Trust Me Please.

Trust Me Please.
Merasa berdosa.



Setelah menerima telepon dari Toni, Ratu menghubungi Rahma untuk menyampaikan pada sahabatnya itu agar tak perlu membawakan makan malam untuknya.


Riko yang baru saja menuruni anak tangga menghampiri Rahma yang sedang membuka kembali susunan rantangnya. "Tidak jadi mengantar makan malam untuk Ratu?." tanya Riko saat melihat Rahma kembali menyalin isi rantang ke wadah.


"Nggak jadi mas, Ratu bilang malam ini dia mau makan malam di rumah temannya." jawab Rahma sesuai dengan perkataan Ratu di telepon tadi dan Riko hanya mengangguk saja.


"Sayang, apa boleh malam ini mas meeting bersama tim dan sekertaris mas, di sini?? Soalnya mas juga khawatir kalau harus meninggalkan kamu sendirian di rumah." Riko meminta persetujuan dari Rahma.


"Silahkan saja, tapi apa mas tidak keberatan hanya meeting di ruang tengah saja??." tanya Rahma mengingat di rumah itu tak ada fasilitas room khusus untuk meeting dan Riko pun tidak mempermasalahkan hal itu.


"Tidak masalah." tutur Riko sebelum kemudian mengeluarkan sesuatu dari dompetnya lalu menyerahkan sebuah kartu ATM kepada Rahma.


"Untuk apa ini mas??."


Tanya Rahma ketika Riko memberikan sebuah kartu ATM padanya.


"Gunakan untuk memenuhi kebutuhan kamu, untuk kebutuhan rumah tangga mas akan mentransfernya besok. Cukup di awal pernikahan kita kamu menolak dan kali ini mas harap kamu tidak lagi menolaknya!!" jawab Riko.


"Tapi mas_."


"Mas tahu kamu wanita yang mandiri tapi mas mohon berikan mas kesempatan untuk menunaikan kewajiban mas sebagai seorang suami untuk memberi nafkah pada istrinya!!."


Riko sangat berharap kali ini Rahma tak lagi menolak pemberiannya.


"Lagi pula apa gunanya mas bekerja siang dan malam jika istri mas tidak mau menerima nafkah dari mas."


Tidak ingin kembali mengecewakan Riko akhirnya Rahma pun menerima pemberian Riko.


"Baiklah."


Riko menarik sebuah kursi lalu menjatuhkan bokongnya.


"Eeehhhhh." Rahma di buat terkesiap ketika Riko membawanya ke pangkuannya.


"Kenapa, kamu risih?." tanya Riko dan Rahma pun perlahan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Lalu??"


"Aku hanya belum terbiasa saja." jawab Rahma apa adanya.


"Maka dari itu mulai sekarang kamu harus membiasakan diri untuk itu." tutur Riko.


Dengan posisi cukup in_tim seperti saat ini Rahma dapat merasakan hembusan napas Riko yang menyapu tengkuknya.


Rahma semakin di buat terkesiap ketika Riko memberi kecupan di tengkuk lehernya. Sebuah kecupan yang mampu membuat bulu kuduknya merinding.


"Mas."


"Hemt." masih dengan posisi yang sama Riko berdehem menanggapi seruan Rahma.


Jika di malam itu Rahma yang terkesan memaksa Riko melakukan kewajibannya, malam ini ia justru merasakan jantungnya berdebar tak karuan ketika mendapat perlakuan seperti itu dari Riko.


"Apa malam ini kamu tidak berniat meminta mas untuk melakukan hal yang sama seperti malam itu, sayang??." Rahma yang paham dengan maksud ucapan Riko sontak merubah posisinya menghadap pada Riko.


Riko sengaja ingin menggoda Rahma dengan ucapannya itu.


"Mas Riko." tekan Rahma. Ia di buat malu sendiri ketika teringat akan kejadian malam itu, di mana ia tak ubahnya wanita penggoda yang menawarkan tubuhnya untuk dija_mah oleh Riko.


"Tidak perlu malu, sayang !!! Mas akui saat itu mas adalah pria yang paling bodoh di muka bumi ini karena sempat menolak wanita secantik kamu. namun satu yang harus kamu tahu, kamu wanita pertama dan terakhir untukku, sayang!!." Ungkap Riko dengan tatapan dalam.


"Gombal, dari yang aku rasakan dan yang aku lihat sepertinya mas sangat mahir melakukannya, tidak seperti seorang pemula."


Mendengar jawaban polos istrinya membuat Riko sampai tersenyum di buatnya.


