
Di tengah kebahagiaannya atas kehadiran bayi kembar di dalam kandungannya saat ini, tiba tiba Rahma teringat akan sosok kedua orang tuanya yang sudah beberapa bulan tak pernah berjumpa secara langsung. selama empat bulan terakhir hanya sambungan video call yang bisa di lakukan Rahma ketika merindukan sosok kedua orang tuanya.
"Rahma."
Tanpa di duga Rahma sebelumnya kini sosok yang begitu di rindukannya tiba tiba hadir di depan matanya.
"Ayah...Bunda...."
Menyadari kedatangan kedua orang tuanya sontak saja Rahma beranjak kepada kedua orang tuanya berada.
"Bunda, Rahma kangen banget."
"Bunda juga kangen banget sama kamu, sayang."
Mama Ening yang juga begitu merindukan sosok putri semata wayangnya beranjak memeluk Rahma. cukup lama mama Ening memeluk tubuh putrinya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, untuk melepas kerinduan.
"Ayah." Setelah melerai pelukannya pada sang bunda, Rahma beralih memeluk ayah Roland, pria yang menjadi cinta pertama baginya.
"Bagaimana kabar kamu dan calon cucu ayah, nak ??". Tanya papa Roland setelah pelukan mereka terlerai.
"Alhamdulillah, Rahma dan juga calon cucu cucu ayah dalam kondisi sehat dan baik baik saja ayah." jawaban Rahma sontak membuat kedua alis mata ayah Roland saling bertaut.
"Cucu cucu ayah??." Ayah Roland mengulang kata kata Putrinya.
"Iya ayah, saat ini Rahma tengah mengandung anak kembar.". Bukan Rahma yang menjawab melainkan Riko, yang kini beranjak untuk menyalami ayah dan juga ibu mertuanya.
"Oh ya.." tentunya reaksi ayah Roland dan kedua orang tua Riko tidak jauh berbeda, pria itu terlihat begitu bahagia dan juga terharu mendengarnya.
"Selamat putriku sayang, tidak lama lagi putri kecilku dulu akan menjelma menjadi seorang ibu dari kedua anak kembarnya." ayah Roland yang begitu terkenal dengan sikap tegas serta di segani oleh rival bisnisnya di kalangan sesama pengusaha, tanpa sadar matanya mulai berkaca kaca.
Ayah Roland menepuk pundak Riko. "Terima kasih sudah menjaga putri ayah dengan baik." ucapnya.
"Riko yang harusnya bertemu kasih pada ayah dan bunda karena bersedia memaafkan Riko dan memberikan kesempatan kepada Riko untuk mencari keberadaan putri ayah." sahut Riko bangga dengan sikap bijaksana ayah mertuanya.
"Itu semua karena ayah percaya kamu sangat menginginkan putri ayah untuk kembali padamu, nak." jawaban ayah Roland membuat papa Abraham ikut terharu.
Kini tatapan Rahma beralih pada Riko.
"Terima kasih, mas." ucapnya seraya memeluk tubuh suaminya. Rahma sadar jika kedatangan kedua orang tuanya pasti telah diatur dengan apik oleh suaminya.
"Tidak perlu berterima kasih, sayang, bukankah sudah menjadi tugas seorang suami untuk membahagiakan istrinya." bukan hanya papa Abraham dan mama Rika yang bangga dengan putra sulung mereka, tapi papa Roland dan juga mama Ening pun merasa bangga dan bersyukur putrinya mendapatkan pendamping yang begitu menyayanginya.
Setelahnya papa Abraham pun turut menyambut kedatangan besan sekaligus rekan bisnisnya tersebut, sebelum siang ini ia dan sang istri akan segera menuju bandara hendak kembali ke ibukota. Sebenarnya mama Rika masih enggan meninggalkan menantunya itu namun kewajibannya sebagai seorang istri dan juga ibu bagi adik perempuan Riko mengharuskan ia ikut bersama sang suami kembali ke ibu kota.
Siang ini seraya mengantarkan kedua orang tuanya menuju bandara, Riko mengajak orang tua serta mertuanya untuk makan siang lebih dulu di restoran miliknya.Tak lupa Cristi dan juga boy pun ikut serta bersama dengan mereka.
***
"Mari tuan!!." manager restoran membawa mereka ke salah satu private room.
