
Tidak terasa waktu berlalu, sudah tiga hari pasca operasi dan kondisi Rahma pun semakin membaik. Sudah tiga hari pula Rahma terus berusaha meminta informasi kepada pihak rumah sakit tentang identitas dari pendonor yang telah menyelamatkan hidupnya.
Namun pihak rumah sakit tetap kekeuh tidak memberikan informasi tersebut kepada Rahma, dengan alasan menjaga kode etik yang berlaku. Pihak rumah sakit hanya mengatakan pada Rahma jika pendonor tersebut merupakan seorang wanita.
Dengan berat hati Rahma akhirnya pasrah jika kesempatannya bertemu dengan seseorang yang telah menjadi pendonor hati untuknya tidak akan pernah terwujud, namun di dalam relung hati terdalam Rahma berharap agar wanita itu dalam Kondisi baik baik saja saat ini dan juga kedepannya nanti.
"Ada apa Sayang??." Riko yang sejak tadi melihat Rahma lebih banyak diam lantas bertanya.
"Tidak ada apa apa, mas, aku hanya sedang memikirkan kondisi wanita yang menjadi pendonor untukku. Aku harap saat ini dia dalam kondisi baik baik saja." ungkap Rahma.
Riko lantas menjatuhkan bokongnya di tepi tempat tidur, menghadap ke arah Rahma.
"Jangan banyak berpikir dulu, kamu baru saja menjalani operasi yang cukup besar !! Mas tidak ingin sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya jika kamu terlalu banyak berpikir. Untuk seseorang yang kita sendiri tidak tahu siapa dia, sebaiknya kita berdoa agar wanita itu selalu dalam kondisi baik-baik saja!!." tutur Riko dan Rahma pun mengangguk mengiyakan.
Kedatangan Seorang dokter serta beberapa orang perawat yang hendak memeriksa kondisi istrinya membuat Riko lantas beranjak dari posisinya untuk memberi ruang pada Tim medis.
Sudah tiga hari Tidak melihat keberadaan Sintia di antara dokter dan juga perawat yang datang memeriksa kondisinya, membuat Rahma lantas menanyakan keberadaan wanita itu.
"Di mana dokter Sintia?? sudah tiga hari saya tidak melihatnya ??." tanya Rahma pada seorang perawat.
"Dokter Sintia sedang sibuk karena hari ini beliau akan wisuda." mendengar jawaban dari perawat tersebut membuat Rahma merasa kagum akan sosok seorang Sintia.
"Ternyata selain cantik dia juga sangat gigih dalam mengejar cita-citanya." dalam hati Rahma teringat sosok Sintia, salah seorang dokter yang banyak membantu dalam proses kesembuhannya.
"Bagaimana kondisi istri saya, dokter??." kini perhatian Rahma beralih pada dokter ketika Riko bertanya akan kondisinya saat ini.
"Alhamdulillah, semakin hari kondisi istri anda semakin membaik, jika kondisinya terus memperlihatkan kemajuan maka beberapa hari ke depan Nyonya Rahma sudah boleh pulang." mendengar penjelasan dari dokter membuat Riko lega mendengarnya.
"Baiklah kalau begitu saya permisi, Tuan Riko." setelah selesai memeriksa kondisi Rahma, dokter lantas pamit untuk melanjutkan kegiatannya memeriksa kondisi pasien lainnya.
"Terima kasih, dokter." tutur Riko dan dokter tampak menanggapi ucapan terima kasih dari Riko dengan sebuah anggukan serta senyuman ramah.
Setelah kepergian dokter, tampak Ratu yang baru saja tiba di kamar perawatan Rahma.
"Hai, Ra, bagaimana kata dokter??." tanya Ratu yang kini melangkah mendekat ke tempat tidur Rahma.
"Kata dokter jika kondisi aku semakin membaik maka beberapa hari lagi aku sudah boleh pulang.". Sahut Rahma sesuai dengan penjelasan dari dokter tadi.
"Syukurlah kalau begitu."
"Jika kondisi mommy-nya semakin membaik, bagaimana dengan kondisi kedua keponakan Tante??." Lanjut tanya Ratu seraya mengelus lembut perut buncit Rahma.
"Kami juga dalam kondisi sehat Tante, Tante sendiri kapan memberikan kami teman bermain??." jawab Rahma dengan suara yang menyerupai suara anak kecil, sehingga membuat raut wajah Ratu seketika berubah cemberut.
