Trust Me Please.

Trust Me Please.
Sandiwara 1.



"Sebelumnya saya mohon maaf tuan jika pertanyaan saya sedikit lancang. apakah anda sedang bertengkar dengan istri anda, tuan?? Karena Selama saya mengenal anda belum pernah sekalipun saya melihat anda mengunjungi sebuah club malam apalagi sampai mengkonsumsi minuman beralkohol." Razak mencoba mengungkapkan komentarnya di hadapannya Alan.


Alan menghela napas berat mendengarnya.


"Istriku sudah tahu jika ayahnya pernah memintaku untuk menikah dengan putrinya." sahut Alan dengan helaan napasnya yang terdengar berat.


"Dari mana Nona Sintia mengetahui tentang hal itu??? lalu, mengapa anda tidak menjelaskan yang sebenarnya pada istri anda,tuan. Jika sebenarnya anda menikahi nya bukan karena menuruti permintaan tuan Mardin melainkan karena anda mencintai nona Sintia." ucap Razak.


"Dia mengetahui semua ini dari mulut lancang, Kartika. Untuk penjelasan, saya sudah berulang kali menjelaskan padanya tapi sepertinya Sintia belum bisa percaya padaku." sahut Alan dengan wajah putus asa. Razak yang melihatnya pun semakin yakin jika tuannya itu sangat mencintai istrinya.


"Jadi ini alasan mengapa sampai tuan Alan memecat Kartika tanpa kompensasi sepeserpun, tuan Alan bahkan mengecam perusahaan yang berani mempekerjakan Kartika di perusahaan Meraka." batin Razak. pertanyaan yang sejak seminggu lalu bersarang di benak Razak tentang pemecatan Kartika secara tiba-tiba akhirnya hari ini terjawab sudah.


"Sebaiknya anda lebih tenang dalam menanggapi masalah ini. Wanita memang seperti itu, Wanita sangat sulit untuk dimengerti, tuan. Berikan nona Sintia sedikit waktu untuk menata hatinya yang sempat kecewa, mungkin dengan begitu beliau akan mengerti mengapa sampai anda menyembunyikan permintaan ayahnya dari dirinya." Razak sedikit memberi masukan pada Alan, berharap itu bisa sedikit menenangkan hati dan pikiran Alan saat ini.


Alan tampak memijat kepalanya yang masih terasa berdenyut akibat reaksi minuman yang ditenggaknya semalam, sebelum kemudian kembali bercerita pada Razak.


"Bagaimana saya bisa tenang, jika istri saya menginginkan perceraian."


Ungkapan Alan membuat Razak terkejut bukan main, bagaimana tidak, baru juga seminggu usia pernikahan mereka tapi Sintia sudah ingin bercerai.


Razak tampak diam, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sepertinya anda harus segera melakukan sesuatu untuk mencegah perceraian di dalam rumah tangga anda, tuan." ucap Razak setelah cukup lama diam.


"Sepertinya anda harus segera membuat Nona Sintia mengandung anak anda, dengan begitu Nona sintia tidak akan membahas tentang perceraian lagi!!!." ide yang saat itu terlintas di pikirannya di ungkapkan Razak dihadapan Alan.


"CK....saya bukan pria brengsek yang tega memaksakan kehendak, meskipun ia sudah menjadi istriku." jawaban Alan yang terkesan putus asa membuat Razak kembali mengusulkan satu ide pada tuannya itu.


"Anda tidak perlu memaksakan kehendak istri anda, anda hanya perlu sedikit memainkan sandiwara dengan begitu istri anda dengan suka rela melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri." Razak tahu betul ini pengalaman pertama Alan menghadapi seorang wanita, tidak heran jika pria itu tak memiliki begitu banyak ide seperti dirinya yang mampu meruntuhkan pertahanan seorang gadis hanya dengan satu kali kedipan mata.


"Sandiwara seperti apa yang kau maksud??." tanya Alan dengan wajah bingung.


Melihat kebingungan di wajah Alan, Razak lantas mengutarakan idenya pada Alan.


"Sepertinya idemu tidak begitu buruk, saya akan mencobanya." tutur Alan setelah Razak mengatakan idenya, sebelum kemudian ia beranjak turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Mungkin dengan mandi rasa sakit di kepalanya akan sedikit berkurang, begitu pikir Alan.


