Trust Me Please.

Trust Me Please.
Permintaan Alan.



Sesuai dengan permintaan dari Alan, tuan Mardin sama sekali tidak membahas tentang permintaannya dihadapan Sintia. Pria itu hanya bertanya seputar perusahaan kepada Alan.


Sebelum meninggalkan rumah sakit tempo hari, di mana tuan Mardin meminta dirinya untuk menikahi putrinya, Alan menyampaikan satu permintaan padanya.


Alan meminta tuan Mardin untuk memberikan waktu untuk dirinya mendekati Sintia secara pribadi, tanpa menyampaikan permintaannya kepada Sintia. Alan tidak ingin Sintia sampai berpikir jika dirinya menikahi Sintia hanya karena tertekan apalagi karena terpaksa, dan tuan Mardin tidak keberatan dengan permintaan Alan tersebut.


Dan hari ini tuan Mardin juga memenuhi janjinya kepada Alan untuk berterus terang pada Sintia tentang kondisi kesehatannya.


Melihat wajah Sintia yang tampak sembab membuat Alan yakin jika wanita itu sudah cukup lama menangis.


Sintia yang awalnya tidak ingin sampai Alan melihatnya menangis akhirnya tidak bisa merealisasikan keinginannya karena kini air matanya seolah berlinang tanpa permisi membasahi pipinya, dan itu tampak jelas oleh Alan yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk saat ini.


"Jangan menangis lagi !! papa sudah terlalu sering membuat kamu menangis selama ini." dengan sekuat tenaga yang tersisa tuan Mardin berusaha menahan air matanya agar tak tumpah ketika melihat Putri semata wayangnya berlinang air mata setelah mengetahui kebenaran tentang penyakit yang ia derita.


"Kenapa papa menyembunyikan semua ini dari Sintia, kenapa pa...??." dari suaranya terdengar jelas jika saat ini dada Sintia terasa sesak, layaknya sebuah bongkahan baju tengah menghadang pada saluran pernapasannya.


"Sintia.... Sejujurnya Ini yang papa takutkan, kamu pasti akan bersedih jika mengetahui kondisi kesehatan papa yang sebenarnya dan papa tidak ingin melihat kamu bersedih lagi." jawaban ayahnya membuat Sintia sangat menyesali sikapnya beberapa hari terakhir ini pada sang ayah.


"Sintia, papa mohon maaf padamu, nak !! Maafkan atas semua kesalahan yang pernah papa perbuat padamu, maafkan papa karena dulu papa lebih memilih wanita lain daripada kamu anak kandung papa sendiri." sekuat kuatnya tuan Mardin berusaha menahan air matanya, namun sepertinya buliran bening tersebut tetap saja menerobos keluar membasahi wajahnya yang nampak pucat.


"Seandainya dulu papa tidak pergi dan menitipkan kamu pada kakek mungkin kamu tidak akan kesepian. Papa Mohon nak, jangan benci pada papa, dengan begitu papa bisa pergi dengan tenang jika tiba waktunya nanti!!!." Semakin deras buliran bening jatuh membasahi wajahnya ketika tuan Mardin teringat akan kebodohannya dulu, yang meninggalkan putrinya demi seorang wanita yang tak sungguh sungguh mencintai dirinya.


"Jangan bicara seperti itu pa.... !!! Sintia memang kecewa pada sikap papa dulu, tapi itu tidak sampai membuat sintia benci pada papa. Bagi Sintia, papa tetaplah cinta pertama Sintia. Sintia sayang sama papa.... dan Sintia mohon pah, jangan bicara seperti itu lagi !!! Sintia yakin papa pasti masih bisa sembuh seperti sedia kala, percayalah...!!!.". Sebagai seorang dokter tentunya Sintia tidak bodoh ketika melihat kondisi ayahnya saat ini, namun entah mengapa hatinya seolah tidak bisa menerima kenyataan jika ayahnya akan kembali meninggalkannya, apalagi untuk selama lamanya.


deg.


Alan yang menyaksikan percakapan sendu di antara ayah dan putrinya tersebut dibuat terkejut, tidak menyangka jika wanita yang selama ini selalu menampilkan wajah cerianya ternyata menjalani fase yang cukup menyedihkan di dalam kehidupannya.


Ingin rasanya Alan mengusap air mata yang kini membasahi wajah cantik Sintia namun Alan tak sampai melakukannya, tak ingin di anggap tak sopan.


