
Rahma beranjak untuk membuka pintu.
"Mama."
"Boleh mama masuk??." tak jauh berbeda dengan papa Abraham, sebagai seorang ibu mama Rika juga merasa ada sesuatu yang tengah coba disembunyikan putra sulungnya itu.
"Ma, Rahma tinggal sebentar ya, mau menyiapkan makanan untuk makan malam." Rahma sengaja memberikan ruang untuk mama Rika berbicara dengan Riko.
"Iya sayang.".
"Ko, sebenarnya apa yang terjadi??." tanya mama Rika setelah kepergian Rahma.
"Tidak ada apa apa, mah, Riko hanya ingin menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan di perusahaan." sesuai dengan permintaan papa Abraham, Riko terpaksa tidak berterus terang pada mama Rika, tidak ingin sampai wanita itu kepikiran.
Meski tidak yakin dengan jawaban putranya namun mama Rika mengangguk saja, seolah percaya dengan jawaban Riko.
"Baik kalau begitu, mama hanya ingin berpesan sama kamu, Ko, apapun yang terjadi jangan pernah melukai hati dan perasaan istri kamu!!! Rahma wanita yang baik kamu sangat beruntung bisa memperistri wanita sebaik dirinya." pesan mama Rika dengan nada lembut namun terdengar penuh penekanan.
Riko pun mangangguk mengiyakan.
Merasa tidak ada lagi yang ingin di sampaikan kepada Riko, mama Rika lantas pamit untuk membantu Rahma menyiapkan makan malam di dapur.
***
Malam ini mereka sengaja makan malam lebih awal karena pesawat yang akan di tumpangi Riko bertolak dari bandara mutiara sis Al-Jufri palu tepat pukul tujuh malam.
Dua puluh menit berlalu makan malam pun selesai, setelah beristirahat Beberapa saat kini mereka telah bersiap menuju bandara untuk mengantarkan Riko.
Selama Di perjalanan menuju bandara Riko yang kini duduk di balik kemudi lebih banyak diam, di lihat dari raut wajahnya nampak jelas Jika pria itu kini tengah memikirkan sesuatu.
"Are you okay, mas??." Rahma yang duduk di samping Riko lantas bertanya ketika melihat Riko hanya diam saja sejak tadi hingga kini mobilnya telah tiba di bandara.
"Mas baik baik saja sayang." Riko mengulas senyum sempurna di bibirnya seraya memberi usapan di kepala Rahma. "Ingat, jangan sampai kelelahan dan jangan lupa untuk selalu mengkonsumsi makanan yang bergizi, jangan tidur terlalu larut malam !!! " pesan Riko sebelum hendak beranjak turun dari mobil dan Rahma pun mengangguk mengiyakan.
Meski berat rasanya untuk jauh dari sang istri, namun Riko terpaksa harus melakukannya. Dengan berat hati Riko meninggalkan Rahma, yang kini terus menatap kepergiannya.
Malam ini Riko berangkat ke ibukota seorang diri tanpa asisten pribadi maupun sekretarisnya. Setelah tiba di pesawat Riko mengirim pesan pada orang kepercayaannya untuk bersiap menjemputnya di bandara.
Rahma yang menyaksikan dari balik dinding kaca pesawat yang kini tumpangi Riko telah lepas landas, tanpa sadar menitihkan air mata. sementara mama Rika yang sejak tadi terus memperhatikan gerak gerik menantunya itu sontak saja merangkul bahu Rahma.
"Jangan bersedih, Riko hanya beberapa hari di sana setelah urusannya selesai Riko pasti akan segera kembali!!." sebagai seorang wanita yang sering ditinggal papa Abraham bepergian ke luar kota karena urusan pekerjaan membuat mama Rika mengerti betul dengan perasaan Rahma saat ini, apalagi kini ia tengah hamil dan perasaan seorang wanita yang tengah hamil bisa berubah ubah.
"Iya mah." Sebelumnya ia sendiri yang meminta Riko untuk kembali ke ibukota untuk menyelesaikan urusan di perusahaan, tetapi entah mengapa ketika melihat pesawat yang ditumpangi Riko telah lepas landas perasaan Rahma berubah menjadi melow dan sedih.
