
Setibanya di kantin lantas Rahma membuat pesanan dua porsi ayam bakar untuk menu makan siang mereka hari ini. sembari menunggu pesanan datang, keduanya tampak mengobrol santai.
Banyak yang mereka obrolkan hingga tak sengaja obrolan Rahma mengarah pada kewajiban sebagai seorang istri.
"Meski pernikahan kalian berawal dari perjodohan, tetapi kau tetap harus memenuhi kewajibanmu sebagai seorang istri, Ratu!! Kau akan berdosa jika menolak keinginan suami mu." pesan Rahma dengan raut wajah yang terlihat serius.
"Jika tentang itu kau tidak perlu khawatir, karena aku sudah melaksanakan kewajibanku dengan baik." jawab Ratu dengan wajah yang juga terlihat serius.
"Oh ya....jadi kalian sudah melakukannya??." kini raut wajah Rahma berubah kepo.
"CK...kepo banget Sih." sahut Ratu yang tidak habis pikir melihat perubahan raut wajah sahabatnya itu ketika mendengar pengakuannya.
"Aku kan cuma bertanya saja, aku pikir kak Toni akan bersikap seperti tokoh utama pria yang sering aku baca di novel, akan bersikap dingin pada pada istrinya. Bahkan tidak berniat menyentuh istrinya akibat menikah hanya karena perjodohan."
"CK..." mendengar ucapan Rahma membuat Ratu kembali berdecak kesal.
"Dingin jidatmu, kak Toni bahkan melakukannya hampir tidak mengenal waktu begitu kau bilang dingin." tutur Ratu seraya memutar bola matanya malas kala teringat akan suaminya yang seakan tak pernah puas menyentuhnya.
"A p a???." saking terkejutnya Rahma sampai tidak sadar jika suaranya mengalihkan perhatian pengunjung kantin yang lainnya.
Rahma tampak tersenyum kaku ke arah para pengunjung kantin yang menatapnya dengan tatapan aneh, sebelum kemudian kembali fokus pada Ratu, yang kini duduk di hadapannya.
"Aku rasa kak Toni sudah benar-benar jatuh hati padamu, Ratu." komentar Rahma setelah mendengar pengakuan dari Ratu.
"Entahlah....aku juga tidak tahu." jawab Ratu dengan tatapan menerawang jauh, mengingat belum sekalipun Toni mengungkapkan perasaan padanya. Namun menurut Ratu saat ini, bisa memiliki Toni sebagai suaminya sudah merupakan anugrah terindah dari Tuhan, terlepas dari bagaimana pun perasaan pria itu padanya.
Obrolan keduanya terpaksa terhenti ketika menyadari kedatangan Toni yang kini baru saja bergabung di meja mereka.
Kedua bola mata Rahma di buat melebar ketika melihat Toni mendaratkan kecupan yang cukup lama di puncak kepala Ratu, tanpa peduli dengan sekitarnya.
"Sudah pesan makanan, sayang??." Rahma kembali terkejut ketika mendengar Toni memanggil Ratu dengan sebutan sayang.
"Sudah kak." jawab Ratu apa adanya.
"Kak Toni mau makan apa?? biar aku pesan kan" kini Ratu yang terdengar bertanya pada suaminya itu.
"Duduk lah, biar aku pesan sendiri saja." jawabnya sebelum kemudian beranjak untuk membuat pesanan.
"Fix aku yakin kak Toni sudah jatuh hati padamu." Rahma kembali melontarkan komentarnya setelah kepergian Toni.
"Tidak dengar tadi kak Toni memanggilmu dengan sebutan apa?? Sayang??." Rahma Sengaja menekan kata sayang.
"Entahlah, aku harap juga begitu " sahut Ratu dengan wajah penuh harap.
Sebagai seorang sahabat tentunya Rahma merasa turut bahagia melihat perkembangan hubungan Ratu dan Toni.
Tak berselang lama pesanan Ratu dan Rahma tiba, dan itu bersamaan dengan Toni yang kembali bergabung di meja mereka setelah membuat pesanan pada pemilik kantin.
"Jangan terlalu mengkonsumsi makanan yang pedas!!." pesan Toni pada Ratu dan Ratu pun mengangguk mengiyakan.
***
Di ruangan IGD setelah kembali dari kantin, Rahma merasa nyeri di bagian dadanya.
"Ada apa denganku?? Tidak biasanya aku seperti ini??." batin Rahma, sebelum kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi. Bukannya merasa lebih enakkan, Rahma justru merasa kepalanya ikut terasa pusing. hingga beberapa saat kemudian ia pun tak sadarkan diri.
"Dokter Rahma... dok...." seorang perawat yang melihat Rahma yang hampir saja terjatuh ke lantai dengan cepat berlari untuk menahan tubuhnya sehingga tubuh Rahma tidak sampai mengenai lantai.
