
Ratu dibuat grogi ketika menyadari senyuman penuh makna dari hampir seluruh anggota keluarga sejak kedatangan mereka.
"Apa ada yang salah denganku??." batin Ratu bertanya tanya pada diri sendiri.
"Habiskan sarapannya!!." seruan dari Toni akhirnya mengalihkan perhatian Ratu pada sarapan di hadapannya.
"Iya kak." jawabnya sebelum kemudian mulai menyantap Sarapannya.
Kini mereka tengah fokus pada sarapan masing masing tak terkecuali Saka yang sejak tadi sudah merasa kelaparan akibat menunggu terlalu lama.
Setelah menghabiskan sarapan, mereka menghabiskan waktu untuk sekedar mengobrol santai.
Sampai dengan obrolan mereka beralih pada rencana sepasang pengantin baru tersebut akan memiliki momongan ke depannya.
"Apa kalian berencana menunda dulu untuk memiliki anak???." pertanyaan dari papa Sofyan membuat Ratu hampir saja tersedak salivanya sendiri.
"Sepertinya tidak pah, kami tidak berniat menundanya sedikasihnya saja, lebih cepat lebih baik." Toni yang menjawab.
"Baguslah kalau begitu, papa senang mendengarnya." papa Sofyan yang sudah tidak sabar untuk menimang cucu akhirnya lega mendengar jawaban dari menantunya itu. walau ketika melihat tanda kepemilikan di leher putrinya, papa Sofyan sudah bisa mendapatkan jawabannya sendiri.
Berbeda dengan Toni yang menjawab pertanyaan dari ayah mertuanya tersebut dengan Santai, Ratu justru merasa malu sendiri ketika mendengar pertanyaan dari ayahnya itu.
"Papa gimana sih, baru juga menikah kemarin sudah pake membahas tentang anak segala lagi." dalam benak Ratu tidak habis pikir dengan pertanyaan dari ayahnya.
Kini papa Sofyan beralih pada putra sulungnya yang tampak sibuk menatap layar ponselnya. "Adik kamu sudah menikah, kamu sendiri kapan akan mengajak calon istrimu bertemu dengan mama dan papa, Lan??." pertanyaan dari papa Sofyan sontak saja mengalihkan perhatian Alan dari layar ponselnya.
"Nanti akan Alan pikirkan tentang itu, pah." sahut Alan dengan nada yang terdengar datar.
Papa Sofyan hanya bisa menghela napas dalam mendengarkan jawaban dari putra sulungnya itu. Jawaban yang sudah seringkali di dengarnya ketika bertanya demikian.
Cukup lama mereka bercengkrama, sampai dengan Alan menerima panggilan telepon dari tempatnya bekerja sehingga ia terpaksa harus pamit lebih dulu, sebelum mereka semua memutuskan untuk kembali ke kamar hotel masing-masing.
Setelah kembali ke kamar rencananya Ratu akan menghubungi sahabatnya, Rahma, untuk sekedar mengobrol santai, Mengingat hari ini jadwal Rahma sedang libur kerja jadi mereka bisa mengobrol cukup lama ditelepon, begitu pikir Ratu.
Setibanya di kamar hotel Ratu lantas meraih ponselnya di atas nakas lalu menjatuhkan bokongnya di sofa, hendak melakukan panggilan ke nomor ponsel Rahma. Namun belum sempat melakukannya, Toni sudah mengambil ponsel dari genggamannya.
"Kak, kembalikan ponselku !! Aku ingin menghubungi Rahma." tutur Ratu dengan nada protes ketika Toni merebut ponselnya.
Semakin Ratu berusaha untuk meraih ponselnya semakin Toni menjauhkannya dari jangkauan Ratu. tinggi badan Ratu yang hanya sampai sebahu Toni membuat wanita itu kesulitan untuk menjangkau tangan Toni.
"Kak Toni." ujar Ratu dengan nada protes. Namun bukannya menyerahkan ponsel tersebut pada pemiliknya, Toni justru menekan tombol power untuk mematikan ponsel milik Ratu.
"Kamu bisa melakukannya lain waktu, untuk saat ini aku ingin kamu hanya fokus padaku!!." Tutur pria itu dengan tatapan penuh makna, sehingga membuat Ratu hanya bisa menghela napas mendengarnya.
"Apa kamu tidak ingin segera mewujudkan keinginan papa untuk memiliki seorang cucu, sayang??." tanya Toni dengan nada yang terdengar menggoda, tepat di telinga Ratu sehingga membuat bulu kuduk Ratu meremang dibuatnya.
Cup.
Semakin lama, Ratu semakin merasa terbuai dengan ciuman lembut Toni.
Pada akhirnya suara era_ngan lolos dari mulut Ratu ketika bi_bir ranum sang suami mulia menggerayangi leher jenjangnya.
Entah apa yang kini ada di pikiran Toni, apakah perasaannya saat ini pada sang istri adalah cinta??? entahlah.....yang jelas ia merasa sangat candu pada tubuh istrinya, sehingga membuatnya ingin terus mengulang lagi dan lagi kegiatan panas Mereka.
Hingga di pagi menjelang siang hari itu Ratu kembali dibuat terkulai lemas di dalam pelukan Toni usai melakukan kegiatan panas Mereka yang entah sudah berapa ronde, yang jelas Ratu merasa badannya seperti mau remuk semua.
Toni memeluk tubuh lelap Ratu di dalam dekapannya. "Siapa pun pria itu, aku berjanji akan menghilangkannya dan menggantinya dengan namaku di hatimu. Aku pastikan itu, aku pastikan sebentar lagi kamu akan jatuh hati padaku Maharatu Wardaningsih." gumam Toni dengan penuh rasa percaya diri.
Setelahnya Toni tampak mengusap lembut perut ramping Ratu. "Semoga kamu segera hadir sebagai pelengkap hidup Daddy dan mommy, nak...!" gumamnya seraya mengelus lembut perut ramping Ratu.
***
Tidak terasa sudah seminggu berlalu. Selama seminggu pula di habiskan sepasang pengantin baru tersebut dengan mengurung diri di kamar hotel, sebelum kemudian di hari terakhir mereka kembali ke kediaman orang tua Toni.
***
Setelah berstatus sebagai Nyonya Toni Wardhana, ini hari pertama Ratu kembali bekerja. Selama seminggu tidak bertemu dengan Rahma, membuat Ratu begitu merindukan sosok sahabatnya itu.
Ratu lantas mengirim pesan singkat pada ponsel Rahma, untuk mengajak sahabatnya itu makan siang bersama di kantin rumah sakit di jam makan siang nanti.
Jarum jam terus bergerak hingga tak terasa waktu makan siang pun tiba. Ratu lantas bersiap menuju kantin, namun sebelumnya ia akan menjemput Rahma terlebih dahulu di ruang kerjanya, ruangan IGD.
"Selamat pagi pengantin baru." baru saja tiba di gedung depan atau lebih tepatnya di ruangan IGD untuk menjemput Rahma, salah seorang rekan sesama dokter yang bertugas di ruangan tersebut terdengar melontarkan candaan untuk menggoda Ratu.
"Selamat pagi, dok." Ratu hanya menanggapinya dengan tersenyum, sebelum kemudian melanjutkan langkahnya mencari keberadaan Rahma.
Saat berjalan menuju kantin rumah sakit, tak Sengaja Ratu dan juga Rahma berpapasan dengan Sintia di salah satu simpang koridor rumah sakit.
"Selamat siang dokter Rahma selamat siang dokter Ratu." sejenak Ratu dibuat tak percaya saat Sintia lebih dulu menyapanya, apalagi sikap Sintia kali ini terbilang cukup ramah tidak seperti sebelumnya.
"Selamat siang." jawab Ratu, sementara Rahma telah lebih dulu menjawab sapaan dari wanita cantik itu.
"Selamat atas pernikahan anda, Maaf malam itu saya tidak sempat memberi ucapan selamat karena ada urusan mendadak. Ada pasien yang harus segera di operasi sehingga mengharuskan saya untuk segera ke rumah sakit malam itu." terang Sintia akan kejadian malam itu, sehingga ia tak sempat memberi ucapan doa restu kepada Toni dan juga Ratu.
"Iya, tak mengapa dokter Sintia." jawab Ratu, sebelum kemudian Sintia pamit karena harus segera melakukan tindakan operasi pada pasien yang menderita usus buntu akut.
"Sepertinya dokter Sintia sudah mulai menerima kenyataan jika Kak Toni memang bukan jodohnya." komentar Rahma di sela langkah mereka menuju kantin.
"aku harap juga seperti itu, terlalu rugi bagi wanita secantik dia jika harus menjadi perusak rumah tangga orang lain." jawab Ratu seadanya dan Rahma pun membenarkannya dengan anggukan.
Kini mereka pun tiba di kantin rumah sakit, yang tampak belum begitu ramai.