, meski mereka tidur di atas tempat tidur yang sama.
Namun malam ini Sintia berniat menyampaikan sesuatu pada Alan, hingga ia memulai percakapan di antara mereka.
"Abang." seruan Sintia membuat Alan yang baru saja membuka jas kerjanya menoleh ke arah istrinya.
"Iya." sahut Alan.
"Ada yang ingin aku sampaikan padamu." kata sintia yang kini duduk di tepi tempat tidur.
Alan lantas menjatuhkan bokongnya di sofa menghadap ke arah Sintia.
"Apa yang ingin kamu sampaikan??." tanya Alan, nampak jelas dari gurat wajahnya jika pria itu lelah setelah seharian berkutat dengan kesibukannya di kantor.
"Jika memang bang Alan menikahi aku hanya karena permintaan dari papa, maka aku tidak akan terus memaksa abang untuk tetap berada di sisiku. Jika bang Alan ingin menceraikan aku, maka aku akan ikhlas menerimanya." Sintia berujar dengan pandangan tertunduk.
Alan yang paling tidak suka dengan kata perceraian hampir saja terpancing emosi mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan Sintia.
"Bicara apa kamu ?? Sampai kapanpun saya tidak akan pernah menceraikanmu." Alan yang tidak ingin sampai terpancing emosi dan tak sadar sampai mengeluarkan kata kata yang akan melukai hati istrinya memilih pergi meninggalkan rumah.
Dengan tatapan sendu Sintia memandang ke arah pintu kamar, menatap kepergian suaminya.
"Aku mencintaimu bang Alan, aku ingin kamu bahagia dengan pilihan hatimu." lirih Sintia dalam hati setelah kepergian Alan.
*
Alan yang sangat benci dengan kalimat yang di ucapkan istrinya lantas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah menyadari tindakannya akhirnya Alan pun menepikan mobilnya di tepi jalan.
"Argggggttth....." Alan melampiaskan emosinya dengan memukul setir mobil dengan sekuat tenaga, sebelum kemudian mengusap wajahnya Frustrasi.
Tanpa di sengaja, di seberang jalan tempat Alan menepikan mobilnya ternyata ada sebuah club malam. Alan yang tidak punya arah dan tujuan akhirnya kembali melajukan mobilnya menuju club malam tersebut.
Sejujurnya Alan merasa risih ketika pertama kali menginjakkan kaki di tempat haram tersebut, namun teringat akan permintaan istrinya yang benar-benar membuatnya kesal, alan pun melanjutkan langkahnya memasuki ruangan yang minim cahaya tersebut.
Tatapan lapar dari para gadis yang mengunjungi tempat itu membuat Alan ingin sekali rasanya mencongkel mata para gadis gadis itu.
Alan memilih menjatuhkan bokongnya di meja bartender. Tak berselang lama seorang wanita tampak menghampiri Alan.
"Hai ganteng." sapa seorang wanita yang nampak mengenakan pakaian minim bahan, dan itu membuat Alan jijik melihatnya.
Merasa tak mendapat respon dari lawan bicaranya wanita itu lantas meletakkan tangannya di pundak Alan.
"Singkirkan tanganmu, jika kau tidak ingin saya sampaikan mematahkannya!!." tegas Alan dengan tatapan dingin.
Ciut dengan tatapan serta ucapan dingin Alan, wanita itu pun memutuskan pergi begitu saja sembari mengoceh tak jelas. Mungkin wanita itu tengah mengumpat Alan.
"Apa anda ingin memesan sesuatu,tuan??." pertanyaan dari bartender membuat Alan sadar dari lamunannya tentang sang istri.
"Berikan saya segelas minuman beralkohol!!." selama dua puluh delapan tahun usianya, ini untuk pertama kalinya Alan menenggak minuman beralkohol saking frustrasinya.
Tak lam kemudian, bartender menyodorkan segelas minuman beralkohol di hadapan Alan.
"Ini pesanan anda, tuan." tanpa berpikir panjang Alan langsung menenggak segelas minuman itu hingga tandas.
**
"Halo."
"Baik, saya akan segera ke sana. Pastikan bos saya tetap di sana sampai saya tiba dua puluh menit lagi!!." ucap Alan, Setelahnya Razak pun bergegas meninggalkan apartemennya.
"Apa anda sedang ada masalah berat, tuan??." lirih Razak dalam hati, karena selama ia mengenal Alan, Razak tahu betul jika Alan bukanlah tipe pria yang suka mengunjungi club' malam apalagi sampai mabuk mabukan.
Dua puluh menit kemudian mobil Razak pun tiba di lokasi yang dikirimkan oleh penelpon tadi.
Tanpa menunggu lama, Razak mulai mengayunkan langkahnya memasuki club' malam tersebut untuk mencari keberadaan tuannya.
Dari jarak yang tak terlalu jauh, Razak dapat melihat Alan dengan posisi menyandarkan kepalanya pada meja bartender.
"Sudah berapa banyak bos saya minum??." tanya Razak dengan nada datarnya pada seorang pria yang mengenakan pakaian bartender.
"Tuan ini baru menenggak dua gelas minuman beralkohol tuan, dan itu pun dengan dosis yang sangat rendah." jawaban dari bartender tersebut membuat Razak berdecak melihat kondisi Alan yang sudah mabuk berat, seperti orang yang sudah menenggak begitu banyak minuman beralkohol.
"CK...jika tidak biasa minum kenapa harus memaksakan diri, tuan." gumam Razak seraya mendekati Alan.
"Ayo tuan, kita pulang anda sudah mabuk!!." Ketika Razak hendak mengajaknya pulang, Alan justru meracau tak jelas.
"Sintia, Abang sangat mencintaimu, tapi kenapa kamu tidak pernah mau percaya, sayang??." mendengar racauan Alan, Razak bisa menyimpulkan jika saat ini tuannya itu mungkin sedang bertengkar dengan sang istri.
Alan yang terus mengungkapkan isi hatinya tentang perasaannya terhadap sang istri, membuat sebuah ide muncul di pikiran Razak. Ia meraih ponselnya dari saku jas kemudian mulai merekam Alan yang kini tengah meracau tak jelas, sebelum kemudian memapah Alan meninggalkan club menuju mobilnya.
Di dalam mobil, Alan tak lagi meracau pria itu sudah tampak tertidur. dalam kondisi seperti ini menurut Razak Sangat tidak tepat jika ia mengantarkan Alan kembali ke rumah istrinya, dengan begitu Razak memilih membawa Alan menuju apartemennya.
Ya, malam ini untuk pertama kalinya Alan tak kembali ke ruang sang istri setelah mereka menikah, dan itu membuat Sintia tak kunjung dapat memejamkan matanya, ia terus kepikiran suaminya.
"Kemana bang Alan, kenapa sudah jam segini belum pulang juga??." perasaan Sintia semakin cemas kala melihat jarum jam yang menggantung di dinding kamarnya telah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Mungkin karena kelelahan menunggu kedatangan suaminya yang tak kunjung pulang ke rumah, Pukul empat dini hari Sintia pun terlelap di sofa.
**
Pagi harinya, Alan yang baru saja terjaga dari tidurnya merasa kepalanya seperti mau pecah
"Arghh..." kenapa kepalaku sakit sekali??." ringisnya, Seraya memijat kepalanya yang terasa berdenyut.
"Di mana ini??." gumam Alan seraya menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang terasa asing baginya.
"Anda berada di apartemen saya, tuan. semalam seorang pelayan club malam menghubungi saya dan mengatakan jika anda tengah mabuk berat di club' mereka. melihat kondisi anda semalam sangat tidak memungkinkan untuk saya mengantarkan anda kembali ke rumah, maka dari itu saya memutuskan untuk membawa anda ke sini." Razak yang baru saja masuk ke kamarnya lantas menjelaskan tentang kejadian semalam pada Alan.
"Oh astaga...apa yang sudah aku lakukan??." sesal Alan. Pria itu nampak mengusap wajahnya dengan kasar, menyesali perbuatannya semalam.
"Untungnya semalam anda tidak sampai mengajak seorang wanita ke hotel semalam." lanjut ujar Razak sengaja ingin menggoda Alan.
Raut wajah Alan berubah geram.
"CK... Istri saya saja belum pernah saya sentuh, mana mungkin saya menyentuh wanita malam." sanggahan Alan secara tidak sadar menyampaikan pada Razak jika ia belum pernah menyentuh istrinya.
"Oh astaga...." batin Razak tidak habis pikir ketika mendengar pengakuan secara tidak langsung dari Alan.