Trust Me Please.

Trust Me Please.
Mulai bekerja di tempat baru.



"Praaak." Sebuah tamparan yang nampak meninggalkan bekas kemerahan di wajah Riko terdengar begitu nyaring. Siapa lagi yang berani melakukannya kalau bukan papa Abraham.


Pria paru baya tersebut seketika murka setelah mendengar pengakuan dari putranya.


"Kamu benar benar sudah keterlaluan Ko, mau di taruh di mana muka papa di hadapan ayah mertua kamu. bisa bisanya Kamu membuat kesepakatan gila seperti itu terhadap istri kamu sendiri." Hardik papa Abraham yang tidak habis pikir dengan kelakuan putranya.


Riko hanya diam tak berani menjawab, karena sadar jika ia memang bersalah.


"Dan kamu, kenapa selama ini kamu juga diam saja???" Kini giliran Atala yang kini berdiri berdampingan dengan Riko, menjadi sasaran kemarahan papa Abraham.


Sepertinya hari ini keberuntungan tidak menyertai Dr Atala, niat hati ingin membawakan obat serta beberapa vitamin untuk pamannya justru membuatnya berada di posisi bak seorang tersangka di hadapan papa Abraham.


"Setidaknya jika Riko menyembunyikannya, kamu yang harusnya memberi tahu pada om untuk mencari solusi, bukannya malah diam seperti orang bisu.” jujur baru kali ini Atala melihat pamannya sampai semarah itu.


"Atala minta maaf Om." jawab Atala dengan nada lirih.


"Papa sangat kecewa sama kalian." suara papa Abraham mulai melemah. pria itu terlihat memegang dada kirinya yang mulai terasa nyeri.


Riko yang menyadari sesuatu yang tidak beres saat mendengar suara ayahnya sontak mengangkat pandangannya.


"Papa"


"Om."


Keduanya seketika menjadi panik saat melihat papa Abraham mulai terduduk di sofa karena merasakan nyeri di dadanya.


"Ini semua salah Abang." saking kesalnya pada Riko yang menjadi penyebab penyakit jantung yang di deritanya papa Abraham kambuh, tanpa sadar nada Atala terdengar meninggi.


"Bisa tidak kau simpan dulu amarahmu itu, sekarang lebih baik kau periksa kondisi papa!!." jawab Riko dengan nada yang tak kalah tinggi akibat panik melihat kondisi papa Abraham, yang terlihat meringis seraya terus memegangi dada kirinya.


Untungnya di sisa akal sehatnya Atala teringat akan tujuannya datang ke mansion pamannya itu untuk membawakan obat untuk papa Abraham.


"Di tas, obat jantung paman ada di tas ku." ucap Atala kemudian membuka tasnya dan mengambil beberapa obat lalu memberikannya pada papa Abraham beserta segelas air putih.


Syukurnya beberapa saat setelah meminum obat jantung yang diberikan keponakannya itu, rasa nyeri di dada papa Abraham berangsur membaik.


"Apa yang terjadi pah??." mama Rika yang baru saja tiba dari super market tersebut di buat panik saat melihat kondisi suaminya yang kini duduk di sofa dengan wajah lemasnya, dengan di kerumuni Riko dan Atala.


"Tanya sendiri pada putramu, mah!!." bukannya langsung menjawab, papa Abraham justru meminta istrinya itu untuk meminta jawaban dari putra sulungnya itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Ko, kenapa papa bisa sampai seperti ini??." tanya Mama Rika dengan wajah menuntut.


"Maafkan Riko mah." ucap Riko sebelum menceritakan semuanya pada mama Rika, termasuk kejadian kesalahpahaman di malam itu serta ia yang Sengaja membuat surat kesepakatan dengan istrinya. Sebuah kesepakatan berpisah setelah usia pernikahan mereka genap setahun. Bukan hanya itu, Riko bahkan mengaku pada mama Rika jika ia telah mengambil haknya sebagai suami terhadap istrinya, Rahma. Dan dari situ pula lah ia yakin jika Atala tidak berdusta tentang kejadian malam itu.


Sejujurnya Atala yang mendengarnya merasa sangat lega karena dengan begitu kini ia telah terbukti tidak sampai berbuat tak baik malam itu pada Rahma yang notabene nya adalah calon istri dari kakak sepupunya sendiri.