Sesuai dengan cetusan ide dari Razak, Alan tak langsung kembali ke rumah ia langsung berangkat ke kantor dari apartemen Razak. Mengenai pakaian kerja Alan tentunya itu menjadi PR untuk Razak, pria itu harus mencari sepasang pakaian kerja untuk dikenakan tuannya.


Baru sehari tak bertemu dengan sang istri sudah membuat Alan gundah gulana apalagi jika harus berpisah, memikirkannya saja sudah membuat Alan tak fokus dalam bekerja.


***


"Dokter Sintia." sudah kesekian kalinya suster Ita menyerukan namanya, namun Sintia tak juga bergeming ia hanya terlihat melamun.


"Apa anda kurang sehat, Dok??." tebak suster Ita, karena tak biasanya Sintia bersikap seperti ini.


"Saya baik baik saja, suster." sahut Sintia sebelum kembali menyibukkan diri dengan reka medik pasien di hadapannya.


"Apa anda sedang ada masalah??." suster Ita kembali mengutarakan dugaannya.


Sebagai salah satu wanita yang aktif di group gosip rekan sejawat serumah sakit, Suster Ita yang cukup berpengalaman menduga jika saat ini Sintia sedang ada masalah, namun masalah apa itu ia sendiri tidak tahu pasti.


"Apa anda sedang bertengkar dengan suami anda, dokter??." karena penasaran suster Ita pun kembali melontarkan dugaannya.


Melihat Sintia masih saja diam saat menatapnya, suster Ita dapat menyimpulkan jika dugaannya kali ini tidak salah.


"Zaman sekarang ini pelakor banyak Lo, dok, suami dekil saja kalau uangnya banyak bisa jadi sasaran para pelakor apalagi kalau suami tampan berduit. Kebanyakan sih suami suami yang merasa tidak puas dengan istrinya yang akan mudah tergoda dengan godaan dari pelakor jahanam." bukannya ingin memanas manasi Sintia, namun suster Ita hanya mengatakan realita yang banyak terjadi di zaman sekarang dan Sepertinya itu mampu membuat Sintia terpengaruh dengan ucapannya, apalagi semalam Alan tak pulang ke rumah.


"Tidak, tidak mungkin bang Alan sampai bertindak sejauh itu, tidak mungkin bang Alan sampai main gila di luar sana." Sintia berusaha meneguhkan hati dengan berpikir positif.


Namun di sisi lain ia juga berpikir, bisa saja suaminya itu mencari kehangatan dari wanita di luar sana, karena sejak menikah ia belum pernah menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri untuk suaminya.


Semakin gelisah saja Sintia setelah mendengar semua ucapan suster Ita, apalagi sejak pagi tadi ponsel suaminya tak dapat dihubungi.


Bagi sintia yang ingin segera kembali ke rumah, rasanya hari ini waktu berjalan begitu lamban.


Beberapa jam kemudian.


Akhirnya waktu yang di nantikan oleh Sintia tiba juga, kini ia bersiap siap untuk segera pulang karena jam kerjanya telah usai.


Setibanya di rumah, Sintia melihat kondisi ayahnya terlebih dahulu sebelum kemudian beranjak menuju kamarnya. semua benda yang berada di kamar masih sama seperti ketika tadi pagi ditinggalkan olehnya, dengan begitu Sintia menyimpulkan bahwa suaminya belum juga kembali sejak semalam.


"Kemana sebenarnya perginya, bang Alan, apa ia sangat kecewa dengan ucapanku semalam??." lirih Sintia dalam hati.


Tidak ingin semakin frustasi, Sintia pun memilih segera mandi untuk menyegarkan hati dan pikirannya. tak berselang lama, Sintia tampak keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan bathrobe.


**


Waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, namun Alan tak kunjung kembali ke rumah, sehingga membuat Sintia tampak mondar mandir menanti kedatangan suaminya itu, di kamar.


Pergerakan Sintia lantas terhenti, ia memandang ke arah pintu ketika mendengar suara pintu yang di buka dari arah luar dan menampilkan wajah Alan yang baru saja membuka pintu kamar.


Selamat bermalam Minggu sayang sayangku 😘🥰🥰🥰🥰