Trust Me Please.

Trust Me Please.
Hadiah untuk Ratu.



Tanpa terasa waktu terus berlalu, hari pernikahan Toni dan Ratu akan di laksanakan besok. Di kediaman orang tua Ratu telah di lakukan persiapan untuk dilaksanakannya acara ijab qobul sebelum kemudian malam harinya mereka akan menggelar acara resepsi di salah satu hotel ternama di kota tersebut.


Sudah seminggu terakhir Ratu melaksanakan proses pingitan yang sudah menjadi kebiasaan di dalam keluarganya, selama proses itu berlangsung ia tak lagi bertemu ataupun komunikasi lewat sambungan telepon dengan Toni.


 Di dalam kamarnya, Ratu tengah menunggu kedatangan sahabatnya, Rahma.


Tak berselang lama, akhirnya yang di nanti pun tiba.


Ceklek.


Rahma yang mendapat izin dari pemilik kamar lantas membuka pintu kamar Ratu dan menampilkan Ratu yang kini tengah duduk di tepi tempat tidurnya.


Rahma kembali menutup pintu kamar Ratu.


"Tegang amat tuh muka." ledek Rahma ketika baru melihat raut wajah Ratu yang tampak tegang, entah apa yang kini tengah di pikiran gadis itu sehingga membuatnya begitu tegang.


Rahma lantas menjatuhkan bokongnya di sofa kamar Ratu.


"Atau jangan-jangan kamu tengah merencanakan sesuatu untuk menyambut malam pertama kalian ya???." tebak Rahma dengan tatapan curiga yang di iringi senyum menggoda.


"Apaan sih, siapa juga yang berpikir ke arah sana." tepis Ratu. Namun begitu mulutnya tidak seirama dengan isi hatinya saat ini. Tanpa sepengetahuan Rahma ternyata tebakannya tidak salah. Yang saat ini membuat raut wajah Ratu menjadi tegang adalah ketika memikirkan ucapan Toni tempo hari, di mana pria itu menginginkan pernikahan seutuhnya selayaknya pasangan suami istri pada umumnya. Jika seperti itu otomatis mereka akan melewati malam pengantin, memikirkan tentang hal itu saja sudah membuat wajah dan juga tubuh Ratu menegang, apalagi jika telah benar benar berada di posisi itu.


Rahma yang masih tampak mengulum senyum terus menatap Ratu dengan tatapan curiga.


"Sudahlah... Kau tidak perlu berbohong padaku, kau amat tidak pandai dalam hal berbohong!!." cetus Rahma dan pada akhirnya Ratu hanya bisa menghela napas lalu mengakuinya dihadapan Rahma.


Melihat ekspresi di wajah Ratu saat ini membuat Rahma lantas melebarkan senyum di bibirnya.


"Apa kau butuh tips dariku??." tanya Rahma dengan nada menggoda sehingga membuat Ratu berdecak kesal mendengarnya.


"Oh astaga Ratu..... apa kau meragukan kemampuanku??." tutur Rahma ketika melihat keraguan di wajah Ratu saat menatapnya.


"Kau jangan lupa, akulah yang pertama kali berinisiatif meminta suamiku untuk memberikan hakku sebagai seorang istri, Jadi kau tidak perlu meragukan kemampuanku !!." lanjut tutur Rahma dengan senyum penuh percaya diri dan lagi lagi Ratu di buat mendecakkan lidahnya mendengar pengakuan blak blakan dari Rahma.


"CK ....apa kau pikir aku segila dirimu." cetus Ratu seraya memasang wajah sebalnya, sontak saja Rahma tergelak melihat Ratu yang kini memasang wajah sebal.


"Aku hanya bercanda, tidak perlu memikirkannya biarkan semuanya berjalan dengan semestinya!! lagi pula permasalahan dalam pernikahanku dulu sangat jauh berbeda denganmu saat ini, aku sampai melakukan ide gila seperti dulu karena aku tidak punya cara lain untuk membuktikan bahwa aku tidak seperti yang dipikirkan mas Riko saat itu. Berbeda dengan dirimu, jadi jalani saja rumah tangga kalian dengan ikhlas jika suamimu meminta haknya sebagai seorang suami maka kau wajib melayaninya !!!." kini wajah Rahma berubah serius, begitu pun dengan Ratu yang tampak serius mendengar nasehat dari sahabatnya yang lebih dulu berstatus sebagai seorang istri.


