Trust Me Please.

Trust Me Please.
Tergila gila padanya.



Aktivitas yang cukup menguras waktu dan juga tenaga membuat Rahma terlelap sehingga melewatkan makan siangnya, begitu pun dengan Riko yang kini ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Kedua berbagi selimut dengan posisi Riko memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Dua jam kemudian tepatnya pukul dua siang, Rahma terjaga dari tidurnya ketika mendengar deringan ponselnya.


Rahma memposisikan diri untuk meraih ponselnya di atas nakas yang berada di samping tempat tidur dan pergerakan Rahma tersebut dapat dirasakan oleh Riko, terbukti pria itu semakin mengeratkan pelukannya seolah tidak ingin melepaskannya.


"Mas."


Mengerti dengan maksud Rahma, Riko pun melonggarkan pelukannya dan membiarkan Rahma untuk meraih ponselnya.


"Ratu." ujar Rahma ketika melihat nama pemanggil di layar ponselnya, sebelum kemudian menerima panggilan dari ratu.


"Ra, apa kamu sedang sibuk??" baru saja panggilan terhubung, dari seberang telepon Ratu bertanya demikian pada Rahma.


"Sepertinya tidak, memangnya kenapa??." jawabnya. Rahma menegakan tubuhnya duduk bersandar pada bahu divan seraya merapikan selimut yang kini menutupi tubuh polosnya.


Riko kini ikut merubah posisinya duduk di samping sang istri seraya menyaksikan Rahma berbicara dengan Ratu melalui sambungan telepon.


"Apa Boleh siang ini kita bertemu di cafe biasa?? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."


Mendengar nada bicara Ratu yang terdengar serius, Rahma pun memandang ke arah Riko seolah meminta persetujuan dari suaminya. Setelah mendapat anggukan dari Riko, Rahma pun mengiyakannya sebelum kemudian mematikan sambungan telepon.


"Mandilah, kemudian makan !! Sekarang sudah jam dua siang, Setelah itu mas akan mengantarmu." tutur Riko dan Rahma pun mengangguk sebagai jawaban, sebelum kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.


Riko tidak pernah membatasi pertemuan Rahma dan sahabatnya, apalagi setahu Riko selama ia tidak ada di sisi Rahma, Ratu sudah banyak membantu dan menemani istrinya dalam situasi apapun.


Setelah mandi dan juga makan siang, Rahma yang sudah bersiap siap untuk menemui Ratu segera beranjak menuju cafe dengan di antarkan oleh Riko.


Karena jarak dari rumah mereka tak begitu jauh dengan cafe langganan mereka hanya butuh waktu dua puluh menit kini mobil Riko tiba di pelataran cafe.


"Masuklah!! Mas akan menunggu di mobil." tutur Riko setelah membukukan pintu mobil untuk sang istri.


"Mas tidak masalah Lama menunggu di mobil??." tanya Rahma merasa tidak enak.


Seraya tersenyum Riko mengelus rambut panjang istrinya. "jangankan sehari sayang, setahun juga mas tidak keberatan jika harus menunggu wanita secantik kamu." jawab Riko dengan nada menggoda, sehingga membuat Rahma berdecak mendengarnya.


"Baiklah, aku masuk dulu ya mas." pamit Rahma setelah menyalami Riko dan Riko pun mengangguk sebagai jawaban.


Riko terus menatap punggung istrinya yang kini tengah berjalan ke arah pintu masuk cafe, setelah Rahma tak lagi terlihat dari pandangannya barulah Riko kembali masuk ke mobil.


Sembari menunggu, Riko memilih menghubungi sekretaris Danu.


Tidak seperti biasanya, perlu dua kali Riko melakukan panggilan barulah Sekretaris Danu menerima panggilan darinya.


"Maaf tu_." merasa tidak sopan telah mengabaikan Riko di seberang sana akibat sibuk meladeni amukan Mona, sekretaris Danu lantas meminta maaf, akan tetapi ucapan maaf dari sekretaris Danu melayang begitu saja ketika mendengar seruan Riko.


"Berikan ponselmu padanya!!." titah Riko.


"Baik tu_." belum lagi Sekretaris Danu menuntaskan kata katanya, Mona sudah berusaha merebut ponsel dari tangannya.