"Kau ini ada ada saja." ucap Ratu dengan wajah cemberut.
"Sedang apa kalian sekarang??." batin Riko. tiba tiba ia merindukan sosok kedua sahabatnya, Hantara dan Damar. karena sibuk dengan urusan masing-masing membuat pertemuan ketiganya tidak seintens dulu.
Beberapa saat kemudian Tiba tiba Riko tampak menarik sudut bibirnya ke samping tatkala teringat akan tiga hari yang lalu, di mana kejadian lucu sekaligus memalukan yang tidak sengaja menimpa sahabatnya, Damar, saat berada di bandara ketika pria itu hendak kembali ke ibukota.
Damar yang tidak sengaja menatap ke arah seorang gadis dengan pakaian yang cukup minim sontak saja mendapat tamparan yang cukup keras di wajahnya. gadis itu merasa tidak terima dengan tatapan Damar yang menurutnya seakan menela_njanginya.
"Damar... Damar...." tanpa sadar Riko menyerukan nama sahabatnya itu di akhir senyumnya.
*
Hari terus berlalu, melihat kondisi kesehatan Rahma pasca operasi semakin membaik maka dokter pun mengizinkannya untuk pulang.
Sintia yang sudah kembali aktif bekerja seperti sebelumnya tampak mendatangi kamar perawatan Rahma.
"Selamat pagi." seperti biasa Sintia selalu menampilkan senyum ramah di wajah cantiknya, bukan hanya kepada Rahma tetapi kepada semua pasiennya.
"Selamat pagi, dokter." jawab Rahma dan juga Riko.
"Selamat atas keberhasilan operasi anda, dokter Rahma, semoga secepatnya kondisi kesehatan anda pulih dengan sempurna dan anda bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala." tutur Sintia dengan tulus.
"Terima kasih atas bantuan anda selama ini dokter Sintia, dan saya ucapkan banyak selamat atas gelar yang baru saja anda dapatkan." selain mengucapkan terima kasih tak lupa Rahma juga mengucapkan selamat pada Sintia atas gelas Spesial bedah yang baru saja di dapatnya.
"Semoga ilmu serta gelar yang baru saja anda dapatkan bisa berguna bagi orang banyak. Sebagai rekan sejawat yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan anda, tentunya saya turut bangga melihat keberhasilan anda, Dokter Sintia." ungkap Rahma dari lubuk hati terdalam dan itu membuat Sintia terharu mendengarnya, sehingga tak sadar wanita itu menitihkan air mata haru.
Sintia tak sadar menitihkan air mata kala teringat akan almarhum kakeknya, yang begitu menginginkan ia menjadi dokter spesialis bedah dan setelah melewati perjuangan yang cukup panjang dan luar biasa, kini ia bisa mewujudkan impian dari kakeknya.
"Terima kasih atas ucapannya, Dokter Rahma." jawab Sintia sebelum kemudian menyerahkan secarik kertas resep yang harus di tebus sebelum Rahma meninggalkan rumah sakit.
Setelahnya, Sintia pun pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Usai mengemasi barang-barang milik istrinya lantas Riko pergi ke apotek untuk menebus obat sebelum kemudian mereka pun meninggalkan rumah sakit.
Empat puluh menit menempuh perjalanan, kini mobil Riko tiba di rumah. Rumah yang sudah sangat dirindukan Rahma.
"Selamat datang kembali di rumah kita, sayang." tutur Riko ketika baru saja mematikan mesin mobilnya.
"Akhirnya aku bisa kembali ke rumah Kita, mas." gumam Rahma ketika melihat suasana rumahnya dari balik kaca mobil.
Melihat raut wajah Rahma yang kini berubah sendu, lantas membuat Riko memiringkan posisi duduknya menghadap ke arah Rahma lalu kemudian mengusap lembut pipi istrinya itu dengan punggung jemarinya.
"Jangan bersedih lagi, karena mas tidak tega melihatnya." pinta Riko dan Rahma hanya mengulum senyum tipis mendengarnya.
"Mas." kini Rahma yang balik mengusap wajah Riko dengan punggung jemarinya. Di tatapnya wajah tampan suaminya tersebut lalu berkata. "Sekali lagi, terimakasih untuk semuanya." ucap Rahma, Sebelum kemudian mengecup bi_bir Riko dengan waktu yang cukup lama.