Percakapan keduanya lantas terhenti ketika mendengar suara ketukan dari arah luar pintu kamar Ratu.


Setelah mendapat sahutan dari Ratu seseorang di luar sana lantas memutar handle pintu.


"Permisi Non." tutur asisten rumah tangga di rumah Ratu ketika baru saja membuka pintu, wanita itu tampak membawa sebuah bingkisan di tangannya.


"Ini ada paket katanya buat non Ratu." pandangan Ratu lantas beralih ke bingkisan yang masih berada di tangan bibi, sebelum kemudian wanita paru baya tersebut menyerahkannya pada Ratu.


"Dari siapa ini Bi??." tanya Ratu ketika baru saja menerima bingkisan dari tangan bibi.


"Bibi juga nggak tahu Non tadi tukang paketnya nggak ngomong paketnya dari siapa, coba deh non Ratu baca dulu siapa tahu ada namanya pengirimnya." tutur bibi memberi saran.


"Ya udah, makasih ya bi."


Setelahnya bibi pun pamit kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


Tak ada nama pengirim yang tertulis di paket tersebut, yang ada hanya nama lengkap Ratu sebagai penerima paket.


"Dari siapa sih??." Ratu mencoba coba mengingat dan sepersekian detik kemudian ia teringat akan dua orang temannya yakni Anis dan juga Gita, meski tidak sedekat dirinya dan Rahma, Namun ia juga berteman dengan keduanya.


"Apa mungkin bingkisan ini dari Gita dan Anis??." tebak Ratu seraya menatap ke arah Rahma, dan Rahma hanya mengangkat kedua bahunya sekilas tanda tak tahu.


Tidak ingin sampai mati penasaran, Ratu lantas berinsiatif untuk membuka bingkisan itu. Pandangan Ratu beralih pada secarik kertas yang ada di dalam bingkisan.


Ratu lantas meraih kertas itu lalu membacanya. "Buatmu yang jauh di sana, sebelumnya maaf karena kesibukan masing-masing kami tidak dapat hadir di hari bahagiamu. By Anis and Gita." tutur Ratu ketika membaca tulisan yang tertera di kertas tersebut.


"Apa ini??." Ratu lantas mengeluarkan benda yang ada di dalam paket lalu mengangkatnya ke udara untuk memastikan benda apa itu.


 Sontak kedua bola mata Ratu membulat sempurna ketika menyadari benda apa itu. Sementara Rahma spontan melipat bibirnya ke dalam agar senyumnya tidak pecah dihadapan Ratu.


Satu lusin pakaian transparan yang minim bahan dengan warna yang berbeda beda.


"Oh astaga.... Apa mereka berdua sudah tidak waras??." umpat Ratu ketika menyadari benda apa yang di kirimkan Anis dan juga Gita.


Minggu lalu ketika menghubungi Anis, Rahma sempat bercerita pada Anis jika Ratu akan segera menikah, namun mengenai hadiah itu Rahma sungguh tidak tahu menahu karena baik Anis ataupun Gita tidak pernah menceritakan perihal mereka berencana mengirimkan Hadiah pernikahan untuk Ratu.


Lingerie, ya lingerie seksi yang dibandrol dengan harga fantastis dengan berbagai macam warna sengaja di kirimkan Anis dan juga Gita untuk hadiah pernikahan Ratu.


"Sepertinya mereka berdua sangat paham dengan apa yang kau butuhkan nanti, Ratu." dengan menahan tawanya Rahma berujar.


Sekalipun merasa sedikit sebal setelah melihat bentuk hadiah tersebut namun di hati kecil Ratu merasa terharu karena keduanya masih mengingatnya.


"Apa kau tidak berniat mencoba salah satunya??." ledekan Rahma membuat Ratu kembali memasang wajah sebalnya pada sahabatnya itu.


Mendengar suara pintu kamarnya terbuka sontak Ratu menutup lingerie lingerie tersebut dengan selimutnya. Dan itu membuat Rahma hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Ratu, yang menurutnya lucu.