Trust Me Please.

Trust Me Please.
Bakso di taman Kota.



Tidak ingin terus dibayang bayangi rasa cemas, Riko lantas memilih menghubungi sahabatnya, Hantara. Mungkin dengan sedikit berbagi cerita dengan sahabatnya itu ia bisa sedikit lega.


Butuh dua kali panggilan barulah panggilan Riko tersambung pada Hantara.


"Ada apa??." terdengar suara Hantara dari seberang sana.


"Apa kau sedang sibuk??." Riko justru merespon pertanyaan Hantara dengan sebuah pertanyaan.


"Tidak begitu sibuk, aku baru saja menidurkan putraku." dari nadanya, Hantara bisa menebak jika saat ini ada hal penting yang ingin disampaikan Riko padanya, sehingga pria itu pamit pada sang istri hendak menuju balkon untuk melanjutkan percakapannya bersama Riko. Hantara tidak ingin sampai suaranya membangunkan baby Kay.


"Katakan apa yang ingin kau sampaikan!!." tutur Hantara setibanya di balkon kamarnya.


Riko yang kini juga tengah duduk di kursi dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, tampak menghela napas berat dan hal itu tentunya terdengar jelas oleh Hantara di seberang sana.


"Sebenarnya apa yang sedang kau risaukan??."


"Sejujurnya aku mencemaskan keselamatan istriku, aku takut jika pamannya Mona menaruh dendam padaku apalagi kau telah memecatnya. Bukannya aku takut padanya, tetapi hanya aku khawatir dia akan mencari kelemahanku yakni menjadikan istriku sebagai sarana balas dendamnya." akhirnya Riko mengungkapkan kerisauannya kepada Hantara.


Kini giliran Hantara yang menghela napas berat saat mendengarnya.


Sejujurnya dari raut wajah pria itu siang tadi, tampak jelas jika ia menaruh dendam. namun Hantara belum bisa memastikan pada siapa pria itu menaruh dendamnya, pada dirinya kah yang telah memecatnya atau justru kepada Riko, yang merupakan mantan kekasih dari keponakannya tersebut.


"Sebenarnya aku ingin sekali meminta bodyguardku untuk mengikuti kemana pun istriku pergi, akan tetapi saat ini kami tidak sedang tinggal di ibukota. Aku yakin istriku pasti tidak akan nyaman jika aku memerintahkan bodyguard untuk menjaganya."


Penuturan Riko menyadarkan Hantara jika saat ini Gita pun memerlukan penjagaan, tidak menutup kemungkinan istrinya juga akan menjadi sasaran dendam pria itu.


"Kau bisa memerintahkan beberapa bodyguard untuk menjaga istrimu secara diam diam dari jarak yang cukup aman!!." saran Hantara. Sebuah saran yang rencananya akan ia terapkan pula pada sang istri mulai besok.


"Kau benar.... terima kasih. Aku akan meminta beberapa bodyguard kepercayaanku untuk menjaga istriku secara diam diam." sahut Riko, sekaligus mengakhiri percakapan keduanya.


Begitulah, tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanyalah milik sang pencipta. begitu pula dengan Riko yang terkenal tegas dan juga kejam pada rival bisnis yang berani mencuranginya, di balik semua itu ia pun memiliki kelemahan. Riko khawatir jika ada orang yang menaruh dendam padanya menjadikan sang istri tercinta untuk melampiaskan dendamnya.


Setelah sambungan telepon yang menyambungkannya dengan Hantara terputus, Lantas Riko menghubungi seseorang. Cukup lama Riko berbicara dengan seseorang yang merupakan pria yang mengetuai beberapa orang bodyguardnya. sampai akhirnya Riko pun mematikan sambungan teleponnya setelahnya.


"Mas." seruan Rahma mengalihkan perhatian Riko dari layar ponselnya.


"Iya Sayang."


Rahma beranjak mendekati suaminya kemudian menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi yang masih kosong di sisi Riko.


"Ada apa sayang??." tanya Riko dengan nada lembut. Riko tampak mencubit gemas pipi Rahma yang tampak semakin berisi. Dan itu terlihat semakin menggemaskan di mata Riko.


"Memangnya istri mas ingin apa??." dari raut wajah Rahma saat ini Riko bisa menebak jika Istrinya itu sedang menginginkan sesuatu.


"Mas, aku pingin bakso di taman kota, boleh??." itu yang membuat Riko semakin takjub dengan sikap Rahma. Wanita itu tidak pernah memaksakan keinginan nya, selalu saja bertanya lebih dulu meskipun ia sangat menginginkannya.