*


Agar bisa menjaga dan memantau kondisi ayahnya, Sintia meminta bantuan pada Alan untuk memindahkan ayahnya ke rumah sakit dimana ia bekerja, dengan begitu ia tak perlu bolak balik dengan jarak yang cukup jauh.


Sore ini setelah selesai bertugas Sintia lantas menuju kamar perawatan ayahnya.


Ceklek.


Ketika membuka pintu kamar perawatan ayahnya, Sintia melihat wajah pucat ayahnya yang kini tengah terlelap di atas tempat tidur rumah sakit. Dengan gerakan pelan Sintia kembali menutup pintu agar tak menciptakan suara yang bisa membuat ayahnya terganggu.


Sintia memilih mengistirahatkan tubuhnya di sofa, dengan menyadarkan tubuhnya pada bahu sofa setidaknya bisa sedikit mengurangi rasa lelahnya. Mungkin karena lelah, Sintia sampai tertidur dengan posisi duduk sehingga ia tidak menyadari kedatangan seseorang di ruangan tersebut.


"Meski dalam kondisi tidur sekalipun dia tetap saja terlihat cantik." sebuah gumaman terlontar begitu saja dari mulut Alan tanpa ia sadari dan itu masih dapat di dengar oleh Razak yang tiba bersama dengannya.


Setelahnya, Alan pun menjatuhkan bokongnya di sofa yang masih kosong, tepat di sisi Sintia, sementara Razak memilih menjatuhkan bokongnya di kursi yang berada tak jauh dari tempat tidur pasien.


Alan yang hendak meraih ponsel di saku jasnya tiba tiba dikejutkan dengan pergerakan Sintia yang kini menyandarkan kepalanya pada bahunya. Tidak ingin pergerakannya sampai mengganggu tidur Sintia, Alan lantas mengurungkan niatnya untuk mengambil ponselnya.


Tatapan tajam Alan kini beralih pada Razak yang terlihat tengah menahan senyum di bibirnya. pria itu bisa menebak, jika saat ini jantung Alan rasanya pasti seperti ingin meledak ketika berada dalam posisi sedekat itu dengan seorang wanita.


Cukup lama Sintia berada di posisi itu, sampai dengan beberapa saat kemudian ia pun mulai memicingkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mata.


Pertama kali mengerjapkan matanya aroma Maskulin langsung menelusup masuk kedalam indera penciuman Sintia.


Sepersekian detik kemudian, Sintia di buat malu sendiri ketika menyadari jika saat ini dirinya tengah menyadarkan kepalanya pada bahu tegap milik Alan.


Perlahan Sintia menjauhkan kepalanya dari bahu tegap milik Alan.


"Maaf." ucap Sintia dengan perasaan sungkan. Sementara Alan yang saat ini menatapnya hanya tampak menganggukkan kepalanya sekilas.


Secara bersamaan, tuan Mardin pun baru saja bangun dari tidurnya.


"Kenapa kamu belum pulang, nak??." tutur Tuan Mardin ketika melihat putrinya yang masih mengenakan pakaian kerjanya.


"Sintia akan tetap di sini untuk menjaga papa." jawab Sintia.


"Tidak perlu Sintia, lagi pula sebentar lagi asisten papa akan segera kembali. lebih baik sekarang kamu pulang ke rumah lalu beristirahat." Tuan Mardin coba membujuk Sintia namun sepertinya Sintia tetap kekeuh ingin tetap berada di sana untuk menjaga ayahnya.


Alan yang menyaksikan itu lantas menyerahkan paper bag yang di bawanya tadi pada Sintia.


"Apa ini??." tanya Sintia setelah menerima paper bag dari Alan.


"Baju ganti untukmu."


Mendengar jawaban Alan, Sintia pun segera membuka dan melihat isi dari paper bag tersebut. sebuah dres lengkap dengan pakaian dalam wanita tampak ketika Sintia melihat isi dari paper bag pemberian Alan.


"Saya meminta bantuan Ratu untuk memilih yang pas untukmu." tutur Alan seolah tahu apa yang saat ini bersarang di benak dan pikiran Sintia.


"Terima kasih." Sintia yang awalnya merasa malu karena berpikir Alan yang memilihkan pakaian dalam wanita untuknya, kini berusaha terlihat tenang di hadapan Alan. Sebelum kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.