"Bersikaplah lebih sopan Nona!!." tegas Sekretaris Danu sebelum kemudian menyerahkan ponselnya pada Mona.


Dengan diiringi Isak tangis Mona mulai berbicara setelah mendekatkan ponsel Sekretaris Danu di telinganya. Jika biasanya tangisan Mona penuh dengan sandiwara dan kebohongan tetapi kali ini kelihatannya wanita itu benar benar bersedih setelah mengetahui Riko memerintahkan Sekretaris Danu untuk membawanya meninggalkan kota kelahirannya, Jakarta.


"Ko, kenapa kamu begitu jahat padaku, kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku??? di mana salahku, Ko??." sudah ada di situasi seperti saat ini saja Mona masih belum bisa menyadari kesalahannya, sehingga membuat Riko semakin yakin dengan keputusan.


"Aku mencintaimu Riko, apa salah jika aku berusaha untuk mempertahankan sesuatu yang seharusnya menjadi milikku??."


Mendengar kalimat Mona membuat Riko menghela napas berat di buatnya.


"Ingat Mona, aku sudah menikah !!! Sekuat apapun kamu berusaha untuk mendapatkan cintaku, aku rasa semua akan berakhir sia sia karena pada kenyataannya aku sangat mencintai istriku. Sebagai seseorang yang pernah dekat denganku seharusnya kau sudah sangat paham, aku bahkan rela melakukan apapun untuk wanita yang sangat aku cintai dan wanita itu adalah istriku. tak ada lagi namamu di hatiku, Mona, jadi aku mohon mengertilah !!!. Maka demi menjaga perasaan serta keselamatan wanita yang sangat aku cintai, maka aku terpaksa melakukan semua ini padamu." dengan pelan Riko berucap namun terdengar penuh ketegasan di setiap kata-katanya.


Riko dapat mendengar Isak tangis Mona yang terdengar begitu pilu di seberang sana, namun demi menjaga perasaan serta keselamatan istri dan juga calon anak di dalam kandungan Rahma, Riko tetap kekeuh dengan keputusannya.


Setelah merasa cukup memberi penjelasan pada Mona, Riko pun mematikan sambungan teleponnya.


Riko menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil, pada saat memejamkan matanya Riko teringat akan kalimat terakhir Mona sebelum ia mematikan sambungan telepon.


"Aku tidak percaya hatimu bisa berpaling dariku apalagi sampai mencintai istrimu, Ko." perkataan terakhir Mona terlintas di pikiran Riko, ketika ia memejamkan matanya untuk sejenak.


"Jangankan engkau Mona, aku sendiri seperti tidak percaya jika aku bisa sampai tergila gila padanya. Semua yang ada pada dirinya membuatku tergila-gila." gumam Riko seraya menarik kedua sudut bibirnya ke samping hingga tercipta sebuah senyuman ketika bayangan Rahma yang tengah tersenyum kini terlintas di pikirannya.


Sementara seseorang yang kini menjadi pusat pemikiran Riko, tengah berbincang serius dengan Ratu di dalam cafe.


"Kenapa kau ingin pernikahan kalian di adakan secara sederhana, bukankah lebih baik jika semua rekan kerja kalian hadir di hari pernikahan kalian nanti??." Tanya Rahma, yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Ratu saat ini.


"Justru itu Ra, aku tidak ingin rekan kerja kita berpikir jika kak Toni hanya menjadikan aku sebagai pelarian semata, mengingat selama ini mereka semua tahu jika kak Toni menyukaimu."


Helaan napas Rahma terdengar berat saat mendengar penjelasan dari Ratu. "Maafkan aku untuk itu." ucapnya merasa tak enak karena sebagai manusia biasa ia tidak bisa mengontrol perasaan Toni padanya dulu.


Ratu mengelus tangan Rahma yang kini menggenggam salah satu tangannya dengan tangannya yang lepas.


"Tidak perlu minta maaf ini semua bukan kesalahanmu, tetapi aku mohon mengertilah dan tolong dukung aku untuk bicara dengan kedua orang tuaku untuk mengutarakan keinginanku!!." pinta Ratu dengan wajah sendu dan pada akhirnya Rahma pun mengiyakannya.