Riko mengulum senyum mendengar permintaan sederhana dari istrinya.


"Tentu saja boleh, sayang. Ayo....!!!" jawab Riko kemudian beranjak dari duduknya.


"Makasih, mas." sahutnya sebelum ikut beranjak.


Sebelum berangkat menuju taman kota, Riko mengajak serta ayah dan juga ibu mertuanya namun dengan alasan sudah kenyang baik bunda Ening maupun ayah Roland menolak ajakan Riko. Padahal kenyataannya ayah Roland dan juga bunda Ening sengaja ingin memberi waktu untuk anak dan menantunya mengabiskan waktu berdua.


Kurang dari setengah jam, akhirnya mobil Riko tiba di sebuah taman kota, di mana di sudut taman tepatnya di tepi jalan ada beberapa gerobak yang menyediakan jajanan seperti bakso, mie ayam, siomay dan juga yang lainnya berjejer dengan rapi.


Setelah turun dari mobil, Rahma yang di dampingi Riko lantas saja melangkah ke arah mamang penjual bakso.


Berhubung malam ini merupakan malam Minggu sehingga membuat tempat itu cukup ramai oleh pengunjung, baik anak muda, pasangan suami istri dan yang lainnya. kedatangan Rahma dan Riko cukup menyita perhatian.


"Mang, baksonya dua ya!!."


"Baik Non!!!." Jawab memang dengan ramah.


Riko pun menarik sebuah kursi untuk di tempati Rahma, sebelum kemudian kembali menarik kursi lainnya untuk dirinya.


Berhubung meja yang di sediakan adalah meja panjang lantas Kini mereka pun bergabung bersama beberapa orang remaja dan gadis remaja yang juga tengah menunggu pesanan. Kalau di lihat dari penampilannya mereka adalah sekelompok mahasiswa.


"Kaka itu Cantik banget deh." pujian dari salah seorang remaja masih terdengar jelas di telinga Riko.


"Husstt... jangan sembarang bicara, tidak lihat di sebelahnya ada pawangnya tuh."


"Coba saja kalau kakaknya masih jomblo."


"Ngaca....ngaca.... !!! sekalipun kakak itu masih jomblo aku rasa dia tidak akan Sudi punya pacar modelan kayak kamu, lagian nggak lihat apa suaminya saja gantengnya minta ampun!!. Hei.....percaya diri memang penting tapi yang lebih penting lagi tahu diri!!. Wajah pas pasan punya idaman spek bidadari, dasar sedeng....." bukan hanya sekelompok remaja tersebut yang tertawa mendengar ucapan dari salah seorang remaja tersebut, baik Rahma dan juga Riko pun ikut mengulum senyum mendengarnya.


"Maaf ya kak..... teman saya emang suka gitu, percaya dirinya kelewat besar dari rasa tahu dirinya." salah seorang di antaranya mewakili temannya untuk meminta maaf karena merasa tidak enak pada Riko dan Rahma. Riko yang tidak terlalu mempermasalahkan hal itu lantas meresponnya dengan anggukan kecil, sebelum perhatian Riko beralih pada mamang yang datang dan menyajikan dua mangkok bakso di hadapannya.


"Terima kasih, mang." ucap Riko.


Tiga puluh menit kemudian, Rahma dan Riko telah selesai menyantap bakso masing masing. meski tergolong orang berada baik Rahma maupun Riko bukan tipe orang yang suka pilih pilih makanan, selama itu masih tergolong higenis tak masalah menurut keduanya.


Melihat Rahma berdiri dari duduknya salah seorang dari remaja tadi baru menyadari jika Rahma sedang mengandung, terbukti dari perutnya yang terlihat buncit.


"Ternyata kakak itu sedang hamil, tidak kebayang bagaimana tampan atau cantiknya anak mereka nanti." ujar salah seorang dari remaja tersebut.


Riko mengeluarkan sepuluh lembar uang merah untuk membayar.


"Ini banyak banget den." tutur Mamang terkejut dengan jumlah uang yang di berikan oleh Riko.


"bayarannya sekalian dengan para remaja yang di sana, mang." tutur Riko dan mamang pun mengangguk paham.


Setelahnya Riko dan Rahma pun berlalu.


"Bakso Kalian semua sudah dibayarin sama Aden ganteng yang tadi duduk di sini." kata mamang pada para remaja tersebut.


"Oh astaga.... selain ganteng suaminya juga tajir, buktinya dia bayarin kita semua. Gitu kamu mau saingan....haaaaahaaaaahaaaaa....kampret kamu...." kelakar salah seorang di antaranya sehingga menciptakan gelak tawa temannya yang lain.