"Mas ini pria normal sayang, dan hal itu sudah menjadi naluri seorang pria Meski untuk pertama kalinya." tutur Riko sejujurnya.


Kini tangan Riko beralih pada perut Rahma yang semakin hari semakin terlihat membesar.


"Apa selama mas tidak ada kamu merasa kewalahan dengan kehamilan ini?? Maaf jika di awal kehamilan, mas tidak ada di sisimu, sayang."


"Alhamdulillah, selama kehadirannya di dalam sini baby tidak pernah menyulitkan aku, mungkin dia tahu jika saat itu Daddy nya belum mengetahui keberadaannya." jawab Rahma.


Riko yang mendengarnya semakin merasa bersalah. "Maafkan Daddy sayang karena terlambat mengetahui keberadaanmu di perut mommy." Riko berucap seraya mengelus lembut perut Rahma, seakan ingin memberi sinyal, baby yang ada di dalam perut Rahma melakukan pergerakan kecil.


"Sayang, apa kamu merasakannya??." tanya Riko dengan wajah berbinar dan Rahma pun mengangguk mengiyakan.


Riko sedikit merunduk." Anak Daddy, apa kamu bisa mendengar Daddy??." Riko seolah tengah mengajak calon buah hatinya berkomunikasi, seakan dapat mendengar ucapan dari Daddy nya, baby yang ada di dalam perut Rahma kembali melakukan pergerakan kecil dan itu semakin membuat Riko melebarkan senyum bahagianya.


**


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Ratu terlihat sedikit canggung ketika berada di tengah tengah keluarga Dr Toni.


Usai makan malam bersama beberapa saat yang lalu, kini Ratu ikut bergabung bersama anggota keluarga Dr Toni di ruang tengah. semua anggota keluarga Dr Toni memperlakukan Rahma dengan sangat baik tidak terkecuali adik laki-lakinya yang masih duduk di bangku kuliah.


"Aku baru tahu kalau kak Toni punya kekasih selama ini, dulunya aku pikir kak Toni termasuk dalam anggota pelangi karena tidak pernah memiliki seorang kekasih." Ratu hanya tersenyum ketika mendengar celetukan dari Saka, yang merupakan adik bungsu Toni.


"Canda kali kak.". tutur Saka ketika mendapat tatapan mematikan dari Toni.


"Memangnya sudah berapa lama kalian menjalin hubungan, Sayang?? kenapa kamu tidak pernah diajak Toni main ke rumah??." tanya Mama Sinta yang merupakan ibu kandung Toni.


"E...."Ratu terlihat gugup saat hendak menjawab pertanyaan dari calon mertuanya itu.


"Satu tahun mah." melihat kegugupan di wajah Ratu membuat Toni akhirnya mengambil alih untuk menjawabnya.


"Sudah selama itu dan kamu tidak pernah mengajak Ratu main ke rumah, keterlaluan sekali kamu Toni." mama Sinta memasang wajah sebalnya pada Toni.


"Bukan begitu mah, Toni hanya mencari waktu yang tepat saja." jawab Toni. Lagi dan lagi Toni terpaksa berbohong untuk menutupi kebohongannya yang lain.


Cukup lama Ratu bercengkrama bersama keluarga Dr Toni sampai akhirnya saat menatap jarum jam yang melingkar pada pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul sepuluh malam, Ratu pun memberikan kode pada Toni untuk segera mengantarnya pulang.


***


"Kenapa dengan wajahmu??." tanya Dr Toni ketika melihat Ratu menekuk wajahnya ketika berada di perjalanan menuju rumahnya.


"Tidak ada apa apa, Aku hanya merasa sangat berdosa telah berbohong pada mereka semua." jawab Ratu dengan nada datarnya.


"Maaf sudah membawamu dalam situasi seperti ini." tutur Toni merasa tidak enak.


"Meskipun hari itu kamu tidak ikut bersamaku ke restoran, kita akan tetap menikah karena ternyata kedua orang tua kita telah menjodohkan kita sebelum kamu lahir ke dunia ini." beritahu Toni dan hal itu membuat dahi Ratu berkerut bingung dibuatnya.


"kedua orang tua kita sudah menjodohkan kita saat usia kandungan Tante Tika baru berusia tujuh bulan dan pada saat itu kata mama, aku baru berusia sekitar tiga tahun." Riko memberi tahukan pada Ratu akan cerita mama Sinta tempo hari.


Sedangkan Ratu masih terlihat diam seraya mendengarkan cerita Toni dengan seksama.