"Apa....???." tubuh Mama Rika bahkan sampai terhuyung ke belakang saat mendengar pengakuan putranya, yang menurutnya sangat gila.


"Sekarang bukan lagi masalah kamu ingin menceraikan istri kamu atau tidak Ko, tetapi masalahnya sekarang apakah Rahma masih bersedia menerima kamu sebagai suaminya atau tidak. Apalagi malam itu kamu telah memintanya untuk menandatangani surat gugatan perceraian."


"Tapi Mah, Riko sudah membatalkan semuanya itu, lagi pula Riko sudah merobek surat itu." jawab Riko.


"Apa kamu merobeknya di hadapan istri kamu, tidak kan?? Mungkin sekarang Rahma berpikir kamu sudah mengajukan gugatan perceraian di pengadilan, dan dengan ketidak hadirannya di pengadilan nanti akan semakin mempermudah pengadilan untuk memutuskan ikatan pernikahan di antara kalian."


Deg.


"Bagaimana aku tidak berpikir sejauh itu" batin Riko semakin tak tenang.


*


"Bagaimana kabar kamu, Ra?? sudah lama kita tidak berjumpa." Tanya Dr Toni saat tak sengaja berpapasan dengan Rahma di salah satu koridor gedung rumah sakit.


"Alhamdulillah kabar baik kak." jawab Rahma seadanya tanpa banyak berbasa-basi.


"Maaf kak, saya harus segera pergi soalnya ada sesuatu yang harus segera aku selesaikan." alasan Rahma, yang sengaja ingin menghindari Dr Toni.


*


Kini pihak rumah sakit menempatkan Rahma bertugas di ruang instalasi gawat darurat dan ia akan mulai bertugas hari ini.


"Assalamualaikum dan selamat siang, perkenalkan nama saya Mega Rahmawati atau biasa di panggil Rahma, sampai saat ini saya masih bergelar Dr umum. dan mulai hari ini saya di tugaskan untuk bergabung bersama tim di Instalasi gawat darurat, saya harap rekan rekan sekalian bisa menerima kehadiran saya, terima kasih."


Kehadiran Rahma yang pernah bekerja di rumah sakit yang cukup besar di ibu kota tentunya mendapat tempat tersendiri bagi rekan timnya, meskipun Rahma tidak berharap di perlakukan secara berlebihan. Baginya yang terpenting adalah menciptakan suasana nyaman di mana pun ia bekerja.


Masih di rumah sakit yang sama namun di ruangan yang berbeda, Ratu yang bertugas di ruangan anak, terlihat sibuk memeriksa status reka medik sebelum Dr spesialis anak datang untuk memeriksa kondisi terkini pasien.


"Maaf, saya datang sedikit terlambat." ucap Dr Toni saat terlambat lima menit saja.


"Tidak masalah Dr, lagi pula anda hanya terlambat lima menit saja." jika dalam situasi seperti ini Ratu pasti bersikap formal layaknya pada rekan sejawat lainnya, jika hanya berdua saja barulah Ratu akan memanggil Dr Toni dengan sebutan kakak, karena Dr Toni merupakan kakak kelas Ratu dan juga Rahma saat duduk di bangku SMA.


Setelahnya baik Ratu maupun Dr Toni yang di temani oleh beberapa orang perawat yang bertugas pagi hari ini, segera mengunjungi satu persatu ruangan pasien untuk memeriksa kondisi terkini pasien.


"Kenapa kau tidak pernah cerita jika Rahma akan bekerja di rumah sakit??." ujar Dr Toni saat perawat yang tadinya bersama dengan mereka lebih dulu kembali ke ruangan staf perawat, hingga kini hanya tersisa mereka berdua berjalan melewati lorong rumah sakit.


"Karena kak Toni tidak pernah bertanya." jawab Ratu apa adanya.


"CK ...kau ini memang paling bisa ngelesnya, bajaj saja kalah sama kamu." jawab Dr Toni yang nampak menarik sudut bibirnya ke samping hingga menciptakan sebuah senyum kecil, yang membuat pria itu terlihat semakin tampan.


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menikmati karya recehku πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Jangan lupa like, koment, vote and give ya sayang sayangku😘😘😘😘😘