Di sela langkah menuju private room tak sedikit tatapan para pengunjung restoran terutama kaum hawa menatap kagum pada sosok Riko, sehingga membuat Rahma sontak bergelayut manja di lengan suaminya.
Sementara Riko yang menyadari hal itu lantas menahan senyumnya. ia tahu betul jika saat ini istrinya itu tak suka dengan tatapan kagum kaum hawa yang tertuju padanya.
"Ada apa sayang???." Mama Ening yang tahu betul jika putrinya bukanlah tipe wanita yang suka mengumbar kemesraan di depan umum di buat mengeryit heran dengan tindakan Rahma.
"Di sini Banyak ulet keket, Bun." kini bukan hanya mama Ening yang menyadari jika putrinya itu sedang cemburu tetapi ayah Roland serta kedua mertuanya pun akhirnya paham. Sehingga mereka hanya bisa menahan senyum masing-masing.
Kini tibalah mereka di sebuah private room yang sengaja di pesan Riko melalui manager restoran miliknya sebelum mereka berangkat tadi.
Tak lama beberapa orang pelayan masuk untuk menyajikan makanan. Kini begitu banyak makanan dengan berbagai macam menu yang tersaji di atas meja.
Ayah Roland yang baru mengetahui dari besannya jika restoran tersebut ternyata milik menantunya merasa bangga dengan kemampuan menantunya dalam berbisnis. Selain membuat perusahaan ayahnya semakin berkembang pesat selama satu tahun terakhir Riko juga mencoba peluang usaha di bidang kuliner dengan membuka restoran mewah di kota yang notabenenya baru beberapa saat ditinggalinya.
Kurang dari setengah jam mereka pun selesai makan siang. Kini mereka lantas meninggalkan restoran hendak menuju bandara untuk mengantarkan mama Rika dan juga papa Abraham.
***
Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Ratu yang tengah sibuk berkutat dengan Rekam medik pasien tiba tiba beralih pada seorang wanita cantik yang baru saja menghampiri mejanya.
"Ada yang bisa saya bantu dokter Sintia??." tanya Ratu to the point.
"Saya ingin bertemu dengan Dokter Toni, apa beliau ada di sini??." sahut dokter Sintia seraya menyapu pandangan untuk mencari keberadaan seseorang yang tengah dicarinya.
"Dokter Toni sedang memeriksa kondisi pasien, jika ingin menunggu silahkan duduk!!." meski merasa jengah dengan sikap Sintia yang terkesan angkuh namun Ratu tidak menunjukkan rasa kesalnya di hadapan wanita itu.
Tanpa merespon ucapan Ratu, Sintia menjatuhkan bokongnya begitu saja di salah satu kursi yang tak jauh dari Ratu saat ini.
Beberapa saat kemudian.
"Saya dan Dokter Toni dulu kuliah di kampus yang sama dan kami sangat dekat, sampai sampai banyak orang yang mengira kami menjalin hubungan spesial." Sintia yang tengah duduk dengan posisi yang menyilangkan kakinya lantas melontarkan pernyataan yang membuat Ratu kembali berlatih pada wanita itu dengan tatapan jengah.
"Oh ya..." hanya kata itu yang di lontarkan Ratu untuk merespon peryataan Sintia, sebelum kemudian kembali fokus pada berkas dihadapannya. Dan hal itu mampu membuat Sintia meradang dibuatnya. Niatnya ingin mengumbar kedekatannya dengan Toni pada semua rekan kerja namun tanggapan Ratu sungguh membuatnya kesal.
Ceklek.
"Dokter Sintia, Apa yang anda lakukan di sini???." dengan suara datar Toni bertanya ketika melihat keberadaan Sintia di ruangan Ratu.
Menyadari kedatangan Toni tentu saja Sintia segera beranjak dari duduknya hendak menghampiri Toni yang masih berdiri di ambang pintu.
"Toni aku ke_" ucapan Sintia Melayang begitu saja ketika Toni lebih dulu menyela.
"Bersikaplah profesional selama berada di lingkungan kerja!!." sela Toni yang tidak suka mendengar Sintia memanggilnya tanpa embel-embel Dokter. bukan apa apa, Toni tidak ingin sampai Ratu salah paham dengan sikap Sintia.