Setelahnya mereka pun segera beranjak kembali ke rumah dengan Rahma yang bertugas mengemudikan mobil suaminya, berhubung papa Abraham tidak tahu jalanan di kota tersebut.
***
"Selamat datang tuan." sapa pria dengan barisan terdepan seraya mengangguk hormat pada Riko, sementara salah satu pria di antaranya segera mengambil alih koper dari tangan Riko.
Sesuai dengan permintaan Riko, asisten Danu mengantarkan Riko menuju apartemen. Setibanya di apartemen asisten Danu tidak langsung pergi begitu saja melainkan ikut bersama Riko karena ingin membahas hal penting kepada tuannya tersebut.
Aura Dingin begitu melekat pada sosok asisten Danu, seorang pria berusia tiga puluh tahun yang sudah setahun terakhir menjadi asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Riko di perusahaan. Berbicara seadanya sudah menjadi karakter pria yang akrab di sapa sekertaris Danu tersebut, hanya dengan Riko saja pria itu akan berbicara cukup panjang Selain itu tak seorang pun yang berani mengajak pria itu sekedar bercanda.
Setelah berada di depan apartemen milik Riko, Sekertaris Danu mengeluarkan card sebagai akses untuk memasuki apartemen tersebut.
"Silahkan tuan!!." begitu pintu terbuka sekretaris Danu mempersilahkan Riko untuk segera masuk, sementara beberapa orang pria bertubuh tegap yang tadi ikut dengan mereka lantas ikut masuk ke dalam setelah sekertaris Danu ikut masuk di belakang langkah Riko. Setelah meletakkan koper di dalam apartemen dua orang pria tadi lantas keluar, memilih berjaga di depan apartemen Riko.
Riko yang kini telah menjatuhkan bokongnya di sofa lantas menerima amplop coklat yang berisikan beberapa berkas, yang baru saja diserahkan sekretaris Danu.
Tanpa bertanya Riko membuka amplop lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam amplop tersebut.
"Sangat keterlaluan kamu Mona." sungut Riko dengan nada geramnya ketika membaca isi kertas tersebut. Pantas saja sekretaris Danu memintanya untuk kembali ke ibukota, ternyata ulah Mona sudah sampai di luar batas.
"Bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan bukti palsu ini??? bukankah logo ini merupakan logo milik rumah sakit yang di kelola Hantara." Gumam Riko. Sementara dia yang di maksud oleh Riko tak lain adalah Mona, mantan kekasih yang pernah mengkhianati cintanya beberapa tahun lalu.
Riko nampak memijat pangkal hidungnya, tidak habis pikir rumah sakit sebesar itu mengeluarkan hasil palsu seperti yang ada di hadapannya saat ini.
"Maaf tuan, saya terpaksa meminta anda untuk kembali ke ibu kota karena tidak ingin mengambil keputusan yang menurut anda salah." dengan menundukkan kepalanya Sekretaris Danu berucap.
"Tidak perlu minta maaf, lagi pula ini bukan kesalahan kamu." sahut Riko, yang tidak ingin melimpahkan kesalahan kepada yang bukan semestinya.
Tanpa banyak berpikir Riko segera bangkit dari duduknya kemudian mengajak sekretaris Danu untuk mencari keberadaan mantan kekasihnya, Mona.
Menuju apartemen yang di duga menjadi tempat tinggal Mona selama setahun terakhir, Riko hanya di temani oleh sekretaris Danu sedangkan dua orang pria yang lainnya kembali melanjutkan tugasnya.
Dengan perasaan geram bercampur emosi Riko menuju apartemen Mona.
Terima kasih sayang sayangku telah Sudi meluangkan waktu untuk menikmati karya recehku,,,,, 🙏🙏😊😘 jangan lupa like, koment, vote and give ya,,,,, 😘🥰🙏😊😘
And don't forget to reading karya recehku yang lainnya....
-MENIKAH DI USIA REMAJA.
-TERPAKSA MENIKAH DENGAN KEKASIH SAHABATKU.
-SEMUA BUKAN INGINKU.
-SUAMI PENGGANTI (MENIKAH DENGAN CALON KAKAK IPAR).