Perawat yang panik lantas berteriak meminta bantuan sehingga beberapa orang perawat dan juga dokter yang mendengarnya segera datang menghampiri.
"Apa yang terjadi?? Kenapa dokter Rahma sampai bisa pingsan??."
Tak menunggu lama, rekan sesama dokter tampak memeriksa kondisi Rahma dan juga kandungannya takut sampai terjadi sesuatu pada janinnya.
**
Kurang dari satu jam perlahan Rahma tampak membuka matanya.
Ketika baru saja membuka matanya, orang pertama yang terlihat oleh Rahma adalah suaminya, Riko.
"Mas Riko??." suara Rahma terdengar lemah.
"Kamu sudah sadar, sayang." menyadari istrinya telah sadarkan diri Riko lantas ingin memanggil dokter, namun tercegah ketika Rahma mencekal lengannya.
"Mas, aku baik baik saja, tidak perlu cemas!! Mungkin aku hanya kelelahan saja." ucapnya seraya berusaha mengukir senyum di bibirnya yang tampak sedikit pucat.
Baru saja hendak melayangkan kalimat protes karena Rahma menghentikannya, kini secara kebetulan seorang dokter justru tiba di kamar perawatan Rahma.
"Selamat siang ... bagaimana perasaan anda saat ini??? Apakah kepala anda terasa pusing??." seorang dokter pria bertanya akan pada Rahma.
"Masih terasa Sedikit pusing, dokter." jawab Rahma apa adanya.
"Ok baiklah, kalau begitu sebaiknya anda kembali beristirahat dulu untuk meringankan pusing !! Untuk keluarga pasien mohon ikut ke ruangan dokter, untuk mengambil resep!!." pesan dokter sebelum pamit dari kamar perawatan Rahma.
"Baik dokter." jawab Riko.
"Sayang, tidak apa apa kan mas tinggal sebentar??." tanya Riko, yang sebenarnya tidak tega meninggalkan istrinya sendirian.
"Iya mas." Rahma tersenyum seolah ingin menyampaikan pada Riko jika ia baik baik saja, jadi tidak terlalu mencemaskan dirinya.
**
"Tidak mungkin dokter, selama ini kondisi istri saya baik baik saja." Tutur Riko seolah tidak terima dengan penjelasan dari dokter tentang kondisi kesehatan istrinya saat ini.
"Tapi seperti itu lah kenyataannya, tuan Riko. menurut hasil pemeriksaan laboratorium, saat ini istri anda di indikasi mengidap gangguan fungsi hati."
Riko tampak mengusap wajahnya frustasi.
"Apa pasien dengan kondisi seperti ini masih bisa di sembuhkan dokter??.". dengan memberanikan diri atas jawaban apa yang akan di berikan oleh dokter, Riko tampak bertanya.
"Untuk itu sebaiknya anda berkonsultasi pada dokter spesialis, beliau yang akan memberi penjelasan lebih detail tentang penyakit yang kini tengah di derita istri anda!!." terang dokter sebelum kemudian merujuk Rahma pada dokter spesialis.
"Dok, untuk sementara waktu Tolong rahasiakan tentang hal ini dari istri saya!!." pinta Riko, dan pada akhirnya dokter pun mengiyakannya.
"Baiklah tuan, tapi lambat laun sebagai seorang dokter saya yakin istri anda akan mengetahui kondisi kesehatannya dengan sendirinya." mendengar penjelasan dari dokter membuat Riko menghela napas dalam dalam, seolah saat ini paru parunya membutuhkan pasokan oksigen lebih.
Setelahnya Riko pun kembali ke kamar perawatan Rahma.
"Mas, dari mana saja kenapa lama sekali??." tanya Rahma dengan wajah yang tampak pucat dan hal itu membuat Riko tak tega melihatnya.
"Maaf sayang, tadi banyak yang antri di apotek makanya mas sedikit lama." Riko terpaksa berdusta pada istrinya.
Riko tampak mengukir senyum di wajahnya, namun berbeda dengan hatinya yang kini ingin menjerit.
"Mas, bagaimana kondisi calon anak anak kita??." tanya Rahma saat Riko menjatuhkan bokongnya di tepi brankar.
"Mereka baik baik saja, sayang." jawab Riko dengan suara tercegat seolah ada batu besar yang kini mengganjal di dalam sana.
Tak ingin raut wajahnya kini terlihat oleh Rahma, Riko lantas membawa tubuh Rahma ke dalam pelukannya.
"Kamu pasti akan sembuh sayang, kita akan membesarkan anak anak kita bersama sama." batin Riko. pria itu hanya bisa menjerit